
Akhirnya, Queen dapat menyelesaikan design gaun pengantinnya. Design yang simpel, tetapi elegan. Namun meskipun begitu, gaun itu penuh dengan makna tentang hubungan dirinya dengan Raka.
Satu bulan lamanya, ia merancang gaun tersebut. Siang dan malam mencoba mencari inspirasi disela jadwal nya yang begitu padat. Gaun yang masih dalam wujud gambar tersebut, Queen angkat setinggi-tingginya. Lalu, ia memandang puas kepada gambar gaun tersebut.
"Akhirnya...!" Ucap nya dengan mata yang berbinar-binar.
Queen menaruh kertas bergambar itu itu di dalam map, lalu ia memanggil karyawannya.
"Sasa, kamu bisa ke ruangan saya sekarang?" Queen memanggil karyawannya dari pihak produksi, melalui sambungan telepon.
"Baik Bu," Sahut Sasa, dari ruang produksi.
Tak lama kemudian, Sasa pun sudah berada di ruangan Queen.
"Ada apa Bu?" Tanya Sasa saat dia berdiri berhadapan dengan Queen.
Queen memberikan map dimana hasil rancangan gaun pengantin nya, ia simpan, kepada Sasa.
Gadis bermata coklat dan berambut lurus itu menatap map yang dipegang oleh Queen. Lalu, ia meraih map tersebut dan membuka map itu.
"Gaun pengantin Bu?" Tanya Sasa.
"Ya, saya ingin berdiskusi sama kamu tentang gaun pengantin saya."
"Ibu Queen akan menikah?" Tanya Sasa dengan sorot mata yang berbinar.
"Ya, saya akan menikah."
"Wah! Selamat ya Bu, kapan Ibu akan menikah?" Tanya Sasa yang terlihat antusias.
"Kurang lebih enam bulan lagi. Apakah gaun ini cocok dengan saya?" Tanya Queen.
"Cocok kok Bu. Ibu pakai apa saja cocok Ibu terlalu sempurna, dan tubuh ibu dambaan setiap wanita," Ucap Sasa.
"Kamu itu ya... Bisa saja," Ucap Queen seraya tersipu malu.
"Jadi, kapan mau di kerjakan Bu?" Tanya Sasa penasaran.
"Apakah sedang banyak pekerjaan di ruang produksi?" Tanya Queen.
"Saat ini padat Bu, mungkin bulan depan."
"Ok, bulan depan saja. Utamakan customer, toh saya menikah masih setengah tahun lagi."
"Baik Bu. Jadi, Ibu di ukur bulan depan saja ya.."
Queen tersenyum dan mengangguk.
"Ya sudah Bu, saya akan simpan design gaun ini. Dan mengkopinya dan menyimpan nya juga di dalam file."
__ADS_1
"Ok baik, tolong ya," Ucap Queen.
"Siap Bu..."
"Oh iya, calon suami ibu yang sering kesini ya?" Sambung Sasa.
"Iyaaa..." Queen tersenyum dan pipinya mulai memerah.
"Ganteng banget Bu."
"Susah sana kerja.." Ucap Queen seraya tersenyum.
"Siap Bu..." Sasa tertawa lebar dan kembali ke ruang produksi.
Queen tersenyum sendiri melihat tingkah karyawan nya itu. Lalu, ia berkhayal di kursinya, membayangkan dirinya memakai gaun itu.
Rencananya, Queen akan membuat gaun itu dengan rok yang bagian pinggulnya di buat pas dengan lekuk tubuhnya, serta bagian lutut yang mengembang. Mirip seperti ekor duyung. Melambangkan, dirinya adalah seekor duyung di laut lepas, yang berusaha mengarungi samudera hanya untuk mencari pujaan hatinya.
Rok itu akan Queen buat dari bahan licin sutra yang berwarna putih. Sedangkan sekeliling rok itu, akan Queen sematkan 365 buah mutiara. Yang melambangkan jumlah hari yang dirinya dan Raka jalani untuk menjadi halal.
Sedangkan bagian atas dari gaun itu, akan Queen buat dengan bahan brukat, yang biasa di pakai untuk membuat gaun pengantin ataupun kebaya, dengan warna yang senada dengan roknya.
Bagian atas, atau bagian badan gaun itu, akan Queen sematkan dengan kristal berwarna peach, yang berjumlah 99 buah. Yang melambangkan, lamanya dirinya mengenal Raka, hingga ia dan Raka berhasil untuk setingkat lebih serius. Yaitu bertunangan dengan Raka.
Bagian leher gaun itu memiliki aksen baju tradisional Korea, negara asal orangtua raka. Yaitu, kerah yang bersilang. Sedangkan di bagian kerah dan lengan panjang dari gaun itu, akan Queen berikan ribuan payet, yang melambangkan cinta dalam rumah tangga dirinya dan Raka. Mereka akan melewati ribuan hari dengan cinta yang luar biasa, kasih sayang yang tiada batas. Kesabaran dan kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan.
Queen kembali tersenyum, dan meraih ponselnya. Ia berniat menghubungi Raka, untuk mengatakan bila design gaun nya sudah selesai, dan juga ingin bercerita tentang filosofi dari gaun tersebut dengan Raka.
"Raka!" Seru Queen sambil terperangah menatap kekasihnya itu.
"Kaget ya?" Tanya Raka seraya melangkah masuk kedalam ruangan Queen.
Lelaki itu membawakan Queen makanan dari restoran miliknya dan menaruhnya di atas meja Queen.
"Apa ini?" Tanya Queen seraya membuka plastik bungkus makanan itu.
"Makanan, aku ingin makan siang denganmu," Ucap Raka dan ia pun tersenyum menatap Queen yang terlihat antusias.
"Tadi mau menelpon, mau telepon siapa?" Tanya Raka.
"Mau telepon kamu lah," Ucap Queen seraya membawa bungkusan makanan itu ke arah sofa. Lalu, mereka berdua pun duduk diatas sofa.
Queen mulai membuka bungkusan tersebut dan mengajak Raka untuk makan siang. Mereka berdua pun makan siang bersama, sambil bercerita tentang kesibukan mereka dari pagi hingga siang ini.
"Oh iya, aku sudah menyelesaikan design gaun pengantin ku," Ucap Queen.
"Oh ya?"
Queen mengangguk dengan cepat. Pipinya pun merona merah.
__ADS_1
"Pasti cantik," Ucap Raka seraya menghapus sisa saos black paper yang menodai sudut bibir Queen, dengan selembar tisu.
Queen tersenyum mendapatkan perlakuan seperti itu dari calon suaminya.
"Cantik dong..." Sahut Queen.
"Mana lihat," Ucap Raka yang terlihat antusias.
"Rahasia, nanti saja kalau sudah jadi. Sekalian akan aku ceritakan tentang filosofi nya."
"Pakai filosofi?" Tanya Raka seraya mengerutkan keningnya.
"Iyaa lah!"
Raka tersenyum dan menatap Queen dengan seksama.
"Hey cantik,"
"Ya?"
"Aku pakai kemeja putih loh," Ucap Raka.
Queen mengerutkan keningnya dan menatap kemeja Raka. Lalu, ia mulai tersadar akhir-akhir ini Raka selalu memakai kemeja putih.
"Memang kenapa? Kok akhir-akhir ini kamu pakai kemeja putih sih? Kamu tidak pernah ganti baju ya?" Tanya Queen seraya menatap Raka dengan ekspresi ilfil.
"Loh, ganti baju lah! Kemeja putih ku ada selemari kok, kemeja yang warna lain aku buang semua," Ucap Raka.
"Hah!" Queen menatap Raka dengan tak percaya.
"Kenapa dibuang!" Queen terlihat kebingungan.
"Biar kamu bergairah melihat ku," Ucap Raka dengan polosnya, seraya mengigit daging steak yang menjadi menu santap siang mereka.
"Ih.. ngomong apa sih?" Queen terlihat geli dengan ucapan Raka.
"Bukan nya kamu akan bergairah melihat calon suami mu ini pakai kemeja putih atau baju berwarna putih?" Tanya Raka seraya mencondongkan tubuhnya kearah Queen. Matanya membulat dan wajahnya berada satu jengkal dari wajah Queen.
"Kata siapa?" Tanya Queen seraya menghindari wajah Raka.
"Loh, kamu selalu menyuruhku pakai baju putih. Itu apa artinya?" Tanya Raka dengan polos.
"Kapan?" Tanya Queen, sembari mencoba mengingat apa yang Raka katakan.
"Itu, waktu aku akan melamar mu, setiap hari kamu memaksa aku harus memakai baju putih," Ucap Raka.
Queen tersedak mendengar ucapan Raka.
"Uhuk! Uhuk!"
__ADS_1
Raka buru-buru meraih botol air mineral dan memberikannya kepada Queen. Lalu, ia menepuk pelan punggung Queen.
"Ya Allah... dia salah kaprah!" Batin Queen, seraya terus terbatuk-batuk.