365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
57# Curahan hati Queen dan Ayah


__ADS_3

Queen mondar mandir dari kamarnya ke ruang keluarga. Ia terus menatap Bunda dan Ayah yang masih duduk santai bersama sambil menonton televisi di ruang keluarga.


Bunda merasa bingung melihat sikap Queen yang tampak gelisah. Bunda pun memanggil Queen dan mengajak Queen untuk duduk bersama dengan nya.


Tetapi, Queen menolak dengan alasan dirinya sedang berolahraga dengan jalan kaki dari kamar ke ruang keluarga. Bunda sempat merasa heran, karena sebelumnya Queen belum pernah seperti itu.


"Apa dia masih gelisah dan trauma ya Yah, gara-gara kejadian kemarin?" Tanya Bunda.


Ayah menoleh kearah Queen dan menatap gadis itu yang terlihat salah tingkah.


"Mungkin Bun, nanti Ayah ajak dia berbicara empat mata," Ucap Ayah.


"Tapi, Ayah cerita ya sama Bunda tentang apa saja yang dibicarakan Queen. Ayah sih suka rahasia-rahasiaan sama Bunda." Keluh Bunda.


Ayah tertawa dan mengecup pipi Bunda.


"Ya... namanya orang curhat, masa iya Ayah bocorkan. Rahasia dong," Ucap Ayah menggoda Bunda.


"Ih dia mah begitu," Bunda menepuk paha Ayah dengan keras.


"Aduh...! Pedes Bun.." Ucap Ayah sambil mengerutkan keningnya dan mengusap paha nya yang terasa pedas karena di tepuk oleh Bunda.


"Lagian!" Bunda terlihat kesal dan merajuk.


"Idih... kalau ngambek begitu, bawaan nya pengen Ayah uwel-uwel deh..." Goda Ayah lagi.


"Bunda lagi gak bercanda!"


"Ya sudah, Ayah saja yang bercanda," Ucap Ayah Andra sambil tertawa kencang.


"Au ah.. sebel!" Ucap Bunda sambil menghentakkan kakinya dan beranjak masuk kedalam kamar.


Ayah terkekeh melihat sikap Bunda yang kekanak-kanakan. Tetapi, walaupun begitu, ia sangat menyukainya. Walaupun Bunda jauh lebih tua dari Ayah, tetap saja Ayah lah yang lebih mengayomi Bunda.


Sisi kekanakan Bunda itulah yang membuat Ayah merasa dibutuhkan, di anggap lebih tua dan dewasa.


Melihat Bunda sudah tidak di ruang keluarga lagi, Queen pun bersemangat, ia langsung ke dapur membuat dua gelas kopi untuk dirinya dan Ayah. Lalu, setelah itu ia membawa kopi yang baru saja ia bikin ke beranda rumah.


Queen kembali ke ruang keluarga dan menghampiri Ayah.


"Yah, Queen sudah membuatkan kopi untuk Ayah," Ucap Queen.


Ayah menatap Queen dan tersenyum.


"Kenapa gak di bawa kesini?" Tanya Ayah.


"Di beranda saja ya Yah," Queen tersenyum manis dengan tatapan memohon.


Melihat Queen yang seperti itu, Ayah langsung paham bila anak gadis nya itu sedang merayu dirinya untuk dapat mencurahkan permasalahan yang sedang Queen hadapi.

__ADS_1


"Ok, baiklah," Ucap Ayah sambil melepaskan kaca matanya dan beranjak menuju ke beranda rumah bersama dengan Queen.


Di beranda, mereka duduk berdampingan. Kopi yang masih terlihat uap panasnya tertata di atas meja dengan satu toples biscuit kesukaan Ayah.


Ayah tersenyum melihat cara Queen membujuk dirinya untuk bisa menjadi teman bicara.


"Ada apa anak Ayah?" Tanya Ayah tanpa basa basi lagi.


Queen tersenyum, lalu mengusap wajahnya yang terlihat gelisah.


"Ayah, Queen mau cerita."


"Cerita apa? Silahkan cerita, karena kamu sudah membuatkan kopi untuk Ayah, maka Ayah akan mendengarkan kamu," Ucap Ayah.


Queen tersenyum semringah, lalu ia menatap Ayah dengan mata berbinar.


"Jadi begini Yah, Queen lagi dekat dengan seorang lelaki...."


"Hmmm, lelaki yang di kantor polisi?" Tanya Ayah sambil menatap Queen.


Queen tersenyum salah tingkah, lalu ia menundukkan wajahnya.


"Iya Ayah,"


"Lalu?"


Ayah menghela nafas dan meraih gelas kopinya. Ayah menyeruput kopi panas itu dan kembali meletakkan nya di atas meja.


"Dia baik secara keseluruhan, namun... kok kayaknya Queen kurang menerima masa lalunya ya Yah. Dia sih pernah jujur sama Queen, kalau dulu dia pernah berbuat salah lah, hidup bersama di Boston dengan kekasihnya saat kuliah. Nah, saat pulang ke Indonesia, mereka masih berhubungan. Tiba-tiba dia tahu, kekasihnya itu selingkuh. Lalu, mereka putus dan kekasihnya langsung menikah dengan selingkuhannya. Hanya saja, mantan kekasihnya baru menyadari saat anak nya sakit. Ternyata, lelaki yang mantan kekasihnya nikahi itu bukan lah Ayah kandung dari anak itu." Terang Queen.


"Lalu?" Tanya Ayah yang terus mendengarkan Queen.


"Ya, tiba-tiba saja mantan kekasihnya datang dan mengatakan yang sebenarnya. Raka sih kaget, ada rasa tidak percaya. Hanya saja kekasihnya merasa dia hanya berhubungan dengan dua orang lelaki saja. Sudah pasti Raka lah Ayah kandung dari anak itu," Terang Queen lagi.


Ayah kembali menghela nafas panjang dan mengangguk paham dengan permasalahan Queen.


"Nah, yang jadi bikin Queen risau, apakah Queen menjauh saja dari dia atau memang Queen terima saja masa lalu dia Yah? Menurut Ayah bagaimana?" Tanya Queen.


"Dia baik?" Tanya Ayah.


Queen mengangguk dengan cepat.


"Kalau dia baik, apa yang di permasalahkan?" Tanya Ayah.


Queen mengerutkan keningnya dan menatap Ayah dengan seksama.


"Queen sedikit tidak terima dengan adanya anak itu. Ya, memang Queen belum bertemu dengannya. Lagi pula dia sekarang sedang terbaring di rumah sakit. Hanya saja, ada rasa kecewa gitu Yah...." Ucap Queen berterus-terang.


"Setelah dia tahu itu anaknya, apakah dia menyangkal atau malah mau bertanggung jawab?" Tanya Ayah.

__ADS_1


"Dia langsung menemui anak itu dan mengakuinya Yah,"


"Itu tanda gentleman, bukan lelaki pengecut dan pembohong."


Queen terkejut dengan ucapan Ayah.


"Maksudnya Yah?" Tanya Queen penasaran.


"Dari situ kita bisa lihat, dia itu selalu bertanggung jawab dengan segala perbuatannya. Dia tidak akan menyia-nyiakan anak dan istrinya kelak kalau berkeluarga."


"Sedikit saja contoh mengapa Ayah bilang dia gentleman dan bertanggung jawab. Dia itu langsung mengakui, karena merasa pernah berbuat. Dia langsung menemui anak nya tanpa drama terlebih dahulu. Dia lelaki baik dan tidak banyak lelaki yang bisa seperti itu."


"Masalah masa lalu, semua orang pasti punya masa lalu. Mau itu kelam, pahit, bersih dan kotor. Masa lalu hidup dimana kita belum mengenal orang tersebut. Sudah terjadi, ya sudah. Yang terpenting bagaimana dirinya saat ini."


Queen terdiam, mendadak ia merasa egois karena telah meninggalkan Raka di restoran tadi siang.


Queen mulai teringat tentang asal usulnya dan masa lalu Bundanya. Mendadak ia merasa nasib nya sama dengan Jonathan. Hanya saja, Jonathan beruntung memiliki Raka. Sedangkan dirinya pernah di tolak oleh Ayah Gunawan sampai bertahun-tahun, sebelum hubungan mereka membaik.


Masa lalu Raka tidak berbeda dengan Bunda, mereka sama-sama memiliki anak diluar nikah. Queen pun menatap Ayah dan melihat ketulusan lelaki yabg duduk di sampingnya itu.


"Yah, bagaimana Ayah bisa menerima masa lalu Bunda?" Tanya Queen dengan ujung suara yang tercekat.


Ayah menatap Queen, lalu ia tersenyum kecil.


"Masa lalu, adalah perjalanan bagi manusia. Tanpa ada masa lalu, tidak mungkin kita sampai di masa sekarang."


"Ayah memilih dan menerima Bunda, karena Ayah mencintai Bunda. Ayah mencintai kamu dan Athar. Yang terpenting adalah, tujuan hidup dan siapa yang mau di ajak hidup bersama. Bila hatinya baik, seburuk apa pun masa lalunya, dia tetap orang baik. Don't judge a book by its cover."


"Baca dulu, pahami, baru ambil kesimpulan nya." Sambung Ayah lagi.


Queen menatap Ayah dengan wajah yang haru.


"Menurut Ayah, Bunda bagaimana?" Tanya Queen lagi.


"Bunda adalah Angel." Ucap Ayah sambil tersenyum.


Queen terharu, ia memeluk Ayah dengan erat. Sedangkan Ayah tersenyum dan mengusap rambut Queen dengan penuh kasih sayang.


Sedangkan dari balik dinding antara beranda dan ruang tamu, Bunda menangis haru, mendengar pengakuan Ayah yang begitu bijak dan tulus mencintai dirinya.


Bunda tersenyum dan melangkah kembali ke kamarnya. Ia benar-benar merasa beruntung memiliki Ayah Andra yang bertemu dengan nya saat ia sudah memiliki 2 orang anak, dari lelaki yang berbeda.


Bunda juga merasa beruntung dipertemukan dengan Ayah Andra. Lelaki yang tulus dengan kedua anaknya. Lelaki yang sabar dan dewasa walaupun jauh lebih muda darinya. Lelaki yang memiliki hati luar biasa dan hebat.


Malam itu, rasa cinta Bunda kepada Ayah semakin dalam. Bunda semakin menghormati suaminya itu. Bunda semakin ingin hidup bersama hingga maut memisahkan mereka berdua.


"Alhamdulillah, ya Allah... engkau telah memberikan aku pendamping yang luar biasa. Engkau telah memberikan aku hadiah terindah setelah engkau memberikan aku cobaan hidup yang mampu aku lewati. Alhamdulillah... Alhamdulillah..." Gumam Bunda.


"Seorang wanita akan menjadi ratu bila bersama lelaki yang tepat."

__ADS_1


__ADS_2