365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
73# 308HMH (Pernikahan Tika)


__ADS_3

Sebelum adzan Subuh berkumandang, Queen sudah selesai mandi dan turun untuk sarapan. Hari ini dirinya begitu sibuk dengan jadwal dan rencana berlibur nya.


Pertama, Queen harus ke Bandung pagi-pagi sekali. Untuk menghadiri pernikahan Tika. Walaupun Queen sempat menolak untuk menjadi Bridesmaids di pernikahan sahabatnya itu, tetapi ia tetap berjanji akan datang untuk menyaksikan pernikahan Tika.


"Kenapa harus di Bandung sih.. gak sekalian di Amerika Serikat?" Tanya Queen dengan wajah yang cemberut saat menerima undangan dari Tika.


"Yeeee.... Bapak gue kan orang Bandung. Gimana sih lu. Ya gue rayakan disana lah." Tika mengerutkan dahi.


"Kenapa sih lu gak mau jadi Bridesmaids gue? Katanya lu sahabat gue!" Sambung Tika masih dengan wajah yang terlihat kesal.


"Tik, asli deh, gue juga lagi ngurus pernikahan adik gue. Terus Hotel, terus Butik, terusss....."


"Raka?" Goda Tika sambil tersenyum masam.


Queen tersenyum kecil dan mencubit pipi Tika.


"Ngarang lu!"


"Lagian jadi manusia sibuk amat. Arghhh..."


"Tapi gue janji bakalan datang. Suerrr..."


"Beneran?"


"Iyaaaaa...."


"Makasih ya Queen," Tika memeluk Queen dengan wajah yang bahagia.


Queen tersenyum sendiri saat ia mengingat percakapan nya dengan Tika. Tidak terasa, Tika akan melepas masa lajangnya pagi ini. Sahabat yang selalu menemani dirinya kemana saja. Termasuk plesiran ke luar negeri.


Bunda yang baru saja keluar dari kamarnya, menatap Queen yang sedang duduk sendirian menyantap sandwich dan segelas susu di ruang makan.


Bunda pun bergegas menghampiri Queen.


"Anak Bunda, belum juga Subuh, sudah makan saja."


"Eh, Bun, mau Queen buatkan sandwich?" Tanya Queen seraya tersenyum kepada Bunda.


"Gak, nanti saja. Bunda mau mandi dulu. Kamu kok tumben sudah sarapan?"


"Kan Queen mau ke Bandung Bun..."


"Bandung?"


Queen mengangguk dengan cepat sambil melahap potongan terakhir sandwich nya.


"Ngapain?" Tanya Bunda dengan wajah yang menyelidik.


"Loh, Tika kan menikah pagi ini Bun. Bunda kan juga di undang."

__ADS_1


"Astaghfirullah..! Iya Bunda lupa! Lah, bukan nya kamu mau ke Maldives?"


"Iya, tapi kan berangkat nya nanti malam sekali. Pukul sepuluh malam," Ucap Queen.


"Ah... iya iya... Ya sudah, Bunda membangunkan Ayah dulu, nyuruh Ayah siap-siap. Kita berangkat bareng saja ya. Kamu di atantar Pak Ucup kan? Atau menyetir sendiri?"


"Tadinya sih mau menyetir sendiri biar cepat. Kalau Pak Ucup yang bawa mobil, duhhh... lamaaaaa..." Keluh Queen.


Bunda mengulum senyumnya dan ikut duduk disamping Queen.


"Namanya juga sudah tua, dia kan sudah bekerja dari kamu masih kecil. Mau Bunda rumahkan juga kasihan. Jadi, Bunda tunggu saja sampai dia mau untuk pensiun sendiri."


"Apa tidak sebaiknya dirumahkan saja Bun, tetapi kita bantu setiap bulan nya. Kasihan Bun, bahaya juga bila Pak Ucup berkendara. Matanya kan juga sudah tidak jelas,"


Bunda terdiam mempertimbangkan usulan Queen.


"Mana tahu, sebenarnya dia sudah ingin pensiun. Tetapi, dia bingung untuk hidupnya kedepan Bun. Siapa lagi yang membantu, kalau bukan kita? Apa lagi dia jujur dan setia kepada keluarga kita Bun,"


Bunda menghela nafasnya dan mengangguk setuju dengan usulan Queen.


"Ya sudah, nanti Bunda bicarakan kepada Pak Ucup. Bunda membangunkan Ayah dulu, terus bersiap-siap ya. Kamu saja yang menyetir nanti."


"Baik Bun," Ucap Queen sambil tersenyum manis kepada Bunda.


Bunda pun beranjak ke kamarnya lagi, untuk membangunkan Ayah yang masih tertidur dengan lelap. Sedangkan Queen, menghabiskan susunya dan bergegas untuk mencuci piring dan gelas yang baru saja ia pakai, lalu ia bergegas kembali ke kamarnya.


Queen dan Athar bergegas turun dan bergabung dengan Ayah dan Bunda di Mushalla. Seperti biasa, Ayah menjadi imam dan mereka menjadi makmum nya.


Setiap pagi, mereka selalu mendoakan yang terbaik untuk semesta, keluarga dan orang-orang yang mereka cintai. Rutinitas yang memang seharusnya ini mereka mulai saat Bunda resmi menjadi istri dari Ayah Andra. Ayah Andra yang di didik baik oleh Ibunya, yang di sebut Oma oleh Queen dan Athar, mengharuskan anak dan Istrinya itu untuk mengikuti peraturan yang wajib dirumah itu. Yaitu, sholat berjamaah.


Awalnya berat bagi Queen dan Athar, lama-lama rutinitas itu begitu menyenangkan bagi mereka sekeluarga. Sosok Ayah yang sempurna sangat melekat pada Ayah Andra yang mampu menggiring keluarganya ke arah yang lebih baik lagi.


Setelah shalat berjamaah, mereka pun bersiap-siap untuk pergi ke Bandung, kecuali Athar yang mempunyai rencana dengan calon istri, Kimmy.


Tepat pukul 7 pagi, Queen, Ayah dan Bunda pun berangkat ke Bandung.


...


Pukul 10 pagi, Queen, Bunda dan Ayah sudah sampai di Bandung. Mereka langsung menuju ke gedung tempat diselanggarakan nya pernikahan Tika dan calon suaminya. Sesampainya disana, Tika terlihat bahagia sekali dengan kehadiran Queen serta kedua orangtuanya.


Tika menghampiri Queen dan memeluk Queen dengan erat.


"Alhamdulillah! Akhirnya elu datang, terima kasih ya Queen!" Seru Tika seraya melompat kegirangan.


"Astaga.. lu pakai kebaya Tik.. Itu mahkota sama konde nya copot ntar...!" Seru Queen yang khawatir bila dandanan Tika berantakan karena Tika terlalu bersemangat menyambut kehadiran dirinya.


"Alah, bodo amat, tinggal di perbaiki!"


"Halo Om, Tante, terima kasih sudah datang ya.." Tika menyapa Ayah dan Bunda seraya mengecup punggung tangan kedua orang tua Queen yang sudah ia anggap sebagai orang tua kandungnya sendiri.

__ADS_1


"Selamat ya Tika," Ucap Bunda sambil memeluk Tika dengan perasaan yang haru dan Bahagia. Tentunya, Bunda sempat merasa sedih, karena Tika sudah menikah dan Queen masih sendiri. Tetapi, Bunda buru-buru menghempaskan perasaan itu. Ia tidak mau Queen membaca perasaan nya dan justru membuat anak gadisnya itu merasa minder dan sedih.


"Terima kasih Tante.." Sahut Tika dengan wajah yang bahagia.


Pernikahan bernuansa Sunda itu terlihat megah. Walaupun Tika termasuk anak dari keluarga yang sederhana, tetapi dia cukup sukses dalam karir nya. Begitupun dengan suaminya yang ternyata adalah seorang pengusaha toko oleh-oleh khas Bandung dan juga pengusaha fashion di Kota itu.


Queen turut berbahagia dengan semua yang di raih oleh Tika. Saking bahagianya ia akan menangis di acara pernikahan itu. Mengingat Tika yang selalu mengeluh tentang hidupnya. Tetapi kini, Tika bisa berbahagia mendapatkan apa saja yang pernah ia cita-citakan.


Tika menghampiri Queen yang sedang makan di meja khusus tamu VIP. Bersamanya, terlihat seorang lelaki yang tampan, berusia sekitar 30 tahun.


"Queen,"


Queen menoleh dan menatap Tika, ia juga melirik lelaki tampan yang berdiri disamping Tika.


"Kenalkan, ini adik ipar gue, namanya Putra," Ucap Tika dengan bersemangat.


Queen menghela nafasnya dengan berat. Lalu, ia beranjak dari duduknya dan menyambut uluran tangan Putra, adik ipar dari Tika.


"Queen,"


"Putra."


Mereka pun berkenalan. Putra menatap Queen dengan wajah yang terpesona. Hingga ia tidak kunjung melepaskan genggaman tangan nya dari tangan Queen.


"Maaf," Queen menegur Putra dan berusaha melepaskan tangan nya dari genggaman lelaki itu.


Sedangkan Tika tampak tersenyum geli melihat momen tersebut.


"Ah, maaf," Putra membungkuk dan meminta maaf kepada Queen.


"Dan ini kedua orang tua Queen," Ucap Tika lagi.


Ayah dan Bunda pun berkenalan dengan Putra yang terlihat seperti lelaki baik-baik. Bunda dan Ayah tampak senang berkenalan dengan lelaki itu. Sedangkan Queen kembali duduk di kursinya.


"Dia minta kenalan sama elu Queen. Katanya elu cantik. Kebetulan dia single dan elu juga single. Gue kenalin deh, mana tahu jodoh." Bisik Tika sambil tersenyum puas.


Queen melirik sahabatnya itu dan tersenyum masam sambil menggelengkan kepalanya.


"Ayo, ngobrol... Saya kembali ke pelaminan lagi ya Bun, Ayah," Tika pun beranjak kembali ke pelaminan dimana suaminya sedang menunggu Tika bersama para tamu undangan.


"Boleh saya duduk disini?" Tanya Putra dengan wajah yang terlihat sedikit canggung.


"Silahkan," Ucap Ayah seraya tersenyum dan mengulurkan tangannya ke arah kursi yang kosong di samping Queen.


"Terima kasih Pak," Ucap Putra seraya tersenyum dengan Ramah.


Queen melanjutkan makan nya tanpa melirik sekalipun kepada lelaki yang terlihat tertarik dengan dirinya itu.


"Apa lagi sih si Tika. Dasar Mak comblang yang gak pernah sukses!" Keluh Queen sambil memicingkan kedua matanya. Ia merasa risih karena lelaki yang baru saja ia kenal beberapa menit yang lalu itu, duduk disampingnya.

__ADS_1


__ADS_2