
"Eh Queen, lu sadar gak kalau si Raka itu suka sama elu?" Tanya Tika saat mereka baru saja sampai di hotel.
Queen menatap Tika dengan tatapan yang tidak bisa Tika artikan. Lalu, ia menghela nafas dan menuangkan air kedalam teko pemanas.
"Queen, dia itu sedang berusaha dekat sama elu tau gak?"
Queen tak bergeming, ia menyalakan teko pemanas dan beranjak melipat pakaian kotor nya yang akan ia serahkan ke petugas laundry, esok pagi.
"Queen gue yakin dia bakalan bisa menjadi suami yang...
"Tik..."
Tika terdiam saat Queen menyela ucapannya.
"Gue gak mikirin yang namanya laki-laki untuk saat ini. Kita kesini untuk bersenang-senang bukan?" Tanya Queen.
Tika menghela nafas dan duduk disamping Queen yang kembali melipat pakaian kotor nya.
"Maaf ya Queen, mungkin gue terlalu senang." Ucap Tika yang merasa bersalah dengan apa yang sudah ia ucapkan.
Queen menatap Tika dan tersenyum kepada sahabat nya itu.
"Gue paham," Ucap Queen.
Tika tertunduk lesu, ia paham dengan apa yang Queen rasakan. Setelah merajut asmara 5 tahun lamanya dan putus begitu saja. Lalu, menemui tambatan hati kembali dan disaat mulai mencintai, ternyata lelaki yang Queen cintai itu hanya ingin memanfaatkan sahabat nya itu. Tentu saja itu semua membuat Queen tidak akan bisa langsung percaya dengan lawan jenisnya. Rasa trauma dan jera untuk sementara waktu pastilah dirasakan oleh seorang wanita yang kerap gagal dalam masalah percintaan.
"Tapi, dia menarik gak sih? Dan sepertinya dia juga bukan orang sembarangan. Alias, orang berada gitu." Ucap Tika dengan mata yang berbinar.
Queen menaruh pakaian kotor yang sudah di masukan kedalam kantung laundry, di sudut ruangan. Lalu, ia menatap Tika dengan seksama.
"Gue gak munafik, dia menarik, tampan, mapan, romantis dan terlihat baik," Ucap Queen.
"Romantis?" Tanya Tika sambil tersenyum.
"Ah, hmmmm..."
"Memang sebelumnya kalian ngapain? Kalian kan sudah kenal sebelumnya kan ya? Romantis seperti apa?" Desak Tika.
Queen tersenyum malu-malu, ia beranjak mematikan teko pemanas dan menuangkan nya kedalam gelas yang sudah berisi kopi dan gula. Lalu, Queen mengaduk kopi tersebut dan menghirup aroma kopi yang terasa menenangkan baginya.
"Queen.. ayo dong cerita..." Desak Tika lagi.
"Mau tahu aja lu," Queen tersenyum, lalu ia meniup kopi panas nya itu.
"Sumpah gue kepo tau. Kasih tahu dong."
Queen menyerahkan segelas kopi yang ia buatkan juga untuk Tika. Lalu, mereka berdua duduk di sofa yang menghadap ke jendela besar di kamar hotel itu.
__ADS_1
"Waktu gue tahu Ricky itu aneh, saat itu gue lagi makan malam dengan Raka." Ucap Queen membuka kisahnya.
"Ah, serius lu?" Tanya Tika dengan wajah yang tampak penasaran.
Queen mengangguk dan membuang tatapan nya keluar jendela. Ia menatap indahnya salju yang mulai turun dengan deras, serta lampu-lampu yang gemerlap di luar sana.
"Terus?"
"Iya, ceritanya.. gue kenal dia ini gak sengaja kok. Saat di Mall, gue gak sengaja ketemu Antoni. Gue kan sudah cerita tuh..."
"Iya, terus?" Tanya Tika yang semakin penasaran.
"Tiba-tiba, ada cowok yang berusaha menyelamatkan gue dari situasi yang memang gue pengen ngilang aja dari situ."
"Raka?" Tanya Tika.
Queen menatap Tika dan mengangguk dengan cepat.
"Waahhhh... trus?"
"Dia tiba-tiba ngaku kalau dia tunangan gue. Nah, karena gue memang mau menghindari Antoni, gue iyakan lah kalau dia itu tunangan gue. Padahal kenal aja enggak."
Tika semakin antusias mendengarkan cerita Queen.
"Trus?"
Queen tertawa sambil mencubit pipi tika yang tampak memerah karena cuaca yang dingin.
"Penasaran tau gue Queen!"
"Iya... iya... Jadi, gue kenalan sama dia. Nah, setelah kenalan, dia minta nomor ponsel gue. Satu minggu gak gue balas pesan dia. Karena memang gue lagi sibuk dengan boutique gue. Nah, setelah itu, dia ngajak gue makan malam setelah gue balas pesan dia. Pikiran gue, dia itu kan sudah berjasa, jadi gue terima tawaran makan malam dari dia. Nah, disitulah gue lihat Ricky lagi gandeng laki-laki lain."
Tika tertawa mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan Queen.
"Kenapa lu tertawa?" Tanya Queen.
"Itu, yang ada kan wanita cemburu melihat pacar nya menggandeng wanita lain. Ini berbeda ya bun...." Goda Tika sambil tertawa lepas.
"Halah... puas banget lu Tik.. nasib tragis gue lu ketawain." Queen mengerutkan dagunya dan menatap Tika dengan wajah kesal nya.
"Sorry... Sorry... asli gue gak bisa menahan tawa." Ucap Tika disela tawa nya yang geli.
"Trus?"
"Iya, dia peluk gue gitu disaat gue nangis. Terus tiba-tiba..."
"Tiba-tiba apa?" Tika menatap Queen dengan tatapan yang curiga.
__ADS_1
"Hmmm... lift mati. Gue terjebak di lift sama dia."
"Oh... so sweet.... trus...muach.. muachhh.. gak?" Tanya Tika sambil menyatukan kedua ujung jari telunjuknya.
"Apaan sih.. gak lah.. dia siapa? Cowok gue bukan, suami juga bukan.." Ucap Queen dengan pipi yang memerah.
"Ah, bohong lu..." Goda Tika lagi.
"Serius..! Cuma ya.. cara dia menenangkan gue patut di acungi jempol," Ucap Queen sambil tersenyum dan kembali menatap gemerlap lampu gedung-gedung yang terlihat dari jendela kamar hotelnya.
"Terus, sudah ada getaran gimana gitu?"
Queen membulatkan kedua matanya dan menatap Tika dengan seksama.
"Gila kali lu ya, baru juga kenal belum ada dua minggu. Arghhh...!"
Queen beranjak dari duduk nya dan menghabiskan kopi di gelas nya yang mulai dingin.
"Ciri-ciri orang jatuh cinta memang begitu, suka menenggak kopi. Bukan meminumnya dengan cara di seruput," Ucap Tika sambil mengangkat gelas kopi nya dan menyeruput nya dengan perlahan.
"Au ah..." Queen beranjak ke atas ranjang dan merebahkan dirinya.
Ia menatap langit-langit kamar itu dan menghela nafasnya dalam-dalam.
"Tapi memang, pesona Raka gak main-main sih. Tapi, entah mengapa gue merasa masih belum nyaman. Apa gue memang masih mengharapkan Antoni?" Batin Queen.
...
Raka yang baru saja sampai di hotel, langsung di hadang oleh kedua orangtuanya yang sudah menunggu dirinya sejak tadi di lobby hotel itu.
Plakkkkk...!
Satu tamparan mendarat di pipi Raka. Ia pun terkejut dan menatap Ayah nya yang baru saja melayangkan tamparan di pipinya.
"Bikin malu! Dimana sopan santun mu?" Suara lelaki paruh baya itu menggema di lobby hotel. Hingga menarik perhatian beberapa orang yang sedang berada di lobby hotel itu.
Raka membuka mulutnya dan menggerakkan rahangnya yang terasa perih karena tamparan yang baru saja ia terima.
"Gadis itu bukan wanita sembarangan. Dia anak CEO perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan Om dan Tante mu. Mengapa kamu bertingkah seperti itu!. Bila kamu tidak suka, tidak seharusnya kamu pergi begitu saja!" Ucap Ayahnya.
Raka tersenyum, ia menatap kedua orangtuanya dengan seksama.
"Apa anak dilahirkan hanya untuk menurut dengan orang tuanya? Tanpa berhak untuk menjadi diri sendiri?"
"Raka!" Ibunya hampir saja melayangkan tamparan di pipi Raka. Tetapi, wanita paruh baya itu berusaha untuk menahan hasrat nya untuk memberikan pelajaran kepada Raka dengan cara menampar anak satu-satunya itu.
"Bu, Ayah, aku adalah anak laki-laki. Aku adalah manusia, jadi... biarkan semua berjalan seperti ketentuan sang pencipta. Bila jodohku belum ada tahun ini, mungkin tahun depan. Mengapa semua selalu di atur dan terkesan terburu-buru? Aku capek, beri aku kesempatan untuk bertanggung jawab dengan hidup ku sendiri." Pungkasnya. Lalu, Raka berjalan menuju lift dan meninggalkan kedua orang tuanya begitu saja.
__ADS_1
"Cukup... hidup ku sudah terlalu hancur sejak kepergian Naysilla. Aku berhak dengan hidup ku sendiri," Batin Raka sambil menatap sinis kepada kedua orangtuanya, saat pintu lift yang baru saja ia masuki akan tertutup rapat.