
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya Raka dengan wajah khawatir, setelah Dokter selesai memeriksa keadaan Raka.
"Pendarahan dari hidungnya sudah berhenti. Jonathan dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Kondisinya semakin buruk."
"Hasil test saya bagaimana? Apakah cocok? Kalau cocok, segeralah di operasi dok.. Saya sudah siap, bahkan hari ini pun saya sudah siap." Ucap Raka.
"Hasil akan keluar esok hari Pak. Mohon bersabar. Kami melakukan semuanya dengan mendetil, agar tidak ada kesalahan dan benar-benar cocok. Bila cocok, kami akan menggelar operasi secepatnya." Terang dokter itu.
"Besok? Saya tunggu dok. Terima kasih," Ucap Raka dengan suara yang bergetar.
Raka benar-benar merasa khawatir dengan keadaan Jonathan. Begitupun dengan Lala. Ia terdiam di pojok ruang itu sambil memegangi tangan Jonathan yang sudah tertidur pulas.
Air mata terus menetes di pipi Lala. Tampak raut wajah yang lelah di wajahnya. Raka pun merasa iba dengan Lala yang pasti berusaha untuk tegar menghadapi kenyataan bila Jonathan mengalami penyakit yang sangat kecil kemungkinan akan sembuh itu.
Raka berjalan menghampiri Lala, ia menyentuh pundak wanita itu.
"Maaf, gara-gara aku...."
"Sudah tidak apa-apa, aku sudah biasa menghadapi hal seperti ini. Itulah mengapa aku sangat membutuhkan kamu untuk bersama lagi dengan Jonathan."
Raka terdiam, ia merasa menyesal dengan sikap nya.
"Pulang lah, sudah malam. Biar aku disini menunggu Jonathan," Ucap Lala dengan wajah yang tampak memelas.
"Tidak, aku juga akan berada disini menunggu Jonathan." Tegas Raka.
Diam-diam Lala tersenyum puas, itulah tujuan dirinya memasang wajah memelas dan berbasa basi, menyuruh Raka pulang.
"Tetapi, nanti kamu capek.."
"Tidak, tidak ada kata lelah untuk putraku," Ucap Raka.
Malam itu, Raka menginap dirumah sakit itu. Bersama dengan Jonathan dan Lala.
Malam semakin larut, Lala menatap Raka yang tertidur di sofa ruangan itu. Ia menghampiri Raka dan mengusap rambut lelaki itu. Lalu, ia mengecup bibir Raka dengan lembut.
"Aku yakin, kita bisa bersama-sama kembali. Tanpa adanya pengganggu lagi diantara kita, termasuk Ibumu. Setelah kamu jadi milik ku, aku akan pelan-pelan menyingkirkan wanita peyot itu dari hidup kita." Batin Lala, seraya tersenyum puas. Lalu, Lala beranjak tidur di ranjang penunggu pasien. Ia terus tersenyum puas, seakan-akan selangkah lagi ia dapat memiliki Raka seutuhnya.
...
"Kusut banget tuh muka?" Celetuk Tika yang baru saja meletakkan segelas kopi di atas meja tamu, untuk sahabatnya, Queen.
Queen menelan salivanya dan menatap Tika dengan seksama. Ia baru saja membaca kertas undangan untuk dirinya yang diberikan Tika kepadanya.
"Jadi, minggu depan?" Tanya Queen, mengalihkan pertanyaan dari Tika.
"Iya, akhirnya gue jadi juga nikah sama dia. Gak nyangka gue!" Ucap Tika dengan wajah yang terlihat begitu bahagia.
"Selamat ya..."
"Nanti dong ngucapin selamat nya. Kan gue belum nikah,"
"Tetap aja selamat, seminggu lagi itu sudah fix Tik... Gak kayak gue, baru rencana saja, sudah bubar jalan."
Tika menghela nafas panjang saat mendengar ucapan yang terlontar dari bibir Queen. Dia paham betul, bila Queen sedang menghadapi masalah saat ini. Semua terlihat dari raut wajah Queen yang tidak biasa. Tika sudah mengenal Queen hampir 20 tahun lamanya. Tentu saja ia paham betul dengan Queen.
"Ada apa lagi? Raka?" Tanya Tika tanpa banyak basa-basi.
Queen tersenyum kecil sambil menundukkan wajahnya.
"Kenapa Raka? Tidak sesuai dengan ekspektasi gue dan elu?"
"Bukan,"
"Terus?" Tanya Tika penasaran.
__ADS_1
"Raka sudah terlalu perfect menjadi seorang lelaki. Tetapi... Ibunya.... anaknya.."
"Wait! Anak?" Wajah Tika tampak terkejut, matanya membulat dan mulut nya ternganga lebar.
"Anak dari mana?" Tanyanya lagi.
Queen mengangkat wajahnya dan menatap langit-langit ruang tamu itu.
"Dia ternyata sudah memiliki anak dari mantan kekasihnya yang hidup bersama di Boston dulu, saat mereka kuliah."
"Dia berbohong dong sama elu?" Tanya Tika dengan wajah yang terlihat kesal.
"Bukan, tapi dia juga baru tahu."
"Gimana ceritanya?" Tanya Tika lagi.
Queen menghela nafas panjang, ia pun mulai menceritakan tentang apa yang dialami Raka dan dirinya setelah pulang berlibur dari Korea Selatan.
Tika hanya bisa tercengang mendengar cerita-cerita yang bergulir dari bibir Queen. Ia tidak habis pikir dengan apa yang terjadi. Termasuk tentang Ibunya Raka.
"Masih ada orang tua begitu di jaman ini? Astaga...." Celetuk Tika.
"Ada tuh, orang tua Antoni," Sahut Queen.
"Hahaha, iya ya... susah deh kalau sombong. Oh, iya... kabar Antoni bagaimana? Apa perlu gue undang dia ya di acara nikahan gue?" Tanya Tika yang tidak tahu berita tentang Antoni.
Queen menelan salivanya dan menatap Tika dengan penuh arti.
Tika membalas tatapan Queen dengan seksama. Perlahan, ia mengerutkan keningnya tanda ia mencoba menerka apa yang akan Queen ucapkan.
"Kenapa sih?"
"Hmmm, Tik..."
"Antoni sudah tidak waras."
Tika tertawa mendengar ucapan Queen.
"Hahaha gue kira kenapa, kalau gak waras kan, memang dia sudah gak waras sejak kenalan sama elu. Sampai sekarang dia juga gak waras nguber-nguber elu lagi."
"Tik, gue serius. Antoni dirawat di rumah sakit jiwa."
Tawa Tika mendadak terhenti, kini berganti dengan wajah yang terlihat serius.
"Lu gak bercanda kan Queen?" Tanyanya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri dengan apa yang baru saja ia dengar.
Queen menggelengkan kepalanya.
"Serius?" Tanya Tika lagi.
Queen mengangguk kan kepalanya dengan yakin.
Tika memijat pelipisnya yang terasa pusing. Ia benar-benar tidak menyangka nasib Antoni akan berakhir seperti itu, hanya gara-gara tidak bisa mendapatkan Queen.
"Ya Allah, kok gue kasihan ya sama Antoni."
"Ya gue juga sih, tapi mau gimana lagi."
Lalu, Queen menceritakan kejadian dirinya yang hampir saja diperkosa oleh Antoni.
Tika hanya dapat tercengang dan menggelengkan kepalanya. Seakan ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Ya Tuhan... Lu seriusan?"
"Iya..." Sahut Queen dengan wajah yang serius.
__ADS_1
"Ampun.... Antoni..... Kasihan banget sih lu... Eh, tapi untung lu gak kenapa-kenapa ya Queen. Gila juga ga itu anak...! Kurang ajar!"
"Alhamdulillah, gue gak kenapa-kenapa. Ya hanya merasa trauma sedikit. Itu pengalaman yang gila menurut gue. Gue gak mau lagi deh mengalami nya. Stress, paranoid dan lain-lain. Untung ada Raka...."
Queen menghentikan ucapannya saat menyebut nama Raka. Entah mengapa ia terus mengingat lelaki yang hampir sempurna dimatanya itu.
Tika menghela nafasnya dan meraih tangan Queen. Lalu, Tika menggenggam nya dengan erat.
"Lu suka kan sama Raka?"
Queen menoleh dan menatap Tika dengan seksama. Lalu, air mata mulai tergenang di pelupuk matanya.
"Kenapa sih? Ada aja halangan nya untuk gue bahagia? Kesalahan apa sih yang pernah gue buat, sehingga kayaknya kebahagiaan itu tidak berhak untuk gue rasakan? Tik, gue sudah bersabar dan terus bersabar selama ini. Gue juga selalu mencoba untuk menghargai diri gue sendiri. Tapi kenapa ya Tik? Apa karena ini karma, karena Ayah kandung gue dulu suka mempermainkan wanita, termasuk Bunda gue?"
Air mata mengalir deras di pipi Queen, ia merasa tidak kuat lagi dengan kesialan-kesialan yang selama ini terus menghampiri dirinya.
"Queen... lu sabar ya..." Tika berusaha menenangkan Queen sembari mengusap punggung sahabatnya yang sedang menangis itu.
"Gue yakin ini karma dari Ayah Gunawan..! Tetapi, kenapa harus gue yang menanggung nya? Salah gue apa? Mengapa Tuhan tidak adil sama gue...? Adik gue masih kuliah saja sudah mau menikah. Lah gue!" Keluh Queen sambil terisak.
"Bisa gak lu menarik hal positif dari apa yang sedang lu alami Queen?"
"Gue selalu menarik hal positif Tik...! Tapi gue manusia! Kadang, gue punya pertanyaan dan kadang rasa mengeluh itu ada!"
Tika menghela nafas panjang, lalu ia memeluk Queen dengan erat.
"Queen, kadang kalau kita mau menang dalam suatu pertandingan. Kudu susah payah, kudu berjuang, kudu pincang-pincang, kudu mati-matian."
"Tapi kenapa orang lain enggak sih Tik? Beda sama gue?" Keluh Queen lagi.
"Queen, gue bukan orang yang bijak seperti orang tua elu. Simpel nya gini deh, elu kalau mau dapetin emas, lu harus menambang di kedalaman tanah tertentu. Kalau tinggal nyerok doang mah dapat nya sampah. Kayak nyerok parit!"
Queen mengangkat wajahnya dan menatap Tika dengan seksama. Lalu, ia mengusap air matanya dengan punggung tangan nya.
"Perumpamaan lu gak banget!"
"Lah iya... itu sampah banyak di parit depan rumah gue."
Queen tersenyum dan mendorong kening Tika dengan jari telunjuknya.
"Si oneng... susah dah..."
"Gitu dong lu senyum, semangat...! Demi dapat emas.. Mas Raka..!"
Queen tersenyum sambil meraih tisu di depannya.
"Lu mah, orang lagi curhat serius, jawaban lu malah bikin ketawa..!"
"Hahahah, eh, tapi bener kan gue? Lu suka ya sama Raka?"
"Apaan sih lu..."
"Jujur......" Tike mencolek pinggang Queen.
Queen tersenyum dan menatap Tika.
"Baru suka, belum cinta!" Tegas Queen.
"Halah.... Queennnn Queenn...! Kayak gue baru kenal elu aja sih!"
Mereka berdua pun tertawa cekikikan.
"One of the most beautiful qualities of true friendship is to understand and to be understood." - Lucius Annaeus Seneca
(Salah satu kualitas paling indah dari persahabatan sejati adalah memahami dan dipahami)
__ADS_1