
"Assalamualaikum," Semua mata pun tertuju ke arah suara yang baru saja mengucapkan salam kepada mereka yang sedang berkumpul di ruang tamu.
"Ayah!" Queen terlihat terkejut saat melihat Ayah Gunawan datang mengunjungi dirinya. Tidak biasanya Ayah Gunawan datang tanpa mengabari dirinya sama sekali.
Queen pun melirik Ayah Andra dan menatap nya dengan tak percaya.
"Hhhhhaaaaaaaahhh... ini pasti kelakuan Ayah Andra!" Gumam nya.
Sedangkan Ayah Andra terlihat sangat bersemangat melihat kedatangan mantan atasannya itu.
"Waalaikumsalam, apa kabar Pak?" Ayah Andra beranjak dari duduknya dan datang menghampiri Ayah Gunawan.
"Baik-baik, Alhamdulillah.. Apa kabar?"
"Saya baik, Alhamdulillah. silahkan duduk Pak. Oh, iya, ini perkenalkan, lelaki yang sedang mendekati Queen." Ucap Ayah Andra seraya menunjuk Raka.
Raka terpaku, menatap dua orang Ayah Queen sedang berdiri dihadapan nya.
Perlahan, Raka beranjak dari duduknya, ia pun memberanikan diri untuk berjabat tangan dengan Ayah Gunawan. Tangan nya yang masih terasa ngilu, karena hampir saja di remuk kan oleh Ayah Andra pun terasa gemetar saat menjabat tangan Ayah Gunawan.
Semakin lama, tangan Ayah Gunawan pun terasa semakin erat menggenggam tangan Raka.
"Siapa namamu?"
"Saya Raka Pak," Sahut Raka seraya tersenyum canggung.
Genggaman tangan terasa semakin menyiksa Raka. Walaupun genggaman tangan Ayah Gunawan tidak seerat genggaman Ayah Andra, karena Ayah Gunawan memang sudah tidak begitu bertenaga lagi seperti Ayah Andra, tetapi tetap saja masih terasa menyakitkan, karena tangan Raka masih terasa sakit karena genggaman tangan dari Ayah Andra.
"Ayah..." Queen langsung beranjak dari duduk nya dan menghampiri Ayah kandungnya itu. Lalu, ia menarik tangan Ayah Gunawan hanya untuk menyelamatkan Raka yang sudah mulai tampak tersiksa.
"Ah, anak Ayah," Ucap Ayah Gunawan seraya melepaskan jabatan tangannya dari Raka dan memeluk Queen dengan erat.
"Apa kabar Ayah?"
"Baik, kamu apa kabar? Katanya kamu baru pulang dari liburan ya? Ayah kok tidak diajak?"
"Hahaha, liburan dadakan Yah, kabar ku baik," Sahut Queen.
"Mas," Sapa Bunda kepada Ayah Gunawan.
"Farah, apa kabar?"
"Baik Mas," Sahut Bunda yang masih tetap terlihat canggung dengan Ayah Gunawan, walaupun masalah mereka sudah berlalu berpuluh tahun yang lalu.
"Om," Sapa Athar dan menyalami Ayah Gunawan.
"Wah... anak bujang yang sebentar lagi melepas lajang. Gimana? lancar semuanya?"
"Alhamdulillah Om," Sahut Athar seraya tersenyum kepada Ayah Gunawan.
"Silahkan duduk Mas," Ucap Bunda kepada Ayah Gunawan.
Ayah Gunawan pun duduk di samping Raka. Sedangkan suasana bagi Raka pun semakin menegangkan.
__ADS_1
"Hmmm, Athar pamit dulu ya semua. Soal nya mau ke cafe," Ucap Athar seraya berpamitan kepada semua yang ada di ruangan itu.
"Loh kok buru-buru?" Tanya Ayah Gunawan.
"Iya Om, mau tutup cafe. Jadi ini kan akhir bulan, mau audit dulu. Harus nya sih dari tadi. Maaf ya Om," Ucap Athar seraya bersiap-siap untuk pergi.
"Ok deh, sukses selalu ya Athar."
"Terima kasih Om," Sahut Athar seraya kembali menyalami Ayah Gunawan dan semua yang berada disana.
Setelah Athar pergi, Bunda Farah pun bergegas ke dapur untuk memberitahukan asisten rumah tangga nya untuk membuatkan minuman dan membawa beragam suguhan untuk Ayah Gunawan. Dan kini, tinggal lah Queen, Ayah Andra, Ayah Gunawan dan Raka saja di ruang tamu.
"Apa pekerjaan mu?" Tanya Ayah Gunawan kepada Raka.
"Hmmm, saya di bidang perhotelan dan restoran Om," Sahut Raka yang terlihat mulai gugup.
Ayah Gunawan hanya mengangguk-angguk mendengar jawaban Raka.
"Oh iya Queen, bisa Ayah minta tolong?" Tanya Ayah Gunawan.
"Apa Ayah?"
"Tolong belikan Ayah rokok, Ayah lupa membeli rokok tadi." Pinta Ayah Gunawan.
Queen mengerutkan keningnya, seumur hidup, baru ini dia disuruh oleh Ayah Gunawan untuk membeli rokok. Biasanya Ayah Gunawan selalu menyuruh asisten nya.
"Kok tumben...."
"Ini uang nya ya..." Ayah Gunawan memberikan Queen beberapa lembar uang seratus ribu.
"Belikan rokok dua bungkus dan sebotol madu, Ayah juga lupa membeli madu. Tapi, madu yang asli ya.. Yang ada di apotek. Kalau di swalayan itu tidak asli," Ucap Ayah Gunawan.
Queen membulatkan matanya dan menatap Ayah Gunawan dengan tak percaya.
"Ayo, tunggu apa lagi?" Ucap Ayah Gunawan.
Mau tidak mau Queen beranjak dari duduknya dan berpamitan kepada Raka.
Raka terpaksa membiarkan Queen pergi, sedangkan kening nya sudah mulai berkeringat. Ia tidak tahu apa yang direncanakan oleh dua lelaki yang berada di ruangan itu kepadanya.
"Oh iya, katanya kalian memiliki senjata baru? Seperti apa rupanya?" Ucap Ayah Gunawan setelah Queen pergi untuk membeli rokok.
"Sebentar Pak, saya ambilkan," Ucap Ayah Andra seraya beranjak dari duduknya dan meninggalkan ruangan itu.
Kini, tinggal lah Raka dan Ayah Gunawan saja berdua diruangan itu.
Raka terlihat gugup dan hanya menundukkan wajahnya.
"Berapa usia mu?" Tanya Ayah Gunawan seraya menepuk bahu Raka dengan sedikit keras. Hingga membuat Raka sedikit terkejut.
"Ti-tiga puluh tiga tahun Pak," Sahut Raka, seraya mencoba tersenyum kepada Ayah Gunawan.
"Apa kamu kekasih anak saya?" Tanya Ayah Gunawan lagi.
__ADS_1
"Sa-saya mencintai anak Bapak."
"Yang saya tanya, kamu kekasih anak saya atau bukan?" Desak Ayah Gunawan yang tidak menerima jawaban dari Raka yang tidak sesuai dengan apa yang ia mau.
Raka menatap Ayah Gunawan, lalu ia mengangguk dengan yakin.
"Iya Pak," Sahut nya dengan tegas.
Ayah Gunawan tersenyum dan mengangguk dengan perlahan.
"Apa yang kamu suka dengan anak kandung ku?" Tanya Ayah Gunawan lagi.
Raka sempat terdiam memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Ayah Gunawan. Karena tampaknya Ayah Gunawan tidak suka dengan jawaban yang bertele-tele.
"Semuanya Om," Sahut Raka.
"Hahahaha, tidak mungkin ada orang yang menyukai semuanya. Pasti ada yang tidak disukai dari pasangan nya, anak muda...." Ayah Gunawan kembali menepuk-nepuk pundak Raka.
Raka pun mengigit bibirnya, ia benar-benar gugup menghadapi Ayah Gunawan. Ayah Gunawan memang lain sekali karismanya. Karena ia juga merupakan mantan pejabat tinggi yang tidak main-main.
Tiba-tiba saja, Ayah Andra datang dengan membawa senjata keluaran terbaru miliknya. Lalu, ia menaruhnya di atas meja diruang tamu itu.
Raka melirik senjata tersebut, ia pun menelan salivanya, tubuh nya gemetar, namun ia berusaha meyakinkan dirinya, tidak mungkin kedua Ayah Queen akan membunuh dirinya malam ini, hanya karena berani mendekati anak mereka.
"Wow... luar biasa," Ucap Ayah Gunawan seraya meraih senjata tersebut, lalu ia mengangkat tinggi-tinggi senjata itu dan memperhatikan setiap inci dari senjata yang tampak begitu kokoh itu.
"Sepertinya senjata ini bekerja sangat baik bila mengunci target." Ucap Ayah Gunawan seraya kembali menaruh senjata itu di atas meja.
"Sudah pasti. Ini bisa menembus tulang tengkorak kepala dan membuat isi kepala hancur berantakan." Sahut Ayah Andra seraya meraih senjata itu dan terlihat seperti orang yang akan menembak targetnya. Moncong senjata itu pun diarahkan ke arah kepala Raka.
Raka yang menyadari ia lah target dari moncong senjata itu pun, terlihat semakin gugup. Ia menatap Ayah Andra dengan dada yang sesak.
"Duarrrrrr....!"
Raka memejamkan kedua matanya. Di iringi tawa dari Ayah Andra dan Ayah Gunawan.
"Hahahahaha...! perfect!" Ucap Ayah Gunawan.
Dengan gemetar, Raka membuka kedua matanya dan menatap kedua Ayah dari Queen yang sedang tertawa terbahak-bahak.
Raka hanya bisa ikut tertawa kecil, ia tahu dirinya sedang dipermainkan oleh kedua Ayah Queen tersebut.
"Ada apa ini?" Tanya Bunda yang baru saja datang dari dapur.
"Tidak ada apa-apa," Sahut Ayah Andra seraya kembali menaruh senjatanya di atas meja.
Bunda melirik senjata api tersebut dan beranjak duduk di samping Ayah Andra.
"Kalian ini," Keluh Bunda Farah seraya menatap Ayah Andra dan Ayah Gunawan yang masih terkekeh.
"Bahaya ah! Simpan gak?" Ucap Bunda.
"Biar saja, kan Bapak Gunawan mau lihat senjata keluaran terbaru ini," Sahut Ayah Andra di sela tawanya.
__ADS_1
"Maaf ya nak Raka, maklum ya, mereka ini memang jahil," Ucap Bunda seraya tersenyum kepada Raka yang terlihat banjir keringat.
Raka bernafas lega dengan kedatangan Bunda Farah, ia pun tersenyum dan mengusap peluh yang mulai mengalir di pelipis nya.