365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
39# Antoni dan Tasya


__ADS_3

Sebulan sudah, Tasya menjadi istri dari Antoni. Sikap Antoni masih dingin, sama seperti pertama kali mereka bertemu saat sebelum menikah dulu. Tasya tidak tahu mengapa Antoni tidak mau berusaha sedikit pun membuka hati untuk dirinya. Padahal, ia sudah berusaha semaksimal mungkin menjadi istri. Mulai dari penampilan, hingga pelayanan untuk Antoni. Tetapi, lelaki itu justru semakin dingin kepada dirinya dan tak kunjung menyentuh dirinya.


Sakit, pasti itu semua terasa sakit. Tasya sudah mencintai Antoni saat dirinya kecil. Tasya yang seusia dengan Queen adalah kerabat jauh dari Antoni. Saat Antoni bertunangan dengan Queen, Tasya memang tidak menghadiri acara itu. Karena Tasya, bekerja di luar Kota. Maka, ia tidak mengenal siapa tunangan Antoni yang masih bersarang di hati suaminya itu.


Baru satu minggu mereka pindah ke Kota Solo. Kini mereka hidup mandiri di sebuah rumah mewah pemberian orang tua Antoni. Tepatnya, Antoni sengaja di pindahkan ke Kota Solo oleh orang tuanya.


Pagi itu, Tasya menata sarapan untuk Antoni di meja makan. Sudah sejak pagi-pagi sekali ia memasak untuk lelaki yang baru sebulan dinikahi nya. Ia pun, menatap Antoni yang baru saja keluar dari kamar mereka.


"Mas, sudah selesai berpakaian nya? Sarapan yuk Mas,"


Antoni menatap Tasya dengan tatapan dingin. Lalu, ia meninggalkan Tasya begitu saja tanpa kata-kata dan pergi ke kantor dengan mengendarai mobil miliknya.


Melihat sikap Antoni yang belum juga melunak, Tasya menangis di meja makan dengan perasaan yang begitu kecewa.


"Bila kamu tidak menyukai aku, mengapa kamu setuju menikah denganku?" Batin Tasya.


Memang, Tasya tidak pernah mau membahas apa yang menjadi pertanyaan bagi dirinya, semua ia simpan sendiri. Semua itu ia lakukan hanya demi membuat Antoni nyaman dengan nya. Tapi, sebagai wanita hati nya pun merasa porak poranda melihat sikap Antoni yang tidak mau memberikan dirinya waktu dan sedikit hati saja.


..


Antoni mengendarai mobilnya dengan wajah yang tampak tertekan. Hampir setengah tahun ia tidak bertemu dengan Queen. Hatinya terasa sangat tersiksa. Sedangkan Antoni tidak diperbolehkan untuk bertemu dengan Queen. Ia terus di awasi oleh keluarganya saat ia berada di Jakarta, sehingga ia tidak dapat bertemu dengan Queen. Begitupun dengan Queen yang enggan menemui Antoni setelah hubungan mereka selesai.


"Queen.. aku rindu." Gumam nya.


Hari-hari Antoni kini bagaikan di neraka. Senyum pun hilang dari wajahnya. Ia pun semakin tertekan saat orang tuanya terus bertanya apakah Tasya sudah hamil atau belum.


Pertanyaan itu membuat ia bingung akan menjawab nya dengan kata apa. Sedangkan ia tidak pernah menyentuh gadis pilihan orang tuanya itu. Jangankan untuk bermesraan, menyentuh ujung rambutnya pun, tidak pernah Antoni lakukan. Bukan ia merasa jijik, hanya saja bila ia mencoba menyentuh Tasya, ia merasa telah mengkhianati Queen, gadis yang paling ia cintai.


Antoni tidak sampai hati juga, bila ia menyentuh Tasya hanya karena pelarian. Walaupun Tasya sudah halal baginya.


Antoni tidak tahan lagi, ia membelokkan mobilnya kearah Bandara. Hari itu juga ia berniat melarikan diri dan mencoba menemui Queen di Jakarta.

__ADS_1


Antoni mendapatkan tiket. Ia pun berangkat ke Jakarta tanpa membawa apa pun, termasuk baju ganti.


Setelah ia mendarat di Jakarta, ia pun langsung ke rumah keluarga Queen, untuk menemui gadis itu. Tetapi, sayangnya Queen sedang tidak ada di rumah. Saat itu, Queen memang sedang menghadapi goncangan pasca perpisahan dirinya dengan Antoni. Untuk menghibur diri, Queen pun ikut liburan bersama dengan Tika.


Tok! Tok! Tok!


Antoni mengetuk pintu rumah Queen beberapa kali.


Tak berapa lama, pintu itu pun terbuka. Tampak Ibunda Queen yang terperanjat saat melihat wajah Antoni.


Antoni menyalami Bunda dan meminta maaf atas semua yang terjadi.


Sebagai orang tua yang merasa ini semua bukan sepenuhnya kesalahan Antoni, Bunda mencoba menerima dan mempersilahkan lelaki itu untuk masuk dan berbincang dengan dirinya.


"Queen nya ada Bun?" Tanya Antoni setelah lelaki itu mencoba meminta maaf kepada Bunda.


"Queen tidak sedang di rumah. Dia traveling bersama dengan teman nya." Jawab Bunda.


Kecewa terlihat jelas di mata Antoni. Lelaki itu hampir saja menangis setelah mendengar Queen tidak dapat ia temui hari ini.


Antoni menatap Bunda dengan wajah kecewa. Air mata pun tumpah di pipinya.


"Tapi, Antoni sangat mencintai Queen Bun. Antoni berani bersumpah, Antoni belum menyentuh istri Antoni. Antoni tidak bisa melepaskan Queen Bun," Antoni menangis sambil mencium tangan Bunda.


Bunda merasa iba dengan lelaki itu, tetapi apa mau dikata? Lelaki itu tidak akan pernah bisa bersatu kembali dengan Queen. Bunda juga tidak akan pernah sudi untuk kembali berencana berbesan dengan keluarga Antoni. Memang bukan salah Antoni, tetapi mau tidak mau, Antoni akan terkena imbasnya. Karena permasalahan ini melibatkan dirinya yang dengan gampang menyerah dengan keadaan dan meninggalkan Queen, putri yang sangat Bunda sayangi.


"Antoni, percaya sama Bunda. Kelak, kamu akan menemukan kebaikan dengan istrimu. Coba cintai dia, berkeluarga lah dengan baik. Semua itu hanya karena belum terbiasa. Apa kamu sadar? Istri mu pun berkorban untuk menerima kamu menjadi suaminya."


Antoni terdiam. Kata-kata bijak yang keluar dari mulut Bunda membuat ia tidak mempunyai alasan apa pun selain pulang dan melupakan semuanya.


Setelah merasa tidak ada dukungan, Antoni pun pulang di hari yang sama.

__ADS_1


Saat ia tiba di rumah, ia menatap Tasya yang menunggu dirinya hingga tertidur di sofa. Ia mendekati Tasya dan menangis dihadapan istrinya itu.


Tasya terbangun, lalu ia menatap Antoni yang sedang menangis di hadapannya. Dengan lembut hati, Tasya memeluk Antoni. Mereka menangis sambil berpelukan. Antoni mengucapkan maaf kepada Tasya atas semua yang terjadi. Ia tidak berniat untuk memperlakukan Tasya seperti itu. Tetapi, Antoni meminta waktu untuk dapat mencintai Tasya.


Tasya pun setuju, mereka mencoba akrab. Tetapi, hingga bulan keempat pernikahan mereka pun Antoni tetap tidak mau menyentuh dirinya.


Hingga suatu saat kedua orang tua mereka berkumpul dan mempertanyakan kesuburan dari pasangan itu. Antoni dan Tasya tidak bisa berkata apa-apa. Mereka di desak untuk segera memiliki anak.


Awalnya Antoni mencoba untuk mengabaikan nya. Tetapi, semakin lama desakan itu semakin gencar di lontarkan oleh kedua orang tua mereka.


Tepat di usia pernikahan mereka yang keenam bulan, Antoni menyerah. Ia mencoba mencoba membicarakan hal itu kepada Tasya.


"Aku ingin menyentuh mu, tetapi hatiku menolak, entah kenapa." Ucap Antoni.


"Mas, anggap aku Queen," Ucap Tasya dengan suara yang tercekat, menahan tangis.


Antoni terdiam, ia tidak tahu bagaimana Tasya tahu, bila dirinya masih memikirkan Queen.


"Mas bisa matikan lampunya dan sentuh lah aku. Terserah apa imajinasi Mas terhadap aku. Apa pun itu, aku terima." Tegas Tasya.


Kata-kata Tasya membuat Antoni merasa bersalah. Ia tidak mau mematikan lampunya. Ia tetap menyentuh Tasya sebagai wanita yang saat ini mendampingi dirinya. Dengan satu tujuan, wanita itu segera hamil dan melahirkan anak untuk dirinya. Agar tidak ada pertanyaan apa-apa lagi dengan pernikahan mereka.


Malam itu mereka melakukan nya dengan air mata. Perasaan emosi, kecewa, sakit, patah hati, terpuruk dan apa pun itu bercampur menjadi satu saat mereka melakukan hubungan suami istri.


Setelah sekali melakukan nya, mereka pun terus melakukan itu hingga Tasya mengandung anak Antoni. Tetapi, setelah Tasya mengandung, Antoni pun berhenti menyentuh Tasya. Tidak bisa ia pungkiri, hingga sudah memiliki anak pun, dirinya tetap tidak bisa mencintai Tasya.


Itulah mengapa pertemuan kembali Antoni dengan Queen di butik, membuat Tasya menjadi khawatir, bila cinta Antoni akan kembali membara. Karena ia tahu, suaminya tidak pernah bisa berhenti mencintai Queen.


Hati Tasya pun gelisah, ia belum mengenal Queen. Ia tidak tahu Queen bagaimana orang nya, apakah masih mencintai suaminya atau tidak.


Hal yang pernah Tasya tahu,

__ADS_1


"Dekati rival mu, saingan mu, atau musuh mu. Agar kamu tahu pergerakan nya, rencana nya atau apa saja tentang dirinya."


Akhirnya Tasya mencoba berdamai. Maka dari itu semua, Tasya pun memutuskan untuk mendekati Queen sebagi teman nya. Tasya tidak mempunyai niat buruk. Ia hanya ingin Queen memandang dirinya. Karena Antoni sudah pasti tidak akan memandang dirinya sama sekali.


__ADS_2