365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
115# 280HMH ( Ulang tahun)


__ADS_3

"Selamat ulang tahun...!"


Queen yang baru saja muncul di ruang makan, menatap Ayah, Bunda dan Athar yang sedang menatap dirinya dengan senyum bahagia. Di tangan Bunda terdapat sebuah tart berwarna merah muda dengan hiasan cokelat yang begitu menggoda.


"Terima kasih," Sahut Queen dengan wajah yang semringah. Lalu, ia menghampiri Bunda dan memeluk wanita yang telah melahirkan dirinya tiga puluh tahun yang lalu itu dengan erat.


"Terima kasih Bunda," Ucap Queen seraya mengecup pipi Bunda.


"Sama-sama sayang nya Bunda. Semoga panjang umur dan sehat selalu ya sayang. Sukses dan semakin cantik," Ucap Bunda dan mengecup kedua pipi Queen.


"Aamiin," Sahut Queen dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Terima kasih Ayah," Ucap Queen seraya memeluk Ayah yang terlihat sangat bersemangat menantikan pelukan dari anak gadisnya yang kini sudah berusia tiga puluh tahun itu.


"Selamat ulang tahun ya princess Ayah. Semoga semakin soleha dan sukses ya.."


"Aamiin.." Sahut Queen.


"Kak, selamat ulang tahun, doanya sama seperti Ayah dan Bunda," Ucap Athar.


Queen menatap Athar seraya melepaskan pelukan nya dari Ayah. Lalu, ia menghampiri adik nya itu dan memeluknya dengan erat.


"Terima kasih adik ku yang beberapa hari lagi akan menikah," Ucap Queen seraya tersenyum dan mengacak-acak rambut Athar dan tersenyum jahil.


Athar yang semalam mendengar keluh kesah Queen hanya bisa tersenyum tipis dan menundukkan pandangan nya.


"Ayo tiup lilin nya.." Ucap Bunda sambil menyalakan lilin yang berbentuk angka tiga dan kosong tersebut dengan pemantik api.


Queen menatap seluruh anggota keluarganya dan tersenyum semringah. Lalu, ia meniup api yang menyala di lilin tersebut hingga padam.


"Yeayyy...!" Seru Bunda seraya kembali memeluk Queen setelah ia menaruh tart tersebut di atas meja makan.


"Ayo kita sarapan," Ucap Ayah seraya duduk di bangku meja makan tersebut.


Queen dan semuanya pun ikut duduk dan menatap hidangan yang lebih istimewa dari pada biasanya.


"Ayam bakar..." Ucap Queen seraya meraih sepotong ayam bakar dari atas piring saji.


"Ayo, makan yang banyak. Biar sehat," Ucap Bunda yang terus tersenyum semringah.


"Iya Bun," Sahut Queen seraya menyendok nasi putih yang masih mengepulkan uap panas.


"Rencana mau kemana nanti? Apa kamu akan merayakan ulang tahun mu dengan Raka?" Tanya Bunda penasaran.


Queen menatap Bunda dan tersenyum tipis. Ia tidak tahu, apakah Raka mengingat ulang tahun nya. Maka, dirinya tidak berani berharap sedikitpun untuk merayakan hari istimewa nya dengan Raka yang juga sama sibuknya dengan dirinya.


"Kok diam?"


"Ah..." Queen kembali menatap Bunda dan terlihat salah tingkah.

__ADS_1


"Jangan bilang Raka tidak tahu hari ulang tahun mu?" Terka Bunda.


"Bu-bukan begitu, Raka tahu kok Bun. Hanya saja, kami belum ada rencana." Ucap Queen.


Sebenarnya dirinya sedang kecewa, dari kemarin sebenarnya Queen berharap Raka merencanakan sesuatu dengan dirinya saat ulang tahunnya. Tetapi, tampaknya lelaki itu lupa hari ulang tahun nya. Pasalnya, Raka tidak membahas sedikitpun tentang ulang tahun nya. Bahkan, semalam hingga pagi ini, tidak ada telepon maupun pesan dari Raka yang mengucapkan selamat kepada dirinya.


Tetapi, kekecewaan itu buru-buru Queen tampik. Karena, ia merasa dirinya sudah dewasa dan tidak perlu lagi merayakan hari kelahiran dan jangan juga berharap banyak dengan Raka. Karena kebanyakan lelaki tidak begitu peka dengan hari-hari istimewa bagi wanita.


Queen buru-buru menghabiskan sarapannya. Lalu, ia bergegas beranjak dari duduknya dan segera mencuci piring bekas sarapan nya.


"Ayah, Bunda, Athar, aku berangkat dulu ya."


"Loh, kok buru-buru sih?" Tanya Bunda yang masih menyantap sarapan nya.


"Iya, ada meeting hari ini," Sahut Queen.


"Ah iya, hati-hati dijalan ya," Ucap Bunda seraya menyambut tangan Queen yang segera mengecup punggung tangan nya. Begitupun dengan Ayah.


"Aku berangkat ya.." Ucap Queen seraya melambaikan tangan nya.


"Iya hati-hati..." Sahut Bunda, Ayah dan Athar.


"Sepertinya ada sesuatu sama Queen dan Raka. Mungkin saja Raka melupakan hari ulang tahun Queen," Ucap Bunda.


"Jangan berpikir seperti itu lah, Raka itu family man terlihat dari sikapnya. Mungkin saja Raka akan memberikan kejutan untuk Queen nanti," Ucap Ayah.


"Alah, kamu juga kadang lupa," Celetuk Bunda.


"Alah...alasan!" Bunda cemberut dan melengos.


Ayah pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Lalu, Bunda menatap Athar yang tersenyum geli melihat tingkah kedua orangtuanya itu.


"Kamu! Jangan sekali-kali kamu melupakan tanggal ulang tahun anak mu, istri mu dan juga tanggal pernikahan kamu nanti. Jangan lupakan juga tanggal kalian jadian dan hari-hari istimewa lain nya, kalau mau pernikahan langgeng!" Ucap Bunda dengan wajah yang terlihat kesal.


"Iya Bundaaaaaaaa..." Sahut Athar seraya beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke wastafel untuk mencuci piring bekas sarapan nya.


"Jangan kayak Ayahmu..!" Sambung Bunda lagi sambil melirik Ayah dengan lirikan maut nya.


"Selamat hari pernikahan kita yang kedelapan ribu sekian sayang..." Ucap Ayah seraya mengeluarkan kartu kredit nya.


"Belanja sepuasnya ya, nanti bulan depan aku yang bayar," Sambung Ayah lagi.


Athar yang sedang minum pun hampir saja menyemburkan air yang baru saja ia minum, saat melihat tingkah Ayah dan Bundanya.


"Beneran?" Tanya Bunda seraya tersenyum manis kepada Ayah.


"Iya sayang.."

__ADS_1


"Gitu dong.. Terima kasih sayang ku, suami ku yang paling tampan," Ucap Bunda seraya menyambar kartu kredit Ayah.


"Sama-sama sayang.." Sahut Ayah seraya membalas senyuman Bunda.


"Ya sudah, Bunda mau siap-siap shopping dulu ya. Athar, kamu sekalian cuciin piring Bunda ya.." Ucap Bunda seraya berlari menuju ke kamarnya untuk mengganti pakaian.


Ayah menelan salivanya dan menatap Athar yang berdiri mematung di samping meja makan.


"Thar, perbanyak lah uang, biar istrimu senang," Ucap Ayah seraya melanjutkan sarapan nya.


Athar hanya menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya.


...


Queen memarkirkan mobilnya di depan butik miliknya. Meeting hanya alasan dirinya untuk menghindari pertanyaan kedua orangtuanya tentang Raka. Padahal, sebenarnya dirinya tidak ada meeting hari ini. Maka, ia memiliki waktu luang untuk menyambangi butik miliknya.


Dreettt..! Dreettt...!


"Raka!" Gumamnya seraya menghentikan langkah kakinya yang akan beranjak masuk ke dalam butiknya. Queen pun buru-buru mengeluarkan ponselnya dari dalam tas tangannya dan menatap layar ponselnya dengan semringah.


Tetapi, wajah bahagianya pun, perlahan sirna. Ternyata yang menghubungi dirinya bukanlah Raka. Melainkan Tika, sahabatnya.


Dengan malas, Queen menerima panggilan dari sahabatnya itu, seraya melanjutkan langkahnya memasuki butik miliknya.


"Ya Tik,"


"Queen dimana lu?"


"Di butik, kenapa Tik?"


"Queen, gue boleh pinjam mobil lu? Mobil gue lagi masuk bengkel Queen. Sehari saja, lu kan punya banyak mobil kan.. gue pinjem ya... Ada urusan mendadak, gue harus ke Bandung. Bapak gue sakit Queen," Ucap Tika, suaranya terdengar bergetar dan panik.


"Ya ampun, Bapak sakit apa Tik?"


"Gue gak tahu Queen, tiba-tiba Bapak anfal habis sholat Subuh. Lalu, sekarang sedang ditangani di rumah sakit." Terang Tika.


"Ya sudah, lu pakai deh mobil gue, gue ada di butik. Pakai saja mobil yang ada disini," Ucap Queen yang turut prihatin dengan apa yang menimpa Bapak nya Tika.


"Ya sudah, lima belas menit lagi gue sampai disana ya.. Gue menumpang taksi saja,"


"Iya, hati-hati ya.."


"Makasih ya Queen, eh.. by the way, happy birthday sayang ku... semoga panjang umur dan sehat selalu, tentunya bahagia juga!" Ucap Tika.


"Iya terima kasih, ya sudah buruan kesini."


"Siap Boss!"


Queen tersenyum dan mengakhiri panggilan tersebut. Lalu, ia memasuki ruangan nya dan duduk di atas kursi kerjanya.

__ADS_1


"Semoga tidak ada yang serius dengan Bapak nya Tika.. Aamiin..." Batin nya.


__ADS_2