365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
49# Kembalinya masa lalu Raka


__ADS_3

Berbunga-bunga, tepatnya seperti itu. Sore ini, tanpa disangka-sangka, Raka menerima pesan dari Queen. Yang mengajak dirinya untuk bertemu disebuah restoran untuk makan malam.


Raka nyaris tidak percaya, ia berkali-kali melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


Queen


Hai, malam ini punya waktu? Aku berencana makan malam di All you can eat. So, bisa membantuku untuk mukbang semua yang ada disana?


Raka tersenyum semringah, ini adalah kali pertama Queen menghubungi dirinya terlebih dahulu.


Bisa. See you..


Balas Raka dengan cepat. Ia pun tersenyum dan langsung menghubungi Mirna untuk membatalkan segala rencananya pada malam ini.


Lalu, ia meminta asisten pribadinya untuk mempersiapkan pakaian yang akan ia kenakan pada saat makan malam bersama dengan Queen.


Saking semangatnya, Raka juga meminta asisten pribadinya untuk memesan buket bunga untuk Queen.


Raka merasa tidak sabar untuk segera bertemu dengan gadis impian nya itu.


Telepon di ruangan Raka pun berdering, saat ia sedang membayangkan makan malam yang seru bersama dengan Queen. Saat itu juga, lamunan nya tentang Queen terhenti. Lalu, ia melirik telepon yang ada di atas meja kerjanya.


Raka pun mengangkat panggilan tersebut. Terdengar suara Mirna yang berada di luar ruangan milik Raka.


"Halo Pak," Sapa Mirna.


"Ya,"


"Barusan saya dapat panggilan dari resepsionis. Katanya ada yang mencari Bapak dan memaksa ingin bertemu dengan Bapak."


Raka mengerutkan dahinya.


"Siapa?"


"Seorang perempuan Pak,"


"Iya namanya siapa?" Tanya Raka.


"Ibu Lala Pak,"


Deggggg...!

__ADS_1


Jantung Raka berdegup kencang saat mendengar nama yang disebutkan oleh Mirna.


"Ada keperluan apa?" Tanya nya lagi.


"Saya kurang tahu Pak. Hanya saja, Ibu Lala memaksa untuk bertemu."


Raka terdiam sejenak. Entah apa maksud Lala mendatangi dirinya.


Lala adalah mantan kekasih Raka saat berkuliah di Boston. Mereka sempat hidup bersama selama 3 tahun di Boston.


Sebenarnya, kisah cinta mereka begitu rumit. Mereka terpisahkan oleh orang ketiga. Yaitu, suami dari Lala saat ini.


Saat mereka kembali ke tanah air, Raka sudah berniat untuk mempersunting Lala. Karena apa yang sudah mereka lewati di Boston, Raka merasa harus bertanggung jawab dengan gadis itu. Lagi pula, Raka bukan lelaki bejat, ia memang mencintai Lala dan ia memang ingin hidup bersama dengan Lala di Indonesia.


Tiba-tiba saja Lala menjauh, setelah 4 bulan kembali ke tanah air. Raka tidak mengerti mengapa kekasihnya menjauh. Maka, ia berinisiatif untuk membuntuti Lala yang saat itu sudah bekerja di perusahaan Papi nya.


Tanpa Raka duga sebelumnya, setelah jam pulang kantor, Lala keluar bersama dengan seorang lelaki dengan penampilan yang rapi. Lelaki itu mengaitkan tangan nya di pinggang ramping Lala.


Emosi membara di hati Raka. Tetapi, ia berusaha untuk menahan rasa sakit itu semua. Raka memutuskan untuk mengikuti Lala yang ternyata memasuki sebuah restoran untuk makan malam.


Raka pun ikut masuk dan menyaksikan kemesraan Lala dan lelaki lain itu.


Tidak terima dengan perlakuan Raka, lelaki itu pun bangkit dan membalas pukulan Raka. Lala berteriak histeris, mencoba meminta bantuan kepada siapa saja yang sedang berada disana.


Beberapa orang pun berusaha menenangkan dua orang yang sedang baku hantam itu. Dua orang memegangi lelaki yang sedang bersama dengan Lala, empat orang memegangi Raka yang menggila karena melihat Lala bersama dengan lelaki lain.


"Cukup!" Lala berteriak lantang.


Raka menatap wajah Lala yang terlihat panik.


"Kamu..."


"Raka, kita akhiri semuanya. Aku akan bertunangan dengan Max," Ucap Lala.


Raka terbelalak, ia tidak mempercayai apa yang Lala katakan kepada dirinya.


"Bertunangan?" Tanya Raka dengan air muka yang tampak bringas.


"Ya, aku akan bertunangan dengan Max. Kita akhiri saja hubungan kita. Bersama pun tidak mungkin, aku tidak akan mampu menghadapi mulut tajam Ibumu!"


Raka terdiam, ia semakin tidak percaya dengan apa yang Lala katakan.

__ADS_1


"Ada apa dengan Ibuku?" Tanya Raka sambil menghempaskan tangan-tangan yang sedang menahan tangan dan tubuhnya.


"Aku sakit hati dengan ucapan Ibumu. Akhirnya aku memutuskan untuk mengenal Max lebih dekat dan aku jatuh cinta dengan Max. Orang tua Max juga sangat welcome dengan diriku. Mereka memperlakukan aku layaknya manusia. Tetapi Ibumu, tidak. Ia hanya bisa mencaci maki saja. Baginya, aku tidak sempurna dan meminta aku untuk pergi dari hidupmu."


"Dia juga merendahkan aku dengan selembar cek yang ia paksa untuk aku terima. Dia tidak tahu? Uang bagiku tidak ada artinya, aku dari kecil bergelimang harta. Aku juga orang kaya dan terhormat. Lalu, Ibumu itu bukanlah manusia. Selalu menganggap orang lain rendahan dan dapat dibeli!"


Raka terpaku, bibirnya pun bisu.


"Apa kurang ku? Apa karena aku etnis yang tidak ia inginkan? Apa karena aku kurang cantik? Dan bentuk tubuhku tidak ideal?"


Lala memang tidak begitu cantik, walaupun dia memang orang berada, tetapi gadis itu tidak ingin merombak wajahnya menjadi sempurna. Tinggi badan Lala pun hanya 155 sentimeter dan agak sedikit berisi, tepat nya Lala mungil dan menggemaskan. Gadis berkulit putih dengan senyuman yang khas itu sebenarnya sangat baik. Hanya saja, sikap nya berubah saat dirinya di datangi oleh Ibu dari Raka.


"Sekarang pergilah, kita sudah selesai. Turuti apa mau Ibumu. Cari wanita yang sempurna. Cari wanita yang seperti malaikat, seperti apa yang di mau Ibumu."


Raka habis kata-kata, ia merasakan sakit yang mendalam saat mendengar ucapan Lala. Tetapi, lebih merasa sakit lagi kepada sikap Ibunya yang diam-diam menemui Lala.


Tidak ada tatapan cinta lagi di mata Lala, semua hilang dan berganti oleh tatapan benci dan sakit hati.


Raka pun menerima semuanya, ia meninggalkan restoran itu dengan hati yang luka. Bahkan ia mengamuk dirumahnya dengan menghancurkan semua barang-barang koleksi Ibunya.


Raka frustasi, bukan hanya karena perpisahan dirinya dengan Lala. Tetapi, ia frustasi juga dengan sikap Ibunya yang sangat angkuh.


Namun, mengapa hari ini masa lalu itu datang kembali? Bukankah keputusan untuk berpisah, adalah dari Lala sendiri? Bukankah Lala sudah bahagia hidup bersama dengan suaminya Max dan anak mereka yang bernama Jonathan?


Mengapa? Ada apa?"


Pertanyaan itu terus muncul di benak Raka.


"Pak... halo... Bapak ganteng.." Sapa Mirna.


"Ah, ya?" Lamunan tentang Lala pun tersingkirkan karena Mirna yang masih di ujung telepon, memanggil Raka.


"Di terima atau tidak Pak?"


"Hmmm," Raka bingung akan menjawab apa. Ia begitu risau dengan kedatangan Lala yang tiba-tiba.


"Baiklah, suruh dia keruangan saya dan kamu segera siapkan makanan dan minuman untuk suguhan tamu saya," Perintah Raka.


"Baiklah Boss," Sahut Lala sebelum gadis itu mengakhiri panggilan tersebut.


"Lala, ada apa?" Gumam Raka.

__ADS_1


__ADS_2