
Tasya termenung dengan segelas minuman cokelat hangat di tangannya. Kini, wanita itu sudah tampak sedikit tenang. Ia menatap Queen yang duduk di hadapannya dan mencoba tersenyum. Ia menghela nafas panjang dan meletakkan gelas yang ia pegang ke atas meja.
"Maaf, bila membuat kekacauan, tampaknya aku harus pergi," Ucap Tasya.
"Hmmm, tidak apa-apa. Duduk lah dulu, mari kita berbicara."
Tasya menatap Queen dengan mata yang sembab. Lalu, ia menghela nafas nya entah beberapa kali.
Suasana kembali hening, lalu tiba-tiba saja Tasya mulai terisak kembali. Queen yang iba pun, berpindah duduk ke samping Tasya. Ia mencoba menenangkan wanita itu.
"Tasya aku minta maaf..."
"Bukan kamu yang salah, yang salah adalah suamiku," Ucap Tasya.
Queen tertegun, walaupun ia masih memiliki hati dengan Antoni, mendengar ucapan Tasya membuat rasa di hati Queen perlahan terhapus terhadap Antoni.
"Dari dulu, hingga kini, aku tidak pernah menyalahkan kamu. Walaupun dari dulu Antoni selalu merindukan kamu. Selalu membayangkan kamu dan selalu ingin kembali kepadamu."
"Tetapi, sekarang aku lihat dia semakin gila. Dia tidak memikirkan sedikitpun bagaimana perasaan ku dan anaknya. Ok lah, tidak usah dengan perasaan ku, perasaan anak nya saja, sudah cukup bagiku. Selama ini aku bertahan untuk keutuhan rumah tangga kami dan kebahagiaan anak kami. Nyatanya apa?" Aku berikan dia cinta, tetapi gak ada harganya dimata dia." Cerita Tasya panjang lebar.
Queen masih terdiam mendengar cerita Tasya.
"Kamu tidak perlu merasa bersalah. Aku tahu kelakuan suamiku. Aku melihat semuanya, termasuk...."
Tasya menghentikan ucapannya.
"Termasuk apa?" Tanya Queen penasaran.
”Dia mendatangi kamu tiap malam dan mencium mu di parkiran," Ucap Tasya. sambil tersenyum pilu.
Mendadak Queen merasa sangat bersalah, untuk tidak menyalahkan saja, Tasya termasuk orang yang sangat waras dan baik. Bagaimana bila Queen berhadapan dengan orang yang tidak sekuat Tasya? Ada kemungkinan dirinyalah yang disalahkan, di caci maki dan predikat pelakor tersemat di dirinya dan nama baiknya.
__ADS_1
"Aku melihatnya, berarti aku tahu kamu menolaknya. Jangan merasa bersalah." Sambung Tasya.
Queen menghela nafas lega, lalu ia meraih tangan Tasya dan menggenggam nya dengan erat.
"Tasya, apa yang kamu inginkan? Apakah aku harus pergi dari hidup kalian. Menghilang atau lain sebagainya?" Tanya Queen.
Tasya menatap Queen dengan seksama, lalu ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak, mau ke ujung dunia pun kamu, mau bersembunyi dimana pun, kalau hatinya untuk mu, maka tidak akan ego nya terkalahkan. Kamu tidak harus pergi dari keegoisan orang lain. Kamu cukup tetap disini dan aku mohon, kasihanilah anak ku," Ucap Tasya sambil terisak mengingat anak semata wayangnya.
Queen menahan tangisnya. Bahasa Tasya begitu bijak. Tasya menyuruh Queen untuk tetap menolak Antoni dengan cara yang luar biasa. Tidak banyak wanita mampu seperti itu kepada wanita yang sudah menyita hati dan pikiran suaminya.
"Tasya, kamu orang baik, terima kasih," Ucap Queen dengan ujung suara yang tercekat.
Tasya tersenyum dan membalas genggaman tangan Queen.
"Aku ingin menjadi teman mu Queen. Aku mohon, terima aku menjadi teman mu. Selama ini aku benar-benar merasa sendirian. Mau bicara dengan kedua orang tua kami pun tidak mungkin. Aku tidak punya teman, setelah aku berhenti bekerja. Aku juga tipe orang yang tidak gampang menaruh kepercayaan. Tetapi, dengan dirimu, aku merasa kepercayaan itu tumbuh, tanpa harus aku bersusah payah memupuk nya.
Queen menatap sorot mata wanita manis yang tegar dan hebat itu. Lalu, ia tersenyum dan memeluk Tasya dengan erat.
...
Malam ini Queen duduk sendirian di beranda rumahnya. Matanya tertuju kepada satu bintang yang berkelip di langit. Wajah Tasya terus terbayang di pelupuk matanya. Ia benar-benar mengagumi wanita itu. Queen merasa, andaikan dirinya menjadi Tasya, mungkin ia tidak akan mampu untuk bersikap seperti wanita itu.
Bunda muncul dari dalam rumah, membawa sepiring roti bakar dan dua gelas teh manis hangat. Lalu, meletakkan nya di atas meja. Bunda menatap Queen yang termenung. Bunda mengerti kesulitan yang sedang dihadapi oleh Queen. Karena sejak Queen pulang dari butik tadi, Queen sudah membicarakan tentang kejadian di butik, antara dirinya, Antoni dan istri Antoni.
"Antoni beruntung memiliki Tasya," Ucapan Bunda membuyarkan lamunan Queen tentang Tasya dan Antoni.
"Tasya adalah malaikat tanpa sayap, tidak banyak wanita yang hebat seperti dia," Ucap Bunda lagi.
Queen menatap Bunda dengan seksama.
__ADS_1
"Dan kamu, kamu adalah wanita baik. Yang tidak mau mengulangi kesalahan yang sama," Suara Bunda tercekat saat mengatakan kalimat itu.
"Dan Bunda salut dengan kamu. Setidaknya, Bunda melahirkan wanita yang berkelas dan hebat. Tidak seperti Bunda dimasa lalu."
Mata Bunda mulai berkaca-kaca, mengingat dirinya dimasa muda yang terperdaya dengan ucapan manis Ayah kandung Queen yang saat itu sudah memiliki istri dan anak.
"Itulah tujuan Bunda, mengapa bunda dengan tidak tahu diri dan tidak malu membicarakan masa kelam bunda dengan anak-anak Bunda. Agar kalian tahu, bermain-main dengan hidup efeknya buruk. Nama baik yang di pertaruhkan, anak yang akan menanggung malu."
Bunda menatap Queen dengan air mata yang terjatuh di pipi nya.
"Bun..." Queen mulai merasa sedih saat melihat Bunda menangis.
"Maafkan Bunda ya Queen. Masa kecilmu tidak bahagia, kamu terus di bully orang-orang yang tidak menyukai Bunda. Itu semua kesalahan Bunda. Bunda sangat bersyukur, bila selama ini kamu tidak membenci Bunda. Padahal, Bunda adalah salah satu orang yang membuat kamu menjadi menderita."
"Bunda, jangan bicara seperti itu..." Queen ikut menangis melihat permintaan maaf dari Bundanya.
"Bunda tidak pernah menyesali kehadiran kamu. Yang Bunda sesali adalah kebodohan Bunda sendiri."
"Perjalanan hidup Bun, Queen yakin Bunda orang yang baik. Bunda hanya buta saat itu, karena cinta. Dasarnya, orang baik tetaplah baik dan akan berjodoh dengan orang yang baik seperti Ayah. Bukti lain Bunda baik adalah, Bunda mampu merawat Queen dan membesarkan Queen, hingga Queen menjadi seperti ini."
Bunda menatap Queen dan menghapus air mata di pipi putri nya itu. Lalu, ia mengecup kening Queen dengan lembut.
"Kamu tahu, kamu dikirim Tuhan untuk mengubah kehidupan Bunda yang kelam menjadi jauh lebih baik. Karena kamu, semua yang buruk Bunda tinggalkan. Karena kamu, *****, amarah, dendam itu hilang. Semua karena kamu."
"Mempertahankan kamu sejak di dalam kandungan, sudah menjadi keputusan Bunda. Terserah orang mau bilang apa. Karena Bunda tahu, walaupun Bunda bersalah, Tuhan pasti akan mengampuni dan menuntun hidup Bunda menjadi lebih baik, dengan cara memberikan malaikat kecil kepada Bunda, yaitu kamu."
"Bunda mencintai kamu Queen, kamu malaikat kebaikan bagi Bunda. Semua berubah setelah kamu hadir. Kamu adalah harta berharga bagi Bunda dan juga adik dan Ayah mu. Teruslah menjadi wanita berharga. Karena hanya kamu yang mampu membuat hidupmu lebih baik ataupun berakhir buruk. Dan jangan sampai berakhir buruk. Bunda percaya itu."
Queen merebahkan kepalanya di dada Bunda. Lalu, ia mengecup tangan Bundanya dengan penuh kasih sayang.
"Mungkin Bunda berpikir Bunda adalah contoh yang buruk untuk ku, tetapi tidak dengan ku Bun. Bagiku, Bunda adalah contoh terbaik dari semua pengalaman hidup yang pernah aku jalani. Karena Bunda, aku mampu menjaga diriku. Karena Bunda, aku hidup dengan baik, karena Bunda, aku bisa merasakan sentuhan malaikat dari surga. Bunda segalanya, Queen sayang dan mencintai Bunda," Ucap Queen.
__ADS_1
Bunda menangis terharu. Ia memeluk tubuh Queen dengan erat.
"Terima kasih anak ku, jantung hatiku... malaikat kecil ku..." Bisik Bunda.