
Bunda Farah terlihat sibuk mengatur ruang keluarga, sedangkan para asistennya sibuk bekerja untuk membersihkan dan menata ruangan itu agar lebih cantik dari pada biasanya.
Tidak hanya ruang keluarga, ruang tamu dan halaman rumah pun turut dipercantik. Sebagian dinding luar dari rumah pun di cat, agar lebih terlihat lebih indah. Semua itu Bunda lakukan untuk menyambut kedatangan keluarga Raka yang berniat baik untuk melamar putrinya.
Setelah menjadi mandor, Bunda pun merasa lelah dan duduk di beranda rumah itu. Udara panas pada siang itu pun membuat Bunda lebih merasa lelah. Ia pun meminta diambilkan air kepada asisten rumah tangganya, lalu ia melanjutkan aktivitas nya mengipas tubuhnya yang terasa lengket dan panas, dengan koran bekas milik Ayah Andra.
Dari kejauhan, ia melihat seorang lelaki yang turun dari mobil yang diparkirkan tepat di depan gerbang rumahnya.
"Siapa itu?" Gumam Bunda seraya mencoba melihat sosok lelaki itu dengan matanya yang mulai rabun.
Tiba-tiba saja Bunda melihat Rosidi, satpam rumah nya, berlari mendekati dirinya.
"Bu, ada tamu," Ucap Rosidi saat berada di hadapan Bunda Farah.
"Siapa?" Tanya Bunda Farah.
"Mas Putra," Sahut Rosidi.
Bunda mengerutkan keningnya, ia tidak menyangka Putra masih berani datang kerumahnya.
"Ya sudah suruh masuk," Ucap Bunda.
"Baik Bu," Sahut Rosidi.
Bunda pun beranjak dari duduknya dan bergegas untuk mengganti daster nya dengan baju yang lebih pantas saat menyambut kedatangan tamu.
Mobil milik Putra, beranjak memasuki halaman rumah itu. Setelah ia memarkirkan mobilnya atas petunjuk Rosidi, ia pun turun dari mobilnya dan mengucapkan terima kasih kepada Rosidi. Lalu, ia beranjak masuk kedalam rumah itu, setelah di sambut oleh asisten rumah tangga Bunda.
"Tunggu sebentar ya Mas, Ibu sedang bersiap-siap."
"Iya Mbak," Ucap Putra seraya mencoba duduk dengan nyaman di sofa yang terletak di ruang tamu.
Selang beberapa saat kemudian, Bunda pun datang muncul untuk menemui Putra.
"Eh, nak Putra," Sapa Bunda dengan ramah.
"Bun," Sahut Putra seraya menyalami Bunda Farah.
"Apa kabar?"
"Baik Bun, Bunda apa kabar?"
"Baik, Alhamdulillah," Sahut Bunda seraya menatap Putra dengan seksama.
"Ada apa ya nak Putra?" Tanya Bunda. Walaupun ia tahu maksud kedatangan Putra ke rumahnya, ia tetap bertanya untuk menjadi bahan awal perbincangan mereka.
"Begini Bun..."
"Bunda, Queen berangkat ya..." Queen yang baru saja muncul dari dalam rumah, mengalihkan pandangannya ke arah Putra yang baru saja ingin berbincang dengan Bunda Farah.
"Ya Allah, kenapa Bunda gak ngomong kalau ada ini orang," Gumam Queen.
"Queen...!" Sapa Putra dengan wajah yang begitu bersemangat.
"E-eh, hai.. apa kabar?" Tanya Queen dengan canggung.
"Baik, akhirnya kita bertemu lagi," Ucap Putra seraya menyalami Queen.
Queen tersenyum tipis dan duduk di samping Bunda nya.
__ADS_1
"Tadi kenapa nak Putra?" Bunda bertanya lagi tentang pertanyaan nya yang belum sempat di jawab oleh Putra.
"Hmmm, saya ingin bertemu dengan Queen." Ucap Putra dengan berterus terang.
Queen dan Bunda saling bertatapan.
"Hmmm, saya ingin menyampaikan, bila dalam waktu dekat ini, A'a saya akan mengirimkan mobil yang untuk mengganti mobil Queen."
"Loh?" Queen menatap Putra dengan wajah yang bingung.
"Iya, saya tahu, bila Queen sudah mengatakan, tidak akan meminta mobil itu diganti. Hanya saja, A'a saya merasa harus menggantinya. Dan juga... sebagai ucapan terima kasih, karena sudah berhasil menangkap siapa pelakunya," Terang Putra.
"Te-tetapi... aku.."
"Kata A'a, dia mimpi, kalau Tika meminta tolong untuk A'a mengganti mobil kamu Queen. Di dalam mimpi itu, Tika bilang, ia merasa bersalah dengan kamu. Kamu terlalu baik dengan dia,"
Queen terdiam, matanya mulai memerah mengingat Tika kembali.
"Tetapi, aku sudah ikhlas," Ucap Queen.
"Tetapi, A'a saya ingin menggantinya. Ini semua demi Tika,"
Air mata Queen pun tumpah, ia tidak kuasa menahan tangis bila siapa saja membahas tentang Tika.
"Ya Allah Tika... elu itu.." Gumam Queen.
"Sekaligus.... saya ingin berbincang dengan Queen," Ucap Putra seraya tersenyum semringah.
Queen melirik Bunda. Lalu, ia mengusap air matanya dan menatap Putra.
"Mau berbincang? Mau ngomongin apa lagi ya?" Tanya Queen.
Merasa paham dengan situasi, Bunda pun bergegas beranjak dari duduknya.
"Nak Putra mau minum apa?"
"Apa saja Bun,"
"Yakin? Kopi atau teh?"
"Hmmm, kopi saja Bun,"
"Ok, baiklah. Bunda buatkan dulu ya.."
"Terima kasih Bun.."
Bunda mengangguk dan beranjak ke dapur. Kini, tinggal Queen dan Putra saja yang berada di ruang tamu tersebut.
"Queen,"
"Ya?" Queen menatap Putra dengan seksama.
"Apakah benar kamu dan lelaki itu sudah akan menikah?" Tanya Putra dengan wajah yang terlihat kecewa.
"Insya Allah, besok dia akan melamar ku," Ucap Queen.
Putra pun mulai menyadari, mengapa banyak yang bekerja mempercantik rumah Queen pada hari ini.
"Aku sadar, cara ku mendekati kamu sangat tidak menyenangkan. Tetapi, perlu kamu ketahui Queen, aku memang berniat serius denganmu."
__ADS_1
Queen tertegun, ia menundukkan pandangan nya.
"Tetapi, aku sudah memutuskan untuk..."
Queen terdiam, saat melihat baju Putra yang berwarna putih.
"Jodoh lu, datang memakai baju putih saat melamar elu Queen," Kata-kata Tika di dalam mimpi, terngiang di telinga Queen.
Deggggg...!
"Bercanda lu Tik.." Batin Queen.
"Memutuskan untuk apa?" Tanya Putra.
"U-untuk menerima lamaran Raka,"
Putra tertunduk lesu. Ia memijat pelipisnya dan menghela nafas panjang.
"Oh iya, tolong bilang sama A'a kamu, kalau saya tidak mau menerima mobil itu. Saya sungguh-sungguh sudah ikhlas. Yang kehilangan bukan hanya kalian, saya juga sangat kehilangan Tika. Tidak mungkin saya memikirkan masalah ini itu disaat saya pun berduka. Sudahlah, lupakan saja," Ucap Queen yang berusaha mengalihkan perbincangan.
"Tapi.. masalah mimpi dan pesan Tika.."
"Duh... jangan percaya sama mimpi deh ya..."
Queen mulai merinding mendengar masalah mimpi. Bagaimana tidak, lelaki di depannya pun sedang melamar dirinya. Lelaki itu memakai baju putih juga. Lalu, bagaimana dengan Raka? Apakah dia tidak berjodoh dengan Raka? Apakah Queen harus percaya dengan mimpinya? Queen pun mulai gemetar.
"Tapi.. ada yang bilang, kalau sampai mimpi, itu memang pesan dari almarhumah," Ucap Putra lagi.
"Ya Allah Put! Masih bahas mimpi lagi..!" Queen menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Maaf.." Ucap Putra dengan wajah yang polos.
Queen mengerutkan keningnya dan menatap wajah Putra dengan seksama.
"Lu mau jodohin gue sama adik ipar lu ya Tik? Tapi, lu kan setuju gue sama Raka. Aduh Tika..." Batin Queen seraya memejamkan kedua matanya.
"Sudah ya, aku mau berangkat dulu ke butik," Ucap Queen seraya beranjak dari duduknya.
"Aku antar ya.."
"Tidak usah, aku naik mobil sendiri saja," Ucap Queen seraya bergidik.
"Kamu kenapa Queen?" Tanya Putra dengan wajah khawatir.
"Gak apa-apa," Sahut Queen seraya meraih tas tangan nya.
"Queen, kenali aku sebentar saja,"
"Putra, aku sudah memiliki pilihan sendiri. Mohon mengerti ya," Tegas Queen.
"Loh, kamu kok sudah mau berangkat?" Tanya Bunda yang baru saja muncul dengan membawa segelas kopi untuk Putra.
"Iya Bun, assalamualaikum," Ucap Queen seraya mengecup punggung tangan Bunda yang baru saja menaruh gelas kopi di atas meja.
"Waalaikumsalam," Sahut Bunda, dengan wajah yang bingung. Lalu, Bunda dan Putra melihat Queen yang bergegas meninggalkan rumah dengan tergesa-gesa.
Lalu, setelah Queen sudah pergi dengan mobilnya, Bunda dan Putra pun saling berpandangan.
"Maafkan Queen ya nak Putra," Ucap Bunda dengan senyum nya yang canggung.
__ADS_1