365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
114# Harapan


__ADS_3

Hubungan antara nyonya Amara dengan Queen sudah mencair. Mereka banyak bercerita di ruang keluarga di kediaman Raka. Raka pun tampak semakin santai setelah melihat kedekatan yang mulai di jalin antara Queen dan Ibunya. Raka terus menyimak pembicaraan mereka yang mengulas tentang bisnis dan tentang keluarga Queen. Nyonya Amara pun terlihat sangat antusias saat mendengar cerita Queen tentang keluarganya.


Tidak terasa, jarum jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Queen pun berniat untuk berpamitan kepada nyonya Amara, setelah Raka baru saja kembali dari shalat ashar, bersama dengan Ibunya. Queen yang sedang berhalangan untuk beribadah tidak ikut melaksanakan shalat, ia hanya duduk menunggu di ruang keluarga yang sangat luas tersebut.


"Saya pamit dulu ya Bu," Ucap Queen.


"Baiklah, lain kali kita lanjutkan cerita-cerita kita ya," Nyonya Amara mengusap punggung tangan Queen yang sedang menyalami dirinya.


"Baik Bu, Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam," Sahut nyonya Amara.


"Aku mengantarkan Queen dulu ya Bu," Raka pun berpamitan kepada Ibunya.


"Iya, hati-hati kamu menyetir nya ya Raka."


"Iya Bu, assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam," Sahut nyonya Amara seraya tersenyum manis kepada Queen dan Raka.


Queen dan Raka pun beranjak masuk kedalam mobil mereka setelah di antar oleh nyonya Amara hingga ke depan beranda rumah Raka.


Nyonya Amara melambaikan tangan nya dan tersenyum kepada Queen dan Raka sebelum mobil yang dikendarai Raka meninggalkan halaman rumah itu. Lalu, nyonya Amara bergegas masuk ke dalam dan menutup pintu rumah tersebut. Senyum terus mengembang di bibirnya. Ia sudah tidak sabar lagi menunggu waktu yang ia impikan, yaitu melihat Raka menikah dengan gadis yang tepat. Dan menurut nyonya Amara, saat ini Queen lah gadis yang paling tepat untuk bersanding dengan buah hati semata wayangnya itu.


...


Queen terus tersenyum saat merasakan betapa bahagianya dirinya saat ini. Ia sudah mendapatkan restu dari nyonya Amara atas kedekatan dirinya dengan Raka. Pun, dengan kedua orangtuanya yang sudah merestui dirinya dekat dengan lelaki pujaan hatinya itu. Disampingnya, Raka yang sedang mengendarai mobil melirik Queen yang wajahnya tampak berseri-seri.


"Kamu bahagia?" Tanya Raka seraya menggenggam tangan Queen dengan lembut.


Queen menatap Raka dan mengulum senyumnya.


"Terima kasih ya Raka," Ucap Queen sambil membalas genggaman tangan Raka.


Raka membalas senyuman Queen dan membelai lembut rambut Queen.

__ADS_1


"Orangtuamu dan orangtuaku sudah setuju dengan hubungan kita. Sekarang, tinggal kita memikirkan kedepan nya," Ucap Raka.


Queen melirik Raka dan ia mulai terlihat salah tingkah.


"Apa dia mau melamar gue ya?" Batin Queen seraya mengigit sudut bibirnya dengan pelan.


Raka menepikan mobilnya ke sisi kiri jalan yang sedang mereka lalui. Lalu, ia menatap Queen dengan seksama.


"Ah iya, kayaknya dia mau melamar gue!" Batin Queen bersorak gembira di dalam hatinya. Wajah nya pun terlihat semringah.


"Aku hampir lupa," Ucap Raka seraya meraih undangan pernikahan dari Athar dari atas dashboard mobilnya.


"Kira-kira Athar suka apa ya? Aku harus kasih mereka hadiah apa ya? Dan.., aku harus pakai baju apa ya?" Raka memberondong pertanyaan itu kepada Queen.


Seketika harapan Queen hancur berkeping-keping, ia sempat merasa percaya diri bila dirinya akan dilamar oleh Raka pada sore hari ini. Mendadak, wajah nya memerah dan nafasnya terasa semakin sesak.


"Queen," Panggil Raka seraya melambaikan tangannya di depan wajah Queen yang terlihat kecewa.


"Ah, ya?" Sahut Queen seraya mengerjapkan matanya.


"Ah, enggak... tadi kamu tanya apa?" Tanya gadis itu dengan salah tingkah.


"Aku bertanya, Kira-kira Athar suka apa ya? Aku harus kasih mereka hadiah apa ya? Dan.., aku harus pakai baju apa ya?"Ucap Raka yang kembali mengulangi pertanyaannya tadi.


Queen menghela nafas panjang dan membuang pandangannya ke arah jalan yang terlihat ramai lancar.


"Apa saja Raka, tidak memberikan hadiah juga tidak apa-apa. Kami mengundang kamu hanya untuk ikut merayakan hari bahagia Athar. Masalah baju, kamu bebas memakai apa saja," Ucap Queen dengan tegas.


Raka mulai merasa mood Queen mendadak anjlok. Tanpa ia sadari, bila dirinya sudah membuat gadis yang sedang berharap hal yang lain kepadanya itu kecewa.


"Maaf Queen, apa aku ada buat salah kepadamu?" Tanya Raka dengan wajah yang terlihat polos.


Queen kembali menatap Raka dan berusaha untuk tersenyum kepada lelaki itu.


"Tidak, tidak ada," Sahut Queen serata menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Terus, kenapa kamu sepertinya agak sedikit tidak mood?" Tanya Raka dengan sangat berhati-hati.


Queen menghela nafasnya dan kembali tersenyum tipis.


"Mungkin aku hanya lelah. Kita pulang ya.." Pinta Queen.


Raka menatap Queen dengan seksama, lalu ia mengangguk kan kepalanya.


"Baiklah," Ucap Raka seraya kembali menjalankan mobilnya.


...


Malam ini, Queen termenung di beranda lantai atas di bagian belakang bangunan rumah nya. Ia menatap bintang-bintang di langit, yang terlihat berkelap-kelip begitu terang. Di sampingnya terdapat segelas kopi yang masih mengeluarkan uap panasnya.


Athar yang baru saja pulang, tidak sengaja melihat Queen yang termenung di atas kursi beranda itu, saat ia akan memasuki kamar lama nya yang kini mulai ia tempati lagi.


Athar pun merasa penasaran saat melihat kakaknya itu terus memandangi bintang di langit. Dengan mengendap endap, Athar pun menghampiri Queen dan berniat untuk mengejutkan kakak yang berusia hampir tujuh tahun lebih tua dari dirinya itu.


Baru saja ia hendak mengejutkan Queen. Athar pun mendengar keluh kesah Queen yang berbicara sendiri seraya melipat kakinya ke atas kursi.


"Hhhhhhhh...! Apa memang benar yang dikatakan Lala, bila dia hanya ingin berhubungan tanpa adanya komitmen pernikahan?"


Mendengar keluh kesah Queen, Athar pun mengurungkan niatnya dan bersembunyi di balik tembok pembatas antara ruangan dan beranda tersebut.


"Tetapi, perjuangan nya untuk mendapatkan gue begitu tidak diragukan. Masa iya sih dia gak bersungguh-sungguh?" Gumam Queen lagi.


Athar menelan salivanya dan menghela nafas panjang. Ia merasa sedih melihat kakaknya itu, sekaligus merasa bersalah dengan niat dia yang akan melangkahi kakak nya untuk menikah terlebih dahulu. Walaupun Queen merestui pernikahan dirinya dan Kimmy, tetapi tetap saja Athar merasa bersalah. Terlebih saat melihat Queen yang terlihat putus asa pada saat ini.


Athar kembali melangkah menuju ke kamar nya. Ia tidak ingin mengganggu Queen saat ini. Terlebih harus membahas tentang pernikahan nya atau masalah kesendirian kakak nya itu.


Athar pun duduk di tepi ranjangnya, saat ia baru saja masuk ke kamar nya. Lalu, ia menunduk kan wajahnya dalam-dalam.


"Ya Allah, hamba mohon, berikanlah kebahagiaan kepada kakak hamba. Jujur, jodoh memang rahasia engkau ya Allah... Tetapi, kalau bisa hamba meminta, segerakan lah kakak hamba bertemu dengan lelaki yang akan membahagiakan dirinya dalam ikatan yang halal. Aamiin,"


Doa Athar dengan hati yang begitu tulus dan penuh harapan, bila doa tulusnya itu akan segera di dengar dan dikabulkan oleh sang pencipta.

__ADS_1


__ADS_2