365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
113# Permainan di mulai


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Raka berhenti di sebuah rumah mewah bercat putih. Taman dari rumah itu begitu indah, beberapa pekerja sedang terlihat memangkas tanaman bonsai yang tumbuh subur di taman rumah itu. Air mancur dengan tinggi kira-kira satu meter terlihat memperindah taman tersebut.


Di sisi kiri taman, terlihat sebuah gazebo yang berdiri tepat di atas kolam ikan yang panjangnya sekitar empat meter, di buat seperti replika kali pada umumnya. Gemericik air yang menetes di bebatuan yang di buat seperti tebing di samping gazebo membuat suasana semakin tenang.


Bunga-bunga yang mengembang yang tertanam di pot-pot yang tergantung di sekitar gazebo pun membuat tampilan rumah itu terlihat semakin asri.


Raka membuka pintu mobilnya dan mengulurkan tangannya untuk membantu Queen turun dari mobil mewah miliknya.


Queen pun menyambut uluran tangan lelaki yang ia cintai itu dan beranjak turun dari mobil berwarna hitam itu. Queen menatap ke sekeliling nya dan pandangan nya pun jatuh ke pintu rumah Raka yang tingginya sekitar tiga dua setengah meter. Cukup tinggi, dengan ukiran emas di gagang pintunya. Menambah kesan mewah dari rumah itu sendiri.


Rumah Raka berbeda jauh dengan rumah Queen. Rumah lelaki itu terkesan seperti istana yang kosong, walaupun cukup terawat. Sedangkan rumah Queen yang beraksen Belanda, dengan halaman yang luas terlihat begitu hidup, walaupun tidak begitu mewah seperti rumah Raka.


Di atas pintu rumah Raka terdapat ukiran huruf Hangul yang berasal dari Korea. Negara asal Ibunya Raka. Walaupun itu adalah rumah Raka, tetapi keluarga mereka tetap memasang tulisan simbolik yang berarti mereka adalah berasal dari negara Korea, walaupun kini sudah berstatus sebagai warga negara Indonesia.


"Ayo," Ucap Raka, seraya menggandeng tangan Queen yang masih terpaku menikmati indahnya rumah kekasihnya itu.


Raka membuka pintu rumah nya, dan di sambut oleh asisten rumah tangga nya yang memakai seragam layaknya asisten profesional di rumah-rumah para miliarder di Korea.


"Selamat datang tua dan nona," Sambut asisten berambut panjang dengan riasan tipis di wajahnya.


"Terima kasih, Ibu mana?" Tanya Raka seraya tersenyum kepada asisten rumah tangga nya.


"Nyonya sudah menunggu diruang makan tuan," Sahut asisten itu.


"Baik," Ucap Raka dan melangkah bersama dengan Queen menuju ke ruang makan.


Di ruang makan, terlihat nyonya Amara yang sedang sibuk membantu asisten dapur nya, menata hidangan di atas meja. Wanita paruh baya itu terlihat sangat cantik dengan busana nya yang terbuat dari sutra. Serta sanggul yang terlihat simpel di kepalanya. Nyonya Amara tersenyum saat melihat kehadiran Raka dan Queen, lalu ia menghampiri Raka dan Queen yang sedang berjalan menghampiri dirinya.


"Kalian sudah datang," Sambut nya seraya tersenyum manis.


Mengingat kisah yang berkesan tidak baik sebelumnya, Queen pun terlihat canggung saat bertemu dengan nyonya Amara. Gadis itu terus menunduk kan pandangan nya.


"Queen, silahkan," Ucap nyonya Amara seraya menggandeng tangan Queen untuk menuju ke kursi makan yang telah dipersiapkan.


Queen hanya mengangguk dan tersenyum. Ia pun mengikuti langkah kaki nyonya Amara yang mengajak nya ke kursi makan. Setelah itu, mereka pun duduk bersama menghadapi berbagai hidangan khas Korea Selatan yang begitu menggoda.


"Terima kasih sudah mampir ke rumah Raka dan menemui saya di sini," Ucap nyonya Amara.


Queen kembali tersenyum dan mengangguk dalam.


"Apa kabar kamu Queen,"


Queen yang terlihat bingung dengan sikap nyonya Amara yang berubah drastis kepadanya pun menatap Raka.


Raka hanya mengangguk untuk meyakinkan Queen bila semua akan baik-baik saja. Bila Ibunya kini sudah setuju dengan hubungan mereka.


"Alhamdulillah, saya baik. Ibu apa kabar?" Tanya Queen dengan terbata.

__ADS_1


"Alhamdulillah, saya baik." Sahut nyonya Amara.


"Silahkan, kita mulai makan siang nya," Ajak nyonya Amara seraya membuka mangkuk kecil dari porselen yang berisi nasi putih panas, yang terletak di hadapannya.


Queen mengangguk dan ikut membuka mangkuk tersebut. Lalu, meraih sumpit yang terletak di atas piring kecil, disamping mangkuk tersebut.


Mereka pun mulai melaksanakan makan siang tanpa sepatah katapun, hingga selesai.


"Masakan nya enak sekali Bu," Queen mencoba berbasa-basi setelah ia selesai menghabiskan makan siangnya.


"Terima kasih," Sahut nyonya Amara, seraya tersenyum mendengar pujian dari Queen. Hidangan itu adalah masakan nyonya Amara yang sengaja ia masak untuk menyambut Queen, dibantu oleh asisten dapur di rumah Raka.


"Ayah mana Bu?" Tanya Raka yang masih duduk di meja makan walaupun makanan nya sudah habis dari tadi.


"Ayah sedang ke Bali, ada beberapa urusan yang harus dia kerjakan disana," Ucap nyonya Amara.


"Oh, dia tadi tidak bilang apa-apa kepadaku," Ucap Raka lagi.


Nyonya Amara hanya tersenyum dan kembali menatap Queen yang masih terlihat salah tingkah.


"Ayo kita pindah ke ruang keluarga," Ucap nyonya Amara seraya beranjak dari duduknya.


Beberapa asisten langsung beranjak mendekati meja makan. Mereka pun langsung dengan sigap membereskan meja makan tersebut, setelah nyonya dan tuan muda mereka beranjak ke ruang keluarga.


Di ruang keluarga, nyonya Amara duduk didepan Queen dan Raka. Ia masih terus menatap Queen yang masih canggung kepadanya.


Queen mengangkat wajahnya dan menatap nyonya Amara dengan seksama.


"Maafkan saya ya..., sekarang saya tahu, bila kamu lah yang memang pantas untuk Raka," Ucap nya lagi.


Queen tersenyum tipis dan menundukkan pandangan nya.


"Kamu mau kan, memaafkan saya? Saya akui, saya bersalah kepadamu. Saat itu saya sangat keliru. Sekarang, apa pun itu, saya mohon jangan tinggalkan anak saya," Pinta nyonya Amara.


"Saya juga meminta maaf atas sikap saya. Maafkan bila saya kurang sopan saat itu. Saya sudah memaafkan sejak dulu."


Nyonya Amara tersenyum haru, ia merasa Queen begitu gampang memaafkan dirinya tanpa membahas kejadian waktu itu, atau menjelaskan apa pun tentang dirinya.


"Terima kasih, kamu anak baik sekali. Saya telah salah menilai kamu."


"Sudah, sekarang kita buka lembaran baru ya Queen, Bu.." Ucap Raka.


Kedua wanita yang Raka cintai itu pun tersenyum semringah. Kini, kedamaian begitu terasa pada suasana di ruang keluarga tersebut.


...


"Apa? Dia anak mantan petinggi di negeri ini?" Ucap Lala dengan wajah yang tak percaya.

__ADS_1


"Iya Bu," Sahut salah satu informan Lala.


Lala membanting profil tentang Queen ke atas mejanya. Lalu, ia menyenderkan punggungnya di senderan kursi kerja nya.


Ia tidak menyangka sama sekali, bila Queen adalah mantan petinggi bernama Gunawan.


"Bagaimana bisa?" Tanya Lala lagi.


"Dia hanya anak kandung Bu, tidak terikat dalam hukum negara. Sedangkan Ibunya bernama Farah Kruger. Wanita keturunan Jerman dan Ibu nya berasal dari Surabaya. Mereka adalah orang terpandang di Surabaya. Namun, nyonya Farah, pindah ke Jakarta bersama Ibunya. Sedangkan Ayah kandung nyonya Farah kembali ke Jerman. Mereka bercerai dan Ibunya membuka perusahaan di Jakarta. Hubungan antara nyonya Farah Kruger dengan Ibunya tidak harmonis. Lalu, nyonya Farah bekerja dengan Bapak Gunawan yang saat itu masih bertugas. Mereka punya hubungan gelap dan hal ini sempat ramai di media."


"Lalu, lahirlah Queen Kruger, tanpa ikatan pernikahan sebelumnya. Queen Kruger memiliki adik yang akan menikah awal bulan ini, adiknya juga seorang pengusaha sukses. Sedangkan Ayah sambungnya saat ini adalah orang yang berpangkat tinggi juga di dunia militer." Terang informan itu lagi.


Lala terlihat berpikir keras dengan segala informasi yang ia terima.


"Saya bisa memberikan apa saja untuk kalian bila kalian bisa menyingkirkan dia," Ucap Lala lagi.


"Sangat berat resikonya Bu," Sahut seorang yang berdiri dibelakang informan tersebut.


"Apa kalian bodoh? Kalian kan profesional, lakukan lah dengan hati-hati dan tanpa jejak!" Bentak Lala.


Mereka pun saling berpandangan.


"Kalau kalian tidak mampu, saya bisa mencari jasa yang lain nya!" Ancam Lala lagi.


"Ini tugas besar Bu, Ibu harus menyediakan uang untuk kami mengamankan diri di luar negeri. Karena setelah kami berhasil menyingkirkan wanita itu, kami harus menghilang beberapa saat." Terang lelaki bertubuh tegap yang satunya.


"Kan kalian bisa membuat skenario, seakan Queen kecelakaan. Dimana keprofesionalan kalian! Kenapa harus lari keluar negeri!"


"Kita tidak tahu, apakah Queen di jaga oleh ajudan tanpa terlihat atau di biarkan bebas begitu saja Bu."


"Ya kalian cari tahu lah! Berapa yang kalian minta! Katakan saja...! Jangan seperti orang bodoh!" Teriak Lala lagi.


"Kalian tahu, saya harus kembali dengan lelaki itu. Dia harus menebus semuanya. Saya bercerai dengan suami saya karena anak darinya. Dia juga harus bertanggungjawab atas segalanya. Kalian tahu, dia adalah miliarder yang memiliki harta yang luar biasa banyak nya. Saya harus memiliki dia! Dia harus kembali dengan saya! Apa pun yang terjadi!" Ucap Lala dengan wajah yang penuh emosi.


"Pertama, singkirkan dulu wanita tia renta bernama Amara. Dia adalah penghalang terbesar antara hubungan saya dengan Raka. Singkirkan dia...! Saya akan segera membayar lunas atas nyawa dia, seperti yang telah kita sepakati. Masalah Queen, kalian harus memikirkan caranya. Lalu, saya akan membayar tiga kali lipat dari kesepakatan kita! Bagaimana?"


Para mafia itu pun saling bertatapan, salah seorang informan yang juga sebagai pimpinan dari kelompok tersebut pun terlihat berpikir keras.


"Bagaimana? Kalau tidak sanggup, aku akan mencari yang lain nya. Dan aku akan katakan reputasi kalian hanya sebatas mafia kampung!" Ancam Lala.


"Bu, apa Ibu tahu bila kami juga bisa membunuh rekan kami? Termasuk Ibu?" Tanya pimpinan mafia itu.


Lala terdiam mendengar ucapan yang terlontar dari lelaki berperawakan tegap dengan warna kulit yang gelap tersebut.


"Jangan sekali-kali membuat reputasi kami buruk. Bila Ibu profesional, cukup lunas kan tagihan pertama, atas nyawa nyonya Amara." Ucap pimpinan mafia itu. Lalu, mereka pun beranjak dari ruangan kantor milik Lala.


Lala menghela nafas panjang, lalu ia menelepon seorang sekretaris nya, dan meminta sekretaris nya untuk mengirimkan sejumlah uang dengan jumlah yang tidak main-main ke sebuah nomor rekening.

__ADS_1


"Permainan di mulai nyonya Amara!" Gumam nya dengan wajah yang penuh dendam.


__ADS_2