
"Joheun achimieyo...."
"Astaga..!" Queen terkejut saat melihat Tasya duduk di sofa tamu di ruangan boutique nya.
"Maaf mengejutkan," Ucap Tasya sambil tersenyum manis kepada Queen.
"Ah, tidak apa-apa," Ucap Queen yang membalas senyuman ramah Tasya dengan ragu.
"Saya dengar mbak dari Korea, jadi saya menyapa mbak dengan bahasa Korea," Ucap Tasya sambil mengulurkan tangannya.
Queen menatap Tasya dengan seksama, lalu ia mencoba kembali tersenyum dan bersikap biasa saja. Lalu, ia menyambut tangan Tasya dan menjabat nya dengan erat.
"Sudah beberapa hari saya mencari Mbak. Sayangnya, kata pegawai mbak, mbak sedang ke Korea. Tetapi Hari ini saya mendapat informasi dari pegawai Mbak, bila hari ini Mbak akan ke butik. Jadi, saya datang dan menunggu Mbak di sini." Tasya mencoba menjelaskan mengapa dirinya berada di dalam ruangan Queen saat itu.
"Oh begitu," Queen mengangguk paham dan menaruh tas tangan nya ke atas meja kerjanya.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Queen, ia pun beranjak duduk di depan Tasya yang terlihat sangat manis dengan menggunakan blouse berwarna putih gading dan rok tutu yang panjangnya sampai ke betis wanita itu.
"Ah, begini. Karena saya sangat terkesan dengan pilihan baju kemarin dari Mbak, maka saya putuskan untuk meminta tolong Mbak untuk memilihkan saya gaun makan malam, untuk merayakan anniversary pernikahan saya dengan suami."
Queen menatap Tasya yang terlihat santai.
"Apa dia tahu bila aku adalah mantan tunangan suaminya?" Batin Queen.
"Bagaimana Mbak?"
Lamunan Queen pun buyar, ia mencoba tersenyum dan mengangguk dengan perlahan.
Tasya tersenyum puas, lalu ia beranjak dari duduknya dan meraih tas tangan nya yang berada di atas meja.
"Terima kasih Mbak, saya ingin tampil luar biasa di depan suami saya. Saya ingin membuat dia terkesan dan kami bisa melewati malam yang indah," Ucap Tasya.
Queen membalas senyuman Tasya dan membawa wanita itu menuju ke deretan koleksi gaun makan malam.
"Kenapa harus gue sih yang memilih gaun untuk nya? Memang nya dia gak bisa sendiri apa?" Batin Queen sambil memilih gaun yang pas untuk Tasya.
"Bagaimana yang ini?" Queen menarik sebuah gaun yang cantik, berwarna krem dan dihiasi payet dan mutiara di sekitar dadanya.
Tasya menatap gaun itu dan tersenyum puas.
"Mbak benar-benar sangat mengerti selera pelanggan ya. Saya sangat mengagumi Mbak," Ucap Tasya sambil meraih gaun itu dari tangan Queen.
"Terima kasih, silahkan dicoba," Ucap Queen.
"Baik," Tasya pun mengikuti langkah kaki pegawai Queen yang mengantarkan dirinya ke ruang ganti. Sedangkan Queen menghela nafas dengan berat. Lalu, ia terdiam mematung di samping deretan koleksi gaun malam sambil menunggu Tasya mencoba gaun koleksinya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Tasya pun muncul dan memperlihatkan nya kepada Queen.
"Bagaimana Mbak?"
"Cantik sekali," Ucap Queen dengan wajah yang sedikit merasa canggung.
"Terima kasih. Saya rasa, saya akan mengambil gaun ini saja,"
"Baik," Ucap Queen. Lalu, ia beranjak ke kasir dan menyuruh pegawai nya untuk membungkus dan memberikan struk kepada Tasya.
Tasya kembali mengganti pakaiannya, sedangkan Queen kembali ke ruangan nya.
Di ruangan nya, Queen mengambil segelas air mineral dan meminumnya sampai habis tak tersisa. Ada rasa cemburu dihatinya kepada Tasya.
Tasya terlihat begitu bahagia akan merayakan anniversary pernikahan nya dengan Antoni.
"Itu harusnya tanggal pernikahan ku dan Antoni," Batin Queen. Dadanya terasa sesak, hingga ia akan menangis mengingat betapa hancur dirinya saat berpisah dengan Antoni.
Tok...! Tok...! Tok...!
Queen kembali terkejut saat mendengar ketukan dari luar ruangan nya. Ia pun buru-buru mengusap matanya, yang hampir saja menjatuhkan air mata. Lalu, ia beranjak membuka pintu ruangan nya.
"Hai," Sapa Queen saat melihat Tasya berdiri di depan pintu ruangan nya.
"Maaf aku kembali ke ruangan ku untuk minum," Sambungnya lagi.
"Ah begitu, baik." Ucap Queen sambil berjalan mengiringi Tasya yang bergegas untuk keluar dari butik miliknya.
"Terima kasih sekali lagi ya Mbak," Ucap Tasya sambil mengecup pipi Queen, seakan mereka sudah akrab.
Queen terdiam, ia bukanlah orang bodoh. Tidak mungkin wanita yang hanya sebatas pelanggan dan baru dua kali membeli koleksinya bersikap sok akrab seperti itu.
Queen menyadari, bila Tasya mengerti siapa dirinya.
Queen mencoba tersenyum dan melepas Tasya hingga wanita itu masuk kedalam mobil milik Antoni yang di pakai oleh Tasya.
"Entah apa maksudmu, padahal kamu sudah bahagia bersama Antoni." Gumam Queen saat mobil Tasya baru saja beranjak meninggalkan butik miliknya.
Queen pun, kembali beranjak keruangan nya.
...
Tasya yang baru saja masuk kedalam mobilnya pun, menaruh bungkusan berisi gaun malam yang baru saja ia beli dari butik Queen di kursi penumpang, tepat di sebelah nya. Lalu, ia menatap Queen yang masih berdiri di depan butik sambil menatap kearah nya.
Lalu, ia menyalakan mesin mobil nya dan berlalu dari butik milik gadis yang pernah menjadi tunangan suaminya itu.
__ADS_1
Ya, ternyata Tasya mengetahui Queen adalah mantan tunangan Antoni, suaminya.
Lima tahun lalu...
Tasya duduk di tepi ranjang, ia menatap Antoni yang sedang membuka beskapnya. Ini adalah malam pengantin mereka berdua. Dengan jantung yang berdegup kencang, Tasya sudah mempersiapkan diri untuk menerima sentuhan dari Antoni.
Tetapi, khayalan nya tentang malam pertama yang begitu menggairahkan, hanya tinggal khayalan belaka.
Ia melihat Antoni yang beranjak ke luar dari kamar pengantin mereka di hotel bintang lima tersebut.
"Mas.. mau kemana?" Tanya Tasya sambil menghampiri Antoni yang sudah berada di depan pintu dan bersiap untuk pergi dari kamar tersebut.
Antoni menoleh kearah nya dan menatap dirinya dengan tatapan benci.
"Bukan urusan mu,"
Tasya terkejut saat mendengar jawaban dari lelaki yang baru saja tadi pagi berjanji akan menggauli dirinya dengan sebaik-baiknya.
"Maksudnya?" Tanya Tasya dengan polos.
Antoni beranjak menghampiri Tasya. Lalu, ia menatap kedua mata Tasya yang mulai memerah, menahan tangis.
"Jangan pernah berharap apa pun kepadaku. Kamu memang istriku, tetapi aku tidak mencintaimu," Ucap Antoni.
Dada Tasya terasa tertusuk sembilu. Air mata mengalir tanpa mampu ia cegah. Ia menatap kosong tanpa kata saat melihat Antoni keluar dari kamar pengantin mereka. Ia di tinggal sendirian di kamar hotel itu. Entah mau kemana Antoni pergi dan entah mengapa Antoni sangat membenci pernikahan mereka. Bukankah Antoni sendiri yang setuju dengan perjodohan ini?
Tasya terduduk di atas lantai kamar itu, ia menangis hingga riasan di wajahnya rusak. Malam itu, bagaikan malam kutukan baginya.
Hingga pagi menjelang pun, Antoni tidak kembali. Lelaki itu menghilang dan kembali setelah fajar menyingsing. Tanpa kata, Antoni membawa barang-barang milik nya dan kembali kerumah bersama Tasya.
Dirumah, keluarga Antoni menyambut mereka dengan bahagia. Senyum pura-pura bahagia pun menghiasi bibir Tasya. Sedangkan Antoni terus bersikap dingin kepada dirinya.
Suatu malam, Tasya terbangun saat mendengar Antoni mengigau memanggil sebuah nama.
"Queen... jangan tinggalkan aku sayang..! Aku sangat mencintaimu kamu. Kembali Queen... Aku akan meninggalkan istri ku, aku mau hidup denganmu!"
Air mata membasahi pipi Tasya.
"Jadi, nama gadis itu Queen?" Gumam nya.
Beberapa hari yang lalu, tidak sengaja, Tasya menemukan sebuah kotak di kamar Antoni. Disana, tertumpuk foto-foto Antoni dengan seorang gadis.
Terlihat gadis itu memakai baju seragam putih abu-abu. Sampai gadis itu memakai toga kelulusan nya di universitas ternama. Ia juga melihat ada foto pertunangan Antoni dengan gadis itu. Gadis cantik dengan wajah yang tidak akan pernah Tasya lupakan.
Bagaimana bisa? Gadis itu pun muncul mengusik hari dan malam-malam Tasya. Menghantui dirinya meneror malam-malam nya. Seakan gadis itu akan datang suatu hari nanti, untuk mengambil Antoni kembali dari pelukannya.
__ADS_1
..
"Tidak..! Tidak akan aku biarkan!" Pekik Tasya sambil memukul kemudinya.