
"Akhirnya, kita bisa tenang. Tidak aku sangka Lala bisa berbuat seperti itu," Ucap Raka yang sedang mengemudi mobilnya, untuk mengantarkan Queen pulang kerumah.
Queen menghela nafas panjang dan menundukkan wajahnya.
"Queen?"
"Ya?" Queen menoleh kepada Raka yang sedang meliriknya.
"Kenapa?" Tanya Raka.
"Aku cuma masih merasa sedih atas kepergian Tika," Ucap Queen dengan mata yang berkaca-kaca.
Raka terdiam. Lalu, ia menghentikan laju mobilnya ke sisi jalan.
"Queen,"
"Ya?" Queen menatap Raka dengan seksama.
"Percayalah, Tika sudah damai disisi-NYA."
Queen kembali menghela nafas panjang dan menundukkan wajahnya. Air mata terjatuh dan membasahi gaun miliknya.
"Aku mimpi tentang dia,"
"Mimpi apa?" Tanya Raka penasaran.
"Aku bermimpi, dia berpamitan dengan ku. Aku harap, setelah semua terungkap, dia bisa tenang bersama calon buah hatinya," Ucap Queen yang mulai terisak.
Raka meraih pundak Queen dan menidurkan kepala Queen di dadanya. Ia mengusap lembut rambut Queen dan memeluknya dengan erat.
"Sayang, sekarang semua sudah dibereskan. Aku yakin, Tika sudah pergi dengan tenang. Sekarang tugas kita mengenang nya dan mendoakan dirinya setiap kita habis sholat. Agar Tika semakin bahagia disana," Ucap Raka.
Queen mengangguk dan mengusap air matanya.
"Aku rindu dengan Tika,"
"Iya, aku tahu. Sering-sering berdoa untuknya ya.." Ucap Raka seraya mengusap lembut pipi Queen.
Queen mencoba tersenyum dan kembali duduk dengan tenang.
Tiba-tiba saja, ia teringat dengan ucapan Tika, bila sebentar lagi, jodoh Queen akan datang. Lelaki yang Tika sebutkan di dalam mimpi nya, akan memakai baju putih saat meminang dirinya.
Queen melirik Raka dan ia pun tertegun.
"Kita jalan lagi ya," Ucap Raka seraya bergegas melajukan mobilnya kembali.
Queen masih terdiam, ia terus melirik Raka yang terlihat tampan dengan kemeja nya yang berwarna hitam, serta celana jeans yang terlihat begitu pantas di pakai oleh lelaki pujaan nya tersebut.
Raka yang tersadar dirinya dilirik oleh Queen terus menerus pun, membalas lirikan Queen sambil tersenyum.
"Kenapa? Kok melirik nya seperti itu? Ada yang salah dengan ku?" Tanya Raka.
"Ng.... ngak kok," Sahut Queen seraya menyelipkan anak rambutnya ke sela telinganya.
"Ngomong dong sayang, biar aku tahu apa yang ada dipikiran mu," Ucap Raka, lalu ia mengusap puncak kepala Queen.
"Gak, gak ada apa-apa," Sahut Queen.
__ADS_1
"Hmmm, kalau dia datang saat melamar ku, ternyata dia tidak memakai baju putih gimana? Apa dia bukan jodohku?" Batin Queen.
"Ah, tetapi itu hanya mimpi kan ya? Bisa saja karena aku selalu kagum melihat Raka memakai kemeja putih. Jadi, sampai terbawa kedalam mimpi ku." Batin nya lagi.
Queen mulai gelisah, sesekali ia kembali melirik lelaki yang berjanji akan meminangnya beberapa hari kedepan.
"Kenapa sih?" Tanya Raka yang merasa sikap Queen terlihat aneh baginya.
"Hmmm, Raka... kamu beneran mau datang nanti malam Minggu?" Tanya Queen penasaran.
"Iya lah, masa enggak. Kan aku sudah berjanji, masa ia aku ingkari. Lagi pula, aku tidak mau kehilangan kamu." Ucap Raka, seraya tersenyum dan mencolek pipi Queen yang terlihat sangat tirus saat ini.
Queen menghela nafas panjang dan menundukkan pandangan.
"Apa gue bilang saja ya sama Raka, dia datang harus pakai baju putih. Jadi setidaknya, gue ngasih spoiler sama dia, dan kita pun berjodoh," Batin Queen.
"Hmmm, tapi, masa jodoh dipaksakan? Gak seru lah. Apa gue lihat saja dia malam Minggu nanti ya?" Batin nya lagi.
"Hmmmm, Raka...."
"Ya?" Raka melirik Queen dan kembali fokus dengan kemudinya.
"Malam minggu nanti kamu pakai baju apa?" Tanya Queen.
"Hah?" Raka menatap Queen sesaat, lalu ia kembali menatap jalan Ibukota yang lumayan padat pada malam ini.
"Kok nanya begitu? Memang kenapa sayangku?"
"Ya enggak, Ya... hanya ingin nyamain saja," Ucap Queen yang terlihat kikuk.
"Putih!" Seru Queen dengan mata yang berbinar.
Raka terkejut dan menatap kekasihnya itu.
"Kenapa kamu bersemangat sekali mengatakan aku harus pakai baju putih?" Tanya Raka penasaran.
"Ng.... ng....nggak begitu sih... Tetapi, ya terserah kamu saja." Ucap Queen dengan salah tingkah.
"Bukan nya bagusan pakai Batik ya?"
"Jangan!"
Raka hampir saja mengerem mendadak karena Queen yang mengatakan kata "jangan" dengan begitu keras.
Raka kembali menghentikan laju mobilnya dan menatap Queen dengan wajah yang serius.
"Ada apa sayang? Kok kamu terlihat aneh?"
"Gak, gak ada apa-apa. A-a-aku..."
"Kenapa?" Desak Raka.
Queen mengigit sudut bibirnya dan menatap Raka dengan malu-malu.
"Kamu ih, bikin penasaran saja. Ada apa? Kamu mau aku pakai baju putih? Kemeja? Atau baju Koko?" Tanya Raka.
"Terserah! Pokoknya kamu pakai baju putih ya... please..." Queen terlihat sangat memohon dengan dua tangan nya yang ia kepal di dadanya.
__ADS_1
"Ok, aku pakai baju putih," Sahut Raka seraya tersenyum manis kepada Queen.
"Yessss! Kamu memang jodohku!" Ucap Queen seraya menepuk tangan nya.
Raka terlihat semakin bingung dengan tingkah calon istrinya itu. Lalu, ia hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah, jalan lagi deh," Ucap Queen sembari terus tersenyum.
"Aneh..." Gumam Raka.
...
Queen berbincang dengan Bunda, setelah Raka yang mengantarkan dirinya pulang, sudah berpamitan untuk kembai ke kediaman nya. Di ruang keluarga, tampak Bunda yang begitu antusias mendengarkan cerita dari Queen, tentang Ayah Andra, dirinya, serta kedua orangtua Raka yang mengerjai Lala.
"Serius? Ayah mu seperti itu idenya?" Tanya Bunda seraya tercengang hingga mulutnya terbuka lebar.
"Iya Bun, Queen kira, Ayah memanggil Queen itu untuk apa.... Eh ternyata disuruh main ludruk," Ucap Queen seraya terkekeh sambil menikmati pisang goreng buatan Bunda, yang baru saja matang.
"Ck, ck, ck, Ayah mu itu ya..! Kalau anak orang jantungan bagaimana? Lagi pula, Ayah kayak anak-anak banget sih!" Ucap Bunda seraya menggelengkan kepalanya.
"Justru Ayah itu hebat Bun, kerjaan nya gak mau ribet bin ngejelimet!" Seru Queen.
"Apanya yang hebat coba?" Ucap Bunda seraya meraih sepotong pisang goreng. Lalu, ia meniup nya dengan perlahan. Terlihat uap panas, menguap ke udara saat Bunda meniup pisang goreng yang ia pegang dengan dua jarinya, sambil meringis menahan panas.
"Duh, Bunda.... Bunda gak pernah sih melihat Ayah bekerja. Ayah tuh, kayak superhero di film-film barat loh Bun. Yang, superhero hebat tapi rada kocak," Ucap Queen dengan wajah yang serius.
"Apanya yang hebat, dia itu jahil, ngeselin dan cengengesan begitu kalau Bunda lihat."
"Duh, Bunda tidak tahu deh pokoknya. Ayah itu tuh.. duh sesuatu Bun. Apa lagi kalau pakai baju dinas. Ampunnnn... ganteng deh.. jauh lebih ganteng dari Ayah Gunawan."
"Hustttt...! Ayah nya sendiri di Bandung- bandingkan." Ucap Bunda seraya mengunyah dan meringis karena pisang goreng panas yang terasa membakar lidahnya.
"Kenyataan kok..." Sahut Queen serata mencebikkan bibirnya.
"Duh panas banget sih!" Keluh Bunda seraya menaruh pisang goreng itu kembali ke dalam piring.
"Eh, tapi memang iya sih, dibandingkan Ayah Gunawan dan Ayah Andra, jauh lebih ganteng Ayah Andra sih..." Ucap Bunda seraya tersenyum malu-malu.
"Queen bilang juga apa! Pokoknya, Bunda tidak salah memilih suami deh," Ucap Queen seraya tersenyum penuh kemenangan.
"Gak mungkin lah bunda salah memilih suami. Wong, sudah gagal berkali-kali. Masa mau salah pilih lagi,"
"Cieeeee..." Goda Queen. Mereka pun cekikikan karena pembahasan mereka yang terdengar lucu.
"Tapi, kok bisa sih Ayah Andra suka sama Bunda? Padahal kan, beda umur nya jauh sekali," Tanya Queen penasaran.
"Mau tahu?" Tanya Bunda dengan memasang wajah serius.
Queen mengangguk dengan wajah polosnya.
"Pake jaran goyang," Ucap Bunda seraya beranjak dari duduknya dan menggoyangkan pinggulnya.
"Astagaaaa....!" Queen melongo melihat tingkah Bundanya.
"Hahaha, sudah ah, Bunda belum sholat Isya," Ucap Bunda seraya bergegas masuk kedalam kamarnya.
Queen hanya menggelengkan kepalanya, sekarang dirinya paham, kenapa Bunda dan Ayah sangat cocok. Mereka sama-sama mempunyai sisi yang 'nyeleneh'.
__ADS_1