365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
28# Tentang Naysilla


__ADS_3

"Kamu janji, tidak akan meninggalkan aku?" Naysilla menatap Raka dengan wajah yang sendu.


"Ya, aku berjanji. Aku akan melamar mu secepatnya," Ucap Raka kepada kekasih yang sudah 4 tahun menghabiskan waktunya untuk Raka.


Naysilla menghela nafas lega dan tersenyum manis kepada Raka. Ia menyenderkan kepalanya di pundak lelaki yang sangat ia cintai itu.


Naysilla, gadis manis dengan kulit yang eksotis. Naysilla adalah seorang atlet selancar wanita. Naysilla sudah dikenalkan kepada kedua orang tua Raka dan sudah mendapatkan persetujuan untuk menjalin asmara dari kedua orang tua mereka.


Sayangnya, kejadian nahas terjadi pada saat Naysilla akan bertanding di Bali. Ia mengalami kecelakaan saat hendak menuju ke Bandara. Mobil yang membawa Naysilla ke Bandara di tabrak sebuah bus. Hingga mobil itu terguling dan mengalami kecelakaan beruntun.


Kaki Naysilla terjepit di antara bangku dan body mobil yang ringsek. Hingga Naysilla tidak bisa keluar dari mobil itu. Pendarahan terus terjadi hingga Naysilla tidak sadarkan diri. Lama nya evakuasi dalam kecelakaan itu membuat otot dan saraf kaki Naysilla tidak lagi berfungsi, hingga ia harus merelakan kaki kanan nya di amputasi.


Dunia seakan kiamat bagi Naysilla, karir atlet nya harus berakhir dan yang paling ia khawatirkan, kekasih nya akan meninggalkan dirinya saat mengetahui ia sudah tidak lagi sempurna.


Satu minggu, setelah kecelakaan itu terjadi, Raka yang baru saja pulang dari luar negeri langsung bergegas kerumah sakit, tempat dimana Naysilla dirawat.


Saat ia hendak memasuki ruangan itu, ia dihadang oleh seorang lelaki yang di tugaskan untuk menjaga kamar Naysilla, atas perintah gadis itu sendiri. Naysila tidak ingin bertemu dengan Raka, karena ia merasa malu untuk bertemu dengan kekasihnya itu.


Raka sempat beradu mulut dengan lelaki yang berjaga di depan pintu ruang rawat inap Naysilla. Hingga akhirnya Raka berhasil menerobos masuk kedalam dan menemui Naysilla.


Raka menatap Naysilla yang sedang menangis karena mendengar pertengkaran Raka dengan bodyguard yabg ia tugaskan berjaga di depan pintu ruangan nya. Saat itu juga wajah Naysilla terlihat pucat karena menyadari Raka yang sedang berdiri di depan nya.


Raka langsung memeluk Naysilla, tetapi gadis itu menepis nya dan menyuruh Raka pergi.


"Pergi! Tinggalkan aku!" Naysilla berteriak histeris, mengusir Raka.


Raka yang tidak tahu mengapa Naysilla bersikap seperti itu pun bingung, ia pun tetap bertahan memeluk kekasih nya itu.


"La.. Lala..." Panggil Raka dengan panggilan kesayangan untuk Naysilla.


"La, kalau kamu marah karena aku tidak ada disamping kamu saat masa kritis mu, aku minta maaf. Aku sudah berusaha untuk pulang secepatnya. Tetapi, masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. La... maafkan aku..." Ucap Raka dengan wajah yang memohon.


Naysilla menatap Raka dengan derai air matanya. Ia menggelengkan kepalanya dan perlahan ia tertunduk dalam.

__ADS_1


"La.. ada apa?" Tanya Raka sambil mengangkat dagu Naysilla agar ia bisa menatap wajah kekasihnya itu.


"Kita putus," Ucap Naysilla.


"Tidak, salah ku apa?" Tanya Raka dengan wajah yang mulai panik.


Naysilla menyingkap selimut nya dan menatap Raka dengan seksama.


"Aku cacat, aku tidak pantas untuk kamu,"


Raka menatap kaki Naysilla yang sudah di amputasi.


"La..."


"Iya, kaki ku tinggal satu. Aku tidak layak untuk mu," Tegas Naysilla.


Raka menangis di tepi ranjang dimana Naysilla sedang terbaring. Tidak hanya Naysilla yang merasa hancur, tetapi dirinya pun merasa hancur berkeping-keping.


Hingga suatu saat, Naysilla mencair. Ia mulai mempercayai Raka yang benar sungguh mencintai dirinya apa adanya. Bahkan, disaat seperti itu pun Raka melamar Naysilla untuk menjadi istrinya dan Naysilla pun menerima lamaran secara pribadi itu.


Hingga suatu saat, orang tua Raka mengetahui bila Naysilla sudah tidak lagi sempurna. Pertentangan pun mulai bergejolak pada hubungan Raka dan Naysilla. Hingga keluarlah hinaan yang tanpa sengaja Naysilla dengar dari bibir kedua orang tua Raka.


Naysilla yang baru saja sampai di apartemen Raka, mencoba mengangkat telepon yang terus berdering di ruang tamu apartemen itu.


Naysilla sudah biasa menunggu Raka di apartemen lelaki itu, sementara Raka masih berada di kantornya.


"Halo, Raka... Ibu tidak mau kamu menikahi gadis cacat itu! Ingat Raka, dia cacat dan tidak ada masa depan nya. Mengurus diri sendiri saja tidak becus, bagaimana dia akan mengurus anak-anak mu dan kamu kelak? Jangan nekat kamu Raka! Ibu malu punya menantu seperti dia! Mengapa dia tidak mati saja saat kejadian itu? Sehingga kamu tidak perlu bertahan sama orang cacat! Memalukan! Dia juga tidak tahu diri, berani-beraninya dia bertahan dengan kamu. Apa dia gak ada otak?"


Brakkkkkk....! Gagang telepon yang Naysilla pegang, terjatuh dari tangannya.


Tubuh Naysilla gemetar saat mendengar segala hinaan yang terlontar dari mulut Ibunya Raka.


"Halo, Raka.... Raka...! Ibu tidak main-main Raka..!"

__ADS_1


Terdengar panggilan dari ujung sana dari gagang telepon yang tergeletak dilantai apartemen itu.


Naysilla menangis, hingga akhirnya ia merasa tidak pantas untuk Raka, tetapi tidak juga mampu meninggalkan Raka yang memang sangat mencintai dirinya. Hidupnya yang mulai bersemangat pun kembali ambruk. Naysilla pun pergi meninggalkan apartemen Raka.


..


Raka menyalakan mesin mobil nya dan hendak pulang ke apartemen. Sebelum ia menjalankan mobilnya, ia berusaha menghubungi Naysilla terlebih dahulu. Karena ia tahu, Naysilla sudah pasti sedang berada di apartemen milik nya. Seperti biasa, Raka akan bertanya apa yang Naysilla butuhkan atau apa yang Naysilla mau di bawa pulang, sebagai buah tangan. Tetapi, panggilan nya tak kunjung di angkat oleh kekasih nya itu.


Setelah panggilan di ketiga, panggilan itu pun di angkat oleh Ibunda Naysilla.


"Ha-halo.." Sapa Ibunda Naysilla.


Raka sempat mengerutkan keningnya, ia merasa ada yang janggal, mengapa Naysilla masih berada di rumahnya dan yang mengangkat panggilan itu adalah Ibunda Naysilla.


"Halo Bu, apa kabar? Naysilla nya..."


"Nak..." Terdengar suara serak dan tangis dari ujung sana.


"Ya Bu, Ibu kenapa?" Tanya Raka yang mulai terlihat khawatir.


"Naysilla sudah pergi, dia akan di kubur besok pagi."


Deggggg....!


Dunia terasa kiamat bagi Raka. Saat itu juga ia tancap gas ke rumah Naysilla. Mencoba membuktikan bila berita itu hanya kebohongan semata.


Tetapi, kenyataan tetaplah kenyataan. Raka terpaku saat melihat banyak nya pelayat yang datang untuk melihat jasad Naysilla. Garis polisi pun terlihat di pagar rumah itu.


Garis polisi? Ya, Naysilla mengakhiri hidupnya karena ucapan Ibunya Raka yang membuat dirinya terpuruk dan mengambil jalan pintas untuk meninggalkan dunia ini sebelum waktunya.


Dunia Raka mendadak gelap, terutama saat surat wasiat dari Naysilla untuk dirinya baru saja ia baca.


Begitu tajam nya lidah, hingga mampu melukai dan mengakhiri hidup orang lain. Memang itu semua perkara iman. Tetapi, apakah kita bisa bangga menjadi salah satu penyebab kematian seseorang?. Jaga ucapan, jaga segala yang menyakitkan orang lain. Kita tidak tahu seberapa tebal iman seseorang. Kita tidak tahu berapa dalam sakit yang di rasa seseorang hanya karena lidah dan ucapan yang telah kita lontarkan.

__ADS_1


__ADS_2