
Suara merdu dari alat musik saxsophone yang dibawakan oleh seorang saxophonist terkenal dunia yang bernama Kenny G, terdengar begitu syahdu di telinga. Lagu klasik yang berjudul "Forever in love" itu, membuat suasana di restoran yang berada di lantai paling atas gedung hotel berbintang 5 itu begitu romantis. Terlihat beberapa pasang kekasih sedang asik berbincang dan menikmati suasana malam seraya memandangi indahnya pemandangan gemerlap cahaya Ibukota Jakarta yang pada malam itu begitu cerah. Sebagian lagi, tampak pengunjung yang sedang asik bercengkrama dan tertawa dengan beberapa orang teman-teman nya.
Queen menyibak rambut nya yang diterpa angin malam yang bertiup sedikit kencang. Lalu, ia bergidik kedinginan karena saat ini ia hanya memakai gaun pesta yang berbahan sutra.
Raka yang memperhatikan Queen pun langsung membuka jas nya, dan menutupi tubuh Queen dari terpaan angin malam itu. Queen tersenyum mendapatkan perlakuan yang sangat romantis dari kekasihnya itu.
"Terima kasih ya," Ucapnya seraya terus menatap Raka yang sedang menggulung lengan kemeja putih nya.
Raka hanya tersenyum menanggapi ucapan terima kasih dari kekasihnya itu dan terus menggulung lengan kemeja nya.
"Mau makan lagi atau mau minum saja?"
"Aku mau minum saja," Sahut Queen.
"Ok, mau minum apa gadis cantik ku?" Ucap Raka seraya menopang dagu nya di atas meja dan memandangi kekasihnya itu.
Queen mengulum senyumnya dan menundukkan pandangan nya. Entah mengapa, semakin hari, sikap Raka semakin romantis kepadanya.
"Apa saja, asal jangan yang beralkohol," Sahut Queen.
"Ok," Lelaki itu pun melambaikan tangannya kearah para pegawainya yang sedang asik berkumpul di depan meja Bar. Salah satu pegawainya yang melihat Raka memanggil pun segera menghampiri mereka dengan membawa sebuah buku menu di tangan nya.
"Silahkan Pak," Ucap pegawai tersebut seraya meletakkan buku menu itu di atas meja, tepat dihadapan Raka.
"Jon, kamu buatkan dua buah juice ya.."
"Juice apa Pak?"
"Hmmm, kamu mau juice apa?"
"Apa saja terserah," Sahut Queen.
"Ok baiklah, buatkan kami juice strawberry ya,"
"Baik Pak," Sahut pegawai itu.
"Hmmm, Raka, aku tidak suka strawberry,"
"Oh tidak suka, ya sudah mangga deh,"
"Kayak nya gak cocok deh malam-malam minum mangga," Ucap Queen lagi.
Raka mengangkat kedua alisnya dan menatap Queen dengan tak percaya.
"Ya sudah, kalau begitu belimbing ya Jon,"
"Baik Pak,"
"Sebentar, jangan belimbing deh,"
"Jadi kamu mau apa sayang?" Tanya Raka yang mulai bingung dengan apa maunya Queen.
"Terserah sih..." Sahut Queen.
"Aduh... semua wanita sama saja, di tanya mau apa, jawaban nya terserah. Giliran dipilihkan dia tidak suka." Gumam Raka seraya memijat pelipisnya.
"Gimana... kalau banana, kamu pasti suka kan..." Ucap Raka dengan intonasi suara yang membujuk Queen layaknya membujuk seorang bocah.
Queen menggelengkan kepalanya.
"Lah terus apa Queen?"
"Semangka ya,"
"Gak deh..."
Raka menghela nafas panjang dan menatap kekasihnya itu dengan tatapan putus asa.
__ADS_1
"Ya sudah banana milk shake deh Mas," Ucap Queen seraya tersenyum kepada pegawai yang turut merasa bingung, sama hal nya dengan Raka yang juga sedang bingung.
Raka dan pegawainya pun tercengang, mereka pun saling berpandangan.
"Baik Bu," Sahut pegawai itu.
Raka pun kembali menghela nafas panjang.
"Kalo Bapak apa?"
"Saya kopi saja."
"Ada yang lain Pak?"
"Hmmm, saya gak jadi bandana milk shake nya ya, capuccino saja," Ucap Queen dengan wajah polos nya.
Raka dan pegawainya pun kembali saling bertatapan. Mereka berdua seraya berkomunikasi hanya dengan bertatapan mata saja. Yang mengatakan bila, semua wanita itu sama, cukup membingungkan kalau ditanya masalah makan dan minum.
"Sudah itu saja?" Tanya Raka.
Queen tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Ok, Jon, itu saja,"
"Hmmm, ada salah buah?" Tanya Queen saat pegawai itu hendak meninggalkan meja mereka.
Pegawai itu dan Raka kembali bertatapan.
"A-ada Bu," Sahut nya dengan terbata.
"Boleh deh," Ucap Queen.
"Mungkin ada yang lain?"
"Tidak ada," Sahut Queen sambil memberikan senyum manis nya kepada pegawai itu.
Raka yang duduk dihadapan Queen hanya menggelengkan kepalanya, seraya tersenyum geli melihat tingkah umum para wanita.
"Gak, gak ada apa-apa." Sahut Raka yang masih terus tersenyum.
"Apanya yang lucu sih? Kok senyum-senyum terus?"
"Gak ada..."
"Ada yang aneh dari wajah ku?" Tanya Queen seraya membuka tas tangan nya dan meraih cermin kecil dari dalam tas tersebut.
Ia mulai memperhatikan wajah nya di cermin yang sedang ia pegang.
"Gak ada sayang ku... wajah mu itu sempurna, cantik dan buat aku rindu setiap saat,"
Queen menatap Raka dan kembali menaruh cermin nya kedalam tas tangan miliknya.
"Kamu tuh gombal terus ya beberapa hari ini," Ucap Queen dengan pipi yang memerah.
"Siapa bilang aku gombal? Aku ngomong fakta kok,"
"Bohong,"
"Beneran..." Raka tersenyum dan menggenggam tangan Queen yang sedang berada di atas meja.
"Aku sudah bilang sama Ibu, bila besok aku akan membawamu makan siang di rumah."
"Terus Ibumu jawab apa?" Tanya Queen dengan wajah yang terlihat penasaran.
"Kata Ibu, dia akan memasak yang enak-enak untuk menyambut kedatangan kamu," Sahut Raka.
Queen mengerutkan keningnya, serasa seperti mimpi baginya saat mendengar jawaban Raka.
__ADS_1
"Kenapa? Gak percaya ya?" Tanya Reka seraya meraih ponselnya dari dalam saku celana nya.
"Bu-bukan begitu..."
"Ini, aku gak bohong, Ibuku bilang seperti itu, Queen..." Raka memamerkan pesan teks dari Ibunya, kepada Queen.
Queen melirik pesan itu sekilas lalu, ia tersenyum canggung.
"Maaf Raka, aku bukan tidak percaya kepadamu, sehingga kamu harus membuktikan dengan memperlihatkan percakapan pribadi mu dengan Ibumu kepadaku," Ucap Queen dengan ekspresi yang merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, aku paham kok, Ibuku pernah berbuat salah kepadamu. Ibu juga ingin meminta maaf kepadamu Queen. Ia sudah keliru pernah bersikap yang tidak menyenangkan dan menyinggung kamu. Jadi, besok dia sangat berharap bila kamu memang benar-benar mau datang kerumah." Terang Raka.
Queen tersenyum, lalu ia menundukkan pandangan nya. Walaupun ia masih belum percaya dengan apa yang dirinya dengar, tetapi pesan teks itu mengatakan bahwa memang benar Ibunya Raka menyambut kabar dirinya yang akan datang kerumah mereka dengan bahasa yang baik, bahkan terkesan senang.
"Jangan khawatir, Ibu tidak akan melukai perasaan mu lagi. Maaf bila kemarin-kemarin Ibu telah melukai hatimu." Ucap Raka, seraya mengusap punggung tangan Queen.
Queen tersenyum tipis, entah mengapa ada rasa takut dihatinya. Rasa takut bila besok dirinya akan kembali mendapatkan perlakuan buruk dari Ibunya Raka.
"Tenang ya, apa pun yang terjadi, aku akan selalu memperjuangkan kamu." Pungkas Raka.
Queen terenyuh mendengar ucapan Raka. Ia terus menatap wajah kekasihnya itu.
"Ya Allah... aku jadi ingin cepat menikah dengan nya..." Gumam Queen yang sedang merasa taburan bunga dan sekelompok kupu-kupu sedang berterbangan di atas kepalanya.
"Raka...."
"Ya...?"
"Permisi... Kopi dan capuchino nya,"
Queen mengurungkan niatnya untuk membahas pernikahan dengan Raka, karena pegawai Raka tiba-tiba hadir membawa pesanan mereka.
"Tadi mau ngomong apa?" Tanya Raka, setelah pegawainya kembali melayani pelanggan lain nya.
"Tidak apa-apa," Ucap Queen yang terlihat salah tingkah.
"Beneran?"
"Iya," Sahut Queen.
"Ya sudah, silahkan diminum ya.."
Queen mengangguk dengan cepat, lalu meraih gelas capuchino miliknya.
"Ngomong gak ya? Ah, masa gue duluan yang membahas masalah pernikahan. Tapi, kalau gak dibahas, apa iya dia mau segera melamar? Eh, tadi waktu di mobil, dia bilang akan segera menghalalkan gue. Ah, jadi gak usah dibahas kali ya? Apa dibahas saja? Malu gak ya kira-kira? Apa dia janji doang ya? Tapi... kalau memang beneran, kapan dia mau melamar gue ya? Aduhhh... gue mikir apa sih? Duh gawat nih..." Batin Queen.
Lalu, ia melirik Raka yang sedang menyeruput kopinya seraya memandangi pemandangan kota, sehingga Queen dapat menikmati wajah Raka dari sisi samping lelaki itu. Mata Queen tertuju ke arah leher Raka yang terlihat kokoh, dan gerakan jakun nya saat menelan kopi yang sedang ia minum.
"Ya ampun, dia sexy sekali..." Batin Queen seraya terus memandangi Raka.
"Astaghfirullah!, gue mikir apa barusan?" Queen mengerjapkan kedua matanya. Jantungnya berdegup kencang.
"Ya ampun, apa gue segitu ngebet nya ingin menikah ya?" Gumam nya.
"Ya?" Tanya Raka seraya menatap Queen yang sedang bergumam tidak jelas.
"Hah?" Queen terlihat salah tingkah, mereka pun saling beradu pandang. Mata indah Raka membuat Queen semakin salah tingkah. Lalu, pandangan nya jatuh ke bibir Raka yang tipis. Ingatan Queen tentang ciuman pertamanya di Korea bersama Raka pun kembali terlintas, hingga membuat jantung Queen terasa ingin copot.
"Raka, aku mau pulang," Ucap Queen seraya beranjak dari duduk nya. Lalu, ia menyambar tas tangan nya dari atas meja.
"Pulang? Baru jam sembilan Queen,"
"Sudah ayo..." Wajah Queen semakin memerah dan ia terlihat panik sekali.
"I-i-iya, ada apa? kok..."
"Ayo Raka..." Queen memicingkan mata nya, agar ia tidak terus menerus melihat wajah dan tubuh Raka yang sexy.
__ADS_1
"O-o-ok... ayo.." Raka beranjak dari duduknya dan berjalan mengikuti Queen dari belakang.
"Dia kenapa ya?" Gumam Raka yang merasa bingung dengan tingkah aneh kekasih nya itu.