365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
142# 266 hari, mulai dari sekarang


__ADS_3

Setelah prosesi tukar cincin sudah dilaksanakan. Kini, pembahasan tentang pernikahan Raka dan Queen. Kedua keluarga sempat tidak menemukan titik temu. Acara yang tadinya akan dilaksanakan selama 3 jam saja, kini sudah 4 jam berlalu.


Keluarga Raka menginginkan pernikahan yang menurut mereka harus serba dengan konsep dan aturan adat. Sedangkan keluarga Queen berniat melaksanakan pernikahan secepatnya, minimal 3 bulan sejak hari pertunangan ini.


Queen dan Raka sempat merasa ketar ketir melihat perbincangan yang sangat serius tersebut. Mereka berdua takut sekali, bila hari bahagia mereka malah justru membuat perpecahan diantara kedua keluarga. Sedangkan Kimmy dan Athar lebih memilih menyingkir dari pembahasan tersebut. Mereka berdua yang masih terbilang pengantin baru, malah asik berdua di kamar Athar dilantai atas.


Sebenarnya bukan tidak empati, mereka hanya merasa khawatir bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kimmy dan Athar merasa tidak sanggup bila mendengar perselisihan diantara dua keluarga.


"Jadi begini loh jeung Amara, kalau tahun depan kan usia Queen sudah tiga puluh satu loh. Apa tidak sebaiknya dipercepat saja?" Tanya Bunda yang tidak setuju bila pernikahan akan dilaksanakan pada tahun depan.


"Tapi kan, pernikahan itu kan ada prosesnya Jeung. Contohnya, persiapan, acara ini acara itu..." Nyonya Amara mencoba untuk meminta Bunda untuk memaklumi buah pikir nya.


Bunda terdiam, ia menghela nafas panjang. Sedangkan para Bapak-Bapak ikut terdiam.


Om Bobby melirik Queen dan Raka yang terlihat cemas. Mereka tahu, tidak ada yang bisa mematahkan perdebatan antara Ibu-ibu, terutama yang merasa mempunyai anak yang akan menikah.


"Maaf kalau menyela, saya mau tanya dahulu kepada calon pengantin," Ucap Om Bobby, yang merasa suasana mulai menegang.


"Monggo silahkan," Ucap Ayah Gunawan.


"Maaf ya Bapak-bapak dan Ibu-ibu, saya ambil alih sebentar."


"Queen dan Raka sudah saling mengenal berapa lama?" Tanya Om Bobby.


Raka dan Queen saling bertatapan.


"Berapa lama ya?" Tanya Raka seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Bulan Desember bukan sih?" Tanya Queen.


Raka tampak berpikir sejenak. Lalu ia membulatkan kedua matanya.


"Iya, sekitar bulan Desember," Ucap Raka.


"Berarti kurang lebih empat bulan ya?" Tanya Om Bobby.

__ADS_1


Raka dan Queen mengangguk serentak.


"Tepatnya kapan ya? Tanggal berapa?" Tanya Om Bobby lagi.


Raka menggelengkan kepalanya, ia mulai bingung dengan pertanyaan Om Bobby.


"Maksudnya, sejak kalian berdua dekat," Ucap Om Bobby lagi.


Raka kembali berpikir keras. Lalu, ia teringat ia pernah membuat permohonan dihari dimana kejadian dirinya terjebak di lift bersama dengan Queen. Ia ingat betul, bila dirinya benar-benar berdoa, dan menginginkan Queen menjadi miliknya.


"Sembilan puluh sembilan hari yang lalu!" Seru Raka.


Om Bobby tersenyum dan menatap kedua insan tersebut. Tidak hanya Raka dan Queen saja yang tidak mengerti dengan apa maksud Om Bobby. Tetapi, istri dan kedua keluarga pun bingung dibuat nya.


"Saya Rasa, perkenalan selama satu tahun atau tiga ratus enam puluh lima hari, sudah cukup untuk menikah. Berilah ruang dan waktu yang tidak terlalu lama, ataupun tidak terlalu singkat untuk Queen dan Raka," Ucap Om Bobby.


Kedua keluarga pun saling bertatapan.


"Sebenarnya om, sembilan puluh sembilan hari yang lalu, mengapa saya bilang kami mulai dekat? Karena kenyataannya begitu. Kami terjebak di lift yang sama selama hampir dua jam. Dan sebenarnya juga, saya sudah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Queen saat kami bertemu di Mall. Hanya saja, saat itu saya membuat permohonan, saya ingin mendekati dan serius dengan Queen. Entah mengapa saya langsung berniat serius dengan nya," Terang Raka.


"Queen, aku pernah bilang sama kamu, aku jatuh cinta pada pandangan pertama denganmu. Itu jujur tanpa sedikitpun kebohongan dari ucapan ku. Masalah permohonan itu, aku benar-benar berdoa di dalam hatiku. Sudah lama aku tidak berdoa, tetapi sekalinya aku berdoa, aku meminta kamu menjadi pendamping ku," Ucap Raka berterus-terang di depan kedua keluarga mereka.


Semua terdiam, menyimak pembicaraan Queen dan Raka.


Raka menggenggam tangan Queen dengan lembut dan mengecup kedua buku-buku tangan Queen.


"Bila tiga ratus enam puluh lima hari itu satu tahun, dan kita sudah melewati sembilan puluh sembilan hari, berarti aku akan menikahi kamu 266 hari lagi. Bagiamana? Bukankah itu tepat satu tahun? Bukankah bisa kita persiapkan semua tanpa ada yang merasa terlalu cepat dan terlalu lama?" Ucap Raka.


Semua masih diam seribu bahasa.


"Kamu kok sempat-sempatnya nya sih mengingat hari kita dekat?" Tanya Queen dengan rona merah di pipinya. Ia terus merasa tersanjung dengan ucapan Raka.


"Bagaimana aku lupa, sedangkan saat itu aku benar-benar berdoa untuk dijodohkan denganmu?" Ucap Raka.


Om Bobby tersenyum, melihat Om Bobby tersenyum, seluruh keluarga pun tersenyum melihat keromantisan Raka kepada Queen.

__ADS_1


"Itu calon mantu gue Nia..!" Bisik Bunda Farah kepada Tante Nia.


"Iya dan iya.." Tante Nia tertawa geli.


"Akhir Desember ini, kami akan menikah. Tepat tiga ratus enam puluh lima hari, dimana saya pernah berdoa untuk memiliki gadis luar biasa ini. Biarlah, saya bisa menahan sampai akhir Desember. Kami bisa terus bersama tanpa melanggar aturan Agama. Insya Allah, kami bisa dan akan dilancarkan semuanya, termasuk pernikahan kami berdua."


"Kami, sebagai dua insan yang ingin menikah, mohon doa restu semuanya, orangtua, saudara dan para kerabat, restuilah niat kami," Sambung Raka lagi seraya membungkuk kan badan nya.


Nyonya Amara dan Bunda mengangguk setuju, di iringi semua yang berada disana.


Raka tersenyum bahagia, pun juga Queen yang tak bisa membendung perasaan haru dan bahagianya. Ia tidak pernah menyangka bila Raka pernah berdoa untuk memiliki dirinya sesaat setelah mereka terjebak di lift.


"Raka," Ucap Queen dengan nada suara yang manja, serta air mata yang tertahan di pelupuk matanya.


Raka tersenyum dan mulai memeluk Queen.


"Ehhhh.... ehhhh... katanya mau pacaran sehat! Kenapa peluk-peluk anak saya?" Ucap Ayah Andra, yang lebih-lebih protektif dibandingkan Ayah Gunawan.


Raka langsung melepaskan pelukannya dan tersenyum salah tingkah. Sedangkan Ayah Gunawan dan para orangtua hanya menggelengkan kepala mereka. Bukan karena Queen berpelukan dengan Raka. Tetapi, mereka merasa Ayah Andra agak sedikit berlebihan.


Bagaimana tidak berlebihan, selama ini setengah mati Ayah Andra mendidik dan menjaga Queen. Bahkan, rasa cintanya pun melebihi rasa cinta Ayah Gunawan kepada Queen, dibandingkan cintanya kepada Queen.


"Sabar dong," Ucap nyonya Amara dengan wajah yang kesal kepada Raka.


Raka semakin salah tingkah. Queen hanya tersenyum dan mengalungkan tangannya di lengan Ayah Andra yang terlihat sewot.


"Ayah lebay," Bisik Queen.


"Calon suami mu yang lebay!" Balas Ayah Andra.


..


Jauh dilubuk hati Ayah Andra, terbesit rasa takut kehilangan Queen. Namun, mau tidak mau, Queen harus menjadi milik orang lain. Karena Queen berhak bahagia dengan kehidupannya.


Begitulah perasaan seorang Ayah yang mungkin kita tidak pernah tahu, saat akan melepas kita untuk memulai hidup yang baru. :)

__ADS_1


__ADS_2