365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
159# Temani aku, hingga akhir hayat ku


__ADS_3

Masih dimalam yang sama, Ayah Andra sedang termenung sendirian di beranda rumahnya. Malam semakin larut, suasana begitu terasa sepi, hanya terdengar riuh suara jangkrik dan binatang malam lain nya yang memecah kesunyian.


Ayah Andra menatap bintang di langit. Tak terhitung sudah berapa puluh bintang yang ia hitung sejak tadi. Bahkan, kopi di gelasnya pun sudah menyisakan ampas saja. Ayah Andra meraih bungkus rokok yang ada di atas meja, lalu ia mengeluarkan sebatang rokok dan membakarnya. Perlahan, Ayah Andra menghisap dalam-dalam rokok tersebut dan menghembuskan nya secara perlahan ke udara.


Baru saja ia menghisap rokok itu beberapa kali, Ayah Andra pun mematikan rokoknya dan membuang puntung rokok tersebut di dalam asbak. Lalu, ia beranjak kedalam rumahnya seraya membawa gelas bekas kopinya.


Ayah Andra beranjak ke dapur, dan mencuci gelas bekas ia pakai itu. Lalu, mengelap nya dan menaruhnya kembali kedalam lemari piring. Ayah Andra pun terdiam sesaat, terdengar tawa canda Queen dan Athar. Terbayang juga dua bocah kecil berlarian dari ruang keluarga ke arah dapur.


"Ayah! Athar nakal..." Ucap Queen yang berlindung di balik punggungnya.


Ayah Andra tampak bingung dan menoleh kebelakang nya. Terlihat wajah manja Queen, yang sedang meminta perlindungan dari dirinya. Lalu, ia kembali menatap kedepan, dimana Athar yang sedang membawa mainan pedang-pedangan yang berpura-pura sedang melawan musuhnya, yaitu Queen. Wajah Athar kecil begitu lucu dan tersenyum kepadanya.


Ayah Andra begitu merindukan wajah-wajah manis yang menggemaskan itu. Lalu, ia berjongkok dan menatap kedua anak sambungnya itu. Namun, sejurus kemudian, bayangan itu hilang, berganti dengan bayangan Queen yang sudah beranjak remaja.


Queen yang memakai seragam SMP, menghampiri Ayah Andra dan meraih tangan dan lalu ia mengecup punggung tangan Ayah Andra.


"Yah, Queen berangkat ke sekolah dulu ya," Ucap Queen dengan wajah yang ceria.


"I-i-iya," Sahut Ayah Andra.


"Ayah....gendong.." Ucap Athar yang baru saja muncul dan berdiri di ambang pintu dapur, sambil mengucek sebelah matanya. Tampaknya, Athar baru saja bangun tidur.


Air mata mulai menggenang di mata Ayah Andra. Tanpa ia sadari, ia mengangguk dengan perlahan, dan beranjak menghampiri Athar. Namun, bayangan itu pun kembali menghilang.


Kini, Ayah Andra kembali di sapa oleh Queen yang sudah menggunakan seragam SMA nya. Gadis itu terlihat sangat cantik saat sudah beranjak dewasa.

__ADS_1


"Ayah sayang... bagi jajan dong..." Ucap Queen sembari merengek layaknya anak-anak pada umumnya. Sedangkan tangan kanan nya menodong kearah Ayah Andra.


Ayah Andra tercengang dan tampak bingung. Lalu, tiba-tiba Athar pun muncul.


"Ayah...! Athar juga ya..." Pinta Athar yang tersenyum sembari mendekati dirinya. Athar yang masih menggunakan seragam TK nya sudah mulai tampak lebih besar dari pada sebelumnya.


Air mata menetes di pipi Ayah Andra. Lalu, bayangan itu pun kembali hilang. Ayah Andra terduduk di kursi meja makan, ia memijat pelipisnya yang mulai terasa pusing.


"Ayah, Queen minggu depan mau KKN di Semarang, doakan Queen ya Ayah," Ayah Andra terkejut dan mengangkat wajahnya. Ia melihat Queen yang sudah menjadi mahasiswa, sedang duduk dan sarapan di depan nya.


Sejurus kemudian, Athar ikut berbicara.


"Ayah, si Kimmy nakal deh, dia suka berantam di sekolah," Ucap Athar yang sudah memakai seragam SD.


"Sudah sarapan dulu ya..." Ucap Bunda.


"Ada apa sayang?" Tanya Bunda.


Kini Ayah Andra terlihat linglung. Ia menutup kedua matanya, sedangkan air mata terus mengalir di pipi nya.


Saat Ayah Andra membuka mata, kembali ia melihat bayangan Queen yang sedang memakai toga. Queen berputar-putar memamerkan toga yang sedang ia kenakan.


"Bagaimana Ayah? Queen keren kan pakai ini?" Tanya Queen. Ayah tersenyum haru melihat bayangan Queen. Dimana saat itu Queen akan diwisuda.


Lalu, ia melihat Athar yang sudah memakai seragam SMP.

__ADS_1


"Ayah, si Kimmy baru beli vespa loh. Katanya hadiah dari Om Bobby, karena dua berhasil mendapatkan ranking satu. Athar juga beliin vespa dong yah..." Rengek Athar.


Dan, lagi-lagi bayangan itu perlahan menghilang dan seperti sebelumnya, sesaat kemudian muncul lagi bayangan saat Queen sudah bekerja, gadis itu terlihat semakin dewasa saat menggunakan setelah blazer berwarna hitam dan kemeja berwarna maroon. Sedangkan wajah Queen, mulai terlihat riasan tipis yang menambah kecantikan gadis itu. Tampilan Queen juga terlihat lebih kalem dan terlihat berkelas. sedangkan Athar, terlihat masih memakai seragam SMA.


Terlihat jelas canda tawa Athar yang sedang menggoda Queen. Sedangkan Queen memasang wajah sebal karena digoda oleh adik nya itu.


Kali ini, Ayah Andra menangis tersedu-sedu.


"Waktu, mengapa kau kejam sekali," Ucap nya disela tangisan nya.


Cukup lama Ayah Andra berdiam diri di meja makan. Meja dimana mereka sering bersenda gurau. Menceritakan segala rahasia, menceritakan segala hal yang konyol dan yang serius. Ayah Andra benar-benar merindukan suasana tersebut, dan bayangan tentang yang sudah terlewati bersama terus datang dan pergi silih berganti. Hingga berakhir di ingatan terakhir Ayah Andra, yaitu melepaskan Queen untuk hidup dengan lelaki pilihan nya.


Ayah Andra bangkit dari duduknya dan beranjak kedalam kamar. Sesampainya di kamar, Ayah Andra menutup pintu dengan perlahan. Lalu, ia melihat Bunda Farah yang sedang tertidur nyenyak di atas ranjang mereka. Bunda Farah terlihat sangat kelelahan, setelah seharian berada di pesta pernikahan Queen dan Raka.


Perlahan, Ayah Andra beranjak duduk di tepi ranjang dan membelai lembut rambut Bunda yang sudah mulai dihiasi rambut yang memutih.


Ayah terus menatap Bunda yang tertidur nyenyak. Bahkan, terdengar dengkuran halus yang keluar dari bibir Bunda, saking nyenyak nya.


"Farah, tidak bisa aku bayangkan bila hidupku tanpa kamu. Setelah kepergian Ibuku, hanya kamu dan anak-anak yang aku punya. Kalian semua menghiasi hari-hari ku yang sebatang kara ini. Tanpa kalian, hidupku tidak akan berwarna."


"Farah, hanya kamu yang menjadi teman masa tua ku. Hanya kamu yang setia di sampingku. Aku harap kamu selalu sehat dan terus menua bersama dengan ku, jangan pergi tanpa diriku ya Farah... Aku benar-benar kesepian bila kamu tidak ada disamping ku Farah."


"Anak-anak sudah dengan kehidupan nya masing-masing. Aku benar-benar sangat membutuhkan kamu. Aku mencintaimu, aku benar-benar mencintaimu segenap hidup ku. Farah, temani aku hingga akhir hayat ku ya..." Ucap Ayah seraya mengecup lembut kening Bunda. Lalu, Ayah menyelimuti Bunda dan beranjak tidur disamping Bunda dengan memeluk Bunda dari belakang.


..

__ADS_1


"Sadarlah, bahkan anak-anak tidak akan bisa menemani mu kelak dimasa tua. Yang menjadi teman sejati mu hanya belahan jiwa mu saja. Ya, dia adalah pasangan yang rela menemanimu dikala susah dan senang, sakit dan sehat, miskin dan kaya, serta tawa dan duka." -De'rini-


__ADS_2