
Queen tidak sekalipun keluar dari rumah, sehak Ayah melarang nya pada hari dimana Ayah membicarakan tentang kecurigaan nya tentang Queen sebagai target seseorang yang akan mencelakakan dirinya. Sebagai anak, dan demi keselamatan dirinya, Queen pun menuruti permintaan Ayah dan berdiam diri untuk sementara waktu di rumah saja. Hanya Raka lah yang sering mampir kerumah Queen.
Ada sisi positif dari seringnya Raka datang kerumah Queen. Raka menjadi lebih dekat dengan keluarga inti kekasihnya itu. Mereka sering bercengkrama dan bertukar cerita tentang pengalaman hidup mereka. Selain itu, Ayah turut merasa terhibur, Karena Athar sudah jarang dirumah dan berkomunikasi dengan dirinya kecuali hari Minggu. Maka, kini Raka lah yang menggantikan Athar bercengkrama dengan Ayah Andra, sekaligus mengambil hati calon mertuanya itu.
Malam ini, adalah malam menjelang hari pernikahan Athar dan Kimmy. Besok, akad nikah Athar akan di selenggarakan di kediaman Kimmy. Sejak tadi, Athar terlihat sibuk mempersiapkan dirinya untuk menginap dirumah Kimmy. Sebagai calon mempelai lelaki, Athar menepati janjinya untuk menginap dirumah calon istrinya itu. Untuk menghindari keterlambatan saat ijab kabul nanti. Tentu saja, hal ini sudah di bicarakan oleh kedua belah pihak keluarga. Dan kedua orangtuanya pun setuju, untuk menghindari hal-hal buruk yang mungkin terjadi.
"Athar berangkat dulu ya, Ayah, Bunda Kak Queen dan Mas Raka," Athar yang sudah siap menyandang tas nya pun berpamitan dan mengecup kedua tangan orangtuanya itu.
"Iya, kamu hati-hati ya." Sahut Bunda seraya memeluk anak laki-laki nya yang segera melepas masa lajangnya.
"Iya Bun," Sahut Athar seraya tersenyum manis kepada seluruh anggota keluarga nya.
"Bunda pukul berapa besok menyusul?" Tanya Athar.
"Ya sepagi mungkin dong. Kamu tenang saja, Insya Allah setelah shalat Subuh, kami langsung bersiap-siap dan berangkat kerumah Kimmy," Janji Bunda.
"Okay," Athar terlihat bersemangat dan bergegas untuk segera berangkat.
"Hati-hati,"
"Siap...! Besok nikah..! Besok Nikah..! Asekkkkk..!" Seru Athar seraya melompat girang menuju ke beranda rumah nya.
Bunda menggelengkan kepalanya dan bergegas melepas kepergian putra nya itu.
Kini, di ruang keluarga tinggal Ayah, Athar dan Queen. Ayah menatap Raka yang sedang melirik Queen yang sedang asik dengan gawai nya.
"Kalian kapan?" Ucap Ayah, membuka obrolan dengan Queen dan Raka.
Queen mengangkat wajahnya dan menatap Ayah dengan wajah yang malu-malu.
"Saya sih ingin secepatnya Om," Sahut Raka seraya tersenyum malu.
"Ya kalau secepatnya, apa kamu pernah membahas dengan orang tuamu?" Tanya Ayah lagi.
Raka terlihat salah tingkah, lalu ia tersenyum canggung.
"Sudah Om,"
"Nah, tunggu apa lagi, apa kata orangtuamu?"
__ADS_1
"Hmmm Ayah, Queen rasa ini bukan waktu yang tepat," Potong Queen yang merasa Raka sedang di desak oleh Ayah Andra.
"Jadi, waktu yang tepat kapan Queen?" Tanya Ayah seraya tersenyum menggoda.
"Ayah, please.. Athar saja belum ijab kabul. Masa harus memikirkan kapan Queen menikah. Nanti kita bahas, kalau memang Raka.."
"Aku tidak masalah, aku senang membahasnya," Potong Raka.
Queen menatap Raka dengan seksama.
"Nah kan, Raka saja tidak keberatan."
"Ah, sudah lah, jangan dulu," Pinta Queen seraya mengerutkan keningnya.
"Hahahah, iya iya... ya sudah, setelah Athar resmi menjadi seorang suami, baru kita bahas ya," Ucap Ayah seraya meraih kaca mata bacanya dari atas meja.
Queen tersenyum canggung dan melirik Raka yang terlihat biasa saja.
"Ayah, kami duduk di depan dulu ya.." Ucap Queen seraya beranjak dari duduknya.
"Tidak boleh, jangan kedepan. Lebih baik di belakang rumah saja."
"Kenapa Yah?" Tanya Queen penasaran.
"Saat ini jangan sampai kamu terlihat oleh siapapun, kecuali besok. Kalau besok tidak apa-apa, karena kita pergi bersama-sama." Terang Ayah.
Queen pun mulai paham tentang kekhawatiran Ayah.
"Baiklah Yah. Kalau begitu, kami kebelakang dulu ya Yah,"
"Silahkan," Sahut Ayah Andra.
"Om permisi ke belakang dulu," Ucap Raka.
"Ya," Sahut Ayah Andra yang mulai sibuk membaca pesan di ponselnya.
Raka dan Queen pun beranjak menuju ke halaman belakang rumah, dan duduk di kursi belakang yang terbuat dari rotan. Mereka duduk berhadapan dan saling bertatapan. Queen hanya tersenyum saat melihat Raka yang terus menatap dirinya.
"Raka, maafkan Ayah ya.." Ucap Queen memulai obrolan nya dengan Raka.
__ADS_1
Raka tersenyum dan meraih kedua tangan Queen.
"Tidak apa-apa,"
Queen membalas senyuman Raka dan menundukkan pandangan nya.
"Queen, aku rasa sudah memang waktunya kita berpikir untuk menikah,"
Queen menatap Raka dan jantungnya pun mulai berdetak lebih kencang.
"Tapi..."
"Tapi apa Queen?" Tanya Raka seraya menatap Queen dengan seksama.
"Ah, tidak... mungkin lain kali hal ini kita bahas. Untuk saat ini, kita memikirkan Athar dulu ya."
"Apa kamu tidak mau serius dengan aku Queen?" Tanya Raka lagi.
"Bu-bukan, bukan begitu Raka.... Hanya saja, pikiran ku sedang kacau. Bukankah untuk membahas hal ini, kita membutuhkan waktu yang sedikit santai?" Tanya Queen seraya tersenyum ragu.
"Ok, baiklah," Sahut Raka.
Queen bukan plin plan, ia sedang banyak pikiran hingga ia tidak merasa antusias untuk membahas keseriusan hubungan mereka. Pertama, Queen baru saja kehilangan sahabatnya. Kedua, Queen juga ikut dalam kesibukan persiapan pernikahan Athar dan Kimmy. Sedangkan baju seragam keluarga masih belum selesai, karena dirinya tidak dapat mengawasi pekerjaan para karyawan nya di butik, karena ia sedang merasa berduka dan juga sedang tidak boleh keluar rumah oleh Ayah Andra. Queen hanya memantau lewat telepon dan pesan saja mengenai seragam keluarga dengan asisten nya yang masih lembur di butik miliknya, untuk menyelesaikan seragam pada malam ini juga. Ketiga, Queen terpengaruh dengan kecurigaan Ayah Andra tentang hubungan Lala dengan kecelakaan yang terjadi dengan Tika. Itu semua membuat pikiran Queen begitu penuh.
"Raka, apakah menurutmu.... Kecelakaan yang di alami Tika, memang ada unsur di sengaja?" Tanya Queen dengan wajah yang tampak serius.
Raka terdiam sejenak, satu sisi dia tidak akan pernah menyangka bila Lala akan berbuat sejauh itu. Karena dirinya dan Lala sudah tidak memiliki hubungan apa pun juga. Maka, untuk itu, Raka tidak mempunyai gambaran apa pun tentang itu semua.
Satu sisi lagi, siapa yang tahu niat jahat manusia? Disaat siapa saja sudah terpengaruh oleh setan, maka semua itu akan mungkin-mungkin saja.
"Entahlah," Sahut Raka seraya mengusap wajah nya dengan kedua telapak tangan nya. Lalu, ia menatap Queen dengan seksama.
"Kalau menurut mu?" Tanya Raka.
Queen hanya mengangkat kedua bahunya, dan menundukkan wajahnya.
"Bila memang dia yang melakukan itu semua, dan bertujuan untuk mencelakakan kamu. Maka, aku tidak akan pernah memaafkan dia." Pungkas Raka.
Queen menatap Raka dengan seksama. Ia tidak mampu berkata-kata lagi, ataupun mencoba menduga-duga bila Lala adalah orang yang berada di balik kecelakaan Tika.
__ADS_1