
Tepat pukul 8 pagi, Raka bersama dengan iringan keluarga besarnya, tiba di hotel berbintang 5 miliknya. Pintu mobil Raka, dibukakan oleh seorang valet parking yang bertugas di hotel miliknya. Terlihat Raka keluar dengan wajah yang tampak tegang. Bersama kedua orangtuanya dan juga keluarga besarnya, Raka pun melangkah kedalam convention hall yang berada di sisi timur hotel itu.
Raka menoleh ke sana kemari, mencari Queen dan keluarga calon istri nya itu. Tetapi, hanya tampak para karyawan nya saja yang bertugas di hari pernikahan nya itu.
"Calon mempelai wanita belum tiba?" Tanya Raka kepada manager hotel itu.
"Belum Pak," Sahut lelaki berpakaian Jas lengkap dengan potongan rambut yang tampak rapi.
"Kok belum sampai ya?" Gumam Raka yang mulai gelisah.
"Sabar... Queen pasti datang kok," Nyonya Amara berusaha menenangkan buah hatinya itu.
Raka hanya tersenyum tipis dan mengangguk. Lalu, dirinya dan keluarga besar nya berjalan menuju ke ruangan khusus yang ada di convention hall itu, yang memang disediakan untuk mengganti pakaian bagi pengantin yang menyewa convention hall di hotel tersebut.
Terlihat band pengiring yang biasa manggung di restoran milik Raka, sedang bersiap menata peralatan band mereka. Mereka tampak antusias sekali dihari pernikahan Boss mereka itu.
Beberapa teman yang bersedia datang untuk menghadiri acara akad nikah Queen dan Raka, pun mulai bermunculan. Terlihat raut bahagia di wajah mereka saat melihat Raka yang sudah tampak tampan dengan beskap dan sepatu yang serba putih, yang memang sengaja di buat senada dengan kebaya Queen, calon istrinya.
"Bro... selamat ya.." Ucap Seorang teman masa sekolah Raka.
"Thanks Bro.." Ucap Raka seraya tersenyum, walaupun hatinya sedang risau.
Tak lama kemudian, penghulu pun tiba. Penghulu yang sengaja di undang untuk meresmikan hubungan Queen dan Raka tampak memasuki convention hall. Wajah Raka pun tampak semakin tegang.
Karena takut terjadi apa-apa dengan Queen, Raka pun mencoba menghubungi kekasihnya itu. Tetapi, Queen tampaknya tidak sedang memegang ponselnya. Raka tampak mondar-mandir di sekitar meja tempat dirinya akan mengucapkan janji setianya kepada Queen.
__ADS_1
"Pak, sabar ya, calon istri saya sedang menuju ke sini," Ucap Raka kepada Bapak penghulu yang sudah duduk di bangku yang sudah di sediakan untuk dirinya.
Pun, dengan Queen yang tampak gelisah karena terjebak macet di jalan tol arah menuju ke hotel milik Raka, karena ada kecelakaan di exit tol tersebut. Bibirnya terus memanjatkan doa-doa dan harapan, agar pelaksanaan pernikahan dirinya dan Raka tidak ada halangan sedikitpun.
Tiba-tiba saja, terdengar sirene iringan para militer, polisi dan juga dua buah ambulans yang membelah kemacetan, dan mobil Queen pun dapat melaju kembali.
Dua ambulans itu datang untuk menyelamatkan korban kecelakaan pada Sabtu pagi ini. Serta polisi yang menangani kasus kecelakaan beruntun tersebut. Sedangkan rombongan militer, melanjutkan perjalanan mereka untuk membuka jalan, dikarenakan kondisi yang sangat mendesak. Queen terlihat mulai tenang saat melihat hotel Raka dari kejauhan. Pertanda, ia sudah mulai dekat dengan tujuannya.
Lima menit berlalu, akhirnya, mobil Queen dan keluarga besar yang mengiringi dirinya pun tiba di depan lobby hotel tersebut. Saat itu juga, jantung Queen berdegup kencang. Seolah, jantungnya akan melompat keluar dari dadanya.
Pintu mobil Queen dibuka oleh petugas valet parking, di samping pintu mobil, sudah ada Ayah Gunawan yang menunggu Queen yang akan beranjak turun dari mobil tersebut. Ayah Gunawan mengulurkan tangannya dan mencoba melindungi kepala Queen dari daun pintu mobil tersebut. Terlihat kasih sayang yang luar biasa dari Ayah kandung Queen itu.
Tangan Queen menggenggam erat tangan Ayah Gunawan yang membawa dirinya untuk masuk kedalam convention hall tersebut. Sedangkan di belakang Queen dan Ayah Gunawan, tampan Bunda dan Ayah Andra yang bergandengan tangan, ikut mengiringi putri mereka.
Melihat kedatangan wanita yang ia tunggu-tunggu, Raka pun terlihat lega dan senyum di bibirnya mulai tersungging. Raka takut sekali bila ada aral yang melintang, sehingga membuat pernikahan mereka berdua akan berantakan. Tetapi, Tuhan maha baik, semua diberi kelancaran, walaupun Queen terlambat 5 menit saja dari waktu yang di tentukan untuk berkumpul di titik temu mereka, yaitu hotel tersebut.
Karena semua sudah berkumpul, Acara pun dimulai. Mc di pernikahan mereka mulai membuka acara, sedangkan kedua keluarga yang duduk bersebrangan, tampak gugup. Ternyata, tidak hanya pengantin yang gugup. Tetapi, Keluarga besar mereka juga merasakan hal yang sama.
Walaupun ini kali kedua Bunda Farah menikahkan anaknya. Rasa gugup tetap hinggap dibenaknya. Bunda tampak terus berdoa, terlihat dari bibirnya yang terus bergerak mengucapkan harapan baiknya.
Sampailah dimana acara wejangan dari tokoh agama dimulai, Raka dan Queen diminta untuk duduk di kursi yang sudah di sediakan untuk mereka berdua, dan berhadapan dengan penghulu dan para penasihat serta tokoh agama.
Berbagai macam nasihat tentang keluarga, hak suami dan istri, serta nasihat agar bisa menjalani rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warahmah, di dengarkan dengan penuh penghayatan oleh kedua pengantin.
Selepas itu, doa-doa pun segera di panjatkan, sebelum tangan Raka berjabat tangan dengan seorang wali hakim, yang menikahi Queen yang tidak bisa dinikahi oleh Ayah kandungnya sendiri.
__ADS_1
Setelah doa dipanjatkan, Mc mulai mengumumkan, bila Ijab Kabul akan segera dimulai. Wajah tegang menghiasi inti dari acara tersebut. Sebelum Raka menjabat tangan wali hakim, Raka melirik kepada Queen. Terlihat Queen yang diam saja dengan wajah yang tegang, tanpa sekalipun melihat kepada dirinya. Memang, sejak awal kedatangan Queen, gadis itu terus menunduk pandangan nya. Tidak sekalipun Queen kontak mata dengan Raka.
"Bismillahirrahmanirrahim, dengan nama Allah. Aku berniat menghalalkan dirimu, Queen Kruger," Gumam Raka.
Tangan Raka mulai menyentuh telapak tangan wali hakim atau penghulu yang ditugaskan untuk menuntun Queen dan Raka ke hubungan yang halal. Tangan Raka gemetar dan terasa dingin. Bagaimana pun, ini adalah pernikahan pertamanya, dan Insya Allah akan menjadi pernikahan terakhir baginya.
Penghulu mulai mengucapkan Ijab, yang berararti mewajibkan dirinya untuk menikahi Queen dengan lelaki yang sedang menggenggam tangan nya. Dan terdengar kata qabul yang berarti menerima dari bibir Raka dalam satu tarikan nafas, tentunya dengan lancar dan lantang.
Setelah qabul di ucapkan, terdengar para saksi yang terdiri dari Ayah Andra, Om Bobby, serta seorang yang berasal dari keluarga Raka, mengucapkan kata " Sah!" utuk keabsahan dari Ijab dan Qobul itu.
"Alhamdulillah!" Seru Bapak penghulu. Doa setelah Ijab Qobul pun di panjatkan, terdengar isak dan tangis di tengah pembacaan doa tersebut. Bunda dan nyonya Amara tidak dapat menyembunyikan perasaan bahagia mereka, hingga tangisan mereka terdengar menggema di ruangan yang luas tersebut.
Setelah berdoa, Mc pun mempersilahkan kedua mempelai untuk saling menyatakan cincin pernikahan mereka. Terlihat Athar menghampiri sepasang pengantin baru itu, dengan membawa kotak cincin yang terbuat dari wadah transparan.
Raka meraih sebuah cincin berlian dengan design yang mewah dan berkelas, lalu ia tersenyum menatap Queen yang sudah berani menatap dirinya. Lalu, Raka meraih tangan Queen dengan lembut dan menyematkan cincin yang menjadi simbol bersatunya dua insan itu.
Setelah Raka menyematkan cincin tersebut, lelaki tang baru saja sah menjadi suami Queen itu, mengecup dengan penuh perasaan, kening istrinya.
Lalu, setelah itu, giliran Queen yang memasangkan sebuah cincin yang terbuat dari perak di jari manis Raka. Lalu, ia pun mengecup punggung tangan lelaki yang mengikat hati Queen selamanya itu.
Para fotografer pun terus mencuri momen indah tersebut di setiap gerak sepasang pengantin baru itu. Apa lagi saat Queen dan Raka mengangkat tangan mereka dan tersenyum ke arah kamera.
Hari bahagia itu akhirnya dapat Queen dan Raka rasakan. Tepat 365 hari terhitung hari dimana Raka berdoa untuk menjadi pasangan Queen.
..
__ADS_1
"Mungkin, ucapan itu dianggap hanya sekedar bunyi yang keluar dari mulut seseorang. Tetapi, tidak dengan malaikat yang terus mencatat setiap ucapan kita. Itulah mengapa, orang bijak mengatakan, ucapan adalah doa." -De'rini-