
Sudah tiga hari, Queen mengurung dirinya dikamar. Rasa kehilangan dan merasa bersalah membiarkan Tika pergi sendiri tanpa dirinya, terus menggerogoti hati Queen. Sebenarnya itu bukanlah salah dirinya. Hanya saja, Queen terus merasa kehilangan hingga membuat dirinya merasa bersalah.
Queen menatap foto dirinya bersama dengan Tika yang ada di dalam laptopnya. Mulai dari foto mereka masih remaja, hingga mereka tumbuh dewasa. Di tambah dengan foto liburan mereka ke berbagai tempat. Baik itu di dalam negeri, maupun di luar negeri. Tika banyak menasihati Queen bila ada yang tidak beres dengan Queen. Pun, dengan Queen yang selalu mengingatkan Tika agar lebih baik, saat Tika mulai salah langkah.
Mereka bagaikan dua sisi uang logam yang berbeda, tetapi mereka satu tubuh. Sudah dipastikan, kehilangan Queen atas Tika bagaikan kehilangan saudara kembarnya sendiri.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar ketukan dari luar kamar Queen. Ia pun langsung menghapus air matanya yang sejak tadi terus bergulir dari sudut matanya yang sembab. Dengan malas, Queen beranjak untuk membuka pintu kamarnya.
Terlihat Bunda Farah tersenyum kepada Queen dengan membawa sebuah baki berisi teh hangat dan beberapa makanan kecil yang di tata rapi di dalam toples transparan.
"Boleh Bunda masuk?"
"Silahkan Bun," Ucap Queen, seraya membuka lebar pintu kamarnya dan menutup nya kembali saat Bunda sudah berada di dalam kamarnya.
"Kamu lagi apa?" Tanya Bunda seraya menaruh baki yang sedang ia bawa ke atas meja nakas di samping ranjang Queen.
"Tidak ngapa-ngapain Bun," Ucap Queen seraya menutup laptopnya. Queen tahu, Bunda tidak suka melihat orang yang berlarut-larut dalam kesedihan. Maka, ia mencoba untuk menyembunyikan bika dirinya sedang mengenang Tika dengan foto kebersamaan dirinya dan Tika.
"Kamu masih memikirkan Tika ya?" Tanya Bunda.
Queen terdiam, ia menundukkan wajahnya dalam-dalam.
"Wajar, bila kita mengenang seseorang yang sangat kita sayangi. Tetapi, hidup harus tetap berjalan. Setiap manusia akan berpulang, tidak ada yang mampu menghentikan waktu, atau menunda kematian."
Queen mengangkat wajahnya dengan mata yang memerah.
"Sayang, Bunda pun berduka. Tetapi, mungkin tidak seperti yang kamu rasakan. Karena kamu dan Tika begitu dekat. Kamu yang tahu luar dalam nya Tika, baik buruk nya Tika dan segalanya tentang Tika. Ini pasti menjadi kehilangan terberat kamu. Hanya saja, jalan satu-satunya bila kamu sangat menyayangi Tika, ikhlaskan dia. Dia pasti sudah bahagia di sisi Allah. Tika pasti akan bahagia melihat kamu melanjutkan hidup dengan sebaik-baiknya. Semoga, kelak di akhirat, kalian bisa kembali bersahabat di surga Allah."
Queen mulai terisak, tanpa sepatah katapun, ia memeluk Bunda dengan erat.
"Sudahlah nak, sekarang, kamu rajin-rajin berdoa untuk dirinya dan juga janin nya. Doakan mereka tenang disisi Allah. Doakan mereka beristirahat dengan damai."
"Iya Bun," Sahut Queen yang masih saja terisak.
"Ada makna dibalik kejadian ini. Allah membiarkan kamu kehilangan, agar kamu menghargai kebersamaan. Tuhan menyelamatkan kamu dan memberikan kesempatan kamu masih bisa berkumpul dengan kami disini adalah anugerah yang di perpanjang oleh Allah. Kecelakaan Tika bukan salahmu. Tetapi, sudah cukup perjalanan nya di dunia ini. Kita yang masih hidup, harus banyak-banyak bersyukur. Mendoakan yang telah tiada, mendoakan diri sendiri dan keluarga. Agar diperpanjang usia kita, diperpanjang nikmat kebersamaan kita. Queen, kamu pasti bisa melalui ini semua. Jangan lagi mengurung dirimu, sudahi duka mu. Menyudahi duka bukan berarti melupakan Tika begitu saja. Tetapi, lebih ke bersyukur menjalani hari-hari kembali."
__ADS_1
Bunda mengusap lembut punggung Queen. Yang terus menangis dipelukan nya.
"Maafkan Queen Bun," Ucap Queen di sela tangisan nya.
"Tidak apa-apa nak, wajar kalau kamu menangis hari ini. Bunda harap, besok kamu lebih baik lagi ya,"
"Iya Bunda..."
...
Ayah menatap Bunda yang baru saja kembali dari kamar Queen. Wajahnya terlihat tegang dan seperti sedang banyak pikiran. Di tangan nya terdapat ponsel yang terus ia genggam.
Bunda beranjak duduk disamping Ayah. Lalu, membalas tatapan Ayah dengan seksama.
"Ada apa Yah?"
Ayah hanya menggelengkan kepalanya dengan ragu.
"Tidak seperti biasanya Ayah seperti ini, ada apa? Bunda perhatikan, sejak kejadian kecelakaan Tika, Ayah mulai sering berdiam diri," Ucap Bunda.
Ayah menghela nafas panjang, dan menaruh kaca mata baca nya dan ponselnya di atas meja. Lalu, ia menatap Bunda dengan seksama.
Sesampainya di kamar, Ayah duduk du tepi ranjang, sedangkan Bunda masih berdiri menatap Ayah yang terlihat gelisah.
"Ada apa? Kenapa harus ngomong dikamar?" Tanya Bunda penasaran, seraya beranjak duduk di samping Ayah.
"Farah, aku sudah melihat CCTV di jalan tol tempat kecelakaan yang menimpa Tika. Tampaknya, kecelakaan itu memang sengaja di buat seperti itu."
Bunda mengerutkan keningnya dan menatap Ayah dengan tatapan tak percaya.
"Maksudnya?" Tanya Bunda dengan wajah yang tampak serius.
"Aku sengaja mengajak mu membicarakan ini di kamar, agar tidak ada anak-anak yang mendengarkan pembicaraan kita. Biar aku yang menangani ini semua. Aku rasa, target orang tersebut bukanlah Tika. Hanya saja, Tika yang menjadi imbasnya." Terang Ayah.
"Maksudmu?"
"Sebenarnya, Queen lah yang menjadi target. Hanya saja, mereka mengira Tika adalah Queen. Jadi, ini adalah kecelakaan yang salah sasaran. Berarti, Queen saat ini dalam keadaan yang berbahaya. Maka dari itu, aku selalu menurunkan ajudan untuk menjaga kalian semua. Ada untungnya Queen masih dirumah saja," Ucap Ayah.
__ADS_1
Bunda tampak terkejut, ia masih belum percaya dengan apa yang Ayah katakan kepada dirinya.
"Queen menjadi target!"
"Iya, ini baru asumsi ku saja, tetapi percayalah Farah, kecurigaan ku sangat jarang meleset. Aku curiga bila anak kita sedang dalam incaran orang yang berniat mencelakakan nya."
Bunda terdiam, wajah nya mulai gelisah.
"Tidak usah takut dan gelisah. Kamu harus percaya dengan ku. Aku sedang membantu petugas untuk mengusut ini semua. Tenang saja, selama aku masih hidup, tidak akan aku biarkan seorang pun untuk mencelakakan kalian."
Bunda menghela nafas panjang dan mengangguk dengan perlahan.
"Tapi, kamu yakin?" Tanya Bunda lagi.
"Masih tujuh puluh persen. Mobil yang menyebabkan kecelakaan itu sedang di cari. Sayangnya, nomor kendaraan mobil tersebut di palsukan. Maka, penyidik sedikit merasa kesulitan untuk menemuinya. Sedangkan pemilik nomor asli kendaraan itu tidak merasa bersalah dan jenis mobil miliknya berbeda dengan mobil yang memakai nomor kendaraan miliknya. Ini jelas sudah kalau ada unsur direncanakan dalam kecelakaan itu. Hanya saja, masih menjadi misteri, benar atau tidak nya bila Queen yang sebenarnya menjadi sasaran." Terang Ayah.
"Ya Allah..." Ucap Bunda seraya mengusap dadanya yang terasa sesak.
"Mungkin lain waktu, aku akan berbicara dengan Queen. Apakah dia punya musuh, atau ada yang tidak suka dengan dirinya. Masalah ini harus di usut. Bukan hanya karena menyangkut keselamatan kalian, melainkan juga, para eksekutor yang menyebabkan Tika kecelakaan harus terungkap. Ini keadilan untuk Tika juga," Ucap Ayah.
Bunda mengangguk paham. Lalu, ia memeluk Ayah dengan wajah yang terlihat sedih.
"Kamu juga jaga diri ya sayang, aku juga takut terjadi sesuatu kepada dirimu," Ucap Bunda.
Ayah mengecup kening Bunda dan membelai lembut rambut Bunda yang menutupi dahi istri tercintanya itu.
"Doakan saja aku, Insya Allah aku akan baik-baik saja," Ucap Ayah.
Bunda mengangguk dan terus memeluk Ayah dengan erat.
"Aku selalu mendoakan kamu, di setiap langkah mu dalam bertugas ataupun kemana saja. Aku mencintaimu Andra."
"Aku mencintaimu juga istriku. Ayo kita cari kebenaran atas semua yang terjadi. Doakan semuanya lancar, agar kita bisa hidup dengan tenang. Aku tidak akan merasa tenang, bila semua belum jelas," Ucap Ayah.
Bunda melepaskan pelukannya dari tubuh Ayah dan menatap Ayah dengan mata yang sendu.
"Lakukan apa yang menjadi keyakinan mu. Aku akan terus mendukungmu,"
__ADS_1
Ayah tersenyum dan kembali memeluk Bunda dengan erat.