365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
143# 230HMH


__ADS_3

Hari demi hari terlewati. Persiapan untuk menikah pun mulai di urus oleh Queen dan Raka. Orangtua mereka pun juga terlihat turut sibuk memikirkan hari pernikahan yang akan mereka selenggarakan untuk buah hati mereka.


Siang ini, Queen sedang sibuk merancang gaun pernikahan nya sendiri. Namun, selalu saja ada yang membuat dirinya sedikit bingung dengan konsep yang akan ia selipkan dari gaun yang akan ia rancang.


Remuk kertas yang berbentuk bola-bola kecil, berceceran di lantai. Beberapa kali pun Queen menggores pensil di atas kertas, akan berakhir menjadi bola-bola kecil di atas lantai.


Queen meremas rambutnya sendiri. Ia memejamkan matanya dan menghela nafas panjang. Lalu, matanya tertuju ke gaun pengantin yang harusnya ia pakai saat ia menikahi Antoni. Gaun yang masih terpajang di ruangan nya itu terlihat sangat cantik.


Gaun itu adalah buatan Tante Rara. Yang merancang juga dirinya dan Tante Rara. Dulu, ia sangat bersemangat untuk merancang gaun itu dan semua terlihat mulus-mulus saja. Ide selalu ada saja, maka terciptalah gaun tersebut.


Queen beranjak dari duduknya dan mendekati gaun itu. Ia tidak mau memakai gaun itu. Bahkan, ia sudah berniat untuk menjualnya saja. Karena ia ingin, tidak ada lagi bayang-bayang Antoni di dalam hidupnya. Ia ingin semuanya dengan Raka, adalah hal yang baru.


Queen keluar dari ruangannya dan meminta pegawai nya mengeluarkan gaun tersebut, dan memajangnya di etalase butik bagian depan. Saat gaun itu sudah terpajang di dalam etalase, Queen sengaja keluar dari butiknya dan memperhatikan gaun itu dari luar. Ia terpaku dan terus menatap setiap detil gaun cantik itu.


"Apa kabar kamu Antoni?" Gumam nya.


Walaupun Queen sempat merasa trauma dengan Antoni, tetapi kenangan nya dengan Antoni membuat ia tidak bisa melupakan tentang kebaikan lelaki itu.


Antoni adalah lelaki yang benar-benar baik, penghibur dan sedikit gila dengan segala tingkah konyolnya. Queen tersenyum sendiri mengingat sikap manis Antoni kepada dirinya.


Tetapi, itu lah takdir. Siapa pun tidak bisa menghindarinya. Kini, Antoni yang kecewa dan merasa tertekan sudah tidak bisa di sebut waras lagi. Mengapa seperti itu?


Terkadang, mental seseorang tidak ada yang sama. Ringan bagi kita, belum tentu ringan bagi orang lain. Begitupun sebaliknya. Tidak perlu kita merasa hebat dari orang lain, seakan kita yang paling bisa melalui semua masalah. Andai kita tahu, cerita dan penderitaan orang tidak sama dengan kita.


Contohnya Antoni, mungkin sebagian orang akan bertanya, "Hanya gara-gara wanita bisa jadi gila?". Tidak ada yang tidak mungkin bukan? Apakah semua murni hanya karena Queen? Bukan, tekanan dari orangtua juga? Bukan juga,. Busa jadi dia pun memikirkan semua dengan bersamaan, di tambah rasa penyesalan dan merasa bersalah dengan anak dan istrinya.


Ringan bagi kita saat melihat masalah itu. Tetapi, bagi Antoni yang menjalani? Apakah ringan? Hidupnya bagaikan robot yang terus di program untuk menuruti majikan nya. Bahkan, manusia seperti Antoni, tidak berhak merasakan cinta nya sebagai manusia itu sendiri.


Apakah ada orangtua yang kejam seperti itu? Masa iya? Mungkinkah? Jawabannya adalah MUNGKIN. Sifat dan sikap manusia saat menjadi orangtua itu berbeda-beda. Ada yang ingin anaknya menjadi diri sendiri dan hidup dengan pilihan nya sendiri. Ada yang tidak peduli sama sekali. Ada yang begitu menyayangi hingga ikut campur apa pun itu. Bahkan ada yang anak nya tidak boleh berpendapat apa pun, semua harus sesuai dengan apa maunya.


..


"Gaun yang sangat indah," Ucap seseorang yang berdiri dibelakang Queen.


Queen menoleh dan menatap seorang wanita berkulit eksotis dan memiliki senyuman yang manis itu.


"Tasya!" Seru Queen seraya membulatkan matanya.

__ADS_1


Wanita itu tertawa lebar. Ia menghampiri Queen dan memeluk Queen dengan erat.


"Apa kabar?" Tanya Tasya dengan ramah.


Wanita itu tidak sama sekali berubah. Ia masih seperti beberapa bulan yang lalu. Ia masih ramah, dan selalu tersenyum saat berbicara. Hanya satu yang berubah dari Tasya, dia semakin cantik dan menarik.


"Ba-ba-baik," Ucap Queen seraya membalas pelukan Tasya.


"Aku kangen," Ucap Tasya seraya melepaskan pelukannya.


Queen terlihat canggung. Memang ia tidak pernah merasa dekat dengan Tasya. Hanya saja, wanita itu terlihat selalu ingin mendekati dirinya.


"Mengapa gaun itu mau dijual?" Tanya Tasya.


Queen terdiam, ia merasa Tasya mengetahui bila gaun itu adalah gaun yang akan ia pakai untuk pernikahan dirinya dengan Antoni dulu.


"Apa kamu tahu?" Tanya Queen dengan wajah yang canggung.


Tasya kembali tersenyum dan mengangguk pelan.


"Yah, aku pernah melihat foto mu saat menggunakan gaun itu. Aku melihatnya di kotak kayu yang Antoni simpan di temat rahasianya. Foto itu sepertinya Antoni ambil secara diam-diam. Soalnya kamu tidak melihat ke arah kamera." Jelas Tasya.


"Apa kabar Antoni?" Tanya Queen, ia mencoba mengalihkan pembicaraan tersebut.


Tasya terlihat menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya dengan perlahan.


"Mungkin dia baik-baik saja," Sahut Tasya.


Queen tertegun mendengar jawaban dari wanita itu.


"Apa dia masih dirawat di RSJ?" Tanya Queen penasaran.


"Mungkin, aku tidak tahu. Aku sempat mengunjungi dia di RSJ, itu hanya sekali saja."


Queen menatap Tasya dengan seksama.


"Terus.. kamu dan Antoni..."

__ADS_1


"Ya, sudah bercerai. Surat cerai sudah ku terima satu bulan yang lalu. Bukan karena aku tega menceraikan dia, hanya saja...."


"Aku paham," Potong Queen.


Tasya mengulum senyumnya dan menatap Queen dengan wajah yang begitu senang.


"Ini yang aku suka dengan kamu Queen, kamu cerdas."


Queen tertawa kecil dan mempersilahkan Tasya untuk masuk ke butiknya.


Tasya pun menyetujui untuk mampir di butik Queen. Ia mengikuti Queen yang mengajak dirinya masuk ke ruang kerja Queen.


Tasya tersenyum, melihat kesekeliling ruangan itu dan ia beranjak duduk di sofa.


"Tidak banyak berubah, hanya gaun itu saja yang disingkirkan dari ruangan ini," Ucap Tasya.


Queen tertawa dan duduk di depan Tasya.


"So, bagaimana sekarang?" Tanya Queen.


"Aku sebenarnya ingin berbincang-bincang santai denganmu. Hanya saja, aku takut mengganggu kesibukan mu Queen."


"Tidak, aku tidak sibuk.." Sahut Queen.


Tasya memperhatikan banyaknya sampah kertas yang berada di lantai ruangan Queen.


Queen yang sadar dengan sorot mata Tasya yang tertuju ke tumpukan sampah pun terlihat malu.


"Ah, sorry," Ucap Queen seraya beranjak dari duduknya dan membersihkan sampah-sampah itu dan memasukan nya ke dalam tempat sampah.


"Hmmmm, bagaimana kita berbincang diluar saja?" Ucap Queen seraya memunguti sisa sampah yang masih tersisa di lantai.


"Boleh. Tetapi, bila sekiranya.."


"Tidak, aku sedang butuh segelas kopi. Ide ku mampet, jadi aku butuh teman untuk ngopi," Ucap Queen.


Tasya tersenyum dan mengangguk setuju.

__ADS_1


"Ok,"


"Sip, ayo kita berangkat," Ucap Queen seraya menyambar tas tangan dan kunci mobilnya.


__ADS_2