365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
78# 307HMH


__ADS_3

Pukul 01.00 Queen masih berada di Singapore. Ia transit dan menunggu penerbangan yang akan membawanya ke Maladewa. Karena penerbangan pagi, Queen pun memilih untuk berjalan-jalan di Bandara terbaik di dunia itu.


Negara Singapura tampaknya sangat menomorsatukan para penumpang atau para wisatawan yang datang ke negaranya. Mereka memberikan pelayanan terbaik serta segala macam yang di butuhkan para penumpang agar tidak bosan menunggu penerbangan selanjutnya.


Apa saja ada di dalam Bandara itu, mulai dari berbelanja, taman, tempat pijat hingga kolam berenang.


Queen lebih memilih untuk pijat saja, agar merelaksasi kan tubuhnya yang terasa kaku. Queen memejamkan matanya saat ia sedang di pijat di kursi otomatis yang sedang ia tempati.


Saat Queen memejamkan kedua matanya, bayangan Raka dan Jonathan kembali hadir. Entah mengapa ia merasa bersalah telah menjauhi Raka dan ia pun merasa merindukan Jonathan.


"Apa kabar kamu anak manis, tante rindu," Gumam Queen serta menghela nafasnya dengan berat.


Dua kali pertemuan, cukup membuat Queen jatuh cinta dengan bocah laki-laki itu. Jauh dilubuk hatinya yang paling dalam, ia sudah sangat ingin memiliki seorang anak. Tetapi, apa daya, ia tidak kunjung mendapatkan jodoh.


"Jodohku... kamu lagi dimana sih. Apakah kamu Raka? Atau siapa? Jangan lama-lama ya, kalau kamu datang lama, aku sudah keburu ubanan dan tidak bisa memiliki anak dong..." Batin Queen dengan perasaan yang sedih.


Tidak sadar, Queen tersentak dari tidur nya, ia bergegas melirik arlojinya. Jarum jam menunjukan pukul 04.00 pagi. Queen pun beranjak dari kursi pijat dan membayar kelebihan waktu yang terlah ia pergunakan di kursi itu.


Queen beranjak ke musholla untuk menantikan adzan Subuh dan melakukan shalat berjamaah dengan para penumpang lain nya yang beragama Muslim.


Setelah sholat Subuh, Queen pun bergegas untuk ke lounge, untuk membeli sarapan nya pada pagi ini. Ia duduk sendiri di sana, tenggelam dengan kesepian yang tengah ia rasakan.


"Menjadi singel itu menyenangkan, namun sepi lah yang membunuh kesenangan itu," Keluh Queen seraya menyeruput kopi panas yang baru saja ia pesan.


...


Di Jakarta, tepatnya di kediaman Raka. Lelaki itu sedang bersimpuh di sajadahnya. Memanjatkan doa-doa dan harapan nya. Memohon belas kasih Tuhan untuk mendengarkan dan mengabulkan segala harapan yang telah ia panjatkan kepada sang Khaliq.


Lelaki yang sudah melakukan shalat taubat itu pun kerap menangis mengingat betapa tidak pantas nya ia sebagai seorang pendosa yang kini memohon segala maaf dari sang pencipta. Segala yang terjadi membuat dirinya sadar, bila apa saja yang ia miliki hanyalah semu semata. Yang abadi hanya amal dan ibadahnya saja. Berkali-kali ia bersujud hanya untuk memohon kebaikan Allah untuk membuat dirinya merasa lebih baik lagi dalam hidup ini.


Raka sudah bertekad untuk taubat. Ia bertekad untuk menjadi manusia yang berada di jalan NYA. Sudah cukup kenikmatan dan dosa yang selama ini ia arungi. Sudah saatnya kembali ke jalan Nya. Sesungguhnya, tidak ada yang abadi di dunia ini. Bahkan, anak yang ia miliki pun hanya titipan semata. Nyawa yang sedang berada di tubuhnya hanya titipan saja. Sewaktu-waktu ia pun akan pergi, entah kapan saat itu datang. Ia hanya sedang menunggu giliran saja.

__ADS_1


Pun dengan kebahagiaan dan jodohnya, Raka hanya bisa pasrah dengan kehendak NYA. Siapa pun yang akan menjadi jodoh nya, ia pasrah. Itu sudah menjadi garis takdir yang Tuhan berikan kepada dirinya. Tetapi, bolehkah ia masih berharap bila Queen lah jodohnya?


Nama Queen tidak pernah putus ia sebutkan dalam doa-doanya. Termasuk doa di sepertiga malamnya. Entah mengapa, hanya gadis itu yang menjadi harapannya. Walaupun ia pasrah, bila Tuhan memiliki rencana lain untuk nya.


Setelah shalat Subuh, Raka bergegas untuk sarapan. Terlihat nyonya Amara sedang membantu asisten rumah tangga Raka yang sedang mempersiapkan sarapan pagi. Ya, nyonya Amara memilih untuk tinggal bersama dengan anak semata wayangnya itu. Mereka sudah berdamai dan hidup dalam ketenangan saat ini.


Begitulah gambaran manusia. Manusia harus mendapatkan teguran dari sang pencipta agar mau menyadari bila dirinya salah. Di tegur, bukan lantas Tuhan itu kejam, justru Tuhan sedang memperhatikan mu dan meminta mu untuk kembali mengingat Nya.


"Pagi Bu..." Sapa Raka seraya tersenyum dan mengecup kening wanita yang telah melahirkan dirinya hampir 33 tahun yang lalu itu.


"Pagi sayang," Sahut nyonya Amara seraya tersenyum kepada Raka.


Mereka pun sarapan bersama. Menikmati pagi dan membahas masalah bisnis. Serta mereka berencana untuk mengadakan doa bersama untuk Jonathan di rumah Raka. Walaupun tidak ada yang tahu, bila Raka memiliki seorang anak yang sudah berpulang, Raka tetap untuk mengadakan acara itu dan siap semua orang tahu bila ia sempat menjadi seorang Ayah.


Apapun anggapan orang lain kedepan nya, Raka tidak peduli. Bagaimana pun, Jonathan adalah darah dagingnya dan anak itu walaupun sudah tidak ada, tetap berhak untuk diakui. Karena anak adalah anugerah, bukanlah aib yang harus disembunyikan.


Setelah selesai sarapan bersama, Raka pun bergegas pergi ke hotel nya. Sudah lama ia tidak singgah dan melihat-lihat hotel miliknya itu. Sekaligus ia ingin menyibukkan diri dengan bekerja. Untuk melupakan segala yang telah ia alami beberapa minggu kemarin.


Setelah Raka berangkat ke kantor nya, nyonya Amara menangis haru. Betapa segala sesuatu sangat gampang Tuhan bolak balikan begitu saja. Dan sekarang lah saat nya ia menebus segala dosa nya kepada anak kandungnya itu. Nyonya Amara sadar, terkadang tidak hanya anak yang durhaka. Justru terlalu banyak orang tua yang durhaka kepada anak-anak mereka. Bukankah anak itu bagaimana orang tuanya? Lantas mengapa selalu menyalahkan anak apabila mereka mulai melawan, memberontak? Dan dengan sesuka hati kita melabeli mereka dengan sebutan 'Durhaka'. Siapa yang durhaka? Anak atau orang tua?. Baiknya kembali bertanya kepada diri sendiri. Sudah pantaskah kita disebut sebagai orang tua? Apa jangan-jangan, kitalah yang lebih kekanak-kanakan dibandingkan anak sendiri?


Terlihat sebuah mobil sedan memasuki halaman rumah Raka.


Nyonya Amara yang baru saja hendak menutup pintu rumah Raka pun mengurungkan niatnya dan memperhatikan mobil sedan berwarna merah itu mendekat ke arah pekarangan rumah itu.


Beberapa saat kemudian, terlihat Lala yang hendak keluar dari dalam mobil itu dan menatap nyonya Amara dari balik kaca mata hitamnya.


Nyonya Amara mengerutkan dahinya dan menantikan dan ingin tahu apa maunya Lala yang datang sepagi ini ke rumah Raka.


"Pagi Bu, Raka nya ada?" Tanya Lala yang terlihat sangat menjaga penampilan saat ini. Wanita itu mengubah gaya pakaian nya. Bahkan nyonya Amara melihat Lala lebih terlihat seperti meniru gaya Queen yang tidak sama sekali pantas untuk Lala.


"Ada apa kamu mencari anak saya sepagi ini?" Tanya nyonya Amara dengan wajah yang datar.

__ADS_1


"Aku hanya ingin menghibur Raka. Hmmm, tepatnya kami harus saling menghibur dan saling menguatkan."


Nyonya Amara tertawa kecil, lalu ia menggelengkan kepalanya melihat keberanian Lala saat ini.


"Untuk apa? Dia sudah berangkat ke hotel."


"Bu, apakah Ibu ingat janji Ibu yang akan menikahkan kami?" Ucap Lala tanpa basa-basi sebelumnya.


Nyonya Amara mengerutkan keningnya dan menatap Lala dengan tak percaya.


"Loh, kalian kan tidak ada hubungan lagi. Lagi pula anak saya sudah tidak mencintai kamu."


"Tetapi, Raka harus tanggung jawab...."


"Tanggung jawab apa? Jonathan? Karena dia sudah menghamili kamu? Kenapa tidak dari dulu?" Potong nyonya Amara.


Lala terdiam dan membuka kaca mata hitamnya dan menatap nyonya Amara dengan wajah yang geram.


"Kalau bukan karena Anda, ini semua tidak akan terjadi!"


"Ya saya memang bersalah. Tetapi, Jonathan sudah tidak ada. Apa yang harus Raka tanggung jawabkan lagi?"


Pertanyaan pemungkas dari nyonya Amara sukses membuat Lala terdiam.


"Lagi pula, kamu tidak terlihat terpukul dengan kematian Jonathan. Kamu justru terlihat seperti memanfaatkan keadaan. Lala, sudahlah.... lepaskan Raka. Raka sudah mencintai gadis lain. Kamu harusnya mulai menata hidupmu dan memulainya dengan hal yang baru. Jadilah orang yang positif dan membawa kebahagiaan untuk dirimu sendiri dan orang sekitar mu. Jangan buat masalah lagi," Ucap nyonya Amara dengan tegas. Lalu, nyonya Amara menutup pintu rumah Raka dan meninggalkan wanita itu begitu saja, yang mematung di beranda rumah tersebut.


Lala terdiam, nafasnya terasa sesak. Entah mengapa nyonya Amara tidak pernah menyukai dirinya. Apa salahnya? mengapa wanita tua itu tidak mau sekalipun mengenali dirinya terlebih dahulu. Selalu saja ketus dari saat ia berpacaran dengan Raka hingga kini.


Lala, beranjak kembali ke mobilnya. Hatinya hancur dan muncul dendam kepada wanita tua itu. Entah mengapa ia berniat sekali untuk menyingkirkan nyonya Amara dari hidup Raka. Agar ia bisa kembali bersama dengan Raka tanpa harus adanya campur tangan dari nyonya Amara yang sangat menyebalkan itu.


"Kenapa kau tidak mampussss saja!" Gumam Lala.

__ADS_1


__ADS_2