365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
103# Kunjungan pertama


__ADS_3

Seperti yang telah Raka janjikan, tepat pukul tujuh malam, lelaki itu sudah tiba di kediaman Queen dan keluarganya. Mobil seri terbaru dari sebuah merk mobil mewah tersebut pun, bergerak masuk ke halaman rumah tersebut. Sebelum mobil itu di izinkan masuk ke area rumah peninggalan orang tua Ayah Andra itu, Rosidi, satpam yang bertugas menjaga rumah Queen, sudah terlebih dahulu melaporkan kedatangan Raka kepada sang pemilik rumah. Maka, Ayah dan Bunda sudah bersiap untuk menyambut kedatangan tamu yang sedang mereka nantikan tersebut.


Queen yang tampak semakin cantik dengan gaun berwarna biru muda, serta riasan sederhana di wajahnya pun mulai gelisah. Ia ikut beranjak dari sofa di ruang keluarga itu dan mengikuti langkah kaki kedua orangtuanya yang sedang bergegas menuju ke ruang tamu, untuk menyambut kedatangan Raka, kekasihnya.


Terdengar langkah kaki Raka yang mendekat ke arah pintu rumah mereka. Lalu, sejurus kemudian terdengar ketukan dari daun pintu bagian luar rumah itu.


Queen pun bergegas untuk segera membukakan pintu, namun dirinya segera di cegah oleh Ayah Andra. Lalu, Ayah Andra meminta Athar untuk membukakan pintu untuk tamu mereka.


Athar bergegas untuk membuka pintu, dan sejurus kemudian, tampak seorang lelaki tampan, dengan kemeja putih yang lengan nya di gulung hingga sebatas siku, serta memakai celana jeans berwarna biru tua. Tidak ketinggalan, sepatu kulit berwarna hitam pekat yang tampak mengkilat. Sedangkan di kedua tangan nya membawa sebuket bunga mawar merah yang terlihat merekah dan segar, hingga wanginya tercium begitu lembut. Sedangkan di tangan yang lain nya, terdapat sebuah bungkusan seperti parcel yang berisi berbagai macam cake yang memang khusus dibuat oleh koki restoran milik Raka, untuk keluarga Queen.


Raka tersenyum ramah dan mengucapkan salam seraya menundukkan sedikit kepalanya. Sikap santun nya cukup membuat Ayah Andra sudi untuk membalas senyuman Raka.


"Assalamualaikum," Ucap lelaki yang memiliki senyuman manis itu.


"Waalaikumsalam," Sahut Queen dan keluarganya.


Raka masih berdiri di depan pintu, sedangkan Ayah, Bunda, Queen dan Athar masih terpana menatap dirinya.


Sikap canggung mulai terasa, setelah beberapa detik berlalu, namun tidak ada satupun yang mempersilahkan Raka untuk masuk menjejaki rumah kekasihnya itu.


"Silahkan masuk Raka," Ucap Queen yang menyadari bila tidak seorangpun mempersilahkan kekasih nya itu untuk masuk kerumahnya.


"Terima kasih," Sahut Raka.


"Om, perkenalkan saya Raka." Ucap Raka seraya menghampiri Ayah Andra dan mengulurkan tangannya.


Ayah Andra menatap tangan Raka yang menunggu jabatan tangan darinya. Lalu, ia menatap kedua mata Raka yang terlihat begitu tenang.


"Ayah..." Bunda menyenggol lengan Ayah dan meminta Ayah untuk menyambut tangan Raka.


Ayah pun mengangguk dan menjabat tangan lelaki yang sedang berusaha untuk mengambil kepercayaan nya tersebut.


Saat mereka berjabat tangan, Ayah Andra sengaja meremas tangan Raka sekuat -kuat nya. Raka pun terkejut dan merasakan sakit yang menjalar dari telapak tangan nya hingga ke persendian pergelangan tangan nya. Raka mulai menyadari bila uji nyali dan kelayakan sebagai calon menantu, sudah di mulai. Ayah Andra sedang menguji kekuatan Raka sebagai seorang lelaki.


Tidak masalah bagi Raka, walaupun terasa sakit, ia masih bisa menahannya dan mulai mengimbangi eratnya jabatan tangan itu.


"Ayah.." Tegur Bunda.


Ayah tidak peduli, ia terus menatap Raka yang tetap tenang walaupun tangan nya hampir terasa remuk.

__ADS_1


"Nak Raka, apa kabar?" Sapa Bunda dengan Ramah, dengan tujuan Ayah segera melepaskan tangan nya dari tangan Raka. Benar saja, Ayah segera melepaskan tangan nya dari tangan Raka.


Walaupun berdenyut dan terasa lemas, Raka berusaha mengatur nafasnya dan menyalami Bunda dengan ekspresi yang riang.


"Halo Bun, kabar saya baik." Sahut Raka seraya tersenyum manis kepada Bunda.


"Ah, iya, ini bunga mawar untuk Bunda dan Raka juga bawakan cake untuk keluarga disini," Ucap Raka dengan tutur kata yang lembut.


"Oh bunga mawar nya untuk Bunda toh?" Tanya Bunda dengan ekspresi wajah yang terlihat senang.


"Iya Bunda," Sahut Raka.


"Lah, Queen nya?"


"Oh, Queen sudah biasa saya bawakan bunga, kali ini saya ingin membawakan untuk Bunda. Tidak apa-apa kan Queen?" Tanya Raka seraya menatap Queen yang terlihat cemas dengan kejadian Ayah yang hampir saja meremukkan tulang tangan Raka.


"Ah, i-iya," Sahut Queen dengan ragu.


"Terima kasih loh nak Raka.." Ucap Bunda seraya menyambut buket bunga mawar yang indah itu, serta parcel cake yang Raka berikan kepadanya.


"Ya sudah silahkan duduk, Bunda mau memindahkan bunga ini sebelum layu." Ucap Bunda dengan wajah yang terus dihiasi senyum dan menatap kelopak bunga mawar yang terlihat segar tersebut.


Namun, sebelum Raka duduk, ia menyalami Athar terlebih dahulu.


"Halo Thar, apa kabar?" Sapa Raka.


"Baik, Alhamdulillah," Sahut Athar seraya tersenyum ramah.


"Loh, kalian sudah kenal?" Tanya Bunda berpura-pura tidak tahu, padahal sebelumnya Athar pernah bercerita kepada Bunda, bila dirinya sudah berkenalan dengan Raka.


"Sudah Bun, kami berkenalan di butik nya Queen. Tidak sengaja bertemu disana," Sahut Raka.


"Oh, begitu.... Baiklah, silahkan duduk. Kamu mau minum apa?"


"Apa saja Bun," Sahut Raka seraya beranjak duduk tepat di depan Ayah Andra yang masih terus menatap dirinya.


"Ayah, Mas Raka ini hebat loh, dia punya hotel bintang lima," Ucap Athar dengan bersemangat.


Ayah Andra hanya mengangguk dan kembali menatap Raka.

__ADS_1


"Berapa usiamu?" Tanya Ayah Andra dengan suara yang datar.


"Tiga puluh tiga tahun Om," Sahut Raka seraya tersenyum canggung.


"Oh, tiga puluh tiga tahun. Cukup sukses usia segitu kamu sudah memiliki hotel bintang lima."


"Terima kasih Om, awalnya saya masih di suport orangtua, tetapi Alhamdulillah sudah tidak lagi." Ucap Raka.


Ayah Andra hanya mengangguk dan terus menatap Raka.


Raka yang merasa terus di tatap lelaki paruh baya yang masih memiliki tubuh tegap dan tampak kokoh tersebut pun menjadi sedikit grogi.


"Kamu dari rumah apa dari kantor?" Tanya Queen mencoba mencairkan suasana.


"Dari kantor," Sahut Raka seraya tersenyum menatap Queen.


"Saya dengar, kamu sedang mendekati anak saya? Apa kalian memiliki hubungan?" Tanya Ayah Andra.


Raka melirik Queen yang duduk disamping Ayah Andra, lalu dia tersenyum dan menghela nafas secara perlahan.


"Saya mencintai anak Om, saya sedang berusaha meyakinkan anak om, kalau saya bisa berbagi hidup dengan nya." Ucap Raka dengan tegas.


Queen terdiam, ia menatap Raka dengan manik mata yang mulai dibasahi air mata haru. Jawaban Raka yang tidak mengakui bila mereka sudah berpacaran, seperti permintaan Queen sendiri, tetapi tetap mengatakan bila Raka mencintai dirinya, membuat Queen merasa terharu. Pilihan kata yang di ucapkan oleh Raka sangat tepat dan begitu mengena.


Ayah Andra menghela nafas panjang, lalu ia mengangguk dengan perlahan.


"Jadi, belum berpacaran?" Tanya Ayah Andra lagi.


"Status berpacaran gak penting kan om, yang penting saya ingin menjadi suami Queen," Ucap Raka seraya tersenyum malu-malu.


Kini, senyum tipis mulai terlihat di bibir Ayah Andra.


"Nah, ini dia cake yang dibawa oleh Raka. Yuk, kita coba sama-sama..." Ucap Bunda seraya meletakkan cake yang sudah di pindahkan ke atas piring, di atas meja tamu. Di susul oleh asisten rumah tangga mereka yang meletakkan beberapa gelas berisi teh untuk tuan rumah dan tamu mereka.


"Ayo di coba Raka teh nya. Ini oleh-oleh dari Queen saat dia liburan kemarin di India. Teh india loh.." Ucap Bunda.


"Oh, begitu. Saya coba ya, Bunda, Om, Queen, Athar..." Ucap Raka seraya melirik semua orang yang telah ia sebut namanya. Lalu, pandangan nya kembali terjatuh kepada Queen. Yang belum menceritakan bila Raka dan dirinya telah menghabiskan waktu di Maldives dan India, kepada seluruh anggota keluarganya, dan Raka pun paham itu.


Saat Raka menatap nya, Queen hanya tersenyum, teh itu adalah teh pilihan dari Raka. Saat mereka berbelanja di toko oleh-oleh di India. Raka lah yang merekomendasikan nya kepada Queen. Karena Raka pernah mencoba teh tersebut, dan rasanya sangat enak.

__ADS_1


Mereka seperti berkomunikasi hanya dengan saling bertatapan, dan berakhir dengan senyuman yang terus tersungging di sudut bibir mereka.


__ADS_2