
Antoni yang hampir saja terjatuh karena menahan kantuk, ia mencoba menepuk pipinya, lalu meraih gelas kopi di depan nya. Saat ia hendak meminum kopi yang sudah dingin itu, matanya tertuju kepada Queen yang berjalan dengan gontai ke arah lift.
Antoni mengurungkan niatnya untuk meminum kopi itu, lalu ia bergegas meninggalkan cafe yang berada di area hotel itu dan menghampiri Queen.
"Queen, kamu dari mana?"
Queen menoleh kebelakang dan menatap Antoni.
Antoni terkejut melihat air mata yang membasahi pipi Queen. Ia tertegun dan menghampiri Queen lebih dekat lagi.
"Kamu kenapa?" Tanya nya dengan nada suara yang lembut.
Tanpa kata, gadis itu menangis di dada Antoni. Antoni sempat merasa bingung, ia melihat ke sekelilingnya, mencoba memastikan pandangan orang yang sedang berada di lobby hotel tersebut.
Ting!
Pintu lift pun terbuka, Antoni pun membawa Queen masuk kedalam lift.
"Kita bicarakan di kamar ya," Ucap nya sambil merangkul Queen.
Beberapa saat kemudian, Queen sudah berada di kamar Antoni. Gadis itu meraih tisu yang baru saja diberikan Antoni kepada dirinya. Queen masih tertunduk dan menangis sesenggukan.
"Aku buatkan teh ya, badan kamu dingin sekali. Kamu jalan kaki ya?"
Queen masih diam membisu. Tanpa jawaban dari Queen, Antoni beranjak dari duduknya dan bergegas membuatkan segelas teh untuk Queen.
Antoni kembali dengan segelas teh ditangan nya dan menaruhnya tepat di hadapan Queen. Kini, gadis itu sudah tampak sedikit tenang.
"Terima kasih," Ucap Queen sambil meraih gelas teh itu dan menyeruput nya pelan-pelan.
Antoni masih tidak tahu dengan apa yang terjadi dengan Queen. Maka, ia memilih diam dan duduk di depan gadis yang tampak sangat sedih itu.
"Mas kapan pulang?" Tanya Queen.
"Ah? Aku? Aku pulang hari minggu kan, sama dengan kamu."
"Oh, besok kan sabtu, mas mau kemana?" Tanya Queen lagi.
Antoni terlihat bingung, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menatap Queen yang berbicara tanpa memandang dirinya.
"Kan ada tugas kantor," Ucap Antoni.
"Aku ikut boleh gak? Aku gak tahu mau kemana," Ucap Queen sambil menatap Antoni dengan wajah yang sendu.
"Memang nya pacar mu......"
"Ini buat mas saja, tapi temani aku ya selama di sini." Queen menyodorkan bungkus kado yang seharusnya untuk Langit.
Antoni menatap Bungkus kado tersebut, ia pun langsung paham bila Queen sedang kecewa dan patah hati.
"Memang nya....."
"Terima kasih ya mas, aku istirahat dulu." Queen beranjak dari duduk nya dan bergegas pergi dari kamar Antoni.
__ADS_1
"Queen,"
Queen menoleh kebelakang dan menatap Antoni yang masih duduk di sofa hotel itu.
"Aku besok berangkat pukul tujuh," Ucap nya.
Queen hanya mengangguk dan melangkah keluar dari kamar Antoni.
Antoni terdiam, ia menatap bungkusan kado di depan nya. Lalu, ia meraih bungkusan itu dan mulai membuka nya.
Terlihat sebuah tas dari dalam bungkusan itu. Antoni menggelengkan kepalanya.
"Bodoh nya elu bro..., cewek kayak gini elu sia-siakan," Gumam nya.
...
Queen menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Ia kembali menangis dan mencoba meredam tangisannya dibalik bantal yang menutupi wajahnya. Queen berteriak sekuat tenaga, ia benar-benar tidak habis pikir, Amira dan Langit menghianati dirinya.
"Apa salah gue? Selama ini gue sudah baik sama elu Mir! Dan elu juga Langit! Apa salah gue? Gue sudah sangat menyayangi elu, melakukan semua yang elu inginkan untuk membuat elu bahagia. Tetapi, ini balasan nya Langit?" Ucap Queen dengan hati yang hancur berkeping-keping.
Cerita klasik dengan akhir yang bahagia karena saling setia pun runtuh. Queen pun menyalahkan dirinya yang terlalu serius menjalin hubungan di usia remaja. Bukankah diusia remaja, harusnya fokus sekolah dan bersenang-senang sewajarnya? Bukankah harus nya masa-masa dimana mencintai sewajarnya dan mencoba mengenal banyak hati dan sifat diluar sana?
Tetapi tidak dengan Queen, ia terlalu naif, sehingga dirinya tidak mampu seperti kebanyakan remaja diluar sana.
"Gue gak akan percaya lagi dengan yang namanya laki-laki!" Tekad Queen di dalam hatinya.
....
"Hah! Jam sebelas siang!" Queen langsung melompat dari ranjangnya dan berlari ke keluar kamar nya. Lalu, ia mengetuk pintu kamar Antoni beberapa kali. Benar saja, lelaki itu sudah pergi tanpa dirinya.
Queen mengerutkan dagunya dan kembali ke kamarnya dengan gontai. Queen tidak dapat menyalahkan Antoni, karena dirinya lah yang tertidur setelah subuh, hingga ia bangun kesiangan.
Dengan malas, Queen beranjak ke kamar mandi dan membasuh tubuhnya yang terasa lengket.
Setelah mandi dan memakai pakaian, Queen pun berniat untuk mencari kuliner di sekitar hotelnya. Tetapi, sebelum ia keluar, Queen merias wajahnya dengan tipis untuk menutupi kesan sembab dimatanya. Setelah itu, ia menyambar tas nya dan bergegas keluar dari kamarnya.
"Astaghfirullah!" Queen terkejut saat melihat Antoni yang berdiri di depan pintu kamar nya saat ia membuka pintu.
"Ayo kita makan, lapar kan?" Tanya Antoni tanpa berbasa basi sebelumnya.
Queen menatap Antoni yang masih memakai pakaian resmi, karena baru saja pulang dari acara kantor nya.
"Begini?" Tanya Queen sambil menatap penampilan Antoni.
"Memang kenapa?" Tanya Antoni.
"Nanti aku dikira jalan sama om-om bagaimana?"
Antoni tertawa hingga ia memegangi perutnya yang terasa tegang.
"Kok ketawa?" Tanya Queen dengan tatapan yang polos.
"Ya sudah, tunggu ya. Aku mau ganti baju dulu."
__ADS_1
"Tunggu," Queen menahan lengan Antoni.
Antoni menatap tangan Queen yang memegang lengan nya, mendadak jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.
"Ya?"
"Tadi kenapa pergi tanpa mengajak aku? Bukan nya aku bilang aku mau ikut?" Tanya Queen dengan wajah yang terlihat kesal.
Antoni tersenyum dan mendekati Queen.
"Aku sudah membangun kan kamu. Tetapi, kamu gak bangun-bangun. Sempat khawatir sih kamu bunuh diri. Tapi, aku yakin, kamu gak akan bunuh diri. Kamu hanya tertidur saja," Terang Antoni.
"Apa yang membuat mas yakin?" Tanya Queen.
"Kamu itu calon wanita hebat, kamu cantik dan tegar. Masalah apa pun tidak akan mematahkan semangat mu."
Queen menatap dua bola mata lelaki yang berdiri hanya dua jengkal dari dirinya itu. Selain dewasa, lelaki itu tampan dan lucu. Yang membuat Queen semakin kagum, Antoni tidak mendesak untuk tahu masalah yang sedang Queen hadapi. Melainkan, Antoni langsung memahami apa yang sedang Queen hadapi.
Queen terlihat salah tingkah, lalu ia melepaskan tangannya dari lengan Antoni.
"Ma-mau ganti baju kan? Aku tunggu disini," Ucap Queen.
"Ok.." Antoni tersenyum dan melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Queen mengusap dahinya yang berkeringat, entah mengapa ia merasa grogi saat Antoni berbicara sedekat itu dengan dirinya.
"Ayo,"
"Astaga!" Queen kembali terkejut saat Antoni tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar lelaki itu.
"Cepat amat sih?"
"Laki-laki kan gak harus dandan," Sahut Antoni dengan santai.
"Bagaimana sekarang?" Tanya Antoni sambil berputar dihadapan Queen.
Queen menatap penampilan Antoni yang terlihat luar biasa. Lelaki itu memakai sepatu sneaker berwarna putih, celana jeans dan t-shirt berwarna hitam. Tidak ketinggalan kaca mata hitam yang tergantung di leher t-shirt nya.
"Ya Allah.. manusia ini meresahkan juga ya," Batin Queen.
"Lebay!" Ucap Queen sambil beranjak meninggalkan Antoni.
"Yah, ya sudah deh ganti kemeja sama celana bahan dan sepatu pantofel lagi aja," Ucap nya.
Queen menoleh dan menatap Antoni dengan tajam.
" Coba aja ganti, kita gak kenal lagi," Ucap Queen sambil kembali melangkah meninggalkan Antoni.
"Queen tunggu! Canda kalik...!"
Diam-diam Queen tersenyum, entah mengapa perasaan patah hatinya sudah habis tertumpah tadi malam hingga subuh. Siang ini, ia seperti sudah tidak merasakan apa-apa lagi. Ini semua karena Antoni, lelaki humoris itu hadir disaat yang tepat. Lelaki, itu langsung mengisi hari-hari Queen dengan canda dan tawa.
Mungkin ada benarnya, omongan remaja yang "Tidak akan percaya lagi dengan laki-laki", hanya omong kosong belaka.
__ADS_1