
Queen kembali ke ruang tamu, sesaat setelah ia mengantarkan Ayah Gunawan. Saat ia tiba diruang tamu, Queen pun duduk disamping Raka, dan menatap kedua orangtuanya. Yaitu, Bunda dan Ayah Andra. Lalu, ia menatap Raka yang duduk persis disebelahnya dan tersenyum kepada Raka. Raka pun membalas senyuman Queen dan kembali menundukkan pandangan nya.
"Ya sudah, Ayah lelah, kalian Ayah tinggal ya," Ucap Ayah seraya beranjak dari duduknya.
"Bunda juga, kalian ngobrol-ngobrol saja ya. Nak Raka, Bunda tinggal dulu ke dalam," Ucap Bunda Farah.
"Iya Om, Bunda." Sahut Raka.
Sebelum Ayah dan Bunda beranjak keruang keluarga, Ayah meraih senjatanya yang tergeletak di atas meja. Lalu, Ayah kembali menodongkan ke arah Raka.
"Benggggg...!"
"Inalillahi!" Gumam Raka seraya mengusap dadanya.
"Ayah!" Queen terlihat kesal kepada Ayah Andra yang tertawa cekikikan.
"Bercanda," Ucap Ayah seraya beranjak menuju ruang keluarga.
"Apaan sih..!" Bunda menepuk lengan Ayah seraya mengerutkan keningnya.
Sedangkan Raka menghela nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdetak lebih cepat dari pada biasanya.
"Tau deh Ayah, kebangetan!" Seru Queen seraya mengusap punggung Raka.
"Queen, aku mau minta air putih boleh?" Tanya Raka seraya menelan salivanya. Wajahnya terlihat pucat dan bibirnya gemetar.
"Iya, tunggu ya, aku ambilkan." Ucap Queen dan ia pun bergegas ke dapur untuk mengambilkan air putih untuk Raka.
Saat Queen melintas di ruang keluarga, ia terus mengomel karena tingkah Ayah yang berpura-pura akan menembak Raka. Sedangkan Ayah berpura-pura tidak mendengarkan ocehan Queen yang terlihat kesal kepadanya.
Bunda juga terlihat gemas kepada Ayah dan terus menjewer telinga Ayah yang menahan tawa gelinya.
"Iseng banget sih!" Ucap Bunda.
"Biar gak macam-macam loh Bun..." Sahut Ayah dengan wajah yang polos.
"Iya tapi gak begitu juga kali!"
"Hahahaa... wajahnya lucu tau!"
"Andra, keterlaluan kamu!" Ucap Bunda.
Ayah hanya mengulum senyumnya dan memakai kacamata bacanya. Lalu, ia pura-pura membaca koran edisi terbaru pada hari ini, yang belum sempat ia baca.
Queen kembali ke ruangan tamu dengan segelas air putih dan memberikan nya kepada Raka.
Dengan tangan gemetar, Raka meraih gelas itu dari tangan Queen. Lalu, ia meneguk nya hingga habis tak bersisa.
"Maafkan Ayah ku ya," Ucap Queen dengan wajah yang terlihat merasa bersalah.
"Tidak apa-apa," Sahut Raka yang sudah terlihat sedikit tenang.
Queen pun beranjak duduk disamping Raka dan menatap lelaki itu dengan seksama.
__ADS_1
"Kamu sudah mendapatkan restu untuk mendekati aku, sekarang... mari kita jalani dengan sebaik-baiknya," Ucap Queen.
Raka membalas tatapan Queen dan tersenyum kepada gadis pujaan nya itu.
"Alhamdulillah, walaupun rasanya aku mau pipis di celana, tetapi tidak ada usaha yang menghianati hasil," Ucap Raka seraya mengusap peluh yang ada di dahinya.
"Pipis di celana?" Tanya Queen seraya menahan tawanya.
"Ya iyalah, masih untung gak ngompol, kalau ngompol, aku terpaksa minjam kolor Ayah mu," Ucap Raka seraya bersungut-sungut.
"Hahahahhahaa...! Masa sih... udah ngompol kali.." Ucap Queen sambil menatap bagian celana Raka.
"Apaan, enggak lah, aku numpang ke kamar kecil ya..."
"Hmmm.... Ayo aku antar ke kamar kecil."
Raka tersenyum dan mengikuti Queen menuju ke kamar kecil khusus tamu.
Saat mereka melintas di ruang keluarga, Ayah melirik Raka yang berjalan di belakang Queen.
"Om, Bunda, saya numpang ke kamar kecil ya," Ucap Raka.
"Silahkan..." Sahut Bunda seraya tersenyum semringah kepada Raka. Sedangkan Ayah pura-pura asik membaca.
Raka membalas senyuman Bunda dan beranjak mengikuti Queen yang sudah menunggunya di depan pintu kamar kecil tersebut.
Raka memasuki kamar kecil dan menutup pintunya dengan rapat dan lalu menguncinya. Setelah itu ia menatap kaca yang berada di dinding tepat di atas wastafel. Ia menatap wajahnya dan mengusap kedua pipinya.
Beberapa menit kemudian, Raka sudah selesai menuntaskan hajatnya. Lalu, ia keluar dari kamar kecil itu dan menatap Queen yang masih menunggu dirinya di tak jauh dari pintu kamar kecil tersebut.
"Sudah?" Tanya Queen seraya tersenyum kepada pujaan hatinya itu.
Raka hanya mengangguk dan membalas senyuman Queen.
Lalu, mereka berdua pun kembali ke ruang tamu. Senyum terus menghiasi sudut bibir mereka berdua. Rasa bahagia tak terkira hinggap di benak mereka masing-masing.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam," Queen terpaku menatap orang yang sedang berdiri di ambang pintu rumahnya. Matanya membulat seakan ia tidak percaya dengan apa yang sedang ia lihat.
Raka pun ikut menoleh dan menatap lelaki tampan yang berdiri di ambang pintu rumah Queen. Lalu, ia mengerutkan keningnya.
"Kamu?" Queen beranjak dari duduknya.
"Halo Queen, kita bertemu lagi," Sapa Putra seraya tersenyum semringah. Lalu, matanya beralih kepada Raka yang duduk tepat disamping Queen, saat itu juga ekspresi wajah nya pun berubah menjadi tidak suka terhadap Raka.
"Ngapain kesini?" Tanya Queen yang terlihat tidak suka dengan kehadiran Putra.
"Aku boleh masuk?"
"Queen melirik ke ruang keluarga. Ia melihat Bunda yang sedang menjewer Ayah yang tampak tersenyum geli.
"Astaga, pasti Ayah yang mengizinkan ulat bulu ini masuk." Gumam Queen.
__ADS_1
"Ya masuk saja," Sahut Queen seraya membuang pandangannya dan mendengus kesal.
"Terima kasih Queen," Sahut Putra seraya beranjak masuk kedalam ruang tamu dan duduk di depan Raka dan Queen.
"Sebentar ya," Ucap Queen, lalu ia beranjak menuju ke ruang keluarga.
"Ayah, pasti Ayah yang membiarkan ulat bulu itu masuk ya?" Tanya Queen dengan setengah berbisik.
"Iya," Sahut Ayah dengan tenang.
"Maksudnya apa sih Yah? Katanya Ayah sudah setuju Queen dengan Raka, tapi kenapa ulat bulu itu Ayah izinkan masuk?" Tanya Queen lagi.
Ayah Andra menghela nafasnya dan membuka kaca mata bacanya.
"Jadi begini, Ayah lelah dan tidak bisa mengawasi kamu. Maka, biar saja dia yang menggantikan Ayah, untuk mengawasi kamu dan Raka. Jadi, Ayah punya asisten gratis," Ucap Ayah seraya beranjak menuju ke kamarnya.
Queen tercengang dan menatap Ayah dengan tak percaya.
"Bunda.."
Bunda hanya mengangkat kedua bahunya dan menyusul Ayah kedalam kamar.
Queen hanya mampu memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Sungguh kelakuan kedua orangtuanya sangat membuat dirinya pening.
...
Sebelumnya...
"Pak, Bu, ada tamu di depan," Ucap asisten rumah tangga.
"Siapa?" Tanya Ayah penasaran.
"Katanya mas Rosidi, namanya Putra," Sahut asisten rumah tangga itu.
Ayah tersenyum jahil, seraya menatap Bunda yang tercengang saat mendengar nama putra disebut oleh asisten rumah tangga nya.
"Ngapain anak itu balik lagi kesini?" Tanya Bunda yang merasa khawatir, karena saat ini sedang ada Raka yang duduk di ruang tamu dengan Queen.
"Suruh dia masuk," Ucap Ayah.
"Kok disuruh masuk?" Tanya Bunda yang terkejut dengan jawaban Ayah.
"Kita lihat, seberapa tangguh Raka mengelola rasa cemburu." Tegas Ayah.
"Ih dia ada-ada saja!" Ucap Bunda seraya menjewer telinga Ayah.
"Aduhhh...sakit sayang! Sudah, percaya saja sama aku..." Ucap Ayah seraya mengusap telinga nya yang baru saja di jewer Bunda.
"Dasar, jahil mu itu loh Andra! Nyebelin.. kasihan kan Raka, kasihan juga Queen.. apa lagi anak itu, dia berharap banget loh sama Queen!"
"Sudah... buar saja, kita tinggal nonton.." Sahut Ayah.
"Ya Allah.. suami ku kok begini banget...!" Keluh Bunda seraya memasang wajah yang kesal kepada Ayah.
__ADS_1