
Nyonya Amara berlari di lorong rumah sakit menuju ke kamar bersalin. Kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya. Beberapa menit yang lalu, Raka mengabarkan kepada dirinya bila Queen akan segera melahirkan. Beruntung, dirinya sedang berada di Jakarta dan segera berangkat ke rumah sakit.
Di depan kamar bersalin, nyonya Amara bertemu dengan Bunda Farah dan Tante Nia yang kini sudah menjadi sahabat baik nya. Mereka bersalaman dan berpelukan seperti biasanya saat mereka berjumpa. Setelah itu, nyonya Amara menanyakan kabar Queen yang masih berjuang di kamar bersalin. Sedangkan para Ayah, duduk bersama dan berbincang tentang Queen dan calon cucu mereka yang akan segera lahir beberapa saat lagi.
Di ruang bersalin, tampak Raka yang sudah memakai jubah berwarna hijau, berdiri tepat disamping Queen. Beberapa kali ia menyeka peluh di dahi Queen dan memberikan semangat untuk istri nya itu.
"Pembukaan sudah lengkap dok," Ucap salah satu suster yang mendampingi persalinan normal tersebut.
Dokter yang sedang memakai sarung tangan medis tersebut pun beranjak dari duduknya dan bergegas memeriksa Queen.
"Baik, Ibu, ini saatnya Ibu mengejan ya..., tetapi harus mengikuti aba-aba dari saya, mengerti?" Tanya dokter itu.
Queen yang sudah tidak tahan lagi pun hanya bisa meringis sembari berusaha mengangguk kan kepalanya.
Raka terlihat cemas, jantungnya pun berdebar kencang. Ia sadar, saat ini adalah perjuangan yang luar biasa untuk Queen, istrinya yang tercinta, untuk melahirkan buah cinta mereka yang kabarnya akan berjenis kelamin perempuan.
"Ayo sekarang Ibu mengejan.." Perintah dokter itu.
Dengan sekuat tenaga, Queen pun mengejan hingga urat di lehernya terlihat menonjol. Namun, usahanya belum berhasil. Nafas nya tersengal dan bayi nya juga belum keluar.
Dokter terus memberikan semangat dan aba-aba untuk Queen, sedangkan Raka terus berdoa dan memberikan Queen semangat. Agar istrinya itu memiliki semangat untuk berjuang demi sang buah hati.
"Sekarang Bu... ayo!"
Queen kembali mengejan, hingga wajahnya memerah.
Kini, sudah tampak puncak kepala sang bayi. Raka dan Queen mengetahui itu dari sang dokter yang mengatakan bila bayi akan segera keluar, bila Queen mengejan lebih kuat lagi.
Setelah merasakan kontraksi lagi, Queen kembali mengejan, namun usahanya kembali belum membuahkan hasil.
Raka terlihat cemas hingga lututnya terasa melemah. Namun, ia berusaha terus berdiri agar mampu mendampingi Queen hingga bayi mereka terlahir di dunia ini.
"Sayang, berjuang sedikit lagi ya... demi buah hati kita. Semangat sayang, aku mencintaimu." Bisik Raka di telinga Queen yang mulai lemas.
"Aku janji, bulan ke enam, kita akan bulan madu." Bisik Raka lagi.
Queen menoleh dan menatap Raka dengan mata yang berkaca-kaca.
"Janji?" Tanya Queen.
"Iya, sekarang, melahirkan dulu ya, yang semangat. Biar kita bisa bulan madu dan tambah adik buat baby kita." Ucap Raka dengan wajah yang panik.
Senyum Queen tersungging di sudut bibirnya. Lalu, ia meringis karena kembali merasakan kontraksi yang begitu luar biasa.
"Ayo Bu... sedikit lagi.."
"Bismillahirrahmanirrahim.. Aaaaaaaaaaaaaaaaa....!" Queen mengejan sekuat tenaganya hingga ia mengepalkan kedua tangannya yang terselip di kedua pahanya yang terangkat.
__ADS_1
"Oeeeeeee...! Oeeeee...! oeeeee!" Terdengar tangisan keras dari bawah sana. Sang dokter pun mengangkat tubuh mungil seorang bayi yang masih terhubung dengan plasenta bayi tersebut. Queen menjatuhkan kepalanya di atas bantal sembari menghela nafas panjang. Raka terlihat terpaku menatap bayi yang masih berlumuran darah dan bercampur dengan cairan ketuban.
Bayi itu diletakkan di antara dua kaki Queen dan segera di bersihkan dari cairan-cairan tersebut, dan juga akan dipisahkan dari tali pusat yang terhubung di plasenta bayi itu.
Raka mendekati bayi itu, air matanya tidak dapat ia bendung. Inilah kali pertama dirinya menyaksikan sendiri, perjuangan seorang Ibu untuk membawa buah hati ke dunia ini.
"Selamat Pak, Bu, bayinya laki-laki,"
Seketika Queen dan Raka saling bertatapan.
"Laki-laki?" Tanya Raka dengan wajah yang bingung.
"Iya Pak, bisa dilihat jenis kelamin nya," Dokter itu menunjukkan kepada Raka, jenis kelamin bayi mereka. Benar saja, bayi itu adalah bayi laki-laki.
"Berarti hasil USG nya salah ya dok? Soalnya di USG bayinya perempuan," Ucap Raka.
"Hasil USG bisa saja salah Pak.. karena...."
"Dok, perut saya mulas lagi!" Pekik Queen yang terlihat menahan sakit yang luar biasa.
"Hah?"
Dokter segera memeriksa perut Queen yang masih membuncit. Lalu, ia menekan perut Queen dengan pelan dan terlihat wajah nya mulai serius.
"Sus, bersihkan bayi nya dulu, ini Ibunya melahirkan lagi," Ucap Dokter itu seraya kembali meminta Queen untuk mengejan.
"Ayo Bu, mengejan," Ucap dokter tersebut.
"Aaaaaaaaaa...!" Queen kembali mengejan dengan sekuat tenaga.
"Oeeeeeeeee..! Oeeeeeee..! Oeeeeee!" Kembali terdengar tangisan bayi dari bawah sana. Raka masih terdiam dan menatap Queen dengan wajah yang ling lung.
"Selamat Pak, Bu, bayinya perempuan," Ucap dokter tersebut.
"Sepasang?" Gumam Raka.
Dengan Ragu, Raka mendekati bayi tersebut. Terlihat bayi perempuan dengan kulit yang begitu putih dengan wajah yang rupawan.
"Sayang!" Pekik Raka seraya memeluk Queen yang tampak sangat bahagia.
"Kita punya anak kembar!" Seru Raka lagi seraya mengecup pipi Queen berkali-kali.
"Kamu hebat, selamat ya sayang.. Perjuangan mu sangat luar biasa! Aku sangat berterima kasih dengan mu, kamu sudah melahirkan anak ku.. Terima kasih Queen," Ucap Raka dengan air mata yang membanjiri pipinya. Sedangkan Queen ikut menangis bahagia, dan terus mengucapkan syukur atas karunia yang dilimpahkan kepada dirinya.
"Alhamdulillah ya Allah! Alhamdulillah!" Raka pun bersujud dilantai dengan rasa syukur yang luar biasa.
Beberapa menit kemudian, kedua bayi Queen dan Raka di bawa dan di taruh di atas dada Queen. Dua bayi mungil dan lucu tersebut terus menangis dan menggeliat di atas dada Queen.
__ADS_1
Queen tersenyum dan mengecup kedua putra dan putri nya tersebut. Lalu, ia menatap Raka yang masih merasa takjub dengan apa yang sedang ia lihat.
"Bagaimana ceritanya dok? Kok bisa jadi kembar?" Tanya Queen kepada dokter yang menangani persalinan nya.
"Mungkin yang dilihat saat USG, adalah si adik yang menutupi badan kakak nya. Maka, yang terbaca, jenis kelaminnya adalah perempuan. Banyak kasus yang seperti ini, si adik atau si kakak yang menutupi tubuh kembaran nya. Sehingga tidak terdeteksi di layar USG. Anggap saja ini adalah keajaiban dan anugerah yang tidak terkira untuk Ibu dan Bapak. Walaupun tidak menyadari mempunyai anak kembar, Ibu cukup hebat memberikan nutrisi yang baik kepada janin Ibu. Sehingga keduanya terlahir dengan sempurna dan sehat. Selamat," Terang dokter itu seraya tersenyum kepada Queen dan Raka.
Queen dan Raka tersenyum dan mengangguk paham. Lalu, Raka menatap Queen sekali lagi dan mengecup anak istrinya tersebut.
...
Di luar ruang bersalin, terlihat wajah yang begitu gelisah dari para orangtua. Pun, Ayah Andra yang terlihat selalu berjalan mondar-mandir di koridor tersebut.
Tak lama kemudian, Raka keluar dengan satu bayi di gendongan nya. Bunda Farah dan yang lain nya pun langsung menghampiri Raka.
"Ini cucu Oma!" Seru Bunda dengan wajah yang semringah. Lalu ia menatap bayi perempuan yang berada di gendongan menantu nya itu.
"Selamat Raka," Ucap nyonya Amara dengan mata yang mulai memerah menahan haru, karena dirinya kini sudah mendapatkan gelar sebagai seorang nenek.
"Terima kasih Bu," Sahut Raka dengan senyum yang tampak sangat bahagia.
"Perempuan kan?" Tanya Ayah Andra.
Raka mengangguk dan tersenyum, mengiyakan pertanyaan dari Ayah Andra.
Selang beberapa detik kemudian, seorang suster membawa satu bayi lagi keluar dari ruangan itu, dan tersenyum kepada kedua keluarga tersebut.
Terlihat wajah bingung dari semua orang yang berada disana, kecuali Raka yang terus tersenyum penuh arti.
"Bayi siapa ini?" Tanya Tante Nia.
"Bayi kami juga Tante," Ucap Raka.
Semua terperangah tak percaya.
"Jangan bercanda Raka.." Ucap Bunda Farah.
"Tidak Bun, ini benar-benar bayi Raka dan Queen. Ternyata selama ini Queen mengandung sepasang bayi kembar." Terang Raka.
Tante Nia terlihat bersemangat, matanya berbinar sembari menatap Bunda Farah yang terpaku, dan masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Farah! Lagi-lagi kita sama..! Cucu-cucu kita kembar Far! Kita kaya! Kita kaya dengan cucu-cucu Far!" Seru tante Nia seraya memeluk Bunda Farah dengan erat.
"Astaga Nia... elu memang jadi bayang-bayang hidup gue!" Ucap Bunda seraya mencubit pipi Tante Nia.
Tante Nia tertawa geli dan memberikan selamat kepada Bunda Farah yang tampak benar-benar merasakan kebahagiaan yang tiada tara.
"Alhamdulillah!" Serunya.
__ADS_1