
Pagi-pagi sekali, terdengar ketukan dari luar pintu cottage milik Queen. Dengan malas, Queen beranjak dari duduk nya dan membuka pintu cottage nya. Terlihat Raka yang berdiri di ambang pintu, tersenyum menatap Queen yang tampak acak-acakan karena baru bangun tidur.
"Loh, kok baru bangun?" Tanya Raka dengan ekspresi wajah yang bingung.
Queen membiarkan Raka masuk kedalam cottage nya. Raka pun melangkah masuk dan terus menatap Queen yang terlihat pucat.
"Kamu kenapa?" Tanya Raka seraya membantu Queen merapikan rambutnya.
"Perut ku sakit, sepertinya aku akan haid." Ucap Queen yang kembali meringkuk di balik selimutnya.
"Haid?" Tanya Raka seraya menghampiri Queen dan berjongkok di sisi ranjang.
Queen mengangguk dengan lemah, lalu ia meringis kesakitan.
"Aku lupa kalau tanggal segini aku akan haid. Aku lupa beli pembalut."
Raka terlihat canggung mendengar curhat Queen masalah umum para wanita.
"Terus, sekarang pakai apa?" Tanya Raka seraya melirik Queen dengan ekspresi kikuk.
"Ini pakai kaos ku, aku takut keluar nanti tembus," Keluh Queen.
Raka menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu, meletakkan tas nya di atas lantai dan membelai lembut rambut Queen.
"Disini ada yang jual gak ya?"
"Apa?"
"Pembalut," Ucap Raka malu-malu.
"Itu dia aku gak tau. Duh... aku kok ceroboh banget sih sampai tidak memperhatikan tanggal haid ku." Keluh Queen seraya memijat pelipisnya.
"Ya sudah, aku cari ya.."
Queen beranjak duduk dengan ekspresi yang semringah.
"Beneran?"
__ADS_1
Raka mengangguk dan meraih tas nya, lalu ia beranjak dan hendak pergi meninggalkan cottage itu.
"Raka, sekalian obat sakit saat haid ya.."
Raka mengangkat kedua alisnya dan terlihat ragu untuk mengangguk.
"I-iya," Sahut nya seraya meninggal cottage Queen.
Queen tersenyum dan kembali memejamkan matanya.
"Duh, cari dimana?" Gumam Raka saat berjalan di jembatan yang menghubungi antar cottage di resort itu. Raka meraih sepeda untuk keluar dari gerbang cottage. Karena jarak antara gerbang dan cottage sangat jauh. Maka, para wisatawan diberikan sepeda untuk menggantikan mereka berjalan kaki, apa lagi disaat matahari sedang terik-teriknya.
Raka terlihat celingukan di depan gerbang cottage. Seorang gadis melintas di depannya. Lalu, Raka berusaha bertanya dimana warung yang menjual pembalut wanita. Terlihat canggung memang, tetapi Raka berusaha biasa saja. Ini semua ia lakukan demi Queen yang sangat membutuhkan pertolongan nya.
Gadis itu mengatakan bila membeli keperluan seperti itu, Raka harus pergi ke perkampungan yang berada di luar resort. Seperti yang kita tahu, disana ada perkampungan kecil dengan populasi yang sangat sedikit.
Raka mengerti apa yang harus ia lakukan. Ia pun meminta izin bila sepeda yang sedang ia gunakan itu untuk dibawa keluar resort. Beruntung, gadis yang bekerja di resort itu mengizinkan untuk Raka membawa sepeda properti resort keluar dari resort itu.
Di tengah sinar matahari yang mulai menyengat, Raka mengayuh sepedanya mencari perkampungan yang lumayan jauh dari resort.
Di tengah perjalanan, rantai sepeda yang sedang Raka kendarai pun lepas. Raka menepikan sepeda itu dan berusaha memperbaikinya.
Butuh 30 menit, Raka memperbaiki sepeda itu. Dengan peluh dan tangan yang menghitam, Raka kembali naik ke atas sepeda. Ia menyeka peluhnya sehingga wajah nya terkena luntur oli, yang membuat wajahnya terlihat menghitam di dahi dan pipinya.
Raka kembali mengendarai sepeda itu. Hingga dirinya mendekati perkampungan. Lagi-lagi, rantai sepeda itu pun lepas. Sepeda yang hanya diperuntukkan untuk berjalan di sekitar resort, tentu saja tidak bisa melewati medan yang terhitung sangat sulit saat menuju ke perkampungan lokal disana.
Raka kembali turun dan mencoba memperbaiki sepeda itu. Dengan wajah lelah, ia terus berusaha agar bisa segera bisa menjalankan kembali sepeda itu.
"Ini semua demi nyai. Mau rantai sepeda putus, tangan hitam-hitam, panas terik, hujan badai, akang akan berusaha mendapatkan pembalut untuk nyai." Gumam nya seraya tersenyum.
30 menit kemudian, rantai sepeda kembali terpasang. Dengan hati-hati, Raka mulai mengayuh sepeda itu. Baru saja beberapa meter berjalan, rantai sepeda itu kembali lepas.
Raka terlihat putus asa. Ia memandangi sepeda itu dengan wajah yang nelangsa.
"Ya Tuhan, begini banget ya buat mendapatkan Queen," Gumam nya seraya menggelengkan kepalanya.
Ia kembali berusaha memperbaiki sepeda itu, dan ternyata, rantai sepeda itu putus.
__ADS_1
"Walahhhhhh..." Keluh nya seraya terduduk di tepi jalan.
Raka kembali mengusap wajah nya dan menatap resort yang terlihat sangat jauh dari tempat dirinya berpijak saat ini.
"Jauh banget!" Gumam nya lagi.
Mau tidak mau, Raka menarik sepeda itu seraya mendekati perkampungan. Setiap orang menatap Raka dengan tatapan aneh, dan sebagian dari mereka menertawai wajah Raka yang menghitam karena noda oli dari rantai sepeda.
Raka melihat minimarket kecil yang berada di sana. Lalu, dengan penuh harapan ia berlari mendekati minimarket tersebut. Nasib sial bagi Raka, ternyata minimarket itu hanya menjual makanan instan dan berbagai oleh-oleh. Raka kembali menarik nafas panjang, lalu menghembuskan nya dengan perlahan.
Ia kembali menyusuri perkampungan itu dan mulai bertanya kepada penduduk lokal disana. Sayangnya, beberapa penduduk lokal, tidak bisa berbahasa Inggris.
Raka pun memarkirkan sepedanya di tepi jalan dan duduk di trotoar. Baju dan celananya sudah tampak lusuh. Keringat terus mengalir dari balik bajunya dan membasahi setiap lekuk tubuh atletis miliknya.
"Ya Allah..." Gumam nya seraya menutup kedua matanya.
Terlihat seorang anak kecil berlari mendekati Raka. Beruntung, bocah berusia 8 tahun itu dapat berbahasa Inggris dengan lancar. Raka pun meminta tolong kepada bocah tersebut dan memberikan beberapa dolar kepada bocah itu.
Bocah itu pun meminta Raka, untuk menunggu nya disana. Raka sudah merasa senang, karena dirinya tidak perlu susah payah mencari minimarket yang menjual pembalut.
Setelah Raka menunggu hampir satu jam, bocah itu tidak muncul. Raka pun mulai merasa tertipu. Beberapa dolar pun melayang. Ia hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum kecut.
"Bisa-bisanya gue di tipu sama penipu cilik," Gumam nya seraya kembali melanjutkan perjalanan mencari minimarket.
Setelah lebih jauh memasuki perkampungan, Raka melihat bocah yang menipunya sedang duduk di salah satu lapangan dengan beberapa makanan yang berada di dalam genggamannya.
"Woi...! Kang tipu!" Seru Raka.
Raka yang merasa di tipu oleh bocah itu pun menaruh sepedanya dan mengejar bocah itu. Bocah licik itu pun menoleh, karena merasa ada ancaman mendekat, ia pun berlari menjauhi Raka.
Aksi kejar-kejaran pun terjadi. Hingga Raka masuk lebih jauh kedalam perkampungan itu. Hingga beberapa menit kemudian, Raka kehilangan jejak bocah licik itu. Ia pun mulai bingung dengan keberadaan nya. Raka menatap ke sekeliling nya. Ia tidak tahu jalan keluar dari perkampungan itu. Bahkan, dimana sepedanya terparkir pun, Raka tidak ingat.
"Ya Tuhan..." Keluh nya seraya berjalan dengan gontai ke sembarang arah.
Hingga akhirnya kaki nya berhenti melangkah saat ia tersesat hingga ke tepi pantai ujung dari pulau itu.
"Allahu Akbar!" Teriaknya seraya mengangkat kedua tangan nya tinggi-tinggi. Peluh meleleh dari dahinya hingga ke dagu Raka. Ia pun merebahkan dirinya yang terasa capai di atas pasir putih tersebut.
__ADS_1
"Queen! Kamu harus jadi istriku! Lihat perjuangan ku Queen! Lihatttttt...!" Serunya lagi, seraya berguling-guling di atas pasir.