365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
76# Makna cinta


__ADS_3

Raka termenung di pinggir ranjangnya. Di tangan nya terselip foto Jonathan yang tersenyum lebar kearah kamera. Bocah lucu dan tampan itu begitu membekas di hati semua orang. Termasuk Raka yang baru saja dekat dengan Jonathan.


kehilangan yang terlalu cepat membuat siapa saja terpuruk. Tidak hanya Raka, pun nyonya Amara yang juga terdiam di ruang tamu rumah Raka. Wanita paruh baya itu menatap foto cucunya yang telah tiada.


Penyesalan demi penyesalan terus hinggap dihatinya. Ia merasa dirinyalah yang membuat semua ini menjadi seperti di situasi saat ini. Nyonya Amara pun sudah menyadari betapa kejam nya ia kepada Raka. Sudah berkali-kali anak nya itu hampir saja menikah, namun selalu gagal. Tetapi, ia terus menuntut Raka untuk menikah. Bukankah itu hal yang membingungkan bagi Raka?


Nyonya Amara beranjak dari duduknya dan bergegas bertemu Raka di kamarnya. Ia membuka pelan, pintu kamar Raka yang tertutup rapat.


Nyonya Amara melihat Raka dengan wajah penuh kesedihan yang duduk di tepi ranjang. Nyonya Amara menghela nafas dan beranjak mendekati Raka dengan perlahan.


Lalu, ia menghentikan langkahnya tepat di hadapan Raka. Nyonya Amara pun berjongkok di hadapan raka, wajahnya menengadah keatas.


Raka menatap wajah Ibunya dengan wajah yang dingin. Mata sembab nya terlihat begitu pilu.


"Raka, Ibu berjanji.. mulai saat ini, kejarlah apa yang mau kamu kejar. Hidup ini milik mu. Ibu minta maaf bila selama ini Ibu selalu mengatur kamu. Menggagalkan segala rencana masa depan mu."


"Nak, Ibu tidak patut di panggil Ibu. Ibu menyesal. Ibu lah orang yang paling menekan mu selama ini. Dari kejadian ini, Ibu bisa mengambil hikmahnya. Sekali lagi, Ibu sangat-sangat menyesal."


Raka menatap Ibunya dan menghela nafas panjang. Lalu, ia meraih kedua bahu Ibunya yang sedang berjongkok dihadapan nya dan memeluknya dengan erat.


"Aku sudah memaafkan Ibu. Ibu tidak perlu melakukan itu semua," Ucap Raka seraya membantu nyonya Amara untuk bangkit dan duduk bersama dengan nya di tepi ranjang.


Nyonya Amara menangis tersedu-sedu. Entah bagaimana caranya ia melukiskan penyesalan nya. Tragedi ini membuat dirinya tersadar, sesadar-sadarnya. Bila menggenggam terlalu erat, maka hanya rasa sakit lah yang tersisa.


"Kamu mencintai Queen? Kejarlah dia nak. Ibu setuju dengan gadis itu. Dia wanita berkelas dan sangat cantik. Tutur katanya nya sopan dan berpendidikan. Bisa dibilang, dia menantu idaman Ibu. Hanya saja, Ibu terpengaruh dengan keadaan saat itu. Jadi Ibu memutuskan untuk menyingkirkan dia dan mendukung kamu dengan Lala, demi Jonathan. Sekarang, kamu bebas nak. Kejar cinta mu, jangan lepaskan lagi."


Raka tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya.


"Queen sudah membenciku. Dia tidak ingin bertemu dengan ku lagi Bu."


Nyonya Amara terdiam, lagi-lagi ia merasa berdosa kepada Raka. Lagi-lagi ia memutuskan rencana masa depan dan impian putra satu-satunya itu.


"Raka... Ibu minta maaf..."


"Sudahlah Bu.." Potong Raka ia tersenyum dan memeluk nyonya Amara dengan erat.


"Bagiku, Ibu sudah berubah lebih baik, aku sudah cukup bahagia. Masalah Queen, dia hanya bisa di gapai dengan doa-doa. Dia bukan wanita biasa, dia adalah wanita yang terbaik yang pernah aku kenal. Kalau tidak dengan campur tangan Tuhan, sudah pasti dia tidak akan tergapai," Ucap Raka.


Nyonya Amara terdiam, ia baru tahu kwalitas Queen sebagai seorang wanita. Tentu saja Raka tidak akan menaikan pamor atau menurunkan pamor Queen. Raka mengatakan apa adanya tentang Queen. Sudah dipastikan nyonya Amara akan menyesal bila Queen tidak menjadi menantunya.


"Berdoa perlu, tapi berusaha harus. Berdoa tanpa berusaha, hasilnya tetap Nol, Raka."


Raka melirik nyonya Amara, entah mengapa ia mendapat semangat dari ucapan yang dilontarkan nyonya Amara barusan.


"Berusaha lah anak ku, dia belum milik siapa-siapa. Jadi, masih ada kesempatan untuk dirimu menggapainya. Ibu juga ingin bertemu dengan nya dan meminta maaf kepada dirinya. Sekarang, kejarlah dia sampai Tuhan mengatakan, dialah jodohmu."


Kepercayaan diri Raka kembali pulih saat mendengar ucapan nyonya Amara. Ia pun beranjak dari duduknya dan menghela nafas panjang.


"Kita sholat dulu yuk Bu, doa Raka di tambah doa Ibu, mungkin Allah akan mengubah garis takdir untuk Raka."


Mendengar ucapan Raka, nyonya Amara tersenyum semringah. Ia mengangguk dan menggandeng tangan anak satu-satunya itu. Mereka pun melaksanakan sholat berjamaah di kamar Raka.


..


Pukul 20.00, Queen sudah siap dengan koper nya untuk berangkat ke Bandara. Terlihat Athar juga sudah bersiap-siap untuk mengantarkan kakak nya itu ke Bandara. Athar yang masih sibuk dengan jaket dan mencari kunci mobilnya, membuat Queen merasa gemas.


"Lama amat sih!" Keluh Queen yang sudah berdiri di ambang pintu.


"Sabarrrr... aku lupa dimana kunci mobilnya." Keluh Athar sambil merogoh kantung celana dan jaket nya.


"Belum juga menikah, sudah pelupa," Celetuk Bunda sambil menenteng kunci mobil Athar.

__ADS_1


"Nih... ada di atas meja makan. Kunci mobil kok di taruh sembarangan,"


"Eh iya, terima kasih ya Bun," Ucap Athar sambil tersenyum salah tingkah.


"Hati-hati kamu nyetirnya. Jangan kayak pembalap."


"Iya Bun... tenang.."


"Ingat, kamu akan menikah. Kalau terjadi apa-apa nanti gimana?"


"Siap Boss!" Athar memberikan hormat seperti saat upacara bendera.


"Lebay deh..." Bunda tertawa dan mencubit pipi Athar dengan gemas.


"Queen... kamu hati-hati ya nak. Jangan meleng, nanti takutnya kenapa-kenapa barang bawaan kamu. Terus juga jangan percaya dengan siapa pun. Handphone, laptop dan surat-surat penting di masukan ke tas khusus kalau jalan-jalan. Jangan sampai memancing perhatian orang jahat."


"Iya Bunda..." Queen menghampiri Bunda dan mengecup kedua pipi Bunda. Lalu, ia memeluk Bunda dengan erat.


Ayah yang baru saja keluar dari kamarnya pun turut menghampiri Queen dan memeluk buah hatinya itu.


"Nak, jangan lama-lama terpuruk. Segera bangkit, lari dari kenyataan sesaat untuk menghibur diri tidak apa-apa. Tapi kamu harus tetap ingat, kami menunggu mu dirumah," Bisik Ayah.


Mata Queen berkaca-kaca saat mendengar ucapan Ayah sambungnya itu. Ia melepaskan pelukan Ayah dan memandangi wajah Ayah yang sudah mulai menua.


"Iya Ayah." Ucap Queen seraya tersenyum manis kepada Ayah.


"Ayah tahu gak, hal yang paling Queen syukuri?"


"Apa?" Tanya Ayah penasaran.


"Memiliki Ayah didalam hidup Queen."


Kini mata Ayah lah yang berkaca-kaca menahan tangis haru. Ia mengusap puncak kepala Queen dan memberikan senyum terbaiknya kepada gadis itu.


Queen mengangguk dan tersenyum walaupun air mata nyaris terjatuh di pipinya.


"Hmmm, Queen berangkat dulu ya Bun, Ayah..."


"Iya hati-hati ya.." Ucap Ayah dan Bunda.


Athar membantu Queen menarik koper kakaknya itu dan memasukan nya kedalam bagasi mobil. Lalu, ia beranjak masuk kedalam mobil dan menyalakan mesin mobil itu.


Sedangkan Queen melambaikan tangannya sebelum menyusul Athar masuk kedalam mobil yang akan mengantarkan dirinya ke Bandara pada malam ini.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam, jangan lupa sholat ya nak...!" Pesan Bunda yang tampak berat melepaskan kepergian Queen seorang diri.


"Insya Allah Bun." Sahut Queen seraya memasuki mobil itu.


Queen melambaikan tangannya dan dibalas lambaian tangan juga oleh Ayah dan Bunda.


Mobil yang dikendarai Athar mulai melaju meninggalkan kediaman milik Ayah Andra itu.


"Semoga semua baik-baik saja ya Bun,"


"Iya Yah, lebih baik lagi Ayah segera transfer Bunda."


Ayah membulatkan matanya dan menatap Bunda dengan tak percaya.


"Transfer?"

__ADS_1


"Iya, tadi katanya mau transfer buat beli skincare...!" Bunda menekuk wajahnya dan mengerutkan dagunya.


"Waduhhhh..!" Ayah memukul pelan dahinya dan beranjak ke dalam rumah.


"Kok kabur sih Yah..."


"Bukan kabur.. Ayah tuh bingung.. kapan Ayah bilang transfer?"


"Tadi waktu Bunda belanja, kan Ayah yang janji.."


"Yang mana ya?" Ayah pura-pura lupa dan tampak sedang berpikir keras.


"Halah, mulai deh drama nya...!"


"Bunda kok gak lupa sih?" Tanya Ayah sambil tersenyum jahil.


"Perempuan mana yang lupa sama duit? Gak ada!"


Ayah terkekeh mendengar ucapan Bunda dan melihat ekspresi kekasih halal nya itu, yang tampak lucu dimatanya.


"Iya, iya, Ayah transfer." Ayah meraih ponselnya dan hendak mengirimkan beberapa jumlah uang untuk Bunda.


"Sekalian mau beli tas, sama sepatu. Oh iya, uang bulanan juga belum Ayah transfer." Bunda tersenyum malu-malu. Sedangkan Ayah hanya bisa melirik dan menghela nafas panjang.


"Tuh," Ayah memperlihatkan bukti transfer dari ponselnya.


"Asikkkkk...! Bunda melompat ke pangkuan Ayah dan mengecup bibir Ayah dengan lembut.


"Makin cinta makin sayang, makin segalanya deh sama Ayah."


"Alah gombal!" Ayah menaruh ponselnya ke atas meja dan menatap wanita yang sudah mendampingi dirinya selama ini.


"Kamu makin cantik sih?"


"Sekarang kamu yang gombal," Ucap Bunda seraya tertawa geli.


"Enggak, gak gombal. Suer semakin cantik."


"Ada maunya ini mesti ya?" Bunda menatap Ayah dengan tatapan menyelidik.


"Kalau ada maunya ya setiap hari. Tapi ini jujur loh sayang..."


"Hmmmm, aku tetap cantik, karena aku bertemu lelaki yang tepat. Coba kalau sama lelaki yang tidak tepat. Aku pasti lebih cepat tua dan jelek," Ucap Bunda sambil mengusap kedua pipi Ayah.


Ayah tersenyum dan mengecup bibir Bunda dengan lembut dan bergairah.


"Gak ada anak-anak disini yuk,"


"Ngawur saja, ada si mbak tau!"


"Oh iya, kalau begitu di kamar," Ucap Ayah dengan malu-malu.


Bunda tertawa dan menggelengkan kepalanya. Lalu, ia mengikuti Ayah yang menuntun dirinya ke kamar.


"Pasti deh... kalau habis transfer modus di jalankan..."


Ayah dan Bunda cekikikan berdua sambil mengendap-endap menuju ke kamar.


...


“The beauty of marriage is not always seen from the very beginning but rather as love grows and develops over time.” — Fawn Weaver

__ADS_1


(Keindahan pernikahan tidak selalu terlihat dari awal tetapi lebih sebagai cinta yang tumbuh dan berkembang dari seiring waktu.)


__ADS_2