365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
60# Pertemuan Lala dan nyonya Amara


__ADS_3

Nyonya Amara sedang duduk dihalaman belakang rumahnya. Ia mendengarkan suara burung-burung peliharaan nya yang terus berkicau di pagi hari ini. Segelas teh hangat dan beberapa sandwich menemani dirinya bersantai pagi ini.


"Maaf nyonya, ada yang mencari nyonya," Ucap Salah satu asisten yang bekerja di rumah mewah milik Ibunda dari Raka tersebut.


Nyonya Amara yang masih menggunakan piyama tidur nya pun menoleh dan menatap asisten nya sambil mengerutkan keningnya.


"Mencari saya? Pagi-pagi seperti ini? Manusia seperti apa, pagi-pagi bertandang kerumah orang lain?" Ucap Nyonya Amara.


"Siapa namanya?" Sambungnya lagi.


"Namanya Lala, nyonya," Ucap asisten itu.


Nyonya Amara mengerutkan keningnya, mencoba mengingat nama yang baru saja disebutkan oleh asisten nya.


"Lala? Lala siapa?" Tanya nya lagi.


"Saya tidak tahu nyonya. Orang nya sedikit berisi dan tidak begitu tinggi," Ucap asisten itu.


Nyonya Amara memutar bola matanya dan lalu menatap asisten nya dengan malas.


"Eh! Ciri-ciri irang seperti itu banyak. Aku tidak tahu siapa Lala. Kamu usir saja! Mengganggu sekali..!" Ucap nyonya Amara dengan kesal.


"Saya mau bicara!"


Nyonya amara dan asisten nya menoleh kearah sumber suara tersebut.


Mendadak, nyonya Amara mengingat siapa wanita yang sedang berjalan menghampiri dirinya itu.


"Ohhh... kamu..." Ucap nyonya Amara sambil tersenyum mencemooh Lala.


Lala membalas senyuman nyonya Amara dengan wajah yang terlihat santai dan berani.


Nyonya Amara mengibaskan tangannya ke arah asisten nya, tanda ia ingin asisten nya menyingkir dari sana.


Asisten itu pun membungkuk dan beranjak pergi meninggalkan nyonya Amara dan tamu yang tak diundang itu.


"Saya lupa-lupa ingat dengan kamu. Bukan nya kaku gadis yang dicampakkan oleh anak saya, Raka ya? Dan dengar-dengar kamu sudah menikah dan sudah memiliki anak. Lalu, mengapa kamu dengan muka tebal datang ke kediaman saya tanpa di undang?" Tanya nyonya Amara sambil senyum mengolok.


Lala tersenyum simpul, lalu ia duduk tanpa di persilahkan sebelumnya oleh nyonya Amara.


Nyonya Amara terlihat kesal dengan ketidak sopan santunnya sikap Lala.


"Wanita tidak tahu malu seperti kamu itu memang tidak ada adab nya ya.. Belum disuruh duduk sudah duduk duluan. Tapi, apa boleh buat. Ada hal apa yang membuat kamu dengan tidak tahu malu datang menemui saya?" Tanya nyonya Amara.


Lala mengeluarkan selembar foto dari dalam tas nya dan meletakkan nya di atas meja. Lalu, ia mendorong foto itu tepat di depan nyonya Amara.

__ADS_1


"Apakah anda merasa bocah di dalam foto itu sangat mirip dengan Raka?" Tanya Lala sambil tersenyum.


Nyonya Amara melirik foto yang berada di atas meja tersebut. Todak bisa ia pungkiri, bocah didalam foto itu mirip sekali dengan Raka saat masih seusia dengan bocah itu.


"Maksud mu apa?" Tanya nyonya Amara. Ia tidak mau banyak basa basi dengan wanita yang pernah ia singkirkan dari hidup Raka itu.


"Dia adalah cucu anda, anak kandung saya dan Raka."


Deggggg...!


Nyonya Amara tampak terkejut, sedangkan Lala tersenyum puas melihat ekspresi wanita paruh baya itu.


"Apa kamu sudah gila? Anak dari mana? Jangan mengaku-ngaku ya.. Kamu mau duit? Sudah miskin? Bilang...! Tetapi, jangan lakukan segala yang kotor terhadap keluarga saya. Apa lagi itu Raka, anak ku!"


Lala terkekeh melihat kepanikan nyonya Amara. Ia tahu betul nyonya Amara sangat menginginkan cucu dari Raka yang sampai saat ini masih melajang.


"Silahkan di test DNA. Saya tidak keberatan. Oh iya, nama anak kami adalah Jonathan. Raka sudah tahu, dan saya sendiri yang memberitahukan nya. Selama ini saya diam karena ingin menghukum anda yang semenamena dengan saya. Tetapi, berhubung Jonathan sedang sakit, saya menyerah. Saya memperkenalkan Jonathan kepada keluarga kandung nya, termasuk anda."


Nyonya Amara terbelalak, ia meraih foto tersebut dan mencoba mencari tahu, apakah foto tersebut editan atau bukan.


Nyonya Amara pun memanggil seorang asisten dan memintanya untuk membawa foto itu kepada ahli fotografi, untuk di periksa keaslian nya.


Lala tersenyum puas melihat sikap panik nyonya Amara. Lalu, ia mengeluarkan sebuah kartu nama dan kembali menyodorkan nya di depan nyonya Amara.


"Kalau ingin bertemu cucu anda, silahkan hubungi saya dulu." Ucap Lala. Lalu, wanita itu beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan rumah tersebut.


"Bagaimana bisa Raka memiliki anak dari wanita gila itu?" Gumam nyonya Amara.


...


Pagi ini, Raka terlihat sangat bersemangat. Ia yang baru saja selesai mandi, memilih kaos di lemarinya..Ia juga meraih sebuah celana jeans favorit nya yang akan ia pakai untuk menemui Queen pada pukul 9 pagi ini.


Setelah selesai berpakaian, Raka pun merapikan rambutnya dan memakai pelembab di wajahnya. Tidak lupa ia menyemprotkan parfum favorit nya di bagian titik tubuh nya.


Raka yang merasa sudah terlihat perfect pun, tersenyum menatap bayang dirinya di cermin. Lalu ia menyambar kunci mobilnya dan bergegas untuk pergi menjemput Queen yang tengah berada di hotel milik gadis itu.


Raka dan Queen berencana untuk pergi ke suatu tempat. Tepat nya di barat Kota Jakarta. Mereka ingin menghabiskan hari Minggu ini berdua saja di sebuah pantai.


Walaupun tidak ada kata sepakat untuk berpacaran, namun Raka dan Queen mulai sangat dekat. Queen sudah mulai membuka dirinya kepada Raka sejak Ayah Andra menasihati putrinya itu.


Sedangkan Raka merasa sangat bahagia melihat Queen yang tidak lagi mengabaikan dirinya.


Raka membuka pintu kamarnya, saat itu juga ia terkejut melihat Ibunya sudah berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah yang datar.


Tanpa dipersilahkan, Ibunya yang tinggal terpisah dengan Raka pun, menerobos masuk kedalam kamar Raka.

__ADS_1


"Ada apa Ibu datang kesini sepagi ini?" Tanya Raka dengan wajah yang datar.


Nyonya Amara pun mengeluarkan foto Jonathan dan menunjukkan nya kepada Raka.


"Ini bukan foto editan. Dimana anak ini berada sekarang!" Ucap nya dengan wajah yang terlihat kesal dengan Raka.


Raka menatap foto Jonathan dan terlihat gugup. Ia belum memberitahukan Ibunya masalah Jonathan. Lalu, Ibunya tahu dari mana? pertanyaan itu langsung menerpa otak Raka.


"Ibu dapat dari mana foto Jonathan?" Tanya Raka yang berusaha untuk tenang.


"Lala datang menemui Ibu. Sekarang juga Ibu mau bertemu dengan anak itu."


Mata raka terbelalak mendengar ucapan Ibunya.


"Lala?" Tanya nya tak percaya.


"Iya, dia datang dan menantang Ibu. Sampai dia bersedia untuk test DNA. Tidak ada gentar sama sekali di matanya. Sekarang kamu jawab dengan jujur, apa kalian pernah melakukan nya?"


Raka memijat dahinya dan beranjak duduk di tepi ranjang.


"Raka! Mengapa kamu tidak katakan bila dia tengah mengandung anak mu? Malah kamu biarkan dia menikah dengan orang lain!"


Raka menatap Ibunya dengan penuh kebencian. Ia pun beranjak dari duduk nya dan menghampiri Ibunya dengan mimik wajah yang terlihat seperti akan memakan Ibunya hidup-hidup.


"KALAU BUKAN KARENA IBU, LALA TIDAK AKAN MENIKAH DENGAN ORANG LAIN!" Ucap Raka dengan nada suara yang tinggi.


Nyonya Amara terkejut dan terperangah melihat betapa kasarnya Raka kepada dirinya.


"Kamu menyalahkan Ibu?" Tanya nyonya Amara, tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.


"Iya! Terus siapa yang salah? Aku? Lala? Atau adanya anak itu? Apa Ibu sadar? Selama ini aku selalu gagal dalam urusan asmara, itu semua karena IBU!"


Nyonya Amara terdiam membisu. Ia mematung di depan Raka.


"Ibu ingin aku menikah secepatnya. Tetapi, tidak satupun wanita yang perfect di mata Ibu. Sekarang Ibu mau apa? Mengambil Jonathan? Dia lagi sakit Bu! Kita tidak mungkin mengambil Jonathan, sedangkan aku tidak ada hubungan hukum dengan anak kandung ku sendiri! Dalam hukum, dia anak suaminya Lala! Hanya Lala dan suaminya lah yang berhak terhadap Jonathan!"


"Aku lelah menuruti segala keinginan Ibu. Bila aku harus di cap sebagai anak durhaka, durhaka lah..! AKU TIDAK PEDULI!" Ucap Raka dengan mata yang memerah. Lalu, ia pun bergegas untuk pergi.


"Raka! Ibu tahu bagaimana cara mengambil Jonathan. Apakah kamu masih mencintai Lala? Nikahi dia dan kalian otomatis bisa memiliki Jonathan bersama-sama," Ucap nyonya Amara.


Raka yang sedang melangkah menuju ke arah ruang tamu pun, menghentikan langkahnya. Ia menoleh dan menatap Ibunya dengan seksama.


"Terlambat, aku tidak mencintai Lala lagi. Masalah Jonathan, kami bisa merawatnya secara bergantian." Tegas Raka.


"Tapi Raka, Ibu ingin memiliki anak itu. Ibu akan melakukan apa saja demi kesembuhan cucu Ibu."

__ADS_1


Raka tersenyum kecut mendengar ucapan nyonya Amara.


"Hal pertama yang Ibu lakukan adalah bertobat. Jangan pernah menilai rendah siapa saja, jangan pernah merendahkan pilihan ku. Biar tidak ada penyesalan-penyesalan lain nya dikemudian hari," Ucap Raka. Lalu, ia pun pergi meninggalkan nyonya Amara begitu saja.


__ADS_2