
"Kringgggg...!"
"Kringggg...!
"Kringggggg...!
Bunyi telepon di ruang keluarga kediaman Queen terus berbunyi. Bunda yang baru saja selesai melaksanakan sholat Ashar pun bergegas keluar dari kamarnya. Ia sempat menoleh ke kiri dan ke kanan untuk mencari sosok asisten rumah tangganya. Karena suasana yang begitu sepi, Bunda pun langsung berpikir bila asisten nya pun sedang melaksanakan ibadah shalat Ashar.
Bunda yang masih memakai mukena pun menghampiri telepon rumah yang terletak di atas meja, tepat di samping sofa di ruang keluarga tersebut dan segera mengangkat telepon yang terus berdering tersebut.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam, apakah benar disini adalah rumah dari Ibu Queen Kruger?"
"Iya betul," Sahut Bunda menjawab pertanyaan dari suara dari ujung sana
"Kami dari kepolisian Cikampek, ingin mengabarkan kepada keluarga Ibu Queen bila Ibu Queen mengalami kecelakaan di ruas jalan tol Cikampek."
"Apa!" Tangan Bunda gemetar dan gagang telepon itu pun nyaris saja terjatuh dari genggaman nya.
"Apa saya tidak salah dengar Pak? Anak saya di kantor loh... Hari ini, dia tidak kemana-mana Pak. Dia kalau kemana-mana pasti minta izin saya Pak!" Suara bunda terdengar histeris dan pilu. Hingga asisten rumah tangga nya datang menghampiri Bunda dan menahan tubuh Bunda yang nyaris saja terjatuh.
"Apakah benar nomor kendaraan Ibu Queen, B 33 QN?"
"Be-benar Pak... ya Allah Queen..!"
"Ya, mobil tersebut terguling hingga ke luar jalur, dan terbalik hingga menewaskan pengemudinya Bu. Kami harap keluarga Ibu Queen segera datang untuk mengidentifikasi korban lakalantas tersebut."
"Innalilahi!" Pekik Bunda.
"Baik Bu, kami tunggu di rumah sakit Umum Bu. Selamat sore.."
Bunda terduduk di sofa ruang tamu, tangan nya gemetar. Tubuh nya pun lemas. Lalu, gagang telepon yang sedang ia pegang pun terjatuh di atas lantai. Bunda mulai menangis histeris, sehingga asisten rumah tangga nya pun menjadi bingung.
"Bu, ada apa Bu?"
"Allahu Akbar..! Astaghfirullah..! Innalilahi.!" Kata-kata itu terus terucap dari bibir Bunda seraya mengusap-usap dadanya yang terasa sesak.
"Bu, siapa yang meninggal? Bu... saya ambilkan minum ya Bu.."
Asisten rumah tangga Bunda pun, berlari ke dapur untuk mengambilkan segelas air hangat untuk Bunda. Lalu, ia kembali ke ruang keluarga dan memberikan air minum tersebut kepada Bunda.
"Bu, tenang ya Bu... Ada apa Bu? Siapa yang meninggal?" Tanya Asisten rumah tangga itu lagi seraya ikut menangis melihat tangisan pilu Bunda.
"Queen Mbak..., Queen kecelakaan!" Jerit Bunda.
"Innalilahi wa innailaihi roji'un.." Ucap asisten rumah tangga itu dan ia pun ikut menangis pilu.
__ADS_1
"Ya Allah... kenapa begitu cepat engkau mengambil nona Queen..." Suasana duka pun terasa begitu dalam.
"Ada apa ini?" Tanya Athar yang baru saja pulang dari rumah Kimmy. Ia menatap Bundanya yang berpelukan dengan asisten rumah tangganya seraya menangis pilu.
"Athar..!" Seru Bunda seraya memeluk Athar.
"Ada apa sih Bun?" Athar terlihat bingung.
"Kakak mu, kakak mu kecelakaan Thar..!"
"Apa?" Athar tampak terkejut dan menatap Bunda dengan seksama.
"Kecelakaan dimana? Keadaan nya gimana sekarang?" Tanya Athar dengan wajah yang panik.
"Di Cikampek Thar! Kakak mu meninggal dunia!"
"Innalilahi wa innailaihi roji'un..!" Athar pun terlihat ikut panik. Lalu, ia memeluk Bunda dengan erat.
"Kabar dari polisi nya langsung Bun?" Tanya Athar.
"Iya Thar..."
"Kok bisa kakak Queen ada di Cikampek, apa jangan-jangan penipuan Bun? Soalnya sekarang sedang marak penipuan Bun,"
Bunda terdiam sejenak, lalu ia menatap Athar dengan seksama.
"Bunda sudah hubungi nomor ponsel kakak Queen? Kalau belum, biar Athar yang hubungi," Ucap Athar seraya meraih ponselnya dari dalam saku celananya.
"Iya, iya hubungi kakak mu. Kalau tidak di angkat, berarti kamu harus hubungi Ayah mu," Ucap Bunda.
Athar mengangguk dan menenangkan Bunda, lalu ia mencoba menghubungi Queen.
Sekali, dua kali, tiga kali, panggilan itu tidak kunjung di angkat. Tetap, Athar tidak habis akal, ia mencoba menghubungi Queen ke nomor hotel milik kakaknya itu.
Tak berapa lama, panggilan Athar pun di terima oleh resepsionis hotel. Menurut informasi resepsionis tersebut, Queen tidak berada di hotel tersebut. Jantung Athar mulai sesak, tetapi ia tetap mencoba berpikir positif, maka ia berusaha untuk menghubungi Queen ke nomor kantor butik milik Queen.
...
Queen tersenyum melihat para karyawan nya sedang menyantap hidangan mewah yang di kirim langsung oleh catering hotel milik Raka. Terlihat para karyawan nya begitu lahap dan bahagia mendapatkan makanan yang sangat jarang mereka rasakan, bahkan sebagian dari mereka pun belum pernah merasakan makanan selezat dan semewah itu.
"Terima kasih ya Bu, Pak," Ucap para karyawan butik milik Queen yang sedang duduk bersama-sama di lantai butik tersebut, ala lesehan.
"Sama-sama," Sahut Queen dan Raka yang ikut duduk lesehan di lantai butik yang di alas oleh tikar anyaman yang baru saja di beli oleh asisten Raka.
"Kringgggg!"
"Kringggg!"
__ADS_1
"Kringgggg!"
Terdengar bunyi telepon di meja resepsionis butik tersebut. Seroang pegawai pun berinisiatif untuk mengangkat panggilan tersebut. Namun, Queen pun mencegah nya, karena karyawan nya itu sedang makan. Maka, Queen pun berinisiatif untuk mengangkat panggilan tersebut.
Queen beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke meja resepsionis.
"Selamat siang, Butik Queen, ada yang bisa saya bantu?" Sapa Queen dengan ramah.
"Kakak?"
"Kakak?" Queen terdiam sejenak, lalu ia tersadar bila suara itu adalah suara Athar.
"Athar?" Tanya Queen seraya tersenyum dan berekspresi bingung. Baru kali ini adiknya menghubungi dirinya lewat telepon kantor butik nya.
"Alhamdulillah...! Kakak...! Kaka masih hidup Bun..! Itu penipuan!" Terdengar suara Athar yang terdengar begitu bersyukur dan lega.
"Alhamdulillah! Bunda mau bicara!"
Queen mengerutkan keningnya, lalu ia tersenyum mendengar percakapan antara Bunda dan Athar.
"Halo Queen..! Ini kamu nak?" Terdengar suara Bunda yang begitu khawatir.
"I-i-iya Bun, ada apa Bun? Kok tumben hubungi Queen lewat telepon kantor?"
"Alhamdulillah...! Bunda pikir berita duka itu memang benar kamu Queen..! Ya Allah, kenapa ada orang yang tega menipu seperti itu!" Suara Bunda terdengar begitu geram.
"Menipu?" Tanya tanya Queen yang terlihat bingung.
"Iya, jari begini, ada orang yang mengaku dari kepolisian Cikampek. Mereka bilang, kamu kecelakaan dan meninggal dunia Queen..! Ya Allah, awalnya Bunda gak percaya Queen! Hanya saja, saat dia bilang nomor kendaraan mu, disitu Bunda mulai percaya. Untung Athar segera pulang. Athar bilang itu semua tipuan. Tadi Athar terus menghubungi ponsel mu, tapi kamu gak angkat. Tapi, memang Athar anak Bunda yang cerdas ini, tidak kehilangan akal, dia hubungi kami di telepon kantor deh.." Terang Bunda.
"Kecelakaan di Cikampek? Meninggal dunia?" Tanya Queen dengan suara yang gemetar.
"Iya, Bunda sudah bilang, itu tidak mungkin kamu Queen. Kamu kan selalu minta izin dengan Bunda."
Hening....
"Queen...?"
Hening...
"Queen!"
Hening...
Brakkkkkkk...!
Gagang telepon yang ada di genggaman Queen pun terjatuh.
__ADS_1
"Tikaaaaaa!" Pekik Queen dengan histeris.