365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
161# Rencana bulan madu


__ADS_3

Setelah menghadiri acara keluarga, Raka dan Queen pun kembali kerumah mereka. Queen membaringkan tubuhnya yang lelah setelah seharian beraktivitas di atas ranjang. Raka pun juga merebahkan tubuhnya di samping Queen. Lalu, ia melirik menoleh kesamping nya dan menatap Queen yang sedang memandangi langit-langit kamar tersebut.


"Raka,"


"Ya..."


"Aku rasa, aku mau berhenti bekerja." Ucap Queen.


Raka mengubah posisinya menjadi posisi miring dan terus menatap Queen.


"Sadar gak sih, kita sama-sama sibuk. Seminggu setelah menikah saja, kita langsung kembali ke aktivitas kita masing-masing. Kamu kepala rumah tangga, sedangkan harus nya aku dirumah menanti kamu. Biarkan saja semua usaha di pegang oleh orang kepercayaan kita," Ucap Queen yang ikut memiringkan tubuhnya. Kini, mereka berdua saling bertatapan.


Raka mengusap rambut Queen dan tersenyum kepada Queen.


"Aku minta maaf ya, aku yang salah," Ucap Raka.


"Ya, kamu wajar sih sibuk. Karena kamu mempersiapkan masa depan untuk kita,"


"Bukan, aku yang egois. Harusnya aku yang mementingkan kamu Queen. Masa depan ku itu kamu. Harta bisa dicari. Aku tidak bekerja keras untuk itu semua. Aku tinggal menjalani saja usaha yang ada. Aku benar-benar egois dan tidak baik menjadi suami mu,"


"Stttt...!" Queen menempelkan jari telunjuk nya di bibir Raka.


"Jangan ngomong begitu dong," Ucap Queen.


Raka tersenyum dan memegang tangan Queen yang masih berada di bibirnya. Lalu, ia mengecup lembut tangan istrinya itu.


"Aku pernah berjanji kepada Ibuku, aku jangan seperti mereka. Bila seperti mereka, aku akan menyesal dikemudian hari. Yang berharga adalah keluarga." Terang Raka.


Queen terdiam dan menatap Raka seraya menghela nafas panjang.


"Bagaimana kita berbulan madu, masalah pekerjaan, aku tidak peduli. Kalau kamu mau tidak berkerja lagi, apakah kamu mau disamping ku terus kalau aku keluar Kota? Masalah bisnis, mari kita tangani bersama-sama. Bisnis ku adalah bisnis mu, bisnis mu juga bisnis ku. Kita tangani semua. Dan semua penghasilan adalah milik mu," Ucap Raka.


Queen tersenyum semringah, lalu ia beranjak duduk di atas ranjang.


"Begitu ya? Terus kalau semua penghasilan milik ku, kamu gimana?" Tanya Queen.


"Aku? Hmmmm, aku kamu biayai ya..." Canda Raka.


Queen tertawa geli dan mencubit pipi Raka.


Raka pun tersenyum dan meraih tubuh Queen, hingga terjatuh di pelukannya.


"So? Kamu mau terus disamping ku?" Tanya Raka.


Queen mengangguk di dalam pelukan Raka.


"Serius?" Tanya Raka lagi.


"Iya.."


"Ya sudah, tapi kamu mau kan ikut aku terus? Selain kamu jadi istriku, kamu juga jadi satpam ku," Ucap Raka.


Queen mendongak dan menatap Raka dengan senyuman yang lebar.


"Satpam...?"


"Iya, dunia pekerjaan ku banyak cewek cantik loh, kamu gak kepengen gitu jagain aku?"


"Ish, mau dijagain juga, kalau nakal ya nakal saja!" Ucap Queen seraya mengerutkan dagunya.


"Gak lah sayang, walaupun secantik apa pun wanita di luar sana, wanita tercantik tetap kamu."


"Gombal!" Seru Queen.


"Enggak, suer deh..!"

__ADS_1


"Gombal...!"


"Suerrrr..!"


Queen tertawa geli dan kembali beranjak duduk di atas ranjang. Lalu, dengan wajah yang sedih, ia menatap Raka dengan seksama.


"Kamu sudah ingin punya anak belum?" Tanya Queen.


"Anak sih sedikasihnya sama Allah lah sayang, kita gak bisa mengatur nya. Seingin apa pun kita, kalau belum saat nya ya tidak akan bisa. Tetapi, kalau Allah bilang kita sudah pantas menjadi orangtua, ya pasti di kasih sih," Ucap Raka.


"Bagaimana agar kita pantas?" Tanya Queen dengan wajah yang tampak serius.


Raka beranjak duduk di depan Queen.


"Punya istri pintar itu ternyata sulit juga ya, pertanyaan nya bikin tidak bisa dijawab," Ucap Raka seraya tertawa.


Queen ikut tertawa dan kembali mengerutkan dagunya dengan tatapan yang manja.


"Yang penting kita berusaha dulu yuk. Kita berbulan madu, melakukan nya tiap hari. Menikmati waktu yang tidak akan pernah terulang kembali. Saling memperkuat cinta, dan masalah rezeki sudah ada yang mengatur. Kamu mau?" Tanya Raka.


"Bulan madu kemana?"


"Ke Labuhan Bajo. Kita habiskan waktu disana selama satu minggu. Setelah itu, kamu tidak usah bekerja lagi. Kamu cukup mengikuti kemana pun aku pergi, kalau aku keluar Kota. Sedangkan kalau aku di kantor, kamu di rumah dan menunggu aku pulang. Aku janji akan pulang sebelum maghrib setiap hari. Bagaimana?" Tanya Raka.


Seketika sorot mata Queen berbinar, ia pun tersenyum semringah dan mengangguk dengan cepat.


"Ok!" Ucap Queen dengan bersemangat.


"Ya sudah, aku telepon Mirna dulu ya. Aku minta dia ambilkan pake honeymoon untuk kita berdua.


Queen mengangguk dengan cepat, sedangkan Raka meraih ponselnya dan memanggil Mirna lewat sambungan telepon.


Beberapa menit kemudian, Raka pun mengakhiri panggilan tersebut dan meletakkan kembali ponsel di atas meja nakas. Lalu, ia menatap Queen dengan seksama.


"Tinggal menunggu kabar dari Mirna ya... Sekarang kita ikhtiar dulu punya anak," Ucap Raka.


"Kenapa? Katanya ingin punya anak.." Ucap Raka, saat ia melihat Queen mengerutkan keningnya.


"Caranya?" Tanya Queen dengan polos.


"Ya berhubungan," Jawab Raka.


Queen tersenyum malu.


"Aku pikir kayak ke dokter atau minum obat herbal apa gitu," Ucap Queen.


"Yah itu mah nanti, besok aku antar ke dokter ya... Sekarang mah begituan dulu. Mana tahu langsung jadi," Bujuk Raka seraya melepaskan segala yang menempel di tubuhnya.


"Ih..." Queen tertawa geli melihat tingkah suaminya itu.


"Yuk ah," Raka pun menerkam Queen dengan buas nya.


Mereka pun tertawa bahagia dan melakukan itu semua dengan cinta dan niat demi mendapatkan buah hati.


...


Pagi-pagi sekali, kabar dari Mirna sudah di dapat. Mereka mendapatkan paket bulan madu lengkap dengan fasilitas yang mewah di Labuhan Bajo.


Tentu saja kabar itu membuat Raka bahagia dan memberitahukan Queen, bahwa mereka akan segera berbulan madu pada esok hari.


Queen yang sedang memasak pun tampak bahagia, saking bahagianya, ia pun nyaris melompat. Merekapun merasa tidak sabar untuk dapat segera berbulan madu. Tetapi, mereka harus bersabar, karena keberangkatan masih besok pagi, Queen dan Raka pun berniat untuk menyambangi dokter pada pagi ini untuk memeriksakan kesuburan Queen. Karena, Queen ingin memastikan bila dirinya dalam keadaan baik-baik saja untuk dapat segera memiliki buah hati.


Sesampainya di rumah sakit, Queen dan Raka memasuki sebuah ruangan milik dokter kandungan, yang akan memeriksa kesuburan dan keadaan rahim Queen. Queen tampak cemas saat dirinya di minta untuk berbaring di atas ranjang periksa. Sedangkan Raka, terus memberikan semangat kepada istrinya itu.


Setelah berbincang beberapa saat dengan dokter yang menangani, Queen pun langsung di periksa oleh dokter. Diawali dengan memeriksa keadaan rahim Queen, dengan cara di USG. Queen terus menatap layar USG itu dengan sorot mata yang cemas. Begitupun dengan Raka, ia tidak terlihat cemas, namun ia berusaha untuk biasa saja.

__ADS_1


"Haid terakhir Ibu kapan?" Tanya dokter tersebut sembari meletakkan sebuah alat di perut Queen.


"Baru kok dok, seminggu yang lalu," Jawab Queen.


"Seminggu?"


"Iya dok, kenapa dok?" Queen mulai cemas.


"Keadaan Rahim Ibu Queen baik-baik saja, bahkan sangat baik. Namun, seperti nya tidak usah melakukan program hamil,"


Queen dan Raka saling bertatapan.


"Maksudnya dok?" Tanya Raka dan Queen.


"Jadi begini, secara medis, mengalami menstruasi saat hamil adalah kondisi yang tidak mungkin terjadi. Kalau Ibu Queen selama dua bulan ini mengalami haid, bisa jadi karena menandakan perdarahan karena menempelnya embrio pada dinding rahim. Kalau masalah komplikasi, tidak ada. Soal nya janin nya sehat-sehat saja,"


Queen dan Raka sama-sama tercengang.


"Hamil dok?" Tanya Queen dengan wajah yang bingung.


"Iya Bu, selamat, kandungan Ibu sudah memasuki usia sekitar tujuh minggu."


Queen dan Raka masih tidak percaya.


"Tapi saya tidak mual dan muntah dok, apakah betul saya hamil dok?"


"Iya, lihat ini, ini kepala nya. Ini bakal kaki dan tangan nya. Janin terlihat sehat dan tumbuh dengan baik." Terang dokter itu seraya menunjuk ke layar lebar yang berada di dinding ruangan itu yang di letak tepat di atas kaki ranjang periksa.


"Raka!" Seru Queen dengan mata yang berbinar.


Raka langsung menggenggam tangan Queen dengan erat. Lalu, ia mencoba memastikan sekali lagi kepada dokter tersebut.


"Serius dok? Istri saya hamil?" Tanya Raka.


"Iya Pak, kondisinya sehat dan baik sekali. Masalah haid nya sudah saya jelaskan tadi. Nah, sekarang tinggal di berikan vitamin untuk Ibu Queen konsumsi selama kehamilan ya.."


"Iya dok, terima kasih," Ucap Queen dan Raka dengan wajah yang begitu berbahagia.


"Sayang, Alhamdulillah... ternyata Tuhan memberikan secepat ini." Saking bahagianya, Raka menggendong tubuh Queen dan mendekapnya di dalam pelukan nya yang hangat.


"Alhamdulillah...!" Seru Queen hingga ia tidak kuasa menahan tangisan nya.


Mereka saling berpelukan, tangis haru dan bahagia tak dapat mereka bendung. Tanpa mereka sadari, mereka sudah menjadi calon orangtua selama 7 minggu.


"Tapi dok, besok kami akan berbulan madu." Ucap Queen.


Raka terdiam sejenak, ia baru ingat, besok mereka akan pergi ka Labuhan Bajo.


"Begini Bu, lebih baik beristirahat dulu ya. Soalnya keluar darah, menandakan adanya pendarahan. Walaupun janin terlihat sehat, lebih baik Ibu beristirahat dirumah."


"Baik dok," Ucap Queen. Kini ia kembali tersenyum bahagia.


"Bulan madunya nanti saja ya, tunggu junior ku lahir," Bisik Raka seraya memeluk pinggang Queen dengan mesra.


Queen mengangguk setuju, senyuman bahagia terus mengembang di bibirnya.


"Kita masih banyak waktu untuk berbulan madu seumur hidup," Ucap Queen.


Raka tersenyum dan mencium lembut bibir Queen.


"Ehemmmm...! Resepnya.." Ucap dokter itu dengan wajah yang terlihat iri sekali.


Queen dan Raka tertawa dan meninggalkan ruangan dokter tersebut dengan hati yang penuh dengan syukur.


..

__ADS_1


-Terkadang, kita terlalu mengkhawatirkan hal-hal yang belum terjadi. Tanpa kita sadari, Tuhan sudah mempersiapkan segala hal yang terbaik untuk kita.- De'rini-


__ADS_2