365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
74# Ta'aruf?


__ADS_3

"Siapa namanya tadi Jang?" Tanya Ayah Andra, mencoba membuka percakapan dengan Putra. Karena ia melihat sikap Queen yang acuh kepada lelaki yang duduk disamping anak sambungnya itu.


"Putra Om,"


"Oh iya, Putra ya. Kamu kerja dimana?"


"Saya seorang Dosen Om,"


"Wow, Dosen! Pinter dong kamu ya. Tetapi kelihatannya masih muda. Usia mu berapa?" Tanya Ayah Andra lagi.


Queen melirik Ayah Andra yang terus mengintrogasi Putra. Lalu, ia melirik Bunda yang terlihat antusias dengan Putra.


"Saya berusia tiga puluh lima tahun Om. Yah, saya tidak pintar-pintar sekali Om, hanya saja, nasib baik menuntun saya menjadi pengajar di Universitas."


"Tiga puluh lima tahun, tetapi wajahnya seperti seusia dengan Queen ya," Celetuk Bunda.


"Maksud Bunda, Queen terlihat tua?"


Mendadak suasana menjadi kikuk.


"Ah, bukan... maksudnya kamu juga masih seperti usia dua puluh lima tahun Queen." Bunda meralat ucapannya.


"Memang Queen usianya tiga puluh tahun ya?"


Queen melirik Putra dan tersenyum dengan terpaksa.


"Bukan, empat puluh tahun!" Sahut Queen dengan wajah yang tidak bersahabat.


Putra tersenyum simpul, ia merasa sangat tertarik dengan gadis itu.


"Queen..." Tegur Bunda seraya melirik Putra dan mengangguk canggung.


"Queen kerja dimana?" Tanya Putra dengan bersemangat.


"Nganggur," Sahut Queen seraya terus melahap makanan nya tanpa melirik sekalipun kepada Putra.


"Tidak... anak Tante punya usaha kok. Butik dan Hotel." Bunda mencoba menjawab pertanyaan dari Putra yang di jawab asal-asalan oleh Queen.


"Oh begitu..." Sahut Putra.


"Bun, Queen kesana dulu ya," Ucap Queen sembari beranjak dari duduknya.


"Mau kemana?" Tanya Bunda dengan wajah yang bingung.


"Nyuci piring, kan baru selesai makan," Sahut Queen dengan wajah yang acuh.


Bunda menelan salivanya, ia merasa tidak enak dengan Putra yang terus menatap Queen dan melihat tingkah laku Queen yang kurang sopan.


Dari atas pelaminan, Tika melihat Queen yang beranjak dari duduknya sembari membawa piring kotor.


"Duh, ngapain lagi sih itu anak." Gumam Tika.


Queen meletakkan piring kotor di dalam keranjang piring kotor yang di bawa oleh petugas kebersihan di acara itu. Sambil berjalan, ia melihat-lihat ke sekeliling acara itu dan melihat Putra yang menyusul dirinya. Mendadak Queen merasa seperti di hampiri debt collector.


"Ya Tuhan..." Keluh Queen yang langsung bergegas kembali ke meja Ayah dan Bunda.


Queen berjalan, seakan ia tidak melihat Putra yang sedang berjalan ke arahnya.


"Queen," Panggil Putra dengan sikap yang sok akrab.

__ADS_1


Queen pura-pura tidak mendengar panggilan dari lelaki itu.


"Queen," Putra menghadang Queen dan tersenyum kepada gadis itu.


Queen mengangkat wajahnya dan menatap Putra dengan seksama.


Lelaki itu cukup menarik. Ia memiliki kulit putih yang bersih. Lesung pipi dan bulu mata yang lentik menjadi daya tarik utama di wajahnya. Hidung nya yang mancung sempurna serta matanya yang berbinar terlihat begitu mempesona. Namun, tidak dimata Queen. Mungkin, ia juga sudah muak untuk mengenal orang baru di hidupnya. Jadi, Queen merasa tidak peduli walau seberapa tampan nya lelaki itu.


"Kamu single kan? Apa kamu mau ta'aruf dengan ku?" Tanya Putra tanpa berbasa basi sebelumnya.


"Hah!" Queen mulut Queen ternganga dan menatap lelaki itu dengan wajah tak percaya.


"Iya, ta'aruf. Saya sedang mencari calon istri," Ucap Putra seraya tersenyum memamerkan lesung pipinya.


"Duh, jangan deh. Kelakuan ku gak baik. Malas dan...."


"Aku bisa menuntun mu.." Potong Putra.


Queen terdiam, ia menatap lelaki itu dengan seksama. Baru kali ini ada lelaki yang begitu nekat mengatakan akan menikahi dirinya pada 20 menit pertama pasca perkenalan.


"Jangan baperrrr, jangan baperrrrr...." Batin Queen.


"Maaf Mas, saya bukan orang buta." Ucap Queen seraya tersenyum simpul dan beranjak dari hadapan Putra.


Putra tertawa sembari menoleh kebelakang. Ia menatap Queen yang sedang berjalan tergesa-gesa menuju meja kedua orangtuanya.


"Bun, pulang yuk."


"Kenapa?" Tanya Bunda dengan kerut di keningnya.


"Pulang saja, soal nya pasti sampai di Jakarta sudah sore. Kan malam nanti Queen pergi." Ucap Queen mencoba meyakinkan Bunda. Padahal, ia merasa risih dengan lelaki yang bernama putra tersebut.


Queen menatap kedua mata Bunda yang mengandung maksud.


"Biasa saja," Ucap Queen sambil menyambar tas tangan nya yang berada di atas meja.


"Ayo Ayah..." Ucap Queen yang melihat Ayah nya yang masih duduk dengan nyaman.


"Iyaaa ayo..." Sahut Ayah sambil mengulum senyum nya.


Mereka pun berpamitan kepada Tika, Tika yang tidak tahu mengapa Queen begitu tergesa-gesa pun menahan tangan Queen dengan erat.


"Lu kenapa? Kok buru-buru sih?"


"Sorry Tik, gue malam ini mau terbang ke Maldives."


"Hah!! Lu bilang sibuk, tapi lu bisa liburan! Gimana sih lu," Tika menarik Queen ke sudut panggung.


"Lu kenapa sih? Patah hati?" Tanya Tika dengan wajah yang tampak serius.


Queen menghela nafasnya dan menoleh ke arah suami Tika yang tampak bertanya-tanya karena istrinya yang selalu mondar mandir tidak jelas kesana kemari.


"Nanti gue kasih tahu deh, kasihan suami lu Tik...!"


"Beneran lu ya...!"


"Iya... nanti gue hubungi via Skype deh."


"Seriusan, kalau lu bohong sembelit lu tujuh hari tujuh malam!" Ancam Tika.

__ADS_1


"Ngawur lu ah..! Iya gue janji," Bisik Queen.


"Ya sudah, hati-hati dijalan. Eh, Putra gimana? Ada getaran gimana gitu gak?"


"Shut up! Balik sana!" Ucap Queen dengan wajah yang kesal.


Tika tertawa geli dan Kembali duduk di pelaminan.


Queen tersenyum dan melambaikan tangan nya. Lalu, ia dan kedua orangtuanya pun beranjak meninggalkan aula gedung tersebut.


Dari sudut ruangan, terlihat Putra yang menatap Queen dengan tatapan kagum nya. Ia benar-benar merasa jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Queen. Gadis yang baru saja di kenalkan oleh kakak iparnya, Tika.


"Aku harus bisa menjadi suami nya." Batin Putra seraya terus menatap Queen dan kedua orangtuanya hingga keluarga itu menghilang dari pandangannya.


...


Queen menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang. Di samping Queen, Ayah duduk sambil menikmati pemandangan jalanan Kota bandung yang ramai lancar. Sedangkan di belakang, Bunda terlihat mulai terkantuk-kantuk namun tetap berusaha membuka matanya. Karena Bunda tidak ingin tertidur dalam keadaan masih memakai pakaian kebaya nya.


"Arghhh, tahu begini, Bunda tadi bawa daster buat ganti baju." Keluh Bunda.


Queen melirik Bunda dari spion tengah mobilnya.


"Mau shopping Bun?"


Seketika, Bunda yang mendengar kata 'shopping ' pun, langsung memasang mata yang berbinar-binar.


"Siapa yang bayar?" Tanya Bunda.


"Ayah lah," Queen melirik Ayah.


Ayah pun terperangah dan menatap Queen dengan tak percaya.


"Asikkk!" Seru Bunda sambil bertepuk tangan.


"Kan bisa tuh, Bunda beli daster baru. Bisa di ganti juga kan. Biar bisa tidur di jalan menuju ke Jakarta," Ucap Queen.


"Tapi kok jadi Ayah yang bayar?"


"Ya kan Ayah banyak uang nya," Celetuk Queen seraya tersenyum lebar.


"Lah, lah, Ayah lagi saja korban nya."


"Sekalian dong, Queen mau beli sepatu ya Ayah....." Queen melirik Ayah dengan wajah yang memelas.


Ayah menghela nafas panjang, lalu ia menggelengkan kepalanya.


"Memangnya kamu tahu tempat belanja yang murah disini?" Tanya Bunda.


"Tahu dong Bun, waktu itu aku sama Antoni........"


Seketika Queen menghentikan ucapannya.


Kenangan bersama dengan Antoni terlalu banyak di Kota Bandung. Antoni lah tempat dirinya bersandar saat ia merasakan patah hati karena Langit yang berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.


Ayah dan Bunda terdiam, begitupun dengan Queen. Mereka bertiga terdiam membisu. Hingga mobil itu, Queen hentikan di salah satu departemen store khusus untuk membeli berbagai macam oleh-oleh khas Bandung.


"Kita sudah sampai," Ucap Queen seraya melepaskan sabuk pengaman nya.


Ayah dan Bunda mengikuti Queen yang hendak keluar dari mobil itu. Sebelum Ayah dan Bunda keluar, mereka saling bertatapan. Terlihat kesedihan dimata Bunda, dan Ayah paham itu.

__ADS_1


__ADS_2