365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
35# Berpisah


__ADS_3

Raka menatap wajah Queen yang sedang memejamkan kedua matanya, setelah ia mencium bibir gadis itu. Perlahan, Queen membuka matanya dan membalas tatapan Raka. Tatapan mereka saling bertautan, tak ada kata yang terucap dari bibir kedua insan itu. Raka membelai rambut Queen dan mengecup kening gadis itu.


"Maaf, tapi aku tidak bisa menahan perasaan ini. Terima kasih untuk semuanya,"


Queen menundukkan pandangan nya dan beranjak dari hadapan Raka. Ia berjalan menuju pemanas air dan memasukan air mineral kedalam teko tersebut. Lalu, ia menyalakan pemanas air dan menuangkan gula dan teh kedalam gelas.


Queen terdiam di depan meja pemanas air, ia mengigit bibirnya dan menatap ke arah cermin besar yang terdapat di kamar hotel itu. Lalu, ia mengusap lembut bibirnya sendiri. Masih terasa lembutnya bibir Raka yang terjejak di bibirnya yang tipis. Queen menghela nafasnya dan menundukkan wajahnya.


"Apa ini saatnya aku melupakan semua yang terjadi. Tetapi, untuk mempercayai seorang lelaki itu tidak mudah bagiku," Gumam nya.


Bunyi teko pemanas air mengejutkan Queen yang termenung. Ia pun bergegas mematikan teko pemanas tersebut dan menuangkan air mendidih itu kedalam gelas. Queen meraih sendok dan mengaduk teh yang sengaja ia buatkan untuk Raka. Setelah itu, Queen membawa teh tersebut kehadapan Raka.


"Diminum ya.. biar hangat," Ucap Queen sambil meraih tas nya dari atas sofa.


"Kamu mau kemana?" Tanya Raka sambil menahan tangan Queen dan menatap gadis itu dengan seksama.


"Kembali ke kamar ku," Ucap Queen dan ia pun mencoba melepaskan tangan Raka dari lengan nya.


"Queen... aku..."


"Tidak usah dibahas, tidak terjadi apa-apa diantara kita berdua," Ucap Queen sambil melepaskan tangan Raka secara perlahan. Mau tidak mau, Raka melepaskan tangan nya dari lengan Queen. Ia tertunduk lesu dan membiarkan Queen meninggalkan dirinya sendiri.


Raka termenung sambil menatap segelas teh buatan Queen yang terlihat mengeluarkan uap panasnya. Ia meraih gelas itu dan memegangnya untuk menghangatkan telapak tangan nya yang terasa membeku.


"Salah gue nih," Gumam nya.


...


Queen membuka pintu kamarnya, ia menatap Tika yang bergegas menghampiri dirinya.


"Queen.." Sapa Tika.

__ADS_1


Queen meraih tubuh Tika dan memeluknya dengan erat.


"Maafkan gue ya," Bisik nya.


Tika pun meminta maaf dan mereka saling berpelukan. Tika menyadari dirinya agak keras dengan Queen. Itu semua ia lakukan karena ia sangat menyayangi Queen dan ingin Queen hidup lebih baik lagi dengan memikirkan masa depan nya.


Tika akan menikah beberapa bulan lagi, ia ingin Queen bahagia saat menghadiri acara pernikahan nya dengan menggandeng Raka. Tika juga ingin mendapatkan kabar baik, bila Raka dan Queen akhirnya menikah dan bahagia. Sebenarnya, hanya itu harapan Tika.


"Tik, besok, kita berpisah ya dengan Raka." Pinta Queen.


Tika melepaskan pelukannya dan menatap Queen dengan seksama. Ia menyadari bila Queen ingin liburan ini tidak ada gangguan apa pun, selain mereka berdua saja. Tika pun mengangguk setuju, mau tidak mau, ia harus menuruti apa ingin Queen saat ini. Ia juga tidak ingin egois, dengan berusaha selalu menceramahi Queen. Ia tahu, Queen adalah wanita keras kepala yang terlalu memiliki prinsip yang perfeksionis.


"Baiklah, kita nikmati liburan kita berdua, tanpa ada orang lain," Tegas Tika.


Queen tersenyum dan kembali memeluk Tika dengan erat.


Malam ini mereka berdamai dan kembali ke rencana awal. Mereka ingin menikmati waktu bersama, sebelum Tika benar-benar tidak bisa memiliki waktu seperti ini lagi dengan Queen.


...


Raka tersenyum mengingat kejadian semalam, ia mencium bibir Queen yang terasa hangat. Ia juga mengingat betapa lembutnya saat Queen membalas ciuman nya, Queen ******* bibir Raka dengan lembut.


Raka tersenyum sendiri, ia beranjak dari duduk nya dan memandang ke luar jendela kamarnya. Lalu, seperti biasa, ia langsung menghangatkan air dan membuat segelas kopi.


Sejenak ia bersantai di depan jendela sambil menghirup aroma kopi yang membuat paginya begitu bersemangat. Lalu, Raka meniup kopi tersebut dan menyeruput nya dengan perlahan.


"Hmmmm... nikmat banget," Gumam nya.


Lalu, Raka menaruh gelas kopi itu dan beranjak untuk membilas tubuhnya. Ia sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan Queen. Gadis yang sangat ia sukai.


Beberapa menit kemudian, Raka keluar dari dalam kamar mandinya dengan menggunakan handuk yang berbentuk piyama. Lalu, ia meraih gelas kopinya dan menghabiskan sisa kopinya yang sudah dingin dengan cepat. Karena udara yang begitu dingin walaupun sudah memakai penghangat ruangan.

__ADS_1


Raka pun bergegas untuk berpakaian. Ia sedikit berdandan dengan menggunakan Pomade untuk rambut lurusnya agar terlihat sedikit rapi. Setelah itu, ia bergegas keluar untuk sarapan di restoran hotel itu.


Beberapa saat kemudian, Raka sudah berada di restoran hotel. Ia sengaja memilih meja yang khusus untuk 3 orang. Sambil menunggu Queen dan Tika, Raka berselancar di sosial media dan membaca pesan-pesan masuk di ponselnya.


Raka membaca pesan dari orang tuanya. Ia mengerutkan keningnya dan mencoba mengabaikan pesan itu, lalu menaruh ponselnya di atas meja. Ia melirik arlojinya dan lalu melihat ke arah pintu masuk Restoran yang terhubung ke lobby hotel itu. Queen dan Tika belum juga muncul.


Raka pun memutuskan untuk menghubungi Tika, untuk bertanya apalah mereka sudah sarapan atau belum.


Panggilan pertama tidak di angkat oleh Tika. Raka tidak menyerah, ia kembali menghubungi Tika beberapa kali. Hingga akhirnya gadis itu menerima panggilan dari dirinya.


"Tik, kalian gak sarapan?"


"Hmmm... maaf, gue lagi di jalan."


"Di jalan? Kok gak ngajak-ngajak sih?" Tanya Raka yang terkejut mendengar Tika dan Queen sudah berada di jalan.


"Hmmm Raka, kita sudah chek-out dari hotel. Gue minta maaf, kayak nya kebersamaan kita sampai kemarin saja. Lu tahu kan alasan gue?" Tika berbicara seakan-akan ia sedang berbisik kepada Raka.


Degggg...!


Raka terkejut mendengar ucapan Tika. Tetapi, ia mencoba mengerti, ia tidak mungkin memaksakan diri untuk ikut dengan Tika dan Queen yang mungkin masih kurang nyaman dengan dirinya. Terlebih setelah kejadian mereka berciuman di kamar Raka.


"Ok, aku mengerti," Ucap Raka dengan pelan.


"Sampai jumpa di Indonesia ya Raka. Terus berjuang, Bila elu mau berjuang, tidak ada yang tidak mungkin, bika Tuhan mengizinkan. Bila lu sudah berjuang, tetapi tidak bisa juga, berarti Queen bukan yang terbaik untuk elu. Semoga hari-hari elu bahagia, elu bisa menemukan wanita yang terbaik dari yang baik ya Raka.."


Raka mengigit bibirnya, ia mencoba mendengarkan setiap makna dari kata yang di ucapkan Tika.


"Makasih ya Tik," Ucap nya singkat.


"Bye..."

__ADS_1


"Bye Tik..."


Panggilan itu pun berakhir bersama kekecewaan yang terlihat di wajah Raka.


__ADS_2