
"Apa yang membuat kita takut menghadapi masalah? Karena kita sudah terpaku dengan segala pikiran yang buruk. Berbaik sangka lah kepada Allah. Allah tidak mungkin membiarkan hambanya terpuruk tanpa adanya makna dibalik sebuah tragedi yang dihadapi."
"Contohnya, Athar dan Kimmy. Athar harus kecelakaan sampai dia menghadapi masa sulitnya sendiri. Hingga ia bangkit dan mampu sukses di kehidupan nya yang terbilang masih sangat muda. Akhirnya, Kimmy pun luluh dan mereka akan segera menikah."
"Bunda, selama masa muda Bunda selalu bergelimang masalah. Berat sekali, hingga akhirnya Allah memberikan hadiah terindah dengan hadirnya Ayah mu," Bunda menggenggam tangan Ayah yang duduk disampingnya. Kedua mata sepasang kekasih halal itu saling bertautan dan terlihat sekali penuh cinta di dalam nya.
Queen yang sedang duduk menunggu kedatangan pesawat yang akan membawanya ke Maladewa, teringat pembicaraan dirinya dan Bunda saat membahas tentang Amira yang tidak sengaja bertemu di departemen store tadi siang.
Di warung makan khas Sunda, mereka membahas tentang makna hidup. Sambil menikmati pemandangan dan mereka beristirahat sejenak saat menuju perjalanan ke Jakarta.
Queen menghela nafasnya dan menundukkan pandangan nya.
"Begitupun kamu, kamu berkali-kali gagal. Allah jahat? Tentu tidak. Terkadang, Allah mempunyai cara yang begitu unik saat menghindari kita dari orang yang tidak tepat. Jadi, jangan pernah menyesal dengan ketentuan Allah. Percayalah, Allah Maha pengasih dan lagi Maha penyayang. Disitu sudah tertulis di awal kitab kita. Jangan pernah ragu, jangan pernah menyalahkan takdir dan garis hidup. Tuhan itu menyayangi kita, hanya saja, kadang manusia itu terlalu berpikir buruk sama Tuhan nya sendiri."
"Bayangkan, bila kamu jadi menikah dengan Langit. Apakah menjamin kamu bahagia? Atau sebaliknya, nasib mu sama dengan Amira? Saat itu kamu memang mengeluh, kok punya sahabat penghianat? Padahal, Tuhan sedang menyelamatkan kamu."
"Dengan Antoni, apakah menjamin kamu akan bahagia? Dia mencintai kamu melebihi cintanya kepada Tuhan nya. Hingga membuat dirinya obsesi dan tidak berpikir, kebahagiaan sudah ada di depannya. Yaitu anak dan istrinya. Andaikan dia mau berdamai dengan apa yang sudah menjadi pilihannya, sudah pasti dia akan bahagia dengan Tasya dan putra mereka."
"Ricky, kalau saja kamu tidak meragu saat itu. Mungkin kamu sudah menerima lamaran nya dan menikah tanpa pertimbangan. Hal itu tentu saja buruk. Ternyata dia begitu, apakah kamu akan bahagia? Atau jangan-jangan kamu akan frustasi dengan hidup yang selalu merasa sial dari waktu ke waktu."
"Berbahagialah bila saat ini Allah memberikan kamu waktu untuk sendiri dan berpikir. Menyeleksi semua yang mencoba hinggap di hatimu. Itu tandanya Allah sedang memberikan kamu nikmat yang luar biasa, dari pada kamu harus merasakan pahit lagi saat salah memutuskan pilihan."
"Queen, Bunda tahu kamu hebat. Bunda juga tahu alasan kamu pergi kali ini. Kamu sedang punya masalah dengan Raka?"
Queen menatap Bunda yang sedang memberikan wejangan kepadanya. Lalu, ia kembali menundukkan wajahnya.
"Nak, untuk mencapai suatu kebahagiaan, tidak ada yang instan. Beli mie instan saja harus di proses terlebih dahulu loh, agar bisa di makan. Artinya tidak ada yang benar-benar instan didalam hidup kita semua."
"Saat ini kamu mau menyendiri dan pergi, sah sah saja. Asal jangan tenggelam dengan pikiran kamu sendiri. Self healing... itu kan tujuan mu? Maka, kembalilah dengan jawaban dan pikiran yang menuntun mu ke arah yang lebih baik."
Bunda tersenyum dan menggenggam tangan Queen.
"Satu lagi, jangan lupa belikan Ayah oleh-oleh." Celetuk Ayah.
"Ayah... apaan sih, orang lagi serius..." Bunda melotot kepada Ayah yang tersenyum seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Queen tersenyum menatap kedua orangtuanya itu. Lalu, ia mengangguk dengan pasti.
"Terima kasih Ayah, Bunda." Hal yang paling Queen syukuri di dalam hidup ini, adalah memiliki kalian berdua. Entah bagaimana bila Queen tidak memiliki Ayah dan Bunda yang hebat seperti kalian."
__ADS_1
Ayah dan Bunda tersenyum dan memeluk Queen dengan erat.
"I love you anak ku..." Bisik mereka berdua.
Panggilan untuk penumpang yang akan berangkat ke Maladewa yang terdengar dari pengeras suara di ruang tunggu itu, membuyarkan lamunan Queen tentang percakapan nya dengan kedua orangtuanya tadi siang.
Queen pun bergegas menuju ke gate pengecekan boarding pass. Setelah ia melewati pengecekan, Queen pun melangkahkan kaki nya ke badan pesawat yang akan ia tumpangi.
"Bismillah, semoga semuanya segera membaik. Berbaik sangka pada yang Maha pencipta. Healing.... dan kembali dengan pikiran yang jauh lebih positif." Batin Queen.
...
"Mbak, apa Ibu Queen nya ada?" Tanya Raka kepada resepsionis hotel milik Queen.
"Maaf Pak, Ibu Queen nya sedang keluar negeri."
Raka terdiam mendengar jawaban dari resepsionis itu.
"Kemana ya Mbak?"
"Saya kurang tahu Pak, maaf,"
"Baru hari ini Pak,"
Raka terdiam mendengar Queen yang baru saja pergi pada hari ini. Ia merasa dirinya sangat terlambat. Sebenarnya ia ingin menghubungi atau menemui Queen pasca terjadinya pertengkaran di rumah sakit bersama Lala. Tetapi, mendengar ucapan Queen yang meminta dirinya menyelesaikan semua terlebih dahulu, membuat Raka mengurungkan niat dan inginnya untuk bertemu dengan Queen selama ini. Sedangkan untuk menghubungi Queen, ia sudah tidak ada akses lagi untuk bisa berhubungan melalui ponselnya.
Raka hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada resepsionis itu. Lalu, ia pun melangkah dengan gontai dan kembali pulang ke rumahnya.
"Tuhan, dikala semua sudah selesai, Queen yang menjauh dari ku. Apakah masih ada waktu untuk ku meraih bidadari Mu itu?" Gumam Raka yang sedang menyetir mobilnya dengan hati yang risau.
...
"Tika!" Panggil Putra saat Acara baru saja selesai.
Tika menoleh dan menatap adik iparnya itu dan tersenyum kepadanya.
"Ya?"
"Boleh aku meminta alamat dan nomor ponsel Queen?"
__ADS_1
Tika terdiam beberapa saat. Ia merasa Putra benar-benar nekat untuk mendekati Queen.
"Kamu serius mau mendekati dia?" Tanya Tika dengan wajah yang serius.
"Iya, aku sudah mengatakan kepadanya bila aku mengajak nya ta'aruf."
Tika tercengang mendengar jawaban Putra.
"Edan!" Tika menepuk dahinya dan mengeluh kesakitan sendiri.
"Duh!"
"Ya, berikan aku alamat rumahnya dan nomor ponselnya. Aku benar-benar serius," Ucap Putra dengan wajah yang memohon.
Tika melirik suaminya dan menggigit bibirnya karena cemas bila Putra akan di tolak oleh Queen.
Tika sudah sangat mengenal Queen. Queen hanya jatuh cinta dengan orang yang tidak terburu-buru mendekati dirinya. Queen adalah gadis yang sangat sulit digapai, bagi setiap orang yang terlalu berlebihan.
"Hmmm Put, apa tidak berlebihan?" Tanya Tika dengan wajah yang tampak tegang.
"Tidak, aku suka dia dan aku ingin dia menjadi istri ku."
"Lah, kaya beli barang aja sih?" Batin Tika.
"Ayo berikan aku nomor ponsel nya dan alamat rumah nya." Pinta Putra lagi.
"Eh, tapi dia sedang di luar negeri loh,"
"Bohong ah...!" Ucap Putra tak percaya.
"Serius, dia menyempatkan untuk ke acara ku dan pergi malam ini. Nanti ya, aku kasih... aku juga lupa alamat rumahnya," Ucap Tika memberi alasan.
"Ya sudah, kabarin ya.."
"Oh iya, selamat malam pertama," Ucap Putra kepada kakak kandung nya yaitu suami Tika yang lebih tua dua tahun saja dari dirinya.
Putra pun berjalan meninggalkan gedung tersebut dengan hati yang tampak riang. Sedangkan Tika terlihat bingung dengan keseriusan Putra terhadap Queen.
"Buset... yang suka banyak. Tapi tuh anak kenapa kesannya susah banget dapat jodoh ya?" Gumam Tika.
__ADS_1