365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
131# Target sudah dijinakkan


__ADS_3

Notifikasi berbunyi di ponsel Boss mafia. Ia bergegas meraih ponselnya dan melihat notifikasi dari sebuah bank tempat ia mengadakan transaksi dari bisnis kotornya. Perlahan, senyum di wajah nya mengembang. Beberapa jumlah uang yang ia minta dari Lala, sudah masuk ke rekening itu.


"Good," Gumam nya seraya menaruh kembali ponselnya di atas meja. Dengan satu jentik jari saja ia memanggil anak buahnya untuk mendekati dirinya.


"Siapkan mobil untuk segera ke Bandara," Perintah nya, diiringi anggukan dari anak buahnya tersebut.


Tidak lama kemudian, ia pun beranjak dari duduknya.


"Kabari saya kalau regu satu sudah kembali dari tugas," Ucapnya.


"Baik Boss." Sahut anak buahnya. Setelah itu, ia pun bergegas untuk keluar dari markasnya dengan menumpangi mobil untuk menuju ke Bandara.


Baru saja mobilnya akan meninggalkan markasnya, dirinya diserbu beberapa orang dengan baju anti teror, lengkap dengan senjata lengkap.


Boss mafia pun terlihat panik, ia tidak menyangka bila markas nya yang cukup tersembunyi dapat di ketahui oleh petugas polisi.


Tembakan peringatan pun diletuskan, meminta Boss mafia itu untuk menyerahkan diri. Tetapi, ia tetap bertahan di dalam mobilnya yang dilengkapi dengan kaca anti peluru.


Boss mafia itu pun mengeluarkan senjata api nya dan bersiap-siap untuk baku tembak dengan petugas polisi yang sudah mengepung dirinya.


Satu tembakan lagi diletuskan ke udara. Sebuah peringatan kembali ia terima, untuk segera keluar dari mobilnya. Sang supir pun bergegas menerobos polisi yang sedang mengepung mereka atas perintah sang Boss mafia. Tetapi, saat mereka akan menerobos, sebuah truck dengan moncong besi pun menghalangi mereka. Suasana mencekam terus berlangsung, aksi baku tembak pun tidak dapat dihindari.


Hingga akhirnya, Boss mafia itu terpaksa harus bertekuk lutut di kaki para petugas yang sudah di latih dengan sempurna untuk menghadapi masalah seperti ini. Maka, komplotan mafia tersebut di bekuk dan digiring menuju ke kantor polisi.


....


"Sudah?" Tanya Raka melalui sambungan telepon dengan seseorang yang sedang menghubungi dirinya.


"Sudah, plan selanjutnya tinggal Bapak laksanakan," Ucap seseorang dari ujung sana.


Raka pun tersenyum dan kembali ke depan untuk menemui Lala, yang sudah dari tadi menunggu dirinya.


Saat Raka muncul, Lala pun menaruh kembali kotak bedak yang sedang ia gunakan. Lalu, ia tersenyum saat melihat Raka kembali dari kamarnya. Ia pun menggeser duduknya agar Raka dapat duduk disamping dirinya.


"Kok lama sih sayang?" Tanya Tika seraya mengusap punggung Raka yang duduk disampingnya.


"Maaf, aku mandi dulu," Ucap Raka dengan ekspresi wajah yang datar.


Lala tersenyum dan merebahkan kepalanya di bahu Raka.


"Raka, aku juga turut berduka ya atas meninggalnya Queen,"


Deggggg!


"Dari mana Lala tahu bila Queen meninggal?" Batin Raka. Dari situ juga ia semakin yakin bila Lala adalah otak dari ini semua.

__ADS_1


"Queen?" Tanya Raka dengan ekspresi yang bingung.


"Iya, dia meninggal dunia kan satu minggu yang lalu," Ucap Lala seraya menegakkan kepalanya dan menatap Raka dengan seksama.


"Ah... i-i-iya," Sahut Raka seraya mengangguk dengan ragu.


Perlahan Lala memasang wajah sedihnya, dan kembali memeluk Raka.


"Raka, aku siap untuk menggantikan Queen. Sudah relakan saja kepergian dia. Mari kita kembali lagi seperti dulu. Aku berjanji tidak akan mengecewakan kamu lagi."


Raka terdiam membisu, hatinya benar-benar merasa geram dengan Lala.


Asisten rumah tangga Raka pun datang dengan dua gelas kopi yang dia hidangkan di atas meja, tepat di depan Raka dan Lala. Raka melirik asisten rumah tangganya. Lalu, tersenyum dan mengucapkan terima kasih.


Gelas itu di tata dengan rapi, milik Raka asisten nya taruh di depan Raka dan begitupun dengan gelas kopi milik Lala.


"Silahkan diminum, tuan dan nona," Ucap asisten tersebut sebelum ia mengundurkan diri dan kembali ke dapur.


Lala dan Raka hanya mengangguk dan sama-sama meraih gelas kopi mereka.


"Bagaimana Raka?" Tanya Lala dengan wajah yang tampak bersemangat. Seperti ia tidak peduli dengan duka yang sedang dirasakan oleh Raka yang mengaku telah kehilangan kedua orangtuanya dan Queen.


"Apanya?" Tanya Raka seraya bergegas menyeruput kopi miliknya.


"Kita kembali bersatu," Ucap Lala.


"Apakah itu mau mu?" Tanya Raka.


"Ya, aku sudah lama ingin kembali denganmu. Memperbaiki lagi hubungan kita. Aku ingin menikah denganmu Raka, karena aku tahu, kamu masih mencintai aku."


Raka menghela nafas dan tersenyum kecil.


"Silahkan diminum kopinya," Ucap Raka, mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.


Lala tersenyum dan mengangguk serta mencicipi kopi yang sengaja di buatkan oleh asisten rumah tangga Raka, untuk dirinya.


"Mengapa kopi ini terasa begitu pahit?" Tanya Lala.


"Masa?" Tanya Raka dengan wajah yang bingung.


Lala mengangguk dan meletakkan kembali gelas kopi itu di atas tatakan gelas di depan nya.


"Mau tambah gula?" Tanya Raka lagi.


"Boleh," Sahut Lala.

__ADS_1


Raka pun memanggil asisten rumah tangganya dan meminta toples gula untuk di bawa keruang keluarga.


Tak lama kemudian, asisten rumah tangga Raka pun tiba dengan toples gula di tangannya dan menaruhnya di depan Lala.


Lala dengan cepat menambahkan sesendok gula ke dalam kopi miliknya. Lalu, ia mengaduknya dengan sendok kecil yang terletak di samping gelasnya. Dan, ia pun kembali meminum kopi tersebut.


Raka tersenyum dan meminta asisten nya kembali membawa toples gula itu kembali ke dapur.


"Bagaimana Raka?" Tanya Lala lagi. Seakan ia sedang menawarkan proyek besar kepada Raka. Hingga mau tidak mau Raka harus berpikir keras saat memutuskan untuk menandatangi kontrak tanpa harus berpikir resiko yang akan ia hadapi.


"Raka.." Desak Lala lagi.


"Ya...?"


"Bagiamana?"


Raka tersenyum dan menatap Lala dengan seksama.


"Lala, apakah kamu yang membunuh kedua orangtuaku dan Queen?" Tanya Raka seraya menampilkan wajah dingin nya.


Lala tersentak dan menelan salivanya. Ia menatap Raka dengan tak percaya.


"Ra-Ra-Raka, kenapa kamu menuduh ku?" Ucapnya seraya memijat pelipisnya yang mulai terasa pening.


"Jawab Lala, apakah kamu yang menyebabkan ini semua!" Desak Raka.


"Ti-tidak,"


"Jangan menipuku Lala. Aku bukan orang bodoh seperti apa yang ada dipikiran mu,"


Kepala Lala mulai terasa semakin berat. Ia menghela nafas panjang, matanya mulai berkunang-kunang.


"Raka, apa yang kamu taruh di dalam minuman ku?" Tanya Lala dengan terbata-bata.


"Aku tidak menaruh apa-apa." Sahut Raka seraya beranjak dari duduknya dan menatap Lala yang terlihat semakin pusing.


"Ti-tidak mungkin," Ucapnya lemah.


"Aku pastikan, kamu bangun di dalam sel yang dingin, Lala," Ucap Raka seraya tersenyum puas.


"Raka..." Lala pun tak sadarkan diri di atas sofa tersebut.


Setelah memastikan Lala sudah tidak bergerak, Raka pun segera menghubungi Ayah Andra.


"Om, target sudah di jinak kan,"

__ADS_1


"Bagus Raka," Sahut Ayah Andra dari seberang sana.


__ADS_2