
Tok! Tok!
Terdengar ketukan di ruangan Queen. Queen yang saat itu berada di kantor hotel miliknya pun, mempersilahkan orang yang mengetuk pintu ruangan nya untuk masuk.
Terlihat Hannah, seorang manager yang Queen pekerjakan untuk memanage hotel milik nya, masuk dengan wajah yang sedikit panik.
"Ada apa Hannah?" Tanya Queen yang sedang sibuk di depan laptop nya.
"Maaf Bu, ada beberapa orang bertubuh tegap dan seorang nyonya mencari Ibu."
"Tamu hotel?" Tanya Queen tanpa menatap Hannah, karena matanya terus tertuju ke layar laptop dan jarinya terus mengetik sebuah email yang akan ia kirimkan ke seorang rekan bisnisnya.
"Bukan Bu,"
"Terus?"
"Katanya nyonya itu adalah Ibunya Bapak Raka Bu,"
Jari jemari Queen yang sedang mengetik pun, terhenti. Ia mengangkat wajahnya dan menatap Hannah dengan tatapan yang bingung.
"Orang tua Raka?" Tanya nya tak percaya.
"Iya Bu. Tetapi, nyonya itu membawa beberapa orang bodyguard Bu."
Queen mengerutkan keningnya, ia tidak pernah mengenal Ibunya Raka. Tetapi, mengapa Ibunya Raka mencari dirinya dan tahu bila hotel ini adalah milik Queen?
Queen menutup laptopnya dan beranjak dari duduknya.
"Biar saya temui," Ucap Queen yang langsung beranjak untuk menemui Ibunya Raka.
.
Di lobby hotel bintang 3 itu, terlihat seorang wanita kelas atas yang duduk dengan anggunnya di atas sofa. Matanya terus melihat kesana kemari, wajahnya terlihat mencemooh hotel milik gadis yang di cintai anak nya, Raka.
Nyonya Amara menatap seorang gadis cantik, bak seorang model. Wajah blasteran gadis itu begitu mempesona. Tinggi nya dan postur badan nya yang begitu indah, membuat para bodyguard yang sedang mendampingi dirinya, menelan saliva mereka.
Rambut gadis itu yang berwarna cokelat gelap, tergerai dengan indah. Pakaian yang dipakai oleh gadis itu terlihat bermerk dan elegan. Gadis itu tersenyum kepada dirinya dengan manis.
"Selamat siang Ibu, saya Queen. Apakah Ibu, Ibunya Raka?" Tanya Queen dengan sopan.
Ibunya Raka mendongak melihat Queen yang tingginya jauh dibandingkan tinggi badan nya. Tercium aroma parfum malah dari tubuh wanita yang senyumnya bak bidadari dari kayangan.
__ADS_1
"Pantas saja Raka tergila-gila dengan gadis ini. Ternyata dia benar-benar cantik!. Tetapi, secantik apa pun dia, kalau dia membuat anak ku memberontak kepadaku, dia bukan lah tipe menantu idaman bagiku." Batin nyonya Amara.
Queen masih tersenyum menatap nyonya Amara, ia masih menunggu balasan salam dari wanita paruh baya itu.
"Ibu?"
Queen kembali menyapa nyonya Amara.
Nyonya Amara pun mengerjapkan matanya dan mulai memasang wajah yang angkuh.
"Kamu yang namanya Queen?"
"Iya saya Bu, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Queen sembari mempersilahkan nyonya Amara untuk kembali duduk di atas sofa.
"Saya tidak mau membuang-buang waktu saya yang sibuk. Saya hanya meminta kamu untuk jangan mengganggu anak saya, Raka. Dia akan saya nikahi dengan Lala, Ibu dari anak Raka, yaitu Jonathan. Jadi, tahu diri sedikit, kamu tidak pantas untuk anak saya," Ucap nyonya Amara.
Queen tersentak menderita ucapan nyonya Amara yang begitu angkuh. Ia menatap nyonya Amara dan mengerutkan keningnya.
"Maaf, maksud Ibu apa ya?" Tanya Queen masih dengan ekspresi bingung. Sedangkan manager hotel yang mendampingi Queen pun bersiap untuk pergi, karena ia merasa itu adalah urusan pribadi Boss nya tersebut. Hannah tidak ingin menguping pembicaraan yang menjurus penghinaan itu. Hannah takut sekali bila Queen akan salah tingkah dengan dirinya dan membuat hubungan antara atasan dan bawahan menjadi canggung.
"Kamu kurang jelas? Intinya, jangan ganggu anak saya. Dia akan segera menikah. Pergilah menjauh dari hidupnya. Kamu tidak pantas!" Lagi-lagi kata pemungkas itu keluar. Entah sudah berapa kali nyonya Amara ucapkan kepada para wanita yang sedang dekat dengan Raka dan selama ini selalu berhasil. Semua gadis yang ia gertak tidak lagi muncul di kehidupan Raka.
Queen tersenyum dan menatap nyonya Amara. Lalu, ia menghela nafas panjang.
"Bu, saya rasa Ibu salah alamat. Saya tidak mendekati anak Ibu. Tetapi, anak Ibu lah yang mendekati saya. Bila Ibu mau saya tidak berhubungan dengan anak Ibu, mengapa tidak Ibu larang saja anak Ibu untuk tidak lagi mendekati saya?" Queen mengatakan itu dengan wajah yang tampak tenang dan berwibawa. Tanpa mengurangi sopan santun nya sebagai orang yang lebih muda dari pada lawan bicaranya.
Nyonya Amara terbelalak, ia tidak menyangka dengan jawaban yang dilontarkan Queen kepada dirinya.
"Kamu..!"
"Maaf Bu, saya sibuk. Oh iya, bila Ibu ingin Raka menjauhi saya, ngomong saja sama orang nya langsung. Itu dia..." Ucap Queen seraya menunjuk ke arah pintu masuk hotel milik nya.
Nyonya Amara menoleh dan memandang Raka yang baru saja memasuki lobby hot itu.
Queen beranjak dari duduk nya dan bergegas kembali ke ruangan nya. Dadanya terasah sesak dan matanya mulai memerah.
"Queen!" Panggil Raka yang berlari menghampiri dirinya seraya tersenyum semringah memandang gadis impiannya itu.
Queen berusaha untuk tidak menoleh, ia terus berjalan menuju ruangan nya.
"Queen!" Panggil Raka lagi.
__ADS_1
"Raka!"
Raka menoleh kearah suara yang memanggil namanya.
Ia terperanjat saat melihat Ibunya dengan beberapa orang bodyguard menatap dirinya dengan wajah yang penuh amarah.
Raka menghentikan langkahnya, ia berdiri diantara dua orang yang ia sayangi. Yaitu Ibunya dan Queen yang terus berjalan menuju ruangan nya.
Raka memutuskan untuk berlari kearah Queen. Ia menghadang Queen yang terus berjalan meninggalkan lobby hotel itu.
"Queen..." Raka menahan lengan Queen dan menghadang Queen dengan tubuhnya yang atletis.
Queen menghentikan langkahnya dan memberanikan diri menatap Raka. Terlihat mata Queen yang tergenang air mata. Raka pun, langsung paham dengan apa yang terjadi antara Queen dan Ibunya.
"Queen, jangan dengarkan ucapan Ibuku ya..." Raka meraih kedua pundak Queen dengan wajah yang tampak tertekan.
Queen membalas tatapan mata Raka dan lalu menundukkan wajahnya. Air mata menetes tanpa bisa Queen tahan lagi. Gadis itu pun kembali memberanikan diri menatap Raka dan memberikan lelaki itu senyum terbaiknya.
"Raka, jangan dekati aku lagi. Ikuti apa kata Ibumu. Maaf, mulai saat ini, jangan ganggu aku lagi," Ucap Queen seraya melepaskan tangan Raka yang memegangi kedua pundak nya.
"Queen... aku bisa jelaskan.."
Queen tidak lagi menghiraukan Raka. Ia terus berjalan ke arah ruangan nya. Raka mencoba mengejar Queen, tetapi beberapa sekuriti menahan Raka agar tidak mengganggunya Queen.
Raka hanya bisa menatap Queen memasuki ruangan nya dengan wajah yang kecewa.
Dengan rasa amarah yang memuncak, Raka menatap nyonya Amara yang masih berdiri di tengah lobby hotel itu. Ia pun, menghampiri nyonya Amara dengan ekspresi wajah yang hendak membunuh wanita paruh baya itu.
"Puas? Ibu ingin aku gila? Atau aku mati saja!"
Nyonya Amara terdiam melihat ekspresi kehilangan dan amarah di wajah putra satu-satunya itu.
"Raka... Ibu hanya ingin yang terbaik untuk mu..."
"Ingin yang terbaik? Ibu Tuhan? Ibu mengatur siapa jodoh ku? Ibu mengatur setiap cerita dan hidup ku? AKU BENCI DENGAN IBU! IBU BUKAN MANUSIA!" Bentak Raka. Lelaki malang itu pun beranjak dari hadapan Ibunya yang terperangah melihat sikap Raka yang kini menjadi sosok pemberontak dimatanya.
"Raka!"
"Persetan dengan orang tua macam Ibu!" Teriakan Raka mengalihkan semua pandangan orang yang sedang berada disana.
Dengan hati yang hancur, Raka pun pergi meninggalkan hotel itu. Begitupun dengan Nyonya Amara, dirinya merasa hancur melihat Raka yang dulu penurut, kini menjadi Raka yang tidak lagi ia kenal. Raka benar-benar berubah, dia tidak lagi anak yang manis dan selalu menyetujui apa kata Ibunya.
__ADS_1