
Langkah kaki menggema di lorong rumah sakit dimana Jonathan di rawat karena penyakit leukemia nya.. Seorang wanita paruh baya, membuka ruangan Jonathan dengan wajah yang gelisah.
Didalam ruangan, Lala dan Jonathan menoleh dan menatap nyonya Amara. Nyonya Amara dengan beberapa bodyguard nya pun, melangkah masuk dan menghampiri Lala dan Jonathan.
Lala terlihat gugup melihat dua orang bertubuh tegap yang berdiri dibelakang nyonya Amara.
"I-ibu.." Sapa nya dengan terbata.
Nyonya Amara tidak menghiraukan sapaan dari Lala. Matanya tertuju kepada Jonathan yang terbaring lemah disana.
"Cucu ku...!" Serunya seraya memeluk Jonathan dengan erat.
Jonathan tampak terkejut, ia tidak mengenal wanita tua itu. Ia hanya mengenal Ibu dari Maminya dan Ibu dari Papi Max, yang ia tahu selama ini adalah Ayah kandungnya.
"Ma-Mami... ini siapa?" Tanya Jonathan dengan wajah yang takut.
"Hmmm, sayang..aku adalah Oma mu," Ucap Nyonya Amara seraya menyentuh kedua pipi Jonathan.
Jonathan hampir saja menangis melihat penampilan dan wajah nyonya Amara yang terlihat bengis. Jonathan hanya bisa menundukkan wajahnya sambil menahan air mata.
"Oma bawakan kamu mainan yang banyak, semoga kamu suka ya," Ucap Nyonya Amara dengan bersemangat.
Nyonya Amara memerintahkan para bodyguard nya untuk menaruh kotak-kotak kado yang ia bawa untuk di berikan kepada Jonathan, ke atas meja di samping ranjang bocah itu.
Nyonya Amara menatap Jonathan dengan wajah yang penuh penyesalan. Ia mengecup kening Jonathan dan kedua pipi bocah laki-laki itu. Lalu, ia beranjak dari duduknya dan menghampiri Lala.
"La, Ibu minta maaf. Selama ini Ibu kasar dengan mu. Ibu mohon maafkanlah Ibu," Ucap nyonya Amara dengan wajah penuh penyesalan.
Lala memasang wajah yang datar. Dalam hatinya, ia merasa puas mendengar kata maaf nyonya Amara. Nyonya Amara yang selama ini angkuh, tidak ada lagi. Kini berganti menjadi wanita tua yang mengemis maaf kepada Lala.
"Kamu mau memaafkan Ibu kan La?" Tanya nyonya Amara dengan wajah yang memelas.
Lala tersenyum kecil, lalu ia beranjak dari hadapan nyonya Amara.
"Maaf? Mungkin bila tidak ada Jonathan, anda tidak akan meminta maaf kepadaku." Pungkasnya.
Nyonya Amara tertunduk lesu. Ia menyuruh para bodyguard nya untuk keluar. Karena ia merasa malu, power nya sebagai wanita berkuasa, hilang begitu saja di hadapan Lala. Ia tidak ingin para bodyguard nya yang selama ini tidak pernah menemukan kelemahan dirinya, mengetahui bila ia di rendahkan oleh Lala.
"Apa boleh buat, demi cucu ku, aku akan mengemis maaf kepada wanita brengsek ini," Batin nya.
Para bodyguard pun meninggalkan ruangan. Saat itu juga nyonya Amara berlutut di hadapan Lala yang sedang berdiri dengan angkuhnya.
"La, Ibu benar-benar minta maaf. Izinkan Ibu menebus semua kesalahan Ibu selama ini." Dengan kedua tangan yang tersimpul di dada, nyonya Amara menghancurkan harga dirinya di depan Lala.
Lala tersenyum puas, ia membantu nyonya Amara untuk kembali berdiri.
"Sudahlah, aku sudah memaafkan Ibu. Lagi pula, bagaimana pun, Ibu adalah Oma kandung dari Jonathan. Tidak baik Ibu bersikap begitu di hadapan Jonathan."
Nyonya Amara terlihat malu, ia beranjak dari lantai dan menatap Lala.
__ADS_1
"Terima kasih La... Ibu menyesal baru mengetahui bila ternyata kamu perempuan yang baik sekali," Ucap nyonya Amara berbasa basi.
Sebenarnya apa yang ada di hati nyonya Amara tidak seperti apa yang terucap di bibirnya. Nyonya Amara hanya berdusta, ia tidak pernah menyukai Lala hingga detik ini. Tetapi, demi Jonathan dan ambisinya untum mengambil cucunya itu, semua akan ia lakukan. Termasuk menghancurkan harga dirinya di depan Lala.
"Aku tahu niat kedatangan Ibu kemari. Ibu ingin mengambil Jonathan kan?"
Nyonya Amara terperangah, ia tidak menyangka bila Lala mengetahui niat hati nya.
"Kalau Ibu mau mengambil Jonathan. Izinkan aku dan Raka bersama kembali. Karena aku dan Jonathan adalah satu paket yang tidan bisa dipisahkan. Lagi pula, Jonathan sedang sakit parah. Dia membutuhkan aku dan juga Raka." Tegas Lala.
Nyonya Amara tertunduk, ia merasa Lala sama licik nya dengan dirinya.
"Ok, aku akan memaksa Raka untuk menikahi kamu. Asal jangan kamu larang aku bertemu dengan Jonathan." Tegas Nyonya Amara.
Perlahan Lala tersenyum licik, ia mengangkat sebelah alisnya, menunjukkan kemenangan ada ditangan nya.
"Ada satu syarat lagi," Tambah Lala.
"Apa?"
"Raka sedang dekat dengan seorang gadis bernama Queen. Aku tidak menyukainya. Aku tidak ingin Raka serius dengan dia. Kalau anda bisa menyingkirkan aku dulu, kenapa anda tidak mencobanya dengan gadis itu?"
Nyonya Amara mengerutkan keningnya.
"Queen? Siapa dia? Mengapa Raka tidak pernah mengatakannya kepadaku?" Nyonya Amara tampak terkejut mendengar cerita yang baru saja ia ketahui. Selama ini tidak ada nama Queen di daftar wanita-wanita yang dekat dengan putra satu-satunya itu.
Nyonya Amara terlihat kesal dengan tuntutan Lala. Ia juga merasa kesal dengan Raka yang sedang mendekati seorang gadis tanpa sepengetahuan dirinya.
"Baik, aku setuju," Ucap nya dengan wajah yang penuh tekad.
...
"Dimana rumah mu?" Tanya Raka saat perjalanan pulang kembali ke Jakarta.
Queen menoleh dan menatap manik mata Raka yang terlihat begitu menarik.
"Antar kan saja aku ke hotel," Pinta Queen.
"Mengapa kamu tidak pernah mau aku antar kan ke rumah? Apa kamu takut aku akan sering-sering mengunjungi kamu?"
Queen tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Raka, ada saat nya aku akan mengatakan dimana alamat rumah ku,"
Raka mengangguk paham, Queen belum ingin ia mengetahui segalanya tentang gadis itu.
"Baiklah," Ucap Raka dengan tak bersemangat.
Queen mengulum senyumnya, ia memperhatikan Raka yang sedang mengendarai mobil. Lelaki itu sangat menarik, lelaki itu mampu menggetarkan hati nya. Tetapi, lelaki itu belum cukup membuat ia yakin. Hanya itu saja kekurangan Raka dimata Queen.
__ADS_1
Queen melemparkan pandangan ke luar jendela, menatap pepohonan yang tumbuh di tepi jalan Tol yang sedang mereka lalui.
Dreettt...! Dreeet...!
Ponsel milik Raka berdering terus menerus. Raka yang merasa terganggu, menepikan mobilnya dan meraih ponselnya dari atas dashboard.
Ia mengerutkan keningnya saat membaca nama yang tertera dilayar ponselnya.
Lalu, Raka mematikan ponselnya dan kembali menaruhnya di atas dashboard mobil miliknya.
"Kenapa tidak di angkat?" Tanya Queen.
Raka menghela nafas panjang dan tersenyum menatap Queen.
"Gak penting," Ucap nya singkat.
"Siapa? Lala?" Tanya Queen dengan raut wajah yang terlihat sedikit terganggu.
Raka mengulum senyumnya dan memperhatikan ekspresi wajah Queen.
"Cemburu ya?"
Queen melotot kepada Raka dan menahan senyumnya.
"Enggak, kata siapa?"
"Itu wajahnya..." Raka meraih dagu Queen dan buru-buru di tepis oleh Queen.
"Di bilangin enggak kok," Ucap Queen dengan pipi yang merona.
"Kenapa sih, bilang aja kalau sudah ada getaran gimana gitu," Goda Raka.
"Ck! Apaan sih..." Pipi Queen semakin memerah karena malu.
Raka tertawa dan membelai lembut rambut Queen.
"I love you....."
Queen tertunduk malu, ia mengigit pelan bibir bawahnya dan menelan salivanya.
"I love you..."
Kali ini Raka mendekati nya dan berbisik di telinga Queen.
Queen diam saja, ia membuang pandangannya kembali keluar jendela mobil itu.
"Hahahahha.... kita jalan lagi ya..." Ucap Raka seraya melajukan kembali mobil sedan miliknya itu.
"Ibu? Ada apa dia menghubungi aku?" Batin Raka.
__ADS_1