
Queen berlari di lorong menuju ke kamar jenazah di rumah sakit umum, dimana jenazah Tika sedang di titipkan, menunggu pihak keluarga untuk membawa jenazah tersebut untuk dimakamkan di tempat yang pihak keluarga inginkan.
Terlihat seorang petugas baru saja keluar dari ruang jenazah. Dengan baju berwarna hijau dan masker diwajah nya. Sedangkan dua orang polisi sedang duduk menunggu hasil pemeriksaan jenazah Tika.
"Pak! Saya teman dari Tika, saya mau melihat Tika Pak!" Ucap Queen dengan tangisan nya yang terdengar begitu pilu.
"Tika?" Tanya petugas kepolisian tersebut.
"Iya Pak, jenazah yang tadi kecelakaan di tol Cikampek!"
"Bukan nya wanita itu bernama Queen? Anda siapa?"
"Saya Queen Pak, saya teman Tika! Tika meminjam mobil saya untuk pulang ke kampung halaman nya di Bandung. Jadi, jenazah itu Tika Pak." Terang Queen yang masih menangis dan hendak menerobos masuk kedalam kamar jenazah.
"Maaf Mbak, bisa kita bicara sebentar?" Tanya Bapak polisi.
"Bi-Bisa Pak,"
Bapak polisi tersebut pun mengajak Queen berdiri menjauh dari Bunda, Athar dan Raka. Mereka berdiri tepat di samping kamar jenazah. Pihak polisi mencari keterangan dari Queen selaku pemilik mobil nahas tersebut.
"Jadi Anda yang memiliki mobil tersebut?"
"Iya Pak," Jawab Queen yang masih terus menangis.
"Pukul berapa Tika meminjam mobil tersebut?"
"Pagi tadi Pak, sekitar pukul delapan pagi atau pukul sembilan. Saat itu saya baru sampai ke butik saya dengan mengendarai mobil tersebut." Terang Queen.
"Apakah selama Anda memakai mobil itu, ada masalah dalam rem atau apa saja pada mobil itu?"
__ADS_1
"Ti-tidak Pak, semua baik-baik saja. Bahkan, mobil itu baru saja di servis Pak. Saya mempunyai bukti bila mobil itu dalam kondisi prima dan bisa di pakai kemana saja," Jawab Queen.
"Jadi yang mengendarai atau yang meminjam mobil Anda itu bernama Tika? Teman? Saudara atau?"
"Sahabat Pak, sahabat saya dari SMP dulu."
"Anda punya nomor telepon keluarga nya?"
"Punya Pak," Queen mengeluarkan ponselnya dan memberikan nomor telepon keluarga Tika yang berada di Bandung. Dengan wajah yang sedih dan cemas, ia menunggu petugas mencatat nomor keluarga Tika.
"Hanya ini?" Tanya polisi itu lagi.
"Ada nomor telepon rumahnya kok Pak," Ucap Queen seraya memberikan nomor telepon rumah Tika.
Polisi itu pun meminta Queen untuk menunggu di bangku tunggu, tepat di kamar jenazah tersebut. Sedangkan pihak polisi berusaha untuk menghubungi keluarga Tika, untuk mengabarkan tragedi yang sudah merenggut nyawa Almarhumah Tika.
Queen menangis di pundak Bunda. Air mata pun juga mengalir di sudut mata Bunda. Bagaimanapun, dirinya sangat mengenal Tika yang sudah ia anggap sebagai anak nya sendiri. Tika kerap mampir untuk bermain bersama Queen sejak Tika menjadi sahabat Queen, dari dulu hingga kini. Maka, kasih sayang Bunda dan rasa kehilangan Bunda, sudah pasti sama hal nya seperti ia menyayangi Queen dan bila dirinya kehilangan Queen.
"Ya sudah, tunggu kejutan dari gue ya." Kata itu terus terngiang di telinga Queen. Kata-kata dimana Tika berjanji akan membelikan dirinya kado, sebagai kejutan di hari ulang tahunnya. Ternyata, kejutan itu adalah kepulangan Tika yang kembali kepada sang pencipta.
"Tika...." Queen terus menangis dan menyesali, kepergian Tika. Yang membuat dirinya semakin pilu adalah, ini hari ulang tahun nya. Tetapi, sahabatnya itu berpulang tanpa sempat ia sadari, tanpa berpamitan terlebih dahulu, tanpa menepati janji akan memberikan dirinya kado. Tanpa sempat ia memeluk sepuas-puasnya. Yang tersisa adalah, hanya ingatan selama 18 tahun bersahabat dengan dirinya. Hanya ingatan tentang perjalanan mereka ke mana saja saat traveling bersama.
Duka tidak hanya dirasakan oleh Queen dan keluarganya. Duka pun dirasakan oleh Raka, yang walaupun hanya mengenal Tika beberapa bulan ini. Tetapi, wanita periang dan baik hati itu, begitu membekas di hati Raka. Tika adalah orang yang baik, yang selalu tersenyum kepadanya. Yang selalu memberikan informasi tentang Queen untuk nya. Serta, kalau bukan karena Tika, mungkin Raka tidak akan bisa bersama dengan Queen pada saat ini.
Berita duka sudah menyebar kemana saja, pihak keluarga, alumni sekolah Tika dulu, serta suami Tika yang masih berada di luar Kota.
Semua merasakan duka yang mendalam. Mereka menangis dan terasa terguncang karena kehilangan sosok humoris, baik hati dan sangat menghargai sebuah hubungan. Baik itu dalam percintaan, keluarga dan persahabatan.
....
__ADS_1
"Sudah beres, foto mobil tersebut sudah kami kirim via pesan ke nomor Ibu," Ucap suara berat dari ujung sana.
Lala tersenyum dan memutuskan sambungan telepon itu, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Lalu, ia bergegas mengecek pesan bergambar yang baru saja ia terima di ponselnya.
Terlihat sebuah mobil dengan nomor polisi yang sangat ia kenali, terbalik dan tampak ringsek di tepi sebuah jalan tol.
Lala tertawa terbahak-bahak. Seakan ia sedang merayakan kemenangan dirinya.
"Satu sudah tersingkirkan, tinggal nenek lampir bernama Amara." Gumam nya dengan wajah yang dipenuhi kepuasan.
Cepat atau lambat, rencana nya dengan nyonya Amara akan dilaksanakan oleh orang suruhan nya. Hanya saja, saat ini nyonya Amara begitu sulit di dapatkan keberadaan nya. Nyonya Amara masih betah berdiam diri di rumah Raka. Nyonya Amara sedang menikmati waktunya menjadi seorang Ibu untuk Raka, yang sempat ia lewati begitu saja saat Raka kecil hingga dewasa ini.
Sangat sulit untuk membuat kejadian kecelakaan seperti yang telah Lala lakukan kepada Queen.
Kepada Queen? Ya, Lala belum tahu bila dirinya dan orang suruhan nya telah salah sasaran. Sehingga nyawa wanita tak bersalah harus melayang sia-sia. Itu semua karena keserakahan dan dendam yang tidak beralasan. Logika dan hati nurani Lala menghilang entah kemana. Tanpa dirinya sadari, ia sedang dihantui oleh hukum yang cepat atau lambat akan mencokok dirinya dari kebebasan dan kemenangan yang semu.
Lala adalah contoh orang yang tidak mampu berdamai dengan masa lalu. Contoh orang yang terlalu memandang cinta dan harta adalah segalanya. Tanpa ia berpikir, walaupun dirinya menyingkirkan Queen sekalipun, belum tentu Raka mau kembali kepada dirinya.
Kepergian Jonathan membuat semuanya berantakan. Padahal, ia tinggal mendapatkan Raka selangkah lagi saja. Hanya saja, anak yang menjadi alasan dirinya untuk kembali, harus menyerah dengan kehidupan, karena penyakit yang anak itu derita.
Rasa frustrasi, kecewa, tidak rela, di abaikan, di tinggalkan, di ceraikan, rasa berdosa dan lain sebagainya menjerat Lala. Hingga akal sehatnya tertutupi dengan perasaan yang tidak dapat ia terima dengan hati yang ikhlas.
Lala memang orang yang memiliki segalanya. Tetapi tahukah kita? Bila seseorang yang memiliki segalanya pun mempunyai kekurangan di dalam hidupnya. Yaitu komunikasi dan dukungan keluarga. Cinta dari keluarga serta perhatian dari keluarga.
Orangtua Lala sudah sibuk dengan masa tuanya dan penyakit yang mereka derita. Suami Lala menceraikan dirinya karena mengetahui, Jonathan bukanlah anak kandungnya. Rasa cinta yang masih terpendam untuk Raka yang merupakan lelaki terbaik di hidup nya pun, belum bisa ia ikhlaskan. Sahabat? Lala tidak memiliki sahabat satu orang pun. Dirinya orang yang tertutup dan tidak pernah merasa nyaman dengan hubungan yang dekat Seperti mempunyai sahabat, tempat dirinya berkeluh kesah. Tuhan? Lala sudah tidak percaya Tuhan. Baginya Tuhan hanyalah simbolik yang tidak mampu membuat dirinya bahagia.
Lala adalah contoh dari ratusan, atau ribuan orang diluar sana. Yang tidak merasakan cinta dari siapapun. Mulai dari sekarang, berikan cinta kepada sesama, keluarga dan saudara. Kita tidak tahu, apakah ada Lala lain yang diam-diam hidup di hati seseorang yang kita kenal.
.
__ADS_1
“Tidak masalah seberapa besar rumah kita, yang penting bahwa ada cinta di dalamnya.” - Peter Buffett.