
"Jadi perempuan itu, harus sulit didapatkan."
"Kenapa begitu Yah?" Tanya Queen yang saat itu baru saja masuk sekolah menengah pertama.
"Ya harus dong, apa lagi Queen anak perempuan Ayah satu-satunya. Harus bisa jaga diri, harus menjadi bunga mawar berduri di dalam hutan belantara dan ditepi jurang yang terjal. Ayah akan selalu menjaga Queen sampai tetes darah terakhir Ayah. Jadi, kalau Queen juga sayang sama Ayah, Queen harus bantu Ayah untuk menjaga diri ya nak..."
Sepenggal dialog itu terngiang di telinga Queen saat menghadapi dua lelaki yang duduk didepannya. Ayah Andra, dia adalah lelaki yang menikahi Bunda saat Queen masih duduk di sekolah dasar. Queen ingat betul, lelaki itu adalah ajudan dari Ayah Gunawan. Mengapa lelaki itu nekat sekali mengambil Bunda dari Ayah Gunawan? Apa dia tidak takut mati di tembak oleh Ayah Gunawan?
Saat itu Bunda dan Ayah Gunawan sudah kembali menjalin hubungan. Bahkan, mereka akan melangsungkan pernikahan. Tetapi, hadirnya lelaki itu, membuat Bunda goyah, dan lebih memilih menikah dengan Ayah Andra.
Queen memang dekat dengan Ayah Andra yang dulu ia panggil dengan sebutan "Om". Ayah Andra selalu menemani Queen bermain dan mengantar jemput Queen ke sekolah saat Ayah Gunawan tidak bisa mengantar jemput dirinya, saat Queen sempat tinggal dirumah Ayah Gunawan. Tidak terpikirkan sekalipun oleh Queen bila lelaki itu akan menjadi Ayah tirinya.
Awalnya Queen tidak setuju Bunda menikah dengan Ayah Andra, tidak... tepatnya bukan tidak setuju, tetapi harapan Queen hancur, ia sangat ingin kedua orang tua kandungnya bersatu dalam pernikahan. Tetapi, apa mau dikata? Tiba-tiba saja Ayah Gunawan dan Bunda saling melepaskan, mengikhlaskan dan memilih jalan masing-masing.
Ayah Gunawan kembali dengan istrinya, walaupun hanya sebentar saja. Akhirnya Ayah Gunawan pun menikahi wanita baru lagi. Sedangkan Bunda, menikahi Ayah Andra yang saat itu tidak selevel dengan Ayah Gunawan.
Awalnya, Queen berpikir, Bunda lebih memilih lelaki yang jauh lebih muda dari dirinya dan tampan, karena hanya memandang fisik tanpa memikirkan kedepan nya. Apa yang bisa dilakukan oleh anak muda yang menikahi janda dengan dua anak? Lagi pula dia hanya seorang ajudan! Apakah Bunda sudah gila?
Ternyata, pilihan Bunda tidak lah salah. Lelaki muda dan tampan serta yang tidak selevel dengan Ayah Gunawan itu lah yang menemani masa tua Bunda. Bahkan, semakin tua, hidup mereka semakin berwarna. Queen tidak tahu awalnya mengapa Bunda tidak memberikan Ayah Andra seorang anak, hingga akhirnya Queen tahu, bila Ayah Andra tidak bisa memiliki anak. Bahkan, belakangan Queen juga tahu, Ayah Andra menikahi Bunda, awalnya bukan karena jatuh cinta kepada Bunda, melainkan jatuh cinta kepada Queen terlebih dahulu, lalu disusul jatuh cinta kepada Bunda. Maka, Ayah Andra berjuang untuk mendapatkan Bunda beserta kedua anak nya.
Dari situlah muncul perasaan cinta yang tidak biasa di hati Queen. Ya, lelaki bertubuh atletis dan berwajah tampan itu pun akhirnya mampu ia cintai sebagai seorang Ayah yang menggantikan Ayah kandungnya.
Sejak pernikahan Bunda dengan Ayah Andra, tidak sekalipun Queen melihat Bunda menangis seperti saat pernikahan Bunda dengan lelaki bernama Fajar, Ayah kandung Athar. Lelaki bernama Andra itu adalah lelaki yang luar biasa. Di tambah Queen memiliki Oma yang luar biasa baik, sangat menyayangi dirinya, Athar dan Bunda.
Sekarang Queen paham, kenapa Bunda berani mengambil resiko untuk menikahi Ayah Andra, lelaki itu adalah lelaki yang sangat bertanggung jawab, memegang janji dengan teguh dan merupakan Ayah yang terbaik dari semua pilihan yang menghampiri Bunda Farah. Andaikan, Bunda tetap menikahi Ayah Gunawan, mungkin saja Bunda tidak akan sebahagia ini di masa tuanya.
Queen kembali menatap dua lelaki yang duduk didepannya. Terlihat, Raka memasang wajah yang bingung karena kehadiran lelaki bernama Putra itu. Sedangkan Putra terus tersenyum menatap Queen yang duduk diam terpaku menghadapi situasi yang begitu membingungkan.
"Kamu siapa?" Tanya Raka kepada Putra yang tidak sama sekali menghiraukan dirinya.
Putra pun melirik Raka dan tersenyum dengan angkuh.
"Perkenalkan, saya Putra, calon suami Queen,"
"Hah!" Sontak saja Queen dan Raka saling berpandangan.
"Benar itu Queen?" Tanya Raka dengan wajah yang terlihat kecewa.
Queen mengangkat kedua tangan nya dan menggoyangkan ke kiri dan ke kanan, menandakan dirinya menyangkal apa yang dikatakan lelaki itu.
__ADS_1
"Tidak... tidak.." Ucap Queen dengan wajah yang khawatir bila Raka marah kepadanya.
"Tadi dia bilang..."
"Iya, saya sudah melamar Queen langsung kepada kedua orangtuanya, beberapa minggu yang lalu."
"Hah?" Queen tercengang dan terlihat panik dengan apa yang dikatakan Putra.
"Queen?" Raka terlihat kecewa dengan kenyataan yang dikatakan lelaki bernama Putra itu.
"Gimana ya.. aduh!" Queen memijat pelipisnya dan beranjak dari duduknya.
"Maaf Mas, Anda siapa ya?" Tanya Putra kepada Raka yang terus menatap Queen yang terlihat panik dan salah tingkah.
"Saya Raka, kekasih Queen," Tegas Raka seraya menantang tatapan Putra.
"Hah! Queen! Apa benar yang dia katakan?" Tanya Putra seraya beranjak mendekati Queen yang berdiri mematung.
"Raka, ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan," Queen menghampiri Raka untum menghindari Putra yang mendekati dirinya.
"Lalu?" Tanya Raka dengan wajah yang terlihat menekan emosinya.
"Ok, dia itu adik iparnya Tika, kami bertemu di pernikahan nya Tika. Setelah itu kan aku pergi berlibur dan ini adalah jumpa kedua kami. Aku tidak tahu dia sudah melamar ku dan juga aku tidak ada hubungan apa-apa dengan dirinya!" Terang Queen.
"Tapi saya sudah mengatakan niat baik saya Queen, kepada kedua orangtuamu. Kita akan ta'aruf," Ucap Putra dengan wajah yang kecewa.
Raka melirik Putra yang menatap dirinya dengan tatapan tidak suka, sekaligus cemburu.
Raka terdiam sejenak, lalu ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan nya.
"Astaghfirullah..." Gumamnya, lalu ia tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya secara perlahan.
"Raka, aku bisa jelaskan kok," Ucap Queen dengan ujung suara yang tercekat.
"Tidak usah dijelaskan," Ucap Raka.
Queen terdiam, ia terus menatap Raka yang terus menundukkan pandangan nya.
"Kamu marah?" Tanya Queen dengan suara yang nyaris tak terdengar.
__ADS_1
Raka mengabaikan pertanyaan Queen, ia beranjak berdiri dan menghampiri Putra, lalu lelaki berwajah oriental itu pun tersenyum kepada Putra, dengan sikap yang jantan.
"Mas, tahu apa itu tata cara ta'aruf?" Tanya Raka.
"Tahu lah, saya sudah menemui kedua orangtua Queen, dan menyampaikan niat baik saya untuk ta'aruf," Jelas Putra.
Raka tersenyum, lalu ia memasukan kedua tangan nya kedalam saku celana nya, dan menegakkan dagunya serta menekan dua rahang nya yang terlihat kokoh di wajah tampan nya.
"Mas, Setelah berhasil mendekati orangtuanya, bukan berarti bisa mendekati wanita idaman begitu saja. Semua masih memiliki tata cara khusus. Contohnya, wanita juga berhak mengenal lelaki yang akan mengajak nya ta'aruf bukan? Harus saling bertukar informasi dan sering bertemu untuk mengenal satu dengan lain nya. Dengan catatan, ada keluarga yang mendampingi."
"Iya, ini makanya saya mau mengenal Queen lebih dekat lagi. Memangnya kamu siapa?" Tanya Putra dengan wajah yang mulai terlihat kesal.
"Saya pacarnya, dan sayang nya, pacar saya tidak ingin mengenal Anda. Jadi, tidak ada acara ta'aruf, bila wanita tidak menginginkan Anda." Tegas Raka seraya tersenyum tipis.
Putra terdiam, ia menatap Raka dengan mata yang memerah menahan amarah. Lalu, ia menatap Queen yang diam saja seraya menundukkan kepalanya.
"Lebih baik Mas nya pulang saja, cari wanita lain ya.." Ucap Raka.
"Kok kamu ngatur? Kamu baru pacar nya kan? Belum suaminya!"
"Memang, tapi dia akan segera saya halalkan." Sahut Raka seraya kembali tersenyum.
Wajah Putra pun memerah, lalu ia menatap Queen yang terus terdiam di kursi itu.
"Queen..." Panggil Putra dengan penuh harapan agar Queen membela dirinya.
"Pulang lah." Sahut Queen dengan nada suara yang tegas.
Putra merasa dipermalukan oleh Raka dan Queen. Tidak ada pilihan lain selain ia harus pergi meninggalkan rumah tersebut dengan membawa kecewa yang luar biasa.
Sebenarnya Putra tidak berhak kecewa, karena antara dirinya dan Queen tidak ada kesepakatan apa pun untuk saling mengenal. Tetapi, lelaki itu tetap merasa kecewa dengan perlakuan Queen dan juga Raka, kepada dirinya.
Lelaki itu pun beranjak meninggalkan rumah itu dengan hati yang luka, tanpa sepatah katapun.
...
Dari balik pembatas ruang keluarga dan ruang tamu, Ayah dan Bunda mengintip drama cinta segitiga itu. Ayah pun tersenyum puas, saat melihat Raka yang berhasil meredam emosi, mendengarkan Queen terlebih dahulu, sebelum mengambil tindakan. Yang berarti bagi Ayah, Raka sudah berhasil membuktikan bila dirinya tidak memiliki emosi yang meletup-letup. Mendengarkan pasangan adalah kunci langgengnya sebuah hubungan. Tidak berasumsi sendiri itu menunjukkan bila tidak egois dalam memiliki, ataupun dalam sebuah hubungan, dan Raka berhasil membuktikan nya.
"Dia lelaki yang baik, siap diandalkan dan siap membela keluarga," Ucap Ayah seraya beranjak kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Bunda menghela nafas panjang, karena kejadian barusan membuat dirinya sedikit tegang. Lalu, ia hanya mampu menatap punggung suaminya yang terlihat riang melangkah menuju ke kamar mereka.
Bunda menggelengkan kepalanya dan menyusul Ayah Andra ke kamar.