
Kalau kata Marcelene Cox, "Cara tercepat untuk mengenal seorang wanita adalah pergi berbelanja dengannya." itu benar. Ayah sudah sangat hafal dengan tingkah laku para wanita yang sedang berbelanja. Mereka bagaikan bertemu dengan surga.
Sedangkan Ayah? Ya, ayah memegang paper bag belanjaan Bunda yang hampir memenuhi kedua tangan Ayah. Ayah sudah tertunduk lesu. Kalau di kantor, semua orang yang melihat Ayah, akan hormat kepadanya. Atau... berjalan membungkuk di depan Ayah. Namun, itu semua tidak berlaku pada Bunda. Bunda adalah atasan Ayah yang sesungguhnya. Maka, Ayah harus menurut dengan Bunda. Kalau tidak..... Hmmmm.. tahu sendiri apa yang Bunda lakukan kepada Ayah.
Bibir Bunda akan maju 5 sentimeter dan tidak mau berbicara sedikitpun kepada Ayah. Maka, demi kebaikan bersama, Ayah menuruti apa kemauan Bunda. Apa saja, segalanyaaaaaa....
"Ayah, daster ini bagus gak Yah?" Tanya Bunda seraya memamerkan sepotong daster dengan motif Batik berwarna ungu.
"Bagusssss..." Sahut Ayah yang sudah tampak bosan.
"Ih, Ayah begitu ya... kalau di ajak belanja pasti manyun bibirnya. Bunda tuh sebel deh. Padahal loh, Bunda cuma belanja daster."
"Iya Bun...." Sahut Ayah lagi.
"Iya belanja daster, tapi sudah berapa potong Bundaaaaaaaa..." Celetuk Queen.
Bunda melirik Queen dengan wajah yang kesal. Lalu, matanya tertuju ke sepotong daster dengan motif hawai.
"Ih cute gak sih? Ayah... lihat...!"
Ayah melirik dengan wajah yang malas.
"Iya bagus..."
"Bunda ambil ya Yah.. Sexy loh Yah..!"
"Sexy tuh pakai lingerie kali Bun," Celetuk Ayah.
Bunda melotot menatap Ayah, sedangkan Queen pura-pura tidak mendengar pembicaraan kedua orangtuanya.
Queen pura-pura sibuk memilih sepatu di seberang. Ia melihat-lihat sepatu sandal yang simpel dan elegan buatan anak negeri sendiri.
Queen tersenyum melihat sandal berwarna pink cerah dengan manik-manik di punggung kakinya.
Queen meraih sandal itu dan mencobanya.
"Bagus juga..." Gumam Queen.
"Selamat siang kak, ada yang bisa saya bantu?"
Queen mengangkat wajahnya dan menatap SPG yang hendak melayani nya. Queen terperangah menatap SPG itu. Ia sangat mengenal SPG yang berdiri dihadapan nya.
SPG itu pun terkejut saat melihat wajah calon pembeli sandal yang akan ia layani.
"Queen," Ucap nya dengan wajah yang sangat terkejut.
"Amira?" Queen buru-buru melepaskan sandal yang sedang ia coba dan menaruhnya kembali ke atas rak. Lalu, Queen bergegas untuk pergi dari hadapan Amira.
"Queen!" Amira menghadang Queen dan menatap Queen dengan seksama.
Dada Queen terasa sesak, ia menghela nafas panjang di hadapan Amira.
"Queen, apa kabar?" Tanya Amira dengan wajah yang sendu.
Queen melirik Amira dan tertawa kecil. Ia tidak menyangka sama sekali bila ia akan bertemu dengan wanita yang telah merebut cinta pertamanya dulu.
"Queen, gue mau minta maaf..."
__ADS_1
"Sudahlah, sudah lewat." Potong Queen seraya hendak berlalu dari hadapan Amira.
"Queen," Amira menahan lengan Queen yang membuat Queen terpaksa menghentikan langkahnya.
"Gue benar-benar minta maaf. Gue salah dan gue merasa berdosa dengan elu Queen."
Queen terdiam membisu.
"Queen, lu sekarang cantik banget. Lu kelihatan sukses ya Queen. Gak kayak gue, gue jadi janda dan harus bekerja untuk ketiga anak gue."
Queen tertegun mendengar curhat singkat dari Amira. Lalu, ia menatap wanita itu dengan seksama.
"Langit mana?" Tanya Queen memberanikan diri.
Amira menghela nafas panjang dan menundukkan wajahnya.
"Sejak kita lulus sekolah, gue pindah ke Bandung dan kuliah disini. Pada semester pertama gue mendapati kalau gue hamil sama Langit. Terus, kita menikah. Langit yang masih kuliah, terpaksa harus mencari nafkah dan tidak berkuliah lagi, begitupun dengan gue yang terpaksa harus berhenti kuliah karena tidak ada yang menjaga anak gue."
Queen menelan salivanya, ada rasa prihatin yang hinggap di hatinya saat mendengar kisah Amira dan Langit.
"Pada tahun ketiga pernikahan kami, Langit yang bekerja sebagai supir pun, mulai berubah. Dia gemar berjudi dan mabuk-mabukan. Keluarga kami berantakan. Sedangkan untuk bercerai, gue lagi hamil anak kedua." Mata Amira memerah dan ia buru-buru menyeka air matanya yang mulai meleleh di pipinya.
"Setelah anak kedua kami lahir, gue berusaha untuk memaafkan dia, saat dia berjanji akan berubah. Ternyata sama saja dan gue gak bisa apa-apa. Dia berubah semakin parah. Saat itu dia mulai memukul gue Queen. Bahkan sampai gue hamil anak ketiganya."
Amira mulai terisak, ia tidak berani menatap kedua mata Queen lagi. Sedangkan Queen mulai luluh dan menatap Amira dengan tatapan yang iba.
"Terus, dia kemana sekarang?" Queen memberanikan diri untuk bertanya.
"Dia pergi dengan wanita lain Queen. Dia jatuh cinta sama sepupu Boss nya dan mereka kawin lari. Sedangkan gue tinggal begitu saja dengan ketiga anak nya Queen. Gue rasa ini memang karma karena gue sudah merebut dia dari elu. Gue mohon maaf sama elu Queen..." Amira meraih tangan Queen dan menciumnya seraya menangis penuh penyesalan.
Queen melihat ke sekeliling nya. Terlihat Ayah, Bunda dan para pegawai yang bekerja disana ikut terpana saat melihat Amira mencium tangan Queen.
"Gue benar-benar menyesal Queen! Gue minta maaf dari hati yang tulus. Emang gue teman yang brengsek! Gak tahu diri! Gue yakin ini karma untuk gue yang sudah menyakiti elu Queen."
Dada Queen terasa sesak, ia menghela nafasnya sekali lagi dan memeluk Amira dengan erat.
"Mir, gue sudah memaafkan dari dulu. Sudah lah, ini bukan karma. Tetapi, memang cerita dan cobaan hidup yang harus lu lalui," Ucap Queen yang mencoba untuk menenangkan Amira.
Amira mengangkat wajahnya dan menatap Queen dengan wajah yang malu.
"Gue benar-benar menyesal telah menyakiti sahabat gue sendiri."
"Sudahlah, tidak perlu di ingat lagi. Lu yang sabar ya." Ucap Queen dengan wajah yang tulus, seraya mencoba tersenyum kepada Amira.
"Terima kasih Queen, sekarang gue sudah lega. Gue taubat Queen.. Gue benar-benar merasa bersyukur lu mau memaafkan gue dan gue bisa lepas dari Langit."
Queen kembali tersenyum dan merogoh tas tangan nya. Lalu, ia meraih dompetnya dan mengeluarkan semua uang tunai yang ia punya dari dalam dompet miliknya.
"Amira, mohon maaf sebelumnya. Gue bukan mau merendahkan elu, tetapi gue nitip ini untuk anak-anak elu ya." Queen meraih tangan Amira dan menyerahkan segepok uang yang ada di genggaman nya.
Amira terdiam, ia menata Queen dengan tatapan tak percaya.
"Queen, lu serius? Ini banyak banget loh!"
Queen tersenyum dan mengangguk dengan cepat.
"Titip salam untuk anak-anak lu ya. Salam dari Tante Queen," Ucap Queen seraya kembali memeluk Amira.
__ADS_1
Amira hanya terpaku dan menggenggam uang uang yang diberikan Queen kepadanya.
"Alhamdulillah, Queen... terima kasih ya.." Amira kembali menangis haru. Ia membalas pelukan Queen dengan erat.
Beberapa saat kemudian, Queen melepaskan pelukannya dan menatap Amira dengan seksama.
"Semangat ya Mir, hidup lu belum berakhir. Justru lu ataupun gue, harusnya bersyukur, tidak bersama dengan orang yang salah. Masih banyak yang bisa elu lakukan, membesarkan anak, memberikan mereka pengertian untuk sukses terlebih dahulu baru memikirkan pernikahan. Pokoknya semangat..." Ucap Queen dengan tulus.
Amira mengangguk dan menyeka air matanya.
"Gue pergi dulu ya...."
"Sekali lagi terima kasih Queen.."
"Sama-sama," Queen tersenyum dan menghampiri Bunda dan Ayah yang menunggu dirinya.
"Siapa itu?" Tanya Bunda saat Queen menghentikan langkahnya di depan Bunda.
"Amira, teman sekolah Queen dulu."
"Hah! Amira yang merebut Langit dari kamu?" Tanya Bunda sambil melirik ke arah Amira.
"Ssstttt..! Bunda... Jangan keras-keras ngomong nya." Queen menempelkan jari telunjuk di bibirnya.
"Oh iya.." Bunda memukul pelan bibirnya yang terlalu julid.
"Sudah yuk, kita pulang, sudah pukul dua ini loh Bun. Nanti Queen ceritakan deh,"
"Beneran loh ya, janji!"
"Iya...."
Bunda sekali lagi melirik Amira yang terus menatap mereka.
"Ya sudah yuk, tapi Bunda lapar. Oh iya, bunda juga belum sempat membeli...."
"Sudah yuk Bun," Potong Ayah.
Queen mengulum senyumnya saat melihat wajah cemas Ayah saat mendengar Bunda akan berbelanja lagi.
"Sini sayang, aku gandeng biar romantis..."
"Halah... bilang saja biar gak belanja lagi!"
"Hahaha... enggak kok, kamu pasti capek. Istirahat di rumah yuk..." Ucap Ayah seraya menggandeng tangan Bunda.
"Alasan!"
Ayah mengedipkan matanya kepada Bunda dan mengecup kening Bunda dengan lembut.
"Mau belanja lagi apa aku transfer saja untuk beli skincare?"
Bunda menatap Ayah dengan seksama, lalu ia tersenyum dengan manis.
"Yuk pulang sayang..." Ucap Bunda seraya memeluk pinggang Ayah.
"Hedeeehhh... diabetes diabetes aku..!" Keluh Queen sambil mengikuti kedua orang tuanya yang bergegas meninggalkan departemen store itu.
__ADS_1
"Iri bilang Boss!" Celetuk Bunda.
Queen hanya mampu menatap bunda dengan ekspresi wajah yang sebal, sambil mencebikkan bibirnya.