365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
52# Terciduk


__ADS_3

Brakkkkk...!


Pintu rumah itu terbuka sesaat setelah di dobrak oleh para petugas kepolisian yang memakai pakaian serba hitam. Mereka langsung menyeruak masuk dan mengamankan Antoni yang masih dalam posisi di atas Queen.


Queen gemetar ketakutan, wajahnya pucat dan tidak dapat bersuara. Ia menangis tanpa mampu berkata-kata.


Seorang petugas pun membantu menyelimuti tubuh Queen yang nyaris terekspos, dengan sebuah selimut flanel yang berada di atas sofa.


Queen tertunduk dan tampak mengatur nafas dan detak jantungnya. Antoni merapikan celananya dan terlihat panik, ia berdiri di sudut ruangan itu.


"Ada apa Pak? Kok seenaknya masuk ke rumah orang?" Tanya Antoni dengan gestur tubuh yang panik.


"Apa yang Bapak lakukan dengan gadis ini? Kami mendengar teriakan dari luar sana! Apa Bapak berniat memperkosa gadis ini?"


"Tidak Pak, dia kekasih saya!"


Queen terus menangis, hingga ia tidak mampu berkata-kata untuk menjelaskan apa yang terjadi kepada dirinya.


"Tetapi, gadis ini menangis dan saya mendapatkan laporan dari seseorang kalau anda telah menculik gadis ini dan melakukan tindak asusila!"


"Tidak! Dia calon istri saya! Kami melakukan nya suka sama suka!" Antoni masih berkilah.


"Queen, bantu aku menjelaskan, kalau kita saling cinta ya kan Queen.." Antoni menghampiri Queen dan mencoba menyentuh tangan Queen. Saat itu juga Queen berteriak histeris. Ia seperti menggila dan memberontak.


Para petugas sudah mengerti dengan apa yang terjadi, terlebih mereka adalah saksi mata atas apa yang dilakukan Antoni dengan Queen.


"Pak, apa harus di bawa ke Polsek?" Tanya seorang petugas kepada salah satu komandan nya.


"Nanti, kita menunggu seseorang," Tegas Komandan itu.


Seorang polwan datang dan mencoba menenangkan Queen. Queen pun memeluk dan menangis seperti orang yang kesetanan. Ia benar-benar merasa trauma dengan segala yang terjadi pada dirinya karena ulah Antoni.


"Heh! Siapa namamu?"


"A-Antoni, saya kekasih dia Pak,"


"Kalau kekasih, mengapa dia menangis?"


"Saya tidak tahu,"


"Kamu tahu, kamu bisa kena pasal tentang upaya pemerkosaan dan penculikan. Apa kamu sadar kalau hal ini akan membawa kamu ke penjara?"


Antoni terdiam, ia tertunduk lesu.


Terdengar deru mesin mobil memasuki halaman rumah itu. Lalu, disusul dengan langkah kaki yang terburu-buru memasuki rumah tersebut.


"Queen!"


Queen mengangkat wajahnya dan menatap Raka dengan mata yang basah.


Melihat hal itu, Raka pun paham, apa yang telah terjadi dengan gadis yang ia cintai itu.

__ADS_1


"Bajingan!" Pekik Raka sambil menghampiri Antoni.


Seorang petugas pun menahan Raka untuk tidak memukuli Antoni.


"Lepas Pak! Lepas! Dia harus di berikan pelajaran!" Ucap Raka.


Antoni tampak sangat ketakutan melihat wajah raka yang begitu emosi, serta tubuh Raka yang terlihat lebih tinggi dan tegap dibandingkan dirinya.


"Bangs*aaaattt..!" Raka menerjang Antoni, saat ia dengan mudah lolos dari tangan para petugas.


Brakkkkk...!


Bugggg...!


Plakkkk...!


Prangggg...!


Tendangan, pukulan, tamparan dan lemparan barang lalu terpental dan terjatuh di atas lantai pun menghujani Antoni. Antoni hanya bisa meringkuk dan menangkis dengan kedua tangan nya atas segala yang Raka lakukan kepada dirinya yang jelas bersalah.


"Raka!" Queen berlari dan mencoba menenangkan lelaki itu.


Tetapi Raka tampak nya memang sedang kesetanan. Ia seperti akan membunuh Antoni dengan tangan nya sendiri.


"Raka....! Hentikan!"


Raka berhenti memukuli Antoni, saat itu juga petugas mengamankan Antoni dan membawa lelaki itu ke kantor beserta segala benda yang bisa dijadikan barang bukti untuk menjerat lelaki itu dengan hukum.


Perasaan menyesal, kalut dan merasa bodoh karena dirinya tidak datang, membuat ia sangat menyesal dengan apa yang terjadi dengan Queen. Tidak hanya Raka, Queen pun menangis sesenggukan di dada Raka.


Ia sangat bersyukur, Raka bisa bertindak cepat dengan menghubungi teman dan petugas untuk lebih dahulu ke lokasi dirinya. Bila saja Raka tidak menghubungi teman nya yang melaporkan ke polisi, mungkin saja segala yang tidak diinginkan sudah terjadi sesaat sebelum Raka datang.


Raka mengecup kening Queen dan menatap Queen dengan seksama.


"Kamu tidak apa-apa kan? Bagaimana? Apa yang ia lakukan kepadamu?" Tanya Raka.


Queen menggelengkan kepalanya, lalu ia tertunduk dalam.


"Queen, apakah semua sudah terlambat? Apa aku terlambat?" Tanya Raka lagi.


Queen menggelengkan kepalanya.


"Tidak, Terima kasih sudah memutuskan keputusan yang tepat. Terima kasih sudah menyelamatkan hidup ku dan kesucian ku," Ucap Queen.


Raka menghembuskan nafas lega. Ia kembali memeluk Queen dengan erat.


"Syukurlah.. syukurlah," Gumam nya.


Lalu, ia melepas pelukannya dan menatap Queen yang terlihat masih shock.


"Ayo kita menyusul petugas dan membuat laporan untuk lelaki bejat itu," Ucap Raka sambil membopong tubuh Queen.

__ADS_1


Queen terdiam di dalam gendongan Raka, ia menatap lelaki tampan itu dengan tatapan yang tampak luluh dengan perlakuan yang ia terima dari Raka. Entah mengapa, ia merasa sangat nyaman dengan lelaki itu. Queen menyenderkan kepalanya di bahu Raka, sedangkan Raka melangkah sambil membopong tubuh Queen menuju ke mobilnya.


"Raka, terima kasih..." Bisik Queen.


Raka tersenyum dan mengecup kening Queen dengan lembut. Lalu, ia menaruh tubuh Queen di kursi penumpang, tepat di sebelah kursi kemudi. Dan mereka pun meninggalkan lokasi itu menuju ke kantor polisi di wilayah itu.


...


Dering telepon di rumah orang tua Antoni membuat Ayah nya yang sedang terkantuk-kantuk di kursi goyang, menjadi terkejut. Lalu, terlihat seorang wanita paruh baya, lengkap dengan pakaian tradisional nya berlari menuju ke arah telepon rumah itu.


Bibi Tutik, seorang asisten rumah tangga menerima panggilan itu. Ia tampak pucat saat mendengar panggilan tersebut dari kepolisian, yang ingin berbicara dengan sang pemilik rumah.


"Maaf Bapak, Ibu, ada panggilan dari polisi," Ucap Bibi Tutik.


"Polisi?" Tanya Ibunya Antoni.


"Ngih Bu,"


"Ada apa ya?" Tampak raut wajah khawatir dari Ibunya Antoni.


"Katanya mau berbicara dengan Bapak dan Ibu."


"Ada apa ya Pak?" Tanya Ibunya Antoni kepada suaminya.


"Yo wes, terima saja Bu,"


Ibunya Antoni pun segera beranjak dari duduknya dan menerima panggilan tersebut.


"Selamat malam," Sapa Ibunya Antoni.


"Selamat malam Ibu, apakah benar ini kediaman keluar Antoni?" Tanya seorang petugas dari ujung sana.


"Ya betul Pak, ada apa ya dengan Antoni?" Tanya Ibunya Antoni yang tampak mulai khawatir.


"Ibu dan Bapak diminta ke kantor polisi wilayah Bogor segera ya. Ada kasus hukum yang melibatkan putra Ibu dan Bapak." Jelas polisi tersebut.


"Kasus apa ya Pak?"


"Kita bisa berbicara di kantor Bu,"


"Anak saya anak baik-baik Pak, apa pun kasus yang sedang ia hadapi, mungkin hanya salah paham saja Pak," Ucap Ibunya Antoni.


"Bu, kalau bisa kita berbicara di kantor ya. Saya dan Antoni tunggu disini, terima kasih." Tegas petugas tersebut.


Ibunya Antoni terlihat gemetar dan panik.


"Pak, Antoni Pak!" Teriak nya kepada Bapak nya Antoni.


"Ada apa Bu?"


"Kita susul Antoni segera Pak, Ibu juga ndak tahu,"

__ADS_1


Kedua orang tua Antoni pun bergegas menyusul ke Polsek dimana Antoni sedang di tahan disana.


__ADS_2