
"Raka mana sih..." Gumam Queen yang terlihat khawatir. Ia terus mondar-mandir di dalam cottage nya.
"Sudah tiga jam dia pergi, kemana dia ya? Masa beli pembalut kudu ke Ibukota? Naik pesawat amfibi gitu?" Gumam Queen lagi seraya tertawa geli.
Tok! tok! tok!
Terdengar ketukan dari luar pintu cottage yang Queen tempati. Dengan wajah yang semringah, Queen pun bergegas membukakan pintu itu. Ia menyangka bila Raka lah yang mengetuk pintu cottage nya. Ternyata bukan, gadis pengantar sarapan lah yang datang untuk mengantarkan menu sarapan untuk Queen.
Queen mempersilahkan gadis itu untuk masuk dan meletakkan baki berisi makanan itu di atas meja, seperti biasanya. Setelah itu, gadis itu pun berpamitan kepada Queen.
Queen kembali menutup pintu cottage nya. Lalu, ia mulai cemas karena kaos yang menjadi pengganti pembalut nya mulai penuh. Queen berlari ke kamar kecil. Lalu, ia meraih kaos nya yang lain untuk menggantikan kaos yang sudah penuh dengan noda haid nya.
Queen meringis menahan sakit di perutnya. Begitulah Queen yang selalu merasa tersiksa saat masa haid nya datang. Mungkin bagi beberapa wanita, masa haid tidak menjadi penghalang untuk beraktivitas. Namun tidak dengan Queen. Dari awal ia mendapatkan haid pertamanya, ia sudah merasakan sakit yang luar biasa.
Queen tertatih keluar dari kamar kecil itu. Lalu, ia duduk di atas lantai dan meringkuk menahan keram di perutnya.
"Raka, kamu dimana...." Gumam nya.
...
Raka berjalan memasuki gerbang resort dengan penampilan yang amburadul. Rambutnya dipenuhi dengan pasir pantai, wajahnya terdapat noda hitam oli di beberapa bagian. Bajunya basah karena peluh dan terlihat lusuh karena beberapa noda oli yang tidak sengaja mengenai bajunya yang berwarna putih tersebut. Pun, dengan celana milik raka yang juga terkena beberapa noda oli dan kotor debu , karena Raka yang duduk sembarangan di trotoar jalan.
Raka kembali tanpa sepeda yang ia bawa. Gadis yang mengetahui Raka membawa sepeda sebelumnya pun bertanya. Tetapi, Raka hanya bisa mengatakan bila ia tersesat dan sepeda yang ia kendarai ia tinggal di perkampungan itu.
Gadis itu tersenyum dan mengatakan bila mereka akan mencari sepeda yang Raka tinggalkan. Meskipun begitu, Raka tetap berjanji akan mengganti rugi sepeda yang sudah ia hilangkan tersebut.
Raka diberikan sepeda baru untuk menuju ke cottage Queen. Tetapi, ia menolak. Karena kakinya sudah keram dan ia lebih memilih untuk diantarkan menggunakan buggy car yang biasa untuk membawa barang-barang para tamu dari dermaga ke cottage.
Seorang supir buggy car membantu Raka yang terlihat meringis menahan encok di pinggang dan keram di kakinya untuk menaiki buggy car tersebut. Raka yang memegang paper bag berisi barang-barang belanjaan nya yang di pinta Queen pun menaiki buggy car tersebut seraya bernafas lega. Bagaimana tidak, ia berjalan kaki dari ujung pantai perkampungan tersebut hingga ke resort itu.
Di atas buggy car, Raka memijat betis nya dan memukul-mukul pelan di daerah pinggang nya. Tetapi, wajahnya terus tersenyum menatap paper bag yang ia taruh di sampingnya.
__ADS_1
Buggy car itu pun berhenti di cottage nomor 10. Yaitu, cottage dimana Queen bermalam di pulau tersebut. Raka mengucapkan terima kasih kepada pengemudi buggy car dan memberikan nya beberapa dolar. Lalu, Raka melangkah mendekati pintu cottage Queen dengan langkah yang terlihat sedikit mengangkang dan pincang.
Tok! Tok! Tok!
Raka mengetuk pintu cottage itu. Tak lama kemudian, Queen membuka pintu cottage nya dan tercengang menatap Raka yang tersenyum lebar kepadanya.
"Ratu ku, ini pesanan mu..." Ucap Raka seraya mengangkat paper bag itu ke depan wajah nya.
Queen tidak mempedulikan paper bag itu, ia menyingkirkan paper bag yang menghalangi pandangan nya ke wajah Raka.
"Astaga! Kamu kenapa?" Tanya Queen seraya menarik Raka masuk kedalam cottage nya.
"Aduh.. pelan-pelan... sakit.." Ucap Raka yang berjalan tertatih memasuki cottage Queen.
"Kaki mu kenapa? Jalan mu itu kenapa?" Tanya Queen seraya memperhatikan Raka yang berjalan dengan ekspresi yang meringis.
"Biasalah," Ucap Raka yang tetap mencoba tetap cool di depan Queen.
Raka tertawa dan meletakkan paper bag di atas meja. Lalu, ia duduk secara perlahan di atas kursi rotan.
"Ini pembalut nya, aku juga beli obat anti nyeri saat haid. Aku juga membeli beberapa makanan yang manis, semanis kamu." Ucap Raka seraya mengeluarkan barang belanjaan nya dari paper bag tersebut.
Queen terpaku menatap lelaki itu. Walaupun wajah nya penuh dengan noda dan penampilan nya lusuh, entah mengapa Raka tetap terlihat tampan dimatanya.
"Queen?"
" Ah, iya. Terima kasih ya..." Ucap Queen seraya menyambar pembalut itu dan menyelipkan kedalam kaos yang sedang ia pakai. Lalu, ia tersenyum malu kepada Raka.
"Ya sudah, pakai dulu."
Queen mengangguk dan beranjak ke kamar kecil.
__ADS_1
Setelah melihat Queen masuk kedalam kamar kecil, Raka mulai kembali meringis.
"Aduhh... aduhh... aduhhh... sakit.... keram.. astaga..!" Keluhan nya seraya kembali memijat betisnya.
"Seumur hidup, baru ini membelikan pembalut untuk seorang gadis dan sial nya pakai acara tersesat. Efek nya encok disana sini.." Gumam Raka. Lalu, ia menoleh kearah cermin yang terletak di samping kursi.
"Allahu Akbar!" Pekiknya saat melihat wajahnya sendiri dari pantulan cermin itu.
Raka memperhatikan wajah nya dengan tak percaya. Noda oli hampir menutupi seluruh wajahnya. Ia pun mendadak merasa malu dengan Queen yang tidak mengatakan apa-apa sejak awal melihat dirinya.
"Hancur harga diri kalau begini.. ya Allah..." Keluh nya lagi. Raka pun beranjak dari duduknya dan bergegas keluar dari cottage Queen.
Baru saja Raka hendak membuka pintu, Queen pun menegur nya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Queen yang ternyata sudah selesai dari kamar kecil.
Raka menghentikan langkahnya dan menoleh secara perlahan.
"Maaf, aku berantakan sekali. Aku mau mandi dulu dan membasuh wajah." Ucap nya. Pipinya yang memerah tidak terlihat oleh Queen, karena tertutup noda oli.
"Oh begitu, iya.. silahkan," Ucap Queen seraya menahan tawanya.
Raka tersenyum kikuk dan bergegas meninggalkan cottage Queen.
Setelah Raka baru saja melangkah dari depan pintu luar cottage itu. Terdengar tawa Queen yang sangat nyaring dari dalam cottage. Raka menghela nafas panjang dan mengusap dadanya.
"Sabarrrrr sabarrrr sabarrrr ini ujian... sabarrrrrr sabar Raka....." Ucap nya seraya melangkah dengan langkah yang pincang dan wajah yang amburadul.
"Awas kalau sudah jadi istri, aku kerjain kamu. Gak boleh keluar kamar selama satu minggu. Aku buat kamu meringis seperti aku saat ini. Lihat saja!" Gumam nya lagi, tanpa ia sadari, bila Queen terus mengawasi nya dari balik jendela cottage itu. Queen terus menertawai Raka, terlebih saat melihat Raka berjalan sambil memegangi pinggang nya.
"Ya Allah, baik banget sih dia. Tapi aku gak niat menertawai dia Ya Allah, hanya saja rasa geli ini tidak tertahankan. Kasihan, tapi lucu. Gimana dong... ?" Gumam Queen seraya kembali tertawa keras dari balik jendela itu.
__ADS_1