365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
32# Queen, kamu dimana?


__ADS_3

Queen merebahkan tubuhnya diatas ranjang saat ia baru saja tiba di kamar hotel nya. Matanya memandang lurus ke langit kamar, ia terlihat seperti punya beban pikiran yang sedang mengusik nya.


Tika menghampiri Queen dan ikut merebahkan tubuhnya di samping Queen, lalu gadis itu menatap Queen yang masih menatap langit-langit kamar hotel itu.


"Lu tau gak, kalau dia itu ternyata mantan nya Naysilla." Tanya Tika.


Queen menoleh dan menatap Tika dengan seksama.


"Naysilla siapa?" Tanya Queen dengan wajah yang penasaran.


"Lu gak tau sih dunia olahraga, dia itu atlet selancar yang meninggal karena bunuh diri," Terang Tika.


"Hah! Kok bisa?" Queen beranjak duduk di atas ranjang dan menatap Tika yang masih tergeletak di atas ranjang.


"Makanya, lu banyak-banyak deh ngobrol sama dia. Orang nya asik kok kalau diajak ngobrol. Gue ye.. ibaratnya baru aja kenal kemarin, dia sudah bisa akrab sama gue. Eh Queen, kenapa sih lu bersikap dingin sama dia?" Tika beranjak duduk dan menatap Queen yang terlihat salah tingkah.


"Gue bingung Tik, gue sama dia baru aja kenal kan. Baru dua minggu loh,"


"Lah, terus lu pikir yang sudah kenal lama bisa bahagiain elu juga?"


"Tik..."


"Queen, sudah saatnya elu itu fokus sama masa depan. Pikirin hati lu dong, kelamaan kosong nanti ada setan nya," Ucap Tika.


"Tik... lu lihat si Ricky kayak apa? Itu akibat gue terlalu percaya sama orang baru!"


"Tapi gak semua orang baru yang datang dalam hidup lu itu brengsek Queen! Jangan bilang lu takut gagal lagi lah, tetekbengek lah... basi! Hidup itu untuk berjuang! Hidup untuk melihat hal yang positif dan maju kedepan Queen. Lu mau jalan di tempat!"

__ADS_1


Queen terdiam, ia menatap Tika yang terlihat emosi saat berbicara kepada dirinya. Air mata mengembang di pelupuk matanya.


"Gue hanya mau bilang, ini belum saatnya," Ucap Queen sambil beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar tersebut.


"Queen!" Panggil Tika. Tetapi, gadis itu mengabaikan panggilan tersebut. Ia berjalan di lorong hotel dengan derai air mata di pipinya.


Entah apa yang ditangisi oleh Queen. Sebenarnya ia tidak marah dengan Tika, apa yang dikatakan Tika, semua adalah kebenaran. Hanya saja, ia terlalu merasa dirinya pengecut. Ia tidak berani mengambil resiko lagi didalam hidupnya. Ia benar-benar merasa lelah dan liburan ini bukan lah untuk membahas hal-hal yang sangat ingin ia hindari. Tetapi, Tika terus menerus membahas hal yang membuat dirinya tidak nyaman. Itulah alasan Queen mengapa ia pergi dari kamar nya dan Tika.


Queen berjalan kaki di gemerlap nya Kota Seoul saat senja. Salju terus turun dan suhu mulai meningkat. Tetapi, Queen tidak peduli. Ia hanya ingin menghindari Tika untuk saat ini. Ia pun berjalan tanpa tentu arah.


Queen berhenti di sebuah coffe shop, lalu ia pun memutuskan untuk masuk kedalam cafe tersebut. Queen memilih duduk di sudut ruangan cafe itu, tepat di sebelah jendela kaca yang menawarkan pemandangan jalanan Kota itu.


Saking dinginnya, mulut Queen terlihat berasap saat meminta segelas kopi panas kepada seorang pramusaji. Queen juga sengaja menambah makanan kecil di pesanan nya, untuk menemani dirinya yang sedang duduk seorang diri disana.


Setelah memesan apa yang ia inginkan, Queen menatap keluar jendela. Terlihat beberapa pasang kekasih sedang berjalan kaki sambil bergandengan tangan. Senyum bahagia terlihat di wajah mereka yang sedang berbincang melintas di sana.


"Seperti di drama Korea." Gumam nya. Tatapan nya terus melihat pasangan-pasangan yang melintas di depan coffee shop itu.


Tidak berapa lama kemudian, pesanan Queen pun datang. Ia mengucapkan terima kasih kepada pramusaji dan kembali tenggelam dalam pikirannya.


...


Di hotel, Tika tampak gelisah. Ia mondar-mandir di lobby hotel sambil terus menghubungi Queen.


Terlihat Raka yang baru saja keluar dari lift dan berjalan menuju ke arah Tika. Wajah cemas tidak bisa disembunyikan dari wajah lelaki tampan itu.


"Sudah bisa menghubungi Queen?" Tanya Raka saat ia baru saja menghentikan langkahnya di depan Tika.

__ADS_1


Dengan wajah penuh penyesalan, Tika menggelengkan kepalanya. Mata Tika memerah, menahan tangis. Ia sangat khawatir kepada Queen, sahabat nya yang sangat ia sayangi.


"Kamu tenang ya, biar aku saja yang mencari Queen." Ucap Raka.


"Serius lu mau cari dia, jujur, gue pengen cari Queen. Tapi, gue tahu dia lagi marah sama gue dan gue kurang hafal sama Kota ini. Maklum lah, gue baru sekali ke Korea," Ucap Tika. Kini air mata mulai mengalir di sudut matanya.


"Iya, aku janji, aku pasti akan cari Queen sampai dapat." Ucap Raka sambil memegang kedua pundak Tika yang berdiri di depannya.


Tika pun mengangguk dan menatap Raka dengan penuh harapan.


"Lu hati-hati ya, kalau gak ketemu kita laporkan ke polisi aja ya,"


"Iya, sudah tenang saja, paling Queen gak akan jauh-jauh dari hotel ini. Aku pergi dulu ya," Raka pun berjalan dengan tergesa-gesa keluar dari gedung hotel itu. Sedangkan Tika terlihat cemas dan menyesal dengan apa yang sudah ia ucapkan kepada Queen.


Tika sadar, Queen adalah tipe wanita yang terlalu setia. Kekurangan dari orang setia cuma satu, ia terlalu lama larut dalam kekecewaan dalam hubungan yang telah berakhir. Itulah yang dialami oleh Queen. Bukan karena Queen tidak mau menyembuhkan rasa sakit nya. Hanya saja, memang benar, terlalu cepat untuk mencintai Raka setelah ia merasa kecewa dengan Ricky.


"Gue egois banget sih, gue melukai hati teman gue sendiri. Walaupun apa yang gue katakan itu benar, tapi memang ini terlalu cepat... dan itu gak pantes," Tika terduduk lemas di sofa lobby hotel itu. Ia mengusap air mata yang mengalir di kedua pipinya.


"Queen, elu dimana sih.... maafin gue Queen... Ya Allah, semoga Raka bisa bertemu dengan Queen. Jangan sampai masalah ini berakhir ke kantor polisi. Kalau Queen hilang gimana? Ya Allah....." Tika mengacak-acak rambutnya sendiri. Lalu, ia beranjak dari duduk nya dan kembali ke kamarnya, untuk mengambil mantel yang tidak sempat ia ambil karena ia terburu-buru mengejar Queen.


..


Raka berjalan menerobos hujan salju yang mulai lebat. Matanya terus memperhatikan semua orang yang berada di jalan itu, atau pun di seberang jalan. Sudah 20 menit ia berjalan, mencari di toko atau di cafe-cafe sekitar hotel, tetapi ia tidak kunjung menemukan Queen.


Raka tahu apa yang harus ia lakukan. Mencari di satu arah saja, memungkinkan ia tidak akan bertemu dengan Queen. Maka, Raka pun kembali ke arah hotel dan mencari di jalan yang berlainan arah dengan jalan itu.


"Queen, kamu dimana?" Batin Raka yang terlihat panik saat mencari gadis yang baru ia kenal 2 minggu yang lalu itu.

__ADS_1


__ADS_2