365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
127# Semoga


__ADS_3

Acara resepsi pernikahan Athar dan Kimmy sedang berlangsung dengan megah nya. Para undangan pun satu persatu sudah mulai berdatangan. Senyum bahagia selalu menghiasi wajah kedua mempelai, keluarga dan para tamu yang memberikan restu serta doa terbaik nya untuk kedua mempelai.


Saat Bunda sedang beristirahat dan acara sedang di hentikan untuk sementara waktu, Tante Nia pun mendatangi Bunda Farah dan mereka pun duduk di belakang panggung sembari menikmati hidangan makan malam mereka.


"Eh Far, temen lu si Amara gak lu undang?" Tanya Tante Nia.


Bunda melirik ke arah pintu masuk convention hall tersebut.


"Gue undang kok, iya ya, kok belum datang dia?" Ucap Bunda.


"Dia gak konfirmasi gitu ke elu?" Tanya Tante Nia lagi.


"Gue gak tahu, ponsel gue ada di tas di ruang ganti. Nanti deh gue chek," Ucap Bunda.


"Acara sudah akan berakhir beberapa jam lagi, mungkin ada halangan kali,"


"Mungkin, sahut Bunda."


.


Resepsi pernikahan Kimmy dan Athar pun berakhir pada pukul 9 malam. Walaupun semuanya terlihat lelah, tetapi mereka masih bersemangat di bahagia Kimmy dan Athar.


Tamu terakhir pun sudah pulang, kini tinggal keluarga Kimmy dan Athar serta sahabat saja yang tersisa disana. Mereka bersama-sama melangkah keluar gedung, untuk meninggalkan gedung tersebut dan kembali ke rumah masing-masing. Sedangkan Kimmy dan Athar akan menghabiskan malam pertama mereka di hotel milik Raka.


Raka sengaja memberikan hadiah dua malam menginap di hotel miliknya. Karena ia tidak tahu akan memberikan hadiah apa untuk sepasang pengantin baru tersebut. Maka, Raka memberikan menginap di kamar yang paling mewah yang ada di hotel miliknya.


Malam ini, Athar menjabat tangan Raka dan mengucapkan terima kasih kepada lelaki yang sedang mendekati kakak nya itu. Dengan wajah yang turut berbahagia, Raka menyambut jabatan tangan Athar dan mengucapkan selamat untuk sepasang pengantin baru tersebut.


Bunda Farah kembali mengamati sosok Raka, ia pun berbisik dengan Tante Nia


"Dia yang punya hotelnya loh Nia," Ucap Bunda Farah.


"Boleh banget jadi mantu lu Far," Bisik Mama Nia.


"Boleh banget lah, masa enggak. Tapi, kayak nya dia serius gak sih sama Queen?" Tanya Bunda Farah yang masih belum percaya, lelaki setampan dan sesukses Raka, akan serius dengan putrinya.


"Ini namanya pendekatan Far. Pasti suka lah, kalau enggak ngapain dia mepet anak lu terus?" Ucap Mama Nia.


Bunda Farah tersenyum dan menatap Raka dengan seksama.


"Nak Raka, terima kasih ya," Ucap Bunda Farah sambil menghampiri Raka yang baru saja selesai berbincang dengan Athar.


"Ah, iya Bunda sama-sama," Ucap Raka sambil tersenyum manis kepada Bunda Farah.


"Jadi kapan menyusul dengan Queen?" Ucap Bunda Farah tanpa basa basi.

__ADS_1


"Bunda... apaan sih!" Ucap Queen dengan wajah yang memerah, menahan malu karena ucapan Bundanya yang begitu berterus-terang di depan Raka dan keluarga yang lain nya.


"Buset Far, elu jangan to the point juga kali !" Tante Nia berbisik kepada Bunda Farah dan menarik lengan Bunda Farah yang terlihat antusias saat mengatakan hal itu kepada Raka.


Raka tersenyum dan menundukkan wajahnya, lalu ia menatap Queen dengan seksama.


"Kalau Om dan Bunda merestui saya menikahi Queen, secepatnya saya akan melamar Queen," Ucap Raka.


Queen terbelalak, ia menatap Raka dengan tak percaya.


"Nah, begitu dong," Ucap Bunda Farah.


"Bunda... kenapa begitu sih.." Ucap Queen dengan wajah yang cemas.


"Ya, kalau sama-sama suka kenapa gak nikah saja?" Tanya Bunda Farah.


Queen terdiam, ia merasa malu dengan sikap Bundanya.


Raka tersenyum dan menghampiri Queen yang tertunduk dihadapannya.


"Queen, kamu percaya dengan ku kan?" Tanya Raka.


Queen mengangkat wajahnya dan terlihat bingung dengan pertanyaan Raka.


"Menikah lebih baik," Ucap Ayah Andra.


"Lebih sehat juga dan sangat dianjurkan," Sambung Om Bobby.


"Apaan sih pada..." Ucap Queen yang tercengang dengan sikap semua orang disekitarnya.


Raka tersenyum dan menghampiri Ayah Andra.


"Om, saya suka dengan anak Om. Jadi, dalam kesempatan ini, kalau memang Om dan Bunda merestui. Saya akan segera membawa keluarga besar saya untuk melamar putri Om dan Bunda," Ucap Raka dengan penuh keyakinan.


"Gentle..!" Celetuk Tante Nia sambil bertepuk tangan dengan wajah yang girang.


"Raka..." Queen terlihat cemas dan bingung.


"Bagus, Om dan Bunda tunggu ya," Ucap Ayah Andra.


"Terima kasih Om, Bunda," Ucap Raka seraya tersenyum kepada kedua orangtua Queen. Lalu, ia menatap Queen dengan tatapan yang penuh kemenangan.


Queen terdiam, ia merasa malu sekali dengan sikap orangtuanya. Tetapi, disudut lain di hatinya, Queen merasa getaran yang tidak biasa. Sebenarnya ia merasa bahagia karena Raka melamar nya disaat yang tidak terduga.


"Queen, minggu depan aku datang bersama keluarga besar ku," Ucap Raka.

__ADS_1


Queen mengangkat wajahnya dan menatap Raka yang tersenyum kepada dirinya.


"Kamu serius?" Tanya Queen yang masih belum percaya.


"Seratus persen serius dan yakin. Menikah lah denganku," Ucap Raka dengan penuh keyakinan di depan dua keluarga itu.


Queen terpana, ia bingung akan menjawab apa.


"Alhamdulillah," Ucap Bunda Farah.


"Ya sudah, saya duluan ya Om dan Tante. Athar dan Kimmy, selamat ya... dan enjoy," Ucap Raka sambil menyalami semua yang berada disana.


Lelaki itu pun beranjak masuk kedalam mobil yang sudah terparkir di halaman gedung itu. Ia pun melambaikan tangannya kepada keluarga besar itu saat supir pribadinya mulai melajukan mobil tersebut.


Queen menghela nafas dalam-dalam dan menatap kedua orang tuanya dengan wajah yang cemas.


"Ya Allah Bunda, Ayah...." Ucap Queen yang terlihat lemas.


"Dia orang baik Queen, Ayah gak mungkin salah menilai," Ucap Ayah Andra.


"Kalau tadi dia gak mau sama Queen, apa gak malu kita Ayah, Bunda?" Ucap Queen lagi.


"Bunda bisa melihat kok, kalau dia suka sama kamu," Ucap Bunda Farah.


"Ya, tapi tidak begitu juga Bunda.." Ucap Queen yang mulai panik.


"Sudah, kita lihat minggu depan," Ucap Bunda Farah lagi.


Queen menghela nafasnya, ia pun merogoh tas tangan nya, untuk mencari ponsel miliknya. Lalu, setelah ia mendapatkan ponselnya, ia pun mengirimkan pesan untuk Raka.


Maafkan kedua orang tua ku dan keluarga besar ku ya Raka. Jangan anggap serius, mereka memang suka blak-blakan kalau bicara. Aku sungguh malu. Kalau kamu tidak serius dengan ucapan mu, aku mengerti. Tidak perlu merasa tidak enak dengan ku. Justru aku yang merasa tidak enak dengan mu. Sekali lagi, aku mohon maaf dengan sikap keluarga besar ku.


Queen pun mengirimkan pesan itu kepada Raka, lalu ia memasuki mobil keluarga nya.


Tring...!


Satu pesan balasan ia terima dari Raka.


Aku serius, aku akan datang minggu depan. Aku mencintaimu, maaf.. aku tidak akan menyianyiakan kesempatan ini. Aku akan membahagiakan kamu hingga maut memisahkan kita.


Queen tertegun setelah membaca pesan dari Raka.


"Dia serius?" Gumam Queen.


Perlahan, senyuman menghiasi sudut bibirnya. Hatinya pun mulai berbunga-bunga.

__ADS_1


"Tuhan, apa memang dia benar-benar jodohku?"


"Semoga memang benar dia akan membawa keluarga nya datang dan melamar ku Minggu depan," Gumam nya lagi.


__ADS_2