365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
37# Kemarahan Raka


__ADS_3

"Raka...!"


Suara lantang Ibunya menggema di ruang tamu rumah Raka.


Seorang asisten rumah tangga, tergopoh menghampiri Ibunya Raka saat mendengar suara nyonya besar menggema di ruang tamu.


"Raka!" Panggilnya lagi.


"Selamat pagi nyonya, apa kabar?" Tanya asisten rumah tangga Raka.


"Mana Raka?" Tanya nya dengan wajah yang penuh amarah.


"Anu nyonya, tuan Raka sedang mandi,"


"Panggil dia, dan buatkan saya teh. Saya akan menunggu dia di sini," Ucap Ibunya Raka.


"Ba-ba-baik nyonya," Ucap asisten rumah tangga Raka. Lalu, gadis berusia 25 tahun itu beranjak ke kamar Raka dengan maksud memberitahukan majikan nya itu, bila orang tuanya sedang mencari dirinya.


Terdengar ketukan pintu kamar mandi di tengah bunyi gemercik air yang terjatuh dari keran shower. Raka yang sedang membilas tubuhnya pun, mematikan keran air dan mencoba mendengar panggilan dari asisten nya.


"Ya?"


"Tuan, ada nyonya besar mencari tuan," Ucap asisten rumah tangga Raka.


"Ada apa? Apakah dia tahu aku sedang mandi?" Tanya Raka.


"Tahu tuan, tetapi nyonya terlihat sangat mendesak dan mengatakan bila dirinya menunggu tuan secepatnya di ruang tamu," Ucap wanita itu.


Raka menghela nafasnya dan meraih handuk yang terlipat di atas meja. Lalu, ia mengeringkan rambut dan tubuhnya.


"Suruh tunggu sepuluh menit lagi," Ucap nya.


"Baik tuan,"


Asisten rumah tangga itu pun kembali ke ruang tamu dan memberitahukan kepada Ibunya Raka untuk menunggu.


Wanita berusia 65 tahun itu, menghela nafas panjang saat asisten memintanya untuk menunggu 10 menit lagi. Ia pun meminta asisten itu untuk segera membuatkan teh untuk dirinya.


Sambil menunggu, ia mengeluarkan sebuah map cokelat dan meletakkan nya di atas meja. Ia melipat kakinya dan menatap ke sekeliling ruangan itu.


"Rumah besar, wajah tampan, tetapi tidak mempunyai istri. Entah seperti apa selera mu, apa kamu tidak menyukai perempuan?" Gumam nya.


Segelas teh terhidang di depan Ibunya Raka, setelah asisten rumah tangga Raka membuat teh tersebut. Dengan sopan, asisten rumah tangga itu beranjak dari hadapan Ibunya Raka.


"Rat," Panggil nya kepada asisten rumah tangga yang bernama Ratni.


"Ya nyonya," Sahut Ratni.

__ADS_1


"Apa kamu pernah melihat tuan Raka membawa wanita kesini?"


"Tidak nyonya," Ucap Ratni.


"Tidak?" Tanya nya dengan wajah yang bingung.


"Tidak sekalipun?" Tanya nya lagi.


"Tidak sekalipun nyonya." Tegas Ratni.


Ibunya menghela nafas dan menelan salivanya.


"Apa gara-gara aku pernah berbuat kesalahan kepada dirinya?" Batin Ibunya Raka.


Raka pun muncul sambil mengancingkan kemejanya. Lelaki tampan itu menatap Ibunya yang duduk di atas sofa ruang tamu rumahnya.


"Ada apa?" Tanya nya dengan wajah yang datar.


"Begitukah kamu menyambut Ibumu?"


"Ada apa?" Tanya Raka lagi dengan wajah yang malas.


"Duduk!"


Raka menatap Ibunya dan beranjak duduk di depan wanita yang telah melahirkan dirinya 32 tahun silam itu.


Nyonya Amara menatap Raka dengan seksama, lalu ia mengeluarkan isi map yang ada di depan nya.


"Kalau kau tidak mau dengan Eun Areum, kau bisa memilih gadis-gadis yang ada di dalam foto ini. Gadis-gadis itu adalah gadis pilihan dari keluarga terpandang," Ucap Ibunya sambil melemparkan setumpuk foto-foto para gadis di depan Raka.


Raka tersenyum sinis, ia menatap tumpukan foto di depan nya.


"Apa Ibu pikir, para gadis itu seperti pakaian obralan?" Tanya Raka sambil menggulung lengan kemejanya.


Nyonya Amara membulatkan matanya dan menatap Raka dengan seksama.


"Raka! apa kamu sudah gila? Ibu hanya ingin memberikan mu yang terbaik. Kamu belum menikah di usia tiga puluh dua tahun. Apa kau normal? Apa kau tidak berniat untuk menikah? Gadis seperti apa yang kau inginkan?" Tanya Nyonya Amara dengan wajah yang memerah.


"Aku menginginkan Naysilla, apa Ibu bisa mengembalikan dia?" Tanya Raka dengan wajah yang terlihat emosi.


Nyonya Amara terpana, ia menatap dendam di mata putranya sendiri. Lalu, ia menundukkan wajahnya dan terlihat salah tingkah.


Kematian Naysilla memang pukulan terhebat bagi Raka. Selama satu tahun, Raka tidak mau berbicara dengan Ibunya, karena pemuda itu menyalahkan kematian Naysilla kepada Ibunya.


"Bisa? Kalau Ibu bisa mengembalikan Naysilla, aku akan menikah hari ini juga." Ucap Raka.


"Naysilla sudah mati Raka!"

__ADS_1


"Mati? Bahkan Ibu tidak bisa mengucapkan kata yang pantas buat almarhumah."


"Dia hanya gadis cacat Raka. Sudah dua tahun, lupakan dia!" Ucap nyonya Amara tak kalah emosi.


Raka menggelengkan kepalanya dan tersenyum sinis.


"Maaf, bawa saja foto-foto ini. Aku bisa mencari gadis yang aku inginkan," Ucap Raka sambil beranjak dari duduknya.


"Raka!"


"Bu! Aku bukan anak kecil! Aku bukan mainan Ibu dan Ayah! Cukup! Jangan lagi mengendalikan hidupku. Andaikan kali ini aku bertemu dengan seorang gadis, setuju atau tidak, aku tidak butuh restu dari kalian!" Ucap Raka dengan mata yang memerah, nafas yang sesak.


Nyonya Amara terdiam, ia belum pernah melihat Raka seperti ini. Kali ini Raka memperlihatkan bahwa dirinya kini menjadi pembangkang.


"Kamu.."


"Apa? Apa Ibu pernah bertanya apa mau ku? Apa ibu pernah bertanya apa kabar ku? Ibu sebagai orang tua hanya ingin apa yang menjadi ingin Ibu dan Ibu hanya ingin perhatian, tetapi tidak memperhatikan aku!" Ucap Raka dengan nada yang membentak.


Nyonya Amara terdiam, ia pun beranjak dari duduknya.


"Kamu lihat foto gadis-gadis itu, Ibu tunggu kabar darimu," Ucapnya dan lalu pergi begitu saja.


Raka menghela nafas nya dan mengatur emosi di hatinya. Ia menggelengkan kepalanya dan terduduk di sofa. Ia menatap tumpukan foto gadis-gadis di atas meja. Lalu, ia menyapu semua yang ada di atas meja, termasuk gelas bekas nyonya Amara.


Prangggg...!


Semua berserakan diatas lantai.


Nyonya Amara menghentikan langkahnya saat mendengar benda yang pecah. Lalu, ia menggelengkan kepalanya dan memasuki mobil yang sudah siap mengantarkan dirinya ke bandara.


Ratni berlari ke ruang tamu, saat mendengar benda yang pecah. Ia menatap risau ke arah gelas yang pecah dan banyak foto gadis di atas lantai.


Ia merasa iba melihat Raka yang beranjak dari duduknya dan berjalan gontai menuju ke kamarnya.


Ratni benar-benar merasa iba dengan Raka. Ia adalah saksi betapa hancurnya majikan nya itu saat kehilangan Naysilla, gadis yang sangat majikan nya cintai itu.


"Ya Allah tuan Raka.."


Raka menatap Ratni dengan mata yang memerah.


"Tolong bereskan, buang foto-foto itu ke tempat sampah." Perintah nya.


"Baik tuan," Ucap Ratni sambil bergegas membereskan semua yang tercecer di lantai.


Raka memasuki kamarnya dan berdiam diri di dalam kamar.


"Apakah anak tidak memiliki hak bahagia sama sekali?" Gumam nya.

__ADS_1


__ADS_2