
"Gimana jeung? Apa sebaiknya pernikahan diselenggarakan di hotel Raka saja?" Tanya nyonya Amara pada pertemuan keluarga yang sudah berjalan lima kali sejak pertunangan Raka dan Queen.
"Apakah Raka tidak keberatan jeung?" Tanya Bunda Farah, yang merasa sungkan.
"Tidak apa-apa kok Bun," Sahut Raka yang sedang duduk di samping Ayah Gunawan.
"Masalah biayanya...."
"Tidak perlu! Itu kan punya Raka, mengapa harus mengeluarkan biaya lagi?" Ucap nyonya Amara.
Bunda tersenyum canggung.
"Bun, tidak usah menyumbang biaya, saya akan mempersiapkan masalah gedung dan catering nya. Catering bisa dari restoran saya. Saya bisa menutup hotel untuk kenyamanan bersama dalam satu hari saja. Tinggal keluarga saja yang memberikan berapa jumlah undangan yang akan hadir. Dan satu lagi, bila ada keluarga yang tinggal di luar Kota, bisa menginap di hotel saya Bun. Tidak usah sungkan atau merasa bagaimana. Mereka juga keluarga kita semua," Ucap Raka.
Bunda menatap Raka dengan sorot mata yang terharu. Ia benar-benar merasa beruntung memiliki calon menantu seperti Raka.
"Baiklah bila begitu nak Raka," Ucap Bunda.
"Masalah pakaian Raka dan Queen bagaimana?" Tanya nyonya Amara.
"Masalah Pakaian pengantin dan keluarga sudah saya siapkan bahan nya Bu," Ucap Queen.
"Wah, ini namanya kerja sama yang baik ya Queen," Ucap nyonya Amara seraya tersenyum puas.
Nyonya Amara juga merasa beruntung memiliki calon menantu seperti Queen. Serta calon besan seperti Bunda Farah dan Keluarga. Bahkan, nyonya Amara merasa tidak sabar dengan pernikahan anak satu-satunya itu yang akan dilaksanakan 60 hari lagi.
Masalah undangan juga sudah menemui titik temu. Tinggal daftar undangan yang belum. Segala pernak pernik pernikahan dan juga ucapan terima kasih untuk tamu undangan juga sudah di pesan dan akan selesai satu bulan lagi.
Meskipun mereka adalah orang yang kaya dan akan mengundang tamu-tamu kelas atas. Pernikahan ini tidak memakan biaya yang terlalu banyak bagi mereka. Tentu saja karena semua saling sadar akan tugas masing-masing. Karena komunikasi dan rasa tenggang rasa yang luar biasa.
Bunda dan nyonya Amara juga semakin kompak. Bahkan mereka sering keluar untuk bersenang-senang dan menghabiskan waktu bersama dengan Tante Nia juga. Semua sudah seperti keluarga dan sahabat yang sudah di kenal sejak kecil. Tidak ada ganjalan ataupun rasa kecewa yang terselip di dalam hubungan mereka. Kelak, mereka pun akan menjadi satu, yang disebut dengan keluarga.
Hubungan Queen dan Raka pun juga semakin kuat. Tidak ada pertengkaran yang begitu berarti. Hanya pertengkaran kecil yang mewarnai hubungan mereka berdua. Saling memaklumi, memaafkan dan menganggap semua sudah berlalu, adalah kunci dari hubungan Raka dan Queen. Itu semua karena mereka berdua sudah cukup dewasa dalam memulai hubungan, yang akan menjejaki pernikahan dalam waktu dekat ini.
Raka pun juga banyak berkomunikasi dengan Ayah Andra dan Ayah Gunawan. Para orangtua pun kerap memberikan wejangan untuk hubungan yang baik dengan keluarga, ipar, maupun pasangan. Raka benar-benar merasa, ia tidak akan pernah bisa menemukan keluarga lain yang sehebat keluarga Queen. Keluarga yang dipenuhi pikiran positif, terpelajar dalam berbicara, gila pada tempatnya, serta terbuka dalam isi hati, agar tidak ada dendam dan pikiran yang mengganggu di antara hubungan keluarga.
Raka tersenyum menatap satu persatu keluarganya dan keluarga Queen. Ia menghela nafas panjang dan bersyukur sekali lagi. Betapa Tuhan sangat baik kepadanya, setelah semua yang telah ia lewati. Akhirnya, ia mampu mendapatkan hubungan yang sesungguhnya.
yang disebut hubungan yang sesungguhnya adalah, saat kita menikahi seseorang, kita otomatis menikahi keluarga besarnya. Tenggang rasa dalam bersikap, dan saling menghormati. Baik itu pendapat, solusi dan buah pikir. Agar tidak ada saling menyindir dan saling melukai, yang membuat hubungan dengan pasangan turut hancur, hanya karena perasaan tidak puas, egois dan mengganjal diantara kedua keluarga.
"Alhamdulillah ya, aku bahagia melihat keluarga kita semakin dekat," Ucap Raka saat dirinya dan Queen pindah duduk ke halaman belakang untuk menikmati segelas teh hangat dan kebersamaan mereka berdua.
"Iya, Alhamdulillah," Ucap Queen, seraya meletakkan dua gelas teh di atas meja, dan beranjak duduk di samping Raka.
"Enam puluh hari lagi, waktu begitu cepat berlalu," Ucap Raka seraya tersenyum.
"Oh iya, kamu kapan mau ke butik? Kamu belum di ukur loh badan nya. Kalau bisa, datang bersama keluarga besar mu ya."
Raka mengangguk dan menatap Queen dengan sorot mata yang begitu penuh dengan kasih sayang.
"Terima kasih ya, besok aku akan datang," Ucap Raka.
__ADS_1
"Ok, aku tunggu."
"Gaun mu sudah jadi?" Tanya Raka.
Queen menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis.
"Belum, mungkin bulan depan. Soalnya aku dan team, harus berhati dalam mengerjakan nya," Ucap Queen.
Raka mengangguk paham dan meraih tangan Queen dan mengecup buku-buku tangan gadis itu.
"Queen, apa kamu bahagia bersama dengan ku?"
Queen tersenyum dan membalas genggaman tangan Raka.
"Kalau aku tidak bahagia, untuk apa aku akan menikahi mu," Ucap Queen.
"Oh iya, besok pagi sampai dengan siang aku akan pergi bersama dengan Tasya ya... boleh? Jadi, kamu dan keluarga datang nya siang atau sore saja ya.."
Raka yang sudah tidak asing lagi mendengar nama "Tasya" pun, hanya mengangguk. Ia memperbolehkan Queen untuk pergi kemana saja, asal dirinya selalu di beri kabar oleh Queen.
"Memang mau kemana?"
"Ke makam Tika,"
"Oh, aku juga belum ke makam Tika lagi. Apa mau aku antar?" Tanya Raka.
Queen menyipitkan matanya dan menatap Raka dengan seksama.
"Dua-duanya sih," Sahut Raka, ia pun tertawa geli dan merangkul Queen dengan gemas.
"Nanti kalau ada orang jahat gimana? Aku gak sanggup kehilangan kamu." Bisik Raka.
Queen menatap kedua mata Raka dan tersenyum malu.
"Segitunya?" Tanya Queen.
"Iya. Jujur ya, gak ada perempuan yang bisa menggantikan kamu."
"Gombal!"
"Serius!"
"Alah!"
"Gak percaya.."
"Peettt!"
"Ih..."
Mereka berdua pun cekikikan di halaman belakang rumah itu. Diiringi gelak tawa kedua keluarga mereka yang terdengar riuh dari ruang keluarga, di kediaman Queen tersebut.
__ADS_1
"Jadi, boleh kan aku ikut?"
"Boleh... apa sih yang enggak untuk kamu," Sahut Queen.
"Gitu dong," Raka tersenyum puas.
"Ayooo.. ngapain..!" Ucap Kimmy, sang pengganggu.
Queen dan Raka menoleh dan menatap Kimmy dan Athar yang baru saja pulang dari kantor.
"Gak ngapa-ngapain kok," Ucap Raka seraya menjaga jarak dari Queen.
Kimmy tersenyum geli dan duduk di hadapan Raka dan Queen.
"Kak, ini ada undangan," Ucap Kimmy, seraya memberikan sebuah undangan pernikahan bersampul cokelat kepada Queen.
"Dari siapa?" Queen mengerutkan keningnya dan meraih undangan berwarna cokelat tersebut.
"Baca saja," Ucap Kimmy seraya melepaskan blazer nya.
Setelah membuka undangan itu, Queen pun terlihat menatap Kimmy dengan tatapan tak percaya.
"Seriusan!" Seru Queen.
Kimmy mengangguk ragu, dan mengerutkan keningnya saat membalas tatapan Queen.
"Yakin nih?" Queen kembali membaca undangan tersebut.
"Memang kenapa sih kak?" Tanya Kimmy penasaran.
"Ricky menikah?" Queen masih tidak percaya.
"Ya, memang kenapa?" Sahut Kimmy yang tidak tahu sisi gelap Ricky.
"Ya... tidak apa-apa sih," Sahut Queen seraya bertatapan dengan Raka.
Raka hanya tersenyum geli dan menyeruput teh nya.
"Mau datang gak?" Tanya Queen kepada Raka.
"Datang saja, mari kita lihat pria gagah itu bersanding di pelaminan," Sahut Raka.
Mereka berdua pun tertawa cekikikan, sedangkan Kimmy dan Athar terlihat bingung dengan sikap Raka dan Queen.
Beberapa saat kemudian, mereka pun mulai paham,
"Jadi beneran kalau Ricky..." Ucap Kimmy dan Athar secara bersamaan.
Queen dan Raka pun terkekeh dan mengangguk.
"Ya ampun... tapi syukurlah kalau kembali ke kodratnya." Ucap Kimmy dan Athar.
__ADS_1
"Iya Alhamdulillah..." Sahut Queen yang masih tertawa geli.