365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
152# Hari H


__ADS_3

“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan." QS. An Nur Ayat 32.


Menikah menjadi salah satu ibadah yang dianjurkan dalam agama Islam dan menjadi sunah Rasulullah Saw. Dan hari ini, tibalah waktunya, dimana Queen dan Raka akan menikah. Untuk melaksanakan Sunah dan menghalalkan hubungan mereka.


Hari ini langit cerah, suasana dirumah Queen begitu ramai. Tawa dan canda terdengar riuh dari ruang keluarga. Queen masih di kamarnya. Ia sedang di dandani oleh make-up artis, untuk menyempurnakan penampilan dirinya di hari pernikahan yang telah lama ia nantikan.


Bibirnya bergetar saat sang make-up artis memoleskan lipstik di bibir tipisnya. Ia benar-benar merasa gugup menghadapi Ijab Kabul yang akan diselenggarakan beberapa jam lagi.


Sedangkan di tempat yang berbeda, Raka pun juga terlihat gugup. Lelaki berusia 33 tahun itu sudah siap dengan beskap yang membalut tubuh atletis nya. Ia terus menatap keluar jendela. Ia terus berdoa untuk kelancaran acara pernikahan dirinya dan Queen.


"Tinggal selangkah lagi Raka. Kamu pasti bisa," Ucapnya untuk menghibur dirinya yang terlalu gugup.


Nyonya Amara mengetuk pintu kamar Raka dan beranjak masuk kedalam kamar anak lelaki satu-satunya itu. Nyonya Amara melangkah mendekati Raka dengan senyum di wajahnya yang sudah terlihat menua.


Nyonya Amara merapikan kerah beskap Raka dan mengusap lembut pipi Raka. Ia hampir menangis melihat betapa gagahnya anak laki-laki nya itu.


"Raka, Ibu sangat menyayangi kamu. Kalau kamu juga sangat menyayangi Ibu. Jangan pernah lukai hati istrimu. Karena bagaimanapun, istrimu adalah calon Ibu juga. Ibu dari anak-anak mu kelak."


Raka menatap kedua mata nyonya Amara yang mulai memerah.


"Insya Allah Bu,"


"Nak, Ibu tahu, Ibu bukan lah Ibu yang sempurna untuk kamu. Tetapi, satu yabg ingin Ibu katakan kepadamu. Bagaimana pun, kamu adalah orang yang paling berarti didalam hidup Ibu. Memang, cinta Ibu tidak selalu terucap. Namun, Ibu tahu, kamu pasti merasakan nya."


Air mata nyonya Amara mulai meleleh di pipinya. Ia tidak kuasa menahan rasa yang bercampur aduk dibenaknya.


"Raka tahu kok Bu," Ucap Raka.


"Alhamdulillah, kalau kamu tahu. Satu permintaan Ibu saat kamu melepaskan status mu dari bujang ke jenjang pernikahan. Jangan pernah ulangi kesalahan orangtuamu. Bila Ibu dan Ayah banyak kesalahan, jangan lakukan itu kepada anak dan istrimu kelak. Beri mereka waktu di sela kesibukan kamu. Beri mereka kasih sayang mu. Berikan mereka segalanya, semampu mu. Ciptakan surga di rumah, bila kamu menginginkan bidadari di rumah mu."


Raka mengangguk dengan wajah yang menahan haru.


"Rumah tangga, bagaimana nahkoda nya. Ibu mengatakan ini, demi keselamatan rumah tanggamu. Jangan pikirkan Ibu, jaga selalu perasaan istrimu. Buat dia bahagia lahir dan batin. Karena, orangtuanya, membesarkan dirinya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Kalau bisa, kamu memberikan lebih dari pada kedua orangtuanya. Tidak ada istri yang durhaka nak, semua tergantung imamnya. Apakah kamu paham?"

__ADS_1


Raka mengangguk dan memeluk Ibunya dengan erat.


"Terima kasih Ibu," Ucap Raka dengan derai air mata di pipinya.


"Jadilah laki-laki sejati anak ku. Jadilah imam yang terhebat. Maka, rumah tanggamu akan selamat dunia dan akhirat. Insya Allah."


Pelukan mereka terasa lebih erat lagi. Melepaskan buah hati untuk memulai hidup yang lebih baik lagi adalah tugas semua orangtua, dan tentu saja tugas terakhir yang begitu berat dirasakan oleh orangtua. Antara bahagia, sedih, rela dan tak rela, semua menjadi satu. Hanya doa lah yang mampu menghapus rasa yang tidak biasa itu semua.


"Sekarang, apakah kamu sudah siap?" Tanya nyonya Amara.


Raka mengangguk dengan pasti.


"Ayo kita berangkat," Ucap nyonya Amara seraya menggandeng lengan Raka.


Mereka pun berangkat ke hotel milik Raka. Dimana acara akad nikah itu dilaksanakan.


Sedangkan Queen, ia baru saja selesai di dandani. Rambutnya pun sudah tertata rapi dengan sanggul ala jawa yang begitu indah. Di acara akad ini, Queen mengenakan set kebaya yang anggun. Kebaya putih yang melambangkan kesucian seorang mempelai pengantin. Serta sanggul yang begitu syarat dengan makna dan keanggunan wanita Jawa.


Ketiga orangtua Queen tampak takjub dengan putri mereka yang tampak sangat anggun berkharisma. Persis seperti para putri keraton yang terlihat begitu berkelas dangan kebaya yang mereka kenakan.


"Queen, Masya Allah..." Ucap Bunda yang terlihat sangat mengagumi putri nya itu.


Queen tersenyum manis, namun walaupun ia tersenyum, kedua matanya tampak berkaca-kaca, menahan perasaan yang tidak dapat ia ungkapkan kepada ketiga orangtuanya itu.


"Kamu sangat cantik nak," Ucap Bunda seraya memeluk Queen dengan erat.


Terlihat Ayah Andra dan Ayah Gunawan mencoba menahan tangisan mereka dengan mengedip-ngedipkan kedua mata mereka.


"Semoga kamu berbahagia ya nak, semoga dilancarkan segala urusan kita pada hari yang berbahagia ini," Ucap Bunda Lagi.


"Aamiin Bun," Ucap Queen seraya menyeka air matanya yang mulai meleleh dari sudut matanya yang indah.


"Queen," Ucap Ayah Gunawan. Lelaki paruh baya itupun mendekati Queen dengan perlahan. Saat itu juga Bunda menyingkir dari hadapan Queen, untuk memberikan kesempatan kepada Ayah Gunawan, berbicara kepada putri mereka.

__ADS_1


"Nak, Ayah sadar Ayah terlalu banyak salah kepadamu. Tetapi, penyesalan yang paling Ayah tidak bisa maafkan adalah, Ayah kandung mu ini, tidak bisa menikahkan kamu dengan calon suami mu." Ucap Ayah Gunawan seraya menangis tersedu-sedu.


"Ayah minta maaf nak, Ayah menyesal," Ayah Gunawan menangis hingga bahunya terguncang. Baru kali ini, Bunda dan Ayah Andra, serta Queen melihat Ayah Gunawan menangis pilu seperti itu.


Hari ini, tidak ada gengsi lagi bagi Ayah Gunawan. Ia benar-benar tidak bisa menahan air mata dan meminta permohonan maaf kepada Queen. Anak yang hadir tanpa ikatan pernikahan antara Bunda Farah dan dirinya.


Queen tidak tahan lagi menahan air mata, ia pun memeluk Ayah Gunawan dengan erat.


"Tidak apa-apa Ayah. Tidak perlu disesali. Yang penting saat ini, doa tulus Ayah untuk Queen."


"Iya nak, iya...Ayah pasti selalu mendoakan kamu," Sahut Ayah Gunawan.


Lalu, lelaki itu pun beranjak dari hadapan Queen dan menyeka air matanya memakai saputangan yang baru saja ia ambil dari sakunya.


Kini, Ayah Andra berjalan mendekati Queen. Tampak tubuhnya gemetar, air matanya terus berlinang. Tidak ada kata yang sanggup keluar dari bibirnya. Ia hanya memeluk Queen dengan erat dan mengecup kening Anak sambung nya itu. Lalu, ia melepaskan pelukannya dan beranjak dari hadapan Queen.


Dibandingkan rasa tidak rela dari Ayah Gunawan, Ayah Andra lebih tidak rela lagi bila gadis kecilnya yang sangat ia cintai, kini harus memilih pujaan hatinya. Rasa itu begitu berat. Tetapi, demi kebahagiaan gadis kecil itu, ia harus tegar melepaskan gadis yang rasanya baru saja kemarin ia gendong dan pangku, serta tertawa dan bercanda dengan cirinya.


"Ayah!" Panggil Queen.


Langkah kaki Ayah Andra pun tertahan Ia menoleh dan menatap kedua mata Queen yang berlinang air mata.


"Terima kasih atas cinta dan kasih sayang Ayah untuk Queen. Hari ini, Queen mohon, relakan Queen menikah dengan lelaki pilihan Queen," Ucap Queen sambil terisak.


Ayah Andra kembali menghampiri Queen, dan mengusap air mata Queen yang hampir saja merusak make-up diwajah cantik Queen.


"Jangan nangis, nanti make-up nya terhapus. Kamu sangat cantik hari ini, dan Ayah turut berbahagia dengan pernikahan mu. Insya Allah, Ayah merelakan kamu anak ku. Berbahagialah bersamanya, kamu berhak bahagia. Tetapi, satu yang Ayah minta, sering-seringlah datang mengunjungi Ayah, agar Ayah tidak merasa seratus persen kehilangan kamu,"


Tangisan Queen semakin meledak. Ia tidak sanggup lagi berkata-kata. Queen langsung memeluk Ayah Andra sekali lagi. Tetapi, kali ini terasa lebih erat.


"Terima kasih Ayah," Bisik Queen disela tangisan nya.


Ayah Andra hanya mengangguk dan terus memeluk Queen, hingga ia merasa siap untuk mengantarkan Queen ke tempat dimana ia akan melepaskan bidadari kecilnya itu untuk memulai hidup yang lebih sempurna lagi.

__ADS_1


__ADS_2