365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
102# 286HMH


__ADS_3

Queen yang sedang berada di kamarnya terlihat gelisah. Sudah pukul 00.30 dini hari, matanya tak kunjung terpejam. Ia menatap langit-langit kamarnya dan terlihat terus menggumam tentang pertemuan Raka dengan keluarga intinya malam nanti pada hari ini.


Kenapa harus gelisah? Intinya Queen takut sekali bila Raka mundur dan mereka harus berpisah untuk selama-lamanya. Yang berarti hubungan antara keduanya harus berakhir. Walaupun Raka sudah mencoba meyakinkan Queen bila dirinya tidak akan mundur selangkah pun saat menghadapi segala rintangan yang akan mereka hadapi berdua. Bukan tidak percaya dengan Raka, tetapi Queen sudah cukup lelah dalam mencari pendamping hidup. Bila kali ini gagal lagi, Queen tidak tahu ia harus bagaimana dan mungkin saja ia akan sendirian seumur hidupnya.


Mungkin bagi sebagian orang yang tidak pernah merasakan trauma, akan menganggap Queen terlalu berlebihan. Tetapi, tahukah kita tentang trauma? Trauma itu sangat sulit di sembuhkan. Butuh waktu yang sangat lama untuk menyembuhkan nya. Walaupun penderita terlihat baik-baik saja, bukan berarti penderita itu baik-baik saja.


Queen memiliki pribadi yang tertutup, walaupun keluarga mempunyai satu hari untuk berbagi segala cerita. Tetapi, Queen tidak ingin menceritakan segalanya. Itu semua ia lakukan untuk menjaga keluarganya yang akan menyikapi berlebihan tentang dirinya. Queen tahu dan sadar, bila keluarganya sangat menyayangi dirinya. Itu sudah cukup bagi Queen.


"Tuhan, bila memang dia jodoh ku, berikanlah kelancaran pada malam nanti. Bukalah hati kedua orangtuaku. Jadikan lah Raka sosok yang mencuri hati mereka karena sikap dan tutur katanya yang baik dan terpelajar. Aamiin," Doa Queen pada awal hari ini.


...


Mentari mulai muncul di ufuk timur, burung-burung liar berkicau di sekitar kediaman Raka. Nyonya Amara dan Raka baru saja menyelesaikan kewajiban mereka sebagai seorang muslim, yaitu shalat subuh berjamaah. Namun, Raka masih duduk di atas sajadahnya. Ia mengungkapkan segala puja dan puji kepada sang pemilik kehidupan. Nyonya Amara tersenyum menatap punggung Raka yang begitu khusyuk dan tafakur di atas sajadah itu. Nyonya tidak menyangka, segala yang terjadi, membuat Raka berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Yang juga mengajak dirinya sebagai seorang Ibu untuk ikut kembali kejalan Nya.


Haru, itulah yang dirasakan oleh nyonya Amara. Rasa sayangnya kepada Raka semakin besar. Rasa syukurnya atas perubahan dirinya dan anak semata wayangnya itu mampu membuat dirinya semakin dekat dengan anak yang selama ini ia acuhkan, bahkan tidak ia pikirkan kebahagiaan nya.


Memang, cobaan dapat membuat manusia berubah. Baik itu pola pikir ataupun kedekatan emosional dengan orang terkasih. Terkadang, banyak juga orang yang memilih untuk keluar dari jalurnya, bahkan lebih tersesat lagi. Tetapi, tidak dengan Raka. Ia kembali kejalan Nya dan mencoba untuk tetap Istiqomah. Semua itu tidak ia lakukan hanya untuk Jonathan atau Queen. Tetapi, lebih mencoba mendekatkan diri kepada yang kuasa, agar hatinya tenang dan berpasrah diri dalam ketentuan nya. Maka, apa pun yang akan ia hadapi, ia tidak akan pernah takut. Karena ia melangkah bersama sang pencipta. Raka yakin, segala sesuatunya, Tuhan pasti telah mempersiapkan yang terbaik untuk nya. Maka, rasa takut dan gentar itu tidak lagi ada di hati Raka.


Setelah berdzikir dan berdoa, Raka beranjak dari sajadahnya. Ia melipat sajadah itu dan melangkah keruang makan. Disana sudah ada nyonya Amara yang membantu asisten rumah tangga nya, menyiapkan sarapan untuk semua yang ada di rumah tersebut.


Perubahan hubungan kearah yang lebih baik lagi tidak hanya antara nyonya Amara dengan buah hatinya. Tetapi, hubungan baik dan kekeluargaan mulai dijalin dengan erat kepada seluruh orang yang bekerja dengan mereka. Tentu saja perubahan itu membawa kebaikan untuk semuanya. Tepatnya, juga untuk sesama.


Tidak ada kata nyonya dan asisten. Semua sama, sama-sama manusia. Mereka bekerja, memberikan tenaga mereka untuk membantu dengan imbalan uang untuk nafkah keluarga mereka. Rasa hormat dan di hargai juga menjadi bagian hak mereka. Bukan berarti mereka bekerja, lalu dengan sesuka hati memaki atau memperlakukan mereka dengan tidak baik. Tanpa mereka, mungkin segala pekerjaan di rumah atau keamanan di rumah tidak akan mampu di tangani semuanya oleh pemilik rumah, yaitu Raka dan nyonya Amara.


Perubahan itu tentu saja menjadi hal yang positif dan menyenangkan bagi seluruh yang bekerja dengan nyonya Amara dan Raka. Mereka yang biasa selalu menerima perlakuan kasar nyonya Amara, kini tidak lagi. Bahkan, nyonya Amara pun kini sudah menganggap mereka adalah bagian dari keluarganya. Hal itu membuat mereka yang bekerja menjadi lebih nyaman lagi untuk mengabdi kepada keluarga yang sudah jauh lebih positif itu.

__ADS_1


"Mau sarapan sekarang?" Tanya nyonya Amara kepada Raka yang terus menatap dirinya.


"Nanti saja Bu," Sahut Raka seraya tersenyum dan terus menatap Ibunya.


"Kamu kenapa menatap Ibu seperti itu terus?" Tanya nyonya Amara seraya membalas senyuman Raka.


"Tidak, Raka hanya merasa senang dan bahagia melihat Ibu yang sekarang. Bahagianya tidak terkira..Terima kasih ya Bu..." Ucap Raka seraya menghampiri Ibunya dan memeluk nyonya Amara dengan erat.


Nyonya Amara terdiam, lalu ia membalas pelukan hangat dari anak semata wayangnya itu.


"Ya sudah, ganti baju koko nya dengan baju kerja mu. Nanti balik lagi kesini dan kita sarapan bersama ya.." Bisik nyonya Amara.


Raka melepaskan pelukannya dan menatap nyonya Amara dengan tatapan penuh kasih sayang. Lalu, ia mengangguk dan mengecup kening Ibunya itu.


Nyonya Amara pun merasa terharu. Selama ini, Raka tidak pernah bersikap seperti itu kepada dirinya. Tetapi, setelah nyonya Amara mengubah sikapnya dan Raka pun lebih dekat dengan Nya, sikap Raka kepada dirinya jauh lebih baik dan santun. Raka tidak pernah lagi berteriak kepada dirinya. Bahkan, Raka sangat mengutamakan dirinya sebagai seorang Ibu, yang memang posisinya jauh lebih mulia daripada apa pun di dunia ini.


"Ya?" Raka yang sedang bergegas menuju ke kamarnya pun, menghentikan langkahnya dan menoleh kepada nyonya Amara.


"Ayahmu akan pulang dari London besok. Ayo kita jemput di bandara,"


Raka tersenyum dan mengangguk setuju.


Nyonya Amara membalas senyuman Raka dengan wajah yang begitu semringah.


Nyonya Amara mulai merasakan betapa indahnya hidupnya saat ini. Ternyata, kebahagiaan yang selama ini ia kejar tidak ada artinya bila kedekatan emosi anaknya tidak ia dapatkan. Nyonya Amara baru menyadari, bila kebahagiaan sesungguhnya adalah keluarga. Kebahagiaan keluarganya dan cinta didalam keluarganya.

__ADS_1


..


Tepat pukul tujuh pagi, Raka keluar dari kamarnya dan kembali ke ruang makan. Disana nyonya Amara sudah menunggu dirinya bersama seluruh asisten yang bekerja di rumah nya. Kini, asisten diperbolehkan untuk duduk semeja dengan mereka. Awalnya semua asisten menolak untuk duduk semeja dengan majikan mereka. Tetapi, nyonya Amara memaksa mereka dengan alasan, menemani mereka untuk makan dan juga mereka sudah di anggap keluarga sendiri dirumah itu. Perubahan yang cukup membingungkan bagi seluruh asisten. Tetapi, juga membuat mereka merasa di perlakukan sebagai bagian keluarga dari keluarga orang terpandang itu.


"Bu,"


"Ya?" Sahut nyonya Amara saat mereka bersama sedang menyantap menu sarapan mereka bersama.


"Hari ini aku akan bertemu dengan keluarga inti Queen."


Nyonya Amara dan para asisten menatap Raka dengan wajah yang semringah.


"Kamu serius? Apa perlu Ibu temani? Sekalian melamar Queen?" Tanya nyonya Amara yang begitu bersemangat.


"Ah.. bukan.. bukan begitu." Segah Raka dengan wajah yang memerah.


"Lalu?" Nyonya Amara terlihat kecewa.


"Ini hanya perkenalan dulu. Doakan Raka bisa mengambil hati kedua orangtuanya ya Bu, serta membuat mereka setuju anak nya Raka dekati."


Nyonya Amara terlihat mengerti dan mengangguk paham.


"Baiklah, aamiin.. semoga ya Raka,"


"Aamiin..." Sahut para asisten.

__ADS_1


Raka tersenyum menatap nyonya Amara dan satu persatu asisten nya.


"Terima kasih, aamiin.." Sahut Raka, seraya melanjutkan santap paginya.


__ADS_2